
Hampir 3 hari Pencarian Arsya namun tak kunjung membuah kan hasil. Padahal Pencarian sudah dikerahkan ke seluruh pelosok desa sampai ke kota, tapi tak satupun ada jejak yang tertinggal.
Sejak hilangnya Arsya, Andre yang merasa paling bersalah mengurung diri nya Di kamar. Setiap pintu di ketuk malah tangis nya semakin kencang, makin histeris memanggil-manggil Arsya, menyuruh nya pulang.
Sampai pada siang hari entah ketukan ke berapa sekian kali tapi tiba-tiba tak ada suara hanya keheningan saja, isakan nya pun tak terdengar. Ratih dan Yudo semakin hawatir selain tak mau membuka kan pintu Andre juga belum makan sama Sekali.
Yudo tak sabar dia mencoba mencokel jendela kamar Andre agar bisa masuk. Betapa terkejut nya Yudo dia melihat Andre yang tertidur lemas di samping lemari dengan tetap memegang erat sandal sebelah Kanan Arsya.
Kamarnya sangat berantakan bantal, selimut, Sprei, buku-buku dan juga tas nya berserakan Di lantai.
Awalnya Yudo yang paling tegar di antara mereka tapi Ketika melihat ke adaan Andre di tambah memikirkan Arsya yang tak kunjung ketemu akhirnya ikut menangis, sungguh berat cobaan ini, Yudo tak sanggup jika harus kehilangan kedua anaknya Andre dan Arsya.
Sampai malam tiba Andre baru sadar dan sudah terpasang selang infus di tangan nya agar bisa menambah asupan makanan nya. Andre hanya tetap terdiam memandang langit-langit kamar, di ajak bicara pun tak ada jawaban malah tetesan air mata yang mengalir.
Tak selang berapa lama mereka di kejut kan dengan suara teriakan serta tangisan Arsya memanggil-manggil mama papanya.
Seketika mereka semua berhambur keluar menuju arah suara itu. Tak terkecuali Andre yang seakan mendapatkan tenaga nya untuk berlari.
Terlihat Arsya bersama kakek-Kakek tua. Arsya di duduk di boncengan depan sepeda Kakek itu dan boncengan belakang nya kayu bakar yang hampir menutupi tinggi Kakek itu jika dilihat dari belakang.
Kakek tua itu tersenyum, Yudo langsung berlari menggendong putri nya, di ciumi nya, dipeluk nya. Begitu juga dengan Ratih tak ingin melepaskan pelukan nya.
Andre juga menghampiri Arsya sambil menangis dan tersenyum berulangkali Andre meminta maaf. Suasana penuh haru menyelimuti keluarga nya, bahkan beberapa warga yang berkumpul ikut meneteskan air mata nya.
Berulang kali juga Yudo berterima kasih pada Kakek itu, di antar kan pulang dan juga memberi nya sedikit imbalan namun Kakek itu menolak nya.
🍀🍀🍀
"Loh, Qo pada nangis sih ada Apa? " Tanya Arsya yang tiba-tiba datang.
"Kepo ni bocah, yang penting gak nangisin kamu." Enjek Andre.
"Kamu dapet mangga dari mana Sya." Tanya Ferdi mengalihkan kan pembicaraan.
"Tuh mangga depan mawar batik itu." Jawab Arsya santai.
"Jadi, kamu Manjat gitu?" Ujar Ferdi memandang Arsya lekat, Arsya pun hanya menganggukan kepala nya sambil tersenyum.
"Ya Allah ... Sya... kamu itu cewek loh! " Seru Ferdi.
" Terus kenapa kalo aku cewek? " Tanya Arsya sok polos.
"Yank ... Yank kamu bilangin tuh adek mu. '' Perintah Ferdi.
__ADS_1
"Percuma Mas dibilangin panjang lebar, pasti sama Andre di ajak pecicilan lagi." Pangkas nya.
Andre dan Arsya hanya terkekeh pelan mendengar nya. Menikmati segar nya buah mangga mateng yang langsung dipetik dari pohonnya.
"Mas, Kak. Besok sore InsyaAllah aku sama Arsya mau pulang."
"Kenapa mendadak, kan liburnya masih lama." Tanya Ferdi heran.
"Bentar lagi kan aku Ujian ditambah buat persiapan daftar kuliah juga." Jelas Andre.
"Terus kenapa Arsya ga di sini aja nemenin Kak Dini? Katanya suka liat sawah disini." Dini gantian bertanya menatap Arsya.
"Kan Arsya buntutnya Kak Andre jadi kemana pun Kak Andre pergi aku ikut." Jawab Arsya.
"Terus kalau Andre nyebur jurang kamu juga mau ikut?" Tanya Ferdi sambil tertawa kecil.
"Ya ikut dong." Sejenak berhenti dan tersenyum.
"Ikut ngliatin maksudnya, Hahaha." Lanjut Arsya.
"Sembarangan." Kata Andre sedikit menjambak rambut Arsya. Arsya pun membalasnya dengan jambakan juga. Sudah hal biasa memang kelakuan mereka seperti itu.
"Udah-udah yuk masuk udah mau magrib nih yang merasa laki pada solat Sana ke masjid aku sama Arsya solat dirumah." Perintah Dini.
"Siappp boss.!! " Jawab mereka kompak.
Pukul 02:00 Dini terbangun ingin membuang hajat. Dia pandangi lagi wajah Arsya yang berbinar-binar karna tersenyum.
(Pasti mimpiin pacarannya lagi nih anak)batin Dini.
Didalam mimpi itu Arsya bertemu seorang laki-laki berkulit Putih, tapi wajahnya tak begitu jelas. Mereka bermain wahana permainan bersama-sama.
Rasanya seperti nyata bisa bermain bebas tanpa di awasi mama nya dan tanpa di dampingi kakaknya.
*****
Setelah membuang hajat nya Dini kembali ke kamar Arsya, Karna memang tadi pagi Dini berjanji akan tidur bersama Arsya untuk terakhir kalinya ketika mereka kesana.
Hampir satu jam matanya susah untuk dipejam kan. Entah apa yang dia fikirkan, hanya dentingan jam dan jangkring yang terdengar di sunyi nya malam itu.
Sampai pukul 04:00 matanya mulai terkantuk, sangking pulasnya Dini sedikit kesiangan.
"Sya.. kakakmu ga kamu bangunin." Tanya Ferdi.
__ADS_1
"Enggak kak ga tega mau bangunin Kaya nya ngantuk banget deh." Sahut Arsya yang sedang melepas sandalnya untuk bersiap jalan pagi.
"Ya udah kalian tunggu di sini dulu ya mas Ferdi mau bangunin kakak kalian dulu, udah hampir setengah enam keburu telat nanti solat nya." Ferdi sedikit mempercepat langkah nya menuju rumah.
15 menit kemudian Ferdi dan Dini sudah terlihat berjalan ber iringan. Dini juga melepaskan sandal nya hanya Andre disana yang masih memakai sandal swallow milik Ferdi.
"Waahhh... kak Dini dateng ayo kak kita jalan bareng. jalan di pagi hari tuh bagus lo kak untuk ibu hamil." Ucap Arsya tersenyum.
"Tau apa kamu bocah tentang kaya gituan! " Cibir Andre terkekeh .
"Ihh... ga percayaan banget sih tanya aja Kak Dini."
Dini hanya mengangguk dan tersenyum membenarkan perkataan Arsya. Mereka semua berjalan berkeliling desa, melihat asri nan sejuk nya suasana pagi hari.
"Nanti pulangnya jam berapa Ndre? " Tanya Ferdi.
"Sekitaran jam 10 mungkin mas."
"Ga nunggu sekalian sore? biasanya jam-jam segitu masih banyak polisi."
"Enggak mas mama udah nungguin lagian kecil-kecil begini umurku udah 18 tahun mas aku udah punya SIM ama KTP, kan aku baby Face. Kecuali si bocah itu punyanya baru KTP sekolah alias Kartu Tanda Pelajar, Hahaha." Ejek Andre yang membangga kan Diriku nya sendiri.
BUggg...!!!
Arsya mendorong Andre sampai terjatuh karna kesal akan ucapan Andre.
"Adduuhhh... Sakit bodoh," Cibir Andre
"Wleekkk"
"Cie...ngambek Hahaha." Andre terus menggoda Arsya sampai akhirnya mereka kejar-kejaran seperti anak kecil.
Setelah capek mereka menyusul Ferdi dan Dini dibawah pohon mangga.
"Ehh... denger nya dewasa nya seseorang itu bukan dilihat dari umur nya tapi bagaimana dia menyikapi masalah dan memutuskan sesuatu yang terbaik untuk dirinya maupun orang-orang Di sekitar nya." Ucap Arsya yang membuat ke 3 kakaknya itu melongo melihat ke arah wajahnya.
"Kok pada ngliatin aku kaya gitu sih, aku tau kok kalau aku ini Canismut (Cantik, manis, Imut) " Lanjut Arsya tersenyum bangga mengukir kuda rambutnya.
"Bbhhuhahaa.... " Tawa ke 3 kakaknya itu Kompak.
"Kenapa ketawa !!" Protes Arsya.
*****Selamattt membaca***
__ADS_1
Maaf jika banyak kekurangan nya. 🙏🙏
Aku padamu Readers ku 😘***