
Betapa indahnya hari ini.. Langit cerah dengan berbagai macam awannya. Awalnya aku adu mulut dengan ibuku biar bisa nongkrong di pondok yang kemarin dan akhirnya disinilah aku. Memandangi langit yang indah..
"Ah.... Dunia ini gak ada bedanya dengan duniaku yg dahulu. Atau jangan-jangan aku gak pindah dunia? Ya Tuhan sedih aku kalau begini."
"Ah.. Langsung gak mood lagi. Pulang aja lah."
Aku pun langsung pulang tanpa basa basi.
Besok melihat awan lagi aja lah.. hari minggu masih tiga hari lagi... Ah lamanya. Aku bergumam dalam hatiku.
Namun aku tidak sadar dengan apa yang terjadi pada hidupku keesokan harinya.
Besoknya aku baring lagi ke pondok. Aku melihat awan seperti biasanya.
Awan hari ini benar-benar bagus.
Tak terasa aku mendengar suara kaki yang mendekat ke arahku. Aku tidak memperdulikannya karena palongan orang lewat doang terus nyapa.
"Hey, kamu lagi ngapain?"
Suara anak perempuan? Dari suaranya terengan seperti anak seumuranku. Bukannya gak ada anak seumuranku di desa ini?
Aku bangun dari baringku.
Gila! Ni cewe cantik bener! Pikirku. Rambut merahnya seolah-olah memantulkan cahaya sehingga terlihat sangat menyegarkan mata.
Tunggu-tunggu dulu. Masa iya aku tertarik dengan perempuan usia 4 tahun? Ah, tapi aku kan 4 tahun juga. Mungkin karena itu.
"A-a-a aku sedang melihat awan."
"Awan?" Gadis tersebut menoleh ke arah langit. Dia memiringkan kepalanya sebentar lalu balik melihat ke arahku lalu duduk di sebelahku.
"Ajarin."
Wajah anak yang sangat ingin tahu! Aaaaah aku tak sanggup. Terlalu imut!
Aku harus berakting seolah-olah aku orang dingin biar keren.
"Kau tidak akan paham." Aku berbicara dengan suara kerenku.
__ADS_1
"Ahahahaha! Kayak robot!"
Seburuk itukah suara kerenku? Aaaaa! Yasudahlah ini mending aku gak pura-pura lagi dah. Diketawain ama anak 4 tahun itu benar-benar menjengkelkan.
"Kalau mau diajarin kita harus baring dulu."
"Oke."
Aku pun berbaring sembari melihat kearah langit. Perempuan itu ikut baring tapi bukannya dia melihat ke arah langit tapi dia malah melihat kearahku.
"Tolong lihat ke arah langit."
Dia mengangguk lalu melihat ke arah langit.
"Kau lihat awan di sana?" Aku menunjuk awan.
"Iya."
"Coba kami perhatikan dengan seksama.. Pasti awan itu membentuk sesuatu."
"Emmmmm." Gadis itu melihat kearah awan dengan serius sambil menyipitkan matanya.
"Ah iya! Ahahahaha keren. Kamu keren!"
"Kamu keren! Aku gak pernah kepikiran untuk melihat awan. Ternyata seseru ini!" Gadis itu kegirangan. Jika kau orang tuanya kau pasti akan merasakan kesenangan yang berharga karena anaknya terlihat sangat bahagia.
"Hei hei hei, yang itu mirip kura-kura. Eh yang itu mirip kuda. Eh yang itu..... Bla bla bla."
Ujung-ujungnya aku hanya melihat awan dengannya. Mendengar ocehannya sama sekali tidak menjengkelkan. Anak-anak memsng harusnya begini. Begitulah pendapatku.
Lalu setelah kira-kira 1 jam kami memandangi langit kami pun memutuskan untuk pulang. Yah, mungkin kami tidak akan ketemuan lagi tapi mendapatkan orang yang bisa memahami hal yang kusuka terasa menyenangkan.
"Kalau begitu aku pulang duluan ya." Ucapku sambil melampai setinggi bahu lalu berbalik badan.
"Tunggu!"
Aku berbalik badan.
"Ada apa?"
__ADS_1
"A-anu.. Boleh aku tahu nama kamu dan tempat tinggal kamu?"
"Namaku Daril, aku tinggal di rumah warna kuning di sana."
"Namaku Wina. Aaaa..... ummm. Apa kita teman?" Dia melihat ke bawah sambil menggerak-gerakkan kaki kanannya.
Teman ya? Bolehkan aku temenan ama cewe? Tapi gak ada lagi anak seumuran denganku di desa ini.
Tapi...
Punya teman itu adalah impianku saat aku reinkarnasi.
"Boleh. Kapan-kapan main ke rumahku ya.." Aku mengulurkan tanganku.
Dia tersenyum lalu menjabat tanganku dengan kedua tangannya.
kami pun berpisah.
"Aku pulang.."
"Ah Daril, pas banget. Mama udah selesai masak. Sini makan biar Mama yang ambilkan."
Aku mengangguk lalu duduk di meja makan.
"Kamu suka banget dengan pondok itu ya."
"Iya."
"Ah iya Mah, tadi aku dapat teman."
"Eh.. Namanya?"
"Lupa nanya. Tapi rambutnya merah panjang."
"Oh... Perempuan ya?"
"Iya."
"Jadi bagaimana, senang kah dapat teman?" Ibuku tersenyum lebih lebar dari biasanya. Tapi tetap kelihatan cantik.
__ADS_1
"Senang."
Ibuku pun mengelus kepalaku dan aku melanjutkan makanku.