Maaf. Aku Pilih Dia.

Maaf. Aku Pilih Dia.
Part 3


__ADS_3

Risa tertegun ketika namanya di panggil oleh Belvina.


"Apa kamu mengenal saya?."


"Apa Tante ingat dengan Karina?. Belvina bertanya balik.


"Karina?!." Risa mengerutkan keningnya.


"Apa benar ini Tante?." Belvina menjulurkan foto yang ada di tangannya.


"Iya benar ini saya, ini foto saya dengan Karina waktu dulu, bagaimana kamu bisa membawa foto ini." Risa kegirangan ketika melihat foto masa lalunya.


"Saya Belvina anaknya Karina Tante." Ungkap Belvina.


"Oh, kau anak Karina. Dimana sekarang ibumu?." Tanya Rida excited.


"Ibu pergi Tante, saya datang kesini sendirian." Belvina lirih.


"Aduh kasian." Risa mendekat untuk menepuk pundak Belvina.


"Ibu jangan baik padanya," Gilang menarik ibunya menjauh dari Belvina. "Dia yang menjebak aku Bu."


"Aku gak menjebak kamu! Aku yang di jebak kamu." Bela Belvina.


"Sudah diam." Risa menyuruh diam pada Gilang. "Sebenarnya apa yang terjadi pak polisi?." Risa bertanya.


"Lapor pak, ini hasil CCTV stasiun yang membuktikan kalau mereka tidak bersalah." Ujar salah satu polisi yang baru saja datang.


"Tuh kan aku gak salah." Gilang bersemangat.


"Aku juga tidak bersalah." Seru Belvina.


"Baik, baik. Saya meminta maaf pada kalian karena sudah mencurigai kalian. Tapi hasil tes yang sudah kalian lakukan akan tetap kami periksa, selagi menunggu hasil tes keluar kalian boleh pulang dulu." Ujar polisi yang sedari tadi menemani Gilang dan Belvina.


"Baik, terimakasih," Timpal Risa. "Ayo kita pulang." Ajak Risa pada Gilang.


Gilang berjalan keluar terlebih dulu meninggalkan Risa dan belvina.


"Tunggu Tante." Belvina menahan Risa.


"Iya ada apa?," Belvina memberikan nota yang ada di dalam amplop pada Risa. "Ini untuk saya?." Belvina mengangguk.


Risa mulai membaca nota itu ' hai Risa, maaf saya sudah lama tidak menghubungi kamu. Maksud saya menuliskan ini saya ingin meminta bantuan kamu untuk menjaga anak saya Belvina, karena suatu hal saya dan suami harus meninggalkan Anak kami. Terimakasih -karina-'


Setelah membaca nota itu, wajah Risa terlihat serius. Belvina menundukkan kepalanya.


"Tidak apa apa kalau Tante tidak mau saya ikut dengan Tante. Tapi izinkan saya satu malam saja, tidur di rumah Tante. Saya sudah tidak punya siapa siapa." Mohon Belvina.


Risa mendekati Belvina dan memeluknya. "Aduh kasian sekali dirimu nak. Dengan senang hati rumah Tante terbuka untuk kamu."


****


Wajah Gilang terlihat sangat cemberut di dalam Mobil, ia tidak suka dengan keberadaan Belvina yang duduk disampingnya.


"Kenapa ibu membawanya pulang?." Kesal Gilang.

__ADS_1


"Mulai malam ini dia akan tinggal dengan kita." Risa memberitahu.


"Apa Bu?! Kenapa ibu membiarkan wanita gila ini tinggal dirumah kita." Celoteh Gilang


"Aku tidak gila yah." Belvina tidak terima.


"Kalau kau tidak gila, aku tidak akan ada di kantor polisi."


"Kau yang gila, kau menabrak ku yang sedang diam! Kalau kau tidak menabrak ku kresek itu tidak akan ada di atas koper ku."


"Kau yang ceroboh membiarkan kopermu tanpa pengawasan."


"Kau yang harusnya hati hati, kau punya mata harus nya kau gunakan dengan baik."


"SUDAH!!." Teriak Risa yang duduk di bangku depan. "Tutup mulut kalian, apa kalian tidak lelah?!."


Gilang dan Belvina kompak menutup mulut mereka dan saling memberikan tatapan tajam satu sama lain.


****


Sesampainya di rumah Risa menyuruh Belvina duduk di ruang tamu.


"Tunggu sebentar yah," Ucap Risa pada Belvina. "Gilang kau ikut ibu." Risa menuntun Gilang ke dapur.


"Ada apa Bu?." Gilang malas.


"Berikan kamarmu pada Belvina." Titah Risa.


"Tidak mau." Penolakan langsung keluar dari mulut Gilang. "Aku tidak mau memberikan kamarku pada wanita gila itu."


"Ssht... kau tidak boleh melontarkan kata-kata seperti itu. Dia memiliki nama, namanya Belvina, mulai malam ini dia akan tinggal bersama kita." Risa memarahi anaknya.


"Aku tidak mau tidur di ruang tamu Bu." Gilang merengek. "Kenapa ibu tidak menyuruh wanita itu tidur di gudang."


Risa memukul lengan anaknya. "Gudang itu kotor, belum ibu bereskan! Kalau kamu tidak mau tidur di ruang tamu, kamu tidur saja di gudang." Risa meninggalkan Gilang.


"Ibu.. Bu.. ih." Kesel Gilang.


"Belvina mau langsung tidur apa mau makan dulu?." Risa menawarkan.


"Saya mau langsung tidur saja Tante."


"Untuk malam ini kamu tidur di kamar Gilang nanti -"


"Bagaimana Tante, saya tidur bersama Gilang?!." Kaget Belvina.


"Bukan, maksud Tante malam ini kamu tidur di kamar Gilang dulu, Gilang bisa tidur di ruang tamu ini. Besok kita siapkan kamar buat kamu. Oke?" Risa menjelaskan.


"Baiklah Tante." Belvina mengangguk.


"Gilang antarkan dia ke kamar kamu. Ibu udah capek ibu mau mandi terus tidur." Risa langsung masuk kedalam kamarnya yang ada di bawah.


Dengan enggan Gilang mengantarkan Belvina sesuai perintah ibunya. "Ayo ikut aku ke atas."


"Ke atas!." Belvina terkejut.

__ADS_1


"Kenapa?." Gilang malas.


"Koper ku bagaimana?."


"Ya bawalah."


"Berat."


"Aku tidak mau membawa kopermu." Gilang sudah tau tujuan dari Belvina.


"Kau kan lalaki. Seharunya kau bisa membantu ku membawa koper ini ke atas." Bujuk Belvina.


"Ti..dak.. ma..u.." Gilang tersenyum jahil.


"Bawakan kopernya Gilang." Teriak Risa dari dalam kamar.


Senyuman Gilang seketika langsung hilang, sekarang giliran Belvina yang tersenyum.


"Ini barang mu harusnya kau bawa sendiri." Keluh Gilang ketika hendak mengambil koper Belvina.


"Apa kau tidak lihat, aku sudah mengendong tas backpack ku."


"Kalau kiranya kau tidak bisa membawanya, tidak usah kau membawa banyak barang." Celoteh Gilang yang sudah mengangkat koper di pundaknya.


Belvina mengikuti langkah Gilang di belakang.


"Cepat buka pintunya." Titah Gilang.


Belvina pun membuka pintu dan masuk ke dalam kamar Gilang.


Belvina melihat setiap sisi kamar Gilang. Gilang menyimpan koper itu dan duduk di tepi kasur.


"Kenapa? Kau baru pertama kali masuk kamar laki laki?" Ledek Gilang.


"Emang kau laki laki." Balas Belvina.


"Apa kau bilang?!." Kesal Gilang.


"Keluar aku mau istirahat." Titah Belvina.


Dengan kesal Gilang keluar kamar. Mata Belvina tertarik dengan foto foto yang tergantung dekat jendela, saat hendak mendekati foto itu kaki Belvina tidak sengaja menendang sesuatu yang menyembul di kolong kasur. Betapa terkejutnya Belvina ketika melihat apa yang ia temukan.


Suara ketukan pintu terdengar membuat Belvina membalikan tubuhnya dan menyembunyikan penemuan nya dibalik tubuhnya.


"Bisa aku masuk, aku mau ambil selimut." Terdengar suara Gilang dari luar.


"Masuklah." Gilang pun masuk ke dalam kamar.


"Sedang apa kau disitu?." Gilang mengambil selimut baru untuk Belvina dari dalam lemari.


Saat akan mengambil selimut lamanya di atas kasur Gilang.


"Aku menemukan ini." Belvina tersenyum jahil.


Mata Gilang terbelalak dengan penemuan Belvina.

__ADS_1


To be continued~~


ditunggu kritik dan saranya^^


__ADS_2