Man In A Dream

Man In A Dream
4.Tentang Arsya


__ADS_3

"Mimpi ketemu pangeran, Hahaha." Jawab Arsya terkekeh dan berlari meninggal kan Dini menuju taman mini depan rumah.


Arsya terlihat begitu bahagia dia mencium bunga itu satu persatu memetiknya, menyelipkan satu bunga mawar Putih ditelinganya.


"Arsya kenapa sih Ndre kaya orang kasmaran aja dari tadi senyum-senyum gak jelas, emang dia udah punya pacar Ya?" Tanya Dini.


"Iya Kak Ryo namanya temen sekelas nya juga dia Wakil ketos." Jawab Andre datar.


"Apa??? Terus mama sama papa tau enggak kalo Arsya pacaran? "


Andre hanya menggelengkan kepalanya menandakan kata tidak.


"Jadi, cuma kamu yang tau. Terus kenapa ekspresi kamu begitu kan Arsya udah kelihatan bahagia." Tanya Dini lagi.


"Entahlahh kak terkadang aku merasa Ryo tidak tulus, tatapan mata nya saja tidak menunjukan cinta sama sekali, aku masih belum rela melepaskan penjagaan ku untuk Arsya, aku takut kejadian dulu terulang lagi." Setiap mengingat kejadian 10 tahun lalu Andre masih merasakan rasa bersalah.


"Kejadian Apa? " Suara Ferdi mengagetkan dari belakang.


"Astagfirulloh ... mas dateng-dateng langsung to the point banget sih." Ujar Dini.

__ADS_1


"Arsya pernah ilang mas gara-gara aku." Jawab Andre.


"Qo Bisa!!" Tanya Ferdi kaget.


"Udah Ndre gak usah di jawab nanti kamu sedih lagi, itu semua juga bukan salah kamu hanya takdir yang menjadikan seperti itu." Dini mencoba menenangkan Andre yang sudah terlihat akan meneteskan air mata tapi ia tahan.


"Dulu kemanapun aku pergi Arsya selalu ngikutin aku karna aku kesal aku tinggal Arsya Di lapangan sendiri sampe akhirnya Arsya hilang Di culik, hampir 2 hari semua keluarga sedih udah nyari Arsya kemana-mana tak ada satu pun jejak yang tertinggal, untungnya di hari ke 3 Arsya Di kembalikan dia di tolong orang baik." Andre tetap melanjutkan kalimatnya dengan air mata yang sudah mengalir.


"Dan sejak saat itu aku berjanji pada hatiku sendiri kalau aku akan menjaga Arsya apapun yang terjadi Kebahagian dan keselematan Arsya adalah hal yang paling penting." Lanjut Andre menghapus air matanya.


Kejadian 10 tahun yang lalu saat usia Arsya 6 tahun dan Andre 8 tahun, Dulu Arsya jarang sekali bermain dengan teman-teman perempuan nya karna merasa bosan hanya bermain boneka dan masak-masakan saja, Arsya lebih nyaman dan senang mengikuti Andre berpetualang berasama, mobil-mobilan, main sepeda kebut-kebutan, panjat pohon, dan permainan laki-laki lainnya.


Tapi Andre yang merasa risih dan malu karna selalu di olok-olok teman-teman nya yang bermain selalu di ikuti adiknya itu.


Sialnya Andre menyetujui rencana gila itu. Setelah puas bermain Andre pulang kerumah tanpa Arsya. Ketika mamanya bertanya tentang Arsya, Andre baru teringat kalau dia sudah meninggal kan Arsya sendiri, Dia pun berlari maksud hati menjemput Arsya, Tapi sesampainya disana sepi.


Andre terus berjalan memanggil-manggil Arsya, hatinya terasa pilu tak karuan, dia takut pulang sebelum bertemu dengan Arsya.


Hampir 30 menit berjalan tepat ditepi jalan, di bawah pohon mangga samping SD. Andre menemukan sandal sebelah Kanan Arsya. Lututnya terasa lemas seakan tak ada tenaga lagi untuk berdiri.

__ADS_1


Air matanya tak terbendung lagi dia ingat akan cerita-cerita dikala itu, tentang penculikan anak yang di ambil kepalanya Dan ditumbal kan untuk pembangunan jembatan di kota-kota besar sana.


Beberapa warga yang melihat Andre kecil menangis sambil memegangi sandal milik Arsya merasa terharu, mereka langsung berkumpul, dan mengantar Andre pulang kerumah nya.


Sesampai dirumah Ratih mama Andre terkejut melihat beberapa warga yang berkumpul, ada yang menggendong Andre.


Ratih mengira kalau Andre baru saja kecelakaan. Ketika Andre di turun kan dia semakin kencang menangis menyebut-nyebut nama Arsya.


Ratih yang masih merasa bingung bertanya pada salah satu warga yang mengantarkan Andre.


Menurut salah satu penjaga warung Di depan lapangan tadi dia melihat Arsya bersama dua orang laki-laki mereka membeli beberapa snack, permen dan susu botol, setelah selesai mereka masuk ke Mobil kijang warna hijau lumut, mereka pergi ke arah kota.


Mendengar semua itu, seketika Ratih berteriak memanggil-manggil Arsya, air mata nya sudah tak henti-hentinya mengalir, Dini yang baru pulang sekolah mendengar percakapan itu pun langsung ikut menangis, membayangkan adik nya ketakutan.


Lutut Ratih terasa lemas, seakan tulang-tulangnya runtuhh remuk seketika, membayang kan tangisan putri kecilnya yang seakan menyayat hati.


***Maaf baru Bisa up satu episode karna kesibukan yang tak bisa diwakilkan. Hehehe


Terima kasih untuk para Readers ku mohon koreksinya ya, Jika banyak kesalahan nya.

__ADS_1


Ohh ... iya jangan lupa Vote, like n Koment ya 😁😁


***I Love You, Aku padamu Readers ku 😘****


__ADS_2