Maaf. Aku Pilih Dia.

Maaf. Aku Pilih Dia.
Part 2


__ADS_3

Di dalam kereta Belvina membuka amplop cokelat yang kemarin di berikan Lina, di dalam amplop itu tidak hanya ada alamat dan nota, tapi juga foto ibunya bersama seorang wanita. Belvina membalik foto itu dan mendapatkan sebuah tulisan. 'Risa dan Karina'.


"Risa." Gumam Belvina seraya menatap foto Risa dan ibunya Karina.


Setelah menuruni kereta, Belvina menggusur kopernya keluar stasiun. Sebelum memanggil taksi Belvina mengambil kertas alamat yang ia selipkan di kantung celananya, ketika sedang membaca alamat itu tubuh Belvina ditabrak seseorang sehingga kertas alamat itu lepas dari tangan Belvina.


"Auw." Rintih Belvina.


"Maaf, maaf saya gak sengaja." Pria yang menabrak Belvina akan pergi.


"Tunggu, mau kemana kau?!." Belvina menahan tangan pria itu seraya mencari kertas alamat yang tadi ada di tangannya.


"Saya harus pergi menjemput ibu saya, maaf tolong lepaskan tangan saya."


"Mana bisa kau pergi begitu saja!," Bentak Belvina. "Kau sudah menghilangkan kertas alamatku."


Pria itu terhentak. "Kau harus membantuku mencari kertas itu."


"Aduh maaf yah saya harus menjemput ibu saya dulu, setelah itu saya akan bantu kamu Carikan kertas alamat kamu."


Belvina mencengkram lengan lelaki itu dengan kuat.


"Kamu mau pergi? Kau tidak mau tanggung jawab." Belvina meninggikan suaranya sehingga orang-orang di sekitar tertuju pada mereka.


"Nama saya Gilang, kamu tunggu dulu disini setelah saya jemput ibu saya, saya akan bantu kamu." Gilang menawarkan.


"Mana bisa? Itu alasan mu untuk pergi." Belvina tidak menurunkan suaranya.


Gilang mulai risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya.


"Tolong kecilkan suaramu," Pinta Gilang dengan sedikit berbisik. "Aku tidak akan pergi kemana-mana, aku hanya akan menjemput ibuku di dalam." Gilang mencoba melepaskan tangan Belvina darinya.


"Carikan dulu kertasku, baru kau boleh pergi." Belvina mulai menurunkan suaranya.


"Baiklah aku akan Carikan kertasmu." Mau tidak mau Gilang menuruti permintaan Belvina.


Selagi Belvina dan Gilang mencari, tanpa mereka sadari ada yang menaruh kresek di atas koper Belvina.


"Kertas yang kau cari sepeti apa?." Tanya Gilang.


"Seperti kertas." Jawab Belvina seadanya.


"Bagaimana?." Mendengar itu Gilang sedikit kesal.


"Kertas biasa berwarna putih, di kertas itu ada alamat yang harus aku datangi." Jelas Belvina.


Belvina dan Gilang Kembali mencari, di tengah pencarian datang beberapa polisi ke stasion.


"Aku menemukanya. Ini kertas yang kau cari." Gilang memperlihatkan kertas itu pada Belvina.


"Iya benar ini kertasnya." Belvina mengambil kertas itu.


"Kalau begitu aku bisa pergi sekarang?." Tanya Gilang.


"Silahkan." Jawab Belvina.

__ADS_1


Belvina menggeserkan kopernya yang membuat kresek yang diatas nya terjatuh dan mengeluarkan serbuk putih. Polisi yang melihat itu langsung menghadang Belvina.


"Ikut kami ke kantor polisi." Ujar salah satu polisi.


"Ada apa ini? Kenapa saya harus di bawa ke kantor polisi?." Belvina kebingungan.


"Anda terbukti membawa obat obatan terlarang." Jelas Polisi yang hendak menarik tangan Belvina.


"Bukan saya, pria itu yang membawanya." Belvina menunjuk punggung Gilang yang hendak masuk ke dalam stasiun. "Tadi dia menabrak saya."


"Tangkap pria itu." Seru polisi.


Gilang yang tidak tahu apa apa terkejut ketika tangannya di pelintir ke belakang.


"Aa.. sakit ada apa ini?." Teriak Gilang.


"Ikut kami ke kantor polisi, anda dapat menjelaskan semuanya di kantor polisi."


"Ada apa ini? Kenapa saya harus ikut ke kantor polisi?."


"Wanita disana bilang andalah yang menaruh kresek berikan obat obat terlarang itu." Salah satu polisi menunjuk Belvina.


"Wah, wanita gila dia pak! Saya tidak tau apa apa, saya hanya tidak sengaja menabrak dia pak." Jelas Gilang.


"Anda harus menjelaskan semuanya di kantor polisi." Polisi yang memegangi tangan Gilang mengiring Gilang masuk ke dalam mobil.


"Tidak pak, saya datang kesini untuk menjemput ibu saya pak." Ungkap Gilang.


"Kita bicarakan semuanya di kantor polisi."


"Lu yang gila." Balas Belvina.


Polisi berhasil memasukan Gilang ke dalam mobil, dan sekarang giliran Belvina yang masuk kedalam mobil.


"Ayo masuk." Seru polisi ke Belvina.


"Masuk apa pak?! Dia yang salah bukan saya pak." Tolak Belvina.


"Ayo masuk." Polisi itu menarik tangan Belvina masuk ke dalam mobil.


Di dalam mobil Belvina dan Gilang duduk bersampingan.


"Lu yang jebak gue yah?." Todong Belvina.


"Mana ada? Yang jebak gue itu lu," Gilang tidak terima di tuduh. "Akal akalan lu doang cariin kertas, padahal lu mau jebak gue kan?!."


"Eh lu yang nabrak gue, pasti lu yang naro itu kresek."


"Wah lu-"


"Berisik." Tegas polisi yang duduk di depan mobil. "Bisa tidak kalian diam."


Gilang dan Belvina menelan ludah mereka karena takut membuat polisi itu marah.


****

__ADS_1


Di kantor polisi Belvina dan Gilang di interogasi di tempat berbeda dan melakukan berbagai tes untuk membuktikan kalau mereka tidak bersalah. Setelah melakukan tes Belvina dan Gilang di pertemukan kembali di satu ruangan.


"Saya tidak bersalah pak, yang bersalah cowo gila ini pak." Tuduh Belvina.


"Enak aja lu bilang, lu yang bersalah. Pake bawa bawa gue lagi." Gilang tidak terima di tuduh.


"Pak saya harus jemput ibu saya di stasiun pak." Jelas Gilang.


"Akal-akalan dia doang pak, tadi waktu dia nabrak saya juga alasannya itu pak."


"Gue gak akal-akalan yah, gue emang bener mau jemput ibu gue."


"Bohong pak."


"Eh lu ya bener-bener bikin gue emosi yah."


"Stop." Polisi yang menjaga mereka merasa pusing dengan Gilang dan Belvina. "Apa kalian gak capek adu mulut terus?."


"Karena saya gak salah pak." Ucap Belvina dan Gilang bersamaan.


Belvina dan Gilang saling tatap dengan tatapan sinis.


"Hubungi kedua orang tua kalian." Polisi itu menyodorkan telepon ke arah mereka.


Gilang mengambil telepon itu dan menghubungi ibunya, Gilang memberitahu keadaan dan keberadaanya di kantor polisi. Setelah memberi tahu ibunya Gilang menutup teleponnya dan menyodorkannya pada Belvina.


Dengan engan Belvina mengambil gagang telepon itu dan menekan nomer orangtuanya, tapi panggilan itu tidak tersambung.


"Orangtua saya tidak bisa di hubungi pak." Belvina menyimpan gagang telepon itu dengan raut wajah yang pahit.


"Hubungi kerabatmu untuk menjadi walimu." Titah polisi.


"Disini saya tidak punya kerabat, saya baru pertama kali datang kesini."


"Alasan dia pak, dia nih pelakunya." Gilang berseru.


"Sudah diam kamu." Ujar polisi yang melihat Belvina.


Belvina tertunduk menahan air matanya agar tidak jatuh.


"Gilang.. dimana anak saya Gilang." Teriak Ibu Gilang.


"Disini Bu." Gilang mengangkat tangannya.


"Gilang anak ibu." Ibu Gilang langsung memeluk Gilang.


"Ibu saya di jebak sama wanita gila ini."


Mendengar dirinya di tuduh Belvina mengangkat kepala dan terdiam sejenak sebelum mengambil foto ibunya dan Risa yang ada di amplop.


"Tante Risa?." Panggil Belvina setelah melihat foto yang mirip dengan ibu Gilang.


"Iya, itu nama saya." Sahut Risa.


To be continued~~

__ADS_1


Ditunggu kritik dan sarannya^^


__ADS_2