Man That Has No Trust

Man That Has No Trust
Awan, Permainan dan Pengisi Kekosongan Hati


__ADS_3

Saat ini kami masih dalam waktu belajar.. Dan mata pelajaran yang sekarang ini adalah bermain. Aku dan Wina sedang bermain.


"Win.. Aku putar yak. Pegangan yang kuat."


"Ok!"


Aku memutar alat itu.. Wina berputar putar di permainan tersebut. Awalnya Wina berteriak diiringi tawa. Seraya aku menghentikan mainan itu Wina masih duduk.


"Seru.. Tapi ada yang aneh. Daril, bantu aku turun~"


Aku pun membantu dia turun. Ternyata dia merasakan kalau wilayah disekitarnya bergerak sendiri. Alias ling-lung. Aku memerhatikan dia seraya senyum sendiri.


"Mau coba yang lain?"


""Gak.. Aku mau istirahat."


"Ok."


Aku mencoba berbagai hal.


Aku mencoba permainan yang kita seperti di ninja warrior tapi aku tidak bisa memainkannya. Sepertinya tubuh ini tidak bisa dipakai untuk olahraga. Tapi dalam memahami pelajaran tubuhku lebih diunnggulkan jika dibandingkan dengan Wina.


Aku merasa lelah lalu baring diatas rumput.


Aku terdiam melihat awan.


Tak lama kemudian Wina mendatangiku lalu baring di sebelahku.


Bu Guru Kifa melihat kami baring menatap langit diatas rumput sambil mandi sinar mentari pagi.


"Kalau kalian baring disitu nanti baju kalian kotor, lho." Ibu Kifa mendatangi kami.

__ADS_1


"Kalian senang ya? Memandang awan."


"Ibu juga suka melihat awan?" Wina duduk menghadap ke arah Bu Kifa.


"Iya.. Dulu ibu memiliki cita-cita untuk menjadi seorang pelukis, namun karena Ibu tidak percaya diri dan akhirnya memutuskan untuk kuliah menjadi guru."


"Apakah menjadi guru tidak menyenangkan?"


"Menyenangkan kok.. Makanya Ibu masih bertahan mengajar di TK ini. Habisnya.. Ibu bisa bertemu dengan kalian berdua yang menggemaskan ini." Ibu Kifa mengelus kepala Wina.


Pelukis? Sepertinya aku ada hal yang berhubungan dengan lukis dan gambar yang membuatku merasa kesal. Namun apa itu?


Aku menutup mata dan melihat kedalam ingatanku. Aku terus membuka kotak dalam otakku untuk mencari tahu.


"Itu dia!"


"eh?"


"Tidak kenapa-kenapa kok bu." Tak lama kemudian aku pun berdiri dan berlari kearah kelas lalu mengambil buku dan pensil.


"Ada hal yang aku inginkan."


Wina yang melihatku berlari ternyata mengikutiku.


"Daril, ada apa?"


"Wina, ayo menggambar."


"Tapi aku enggak bisa menggambar."


"Saat ini kita memang belum bisa menggambar dengan bagus seperti di komik koran yang biasa dibaca ayahku. Tapi dengan latihan, aku yakin aku pasti bisa melampauinya. Aku yakin."

__ADS_1


Wina tersenyum


"Daril.. Matamu bersinar dengan terang sekarang."


"Apa maksudmu?"


"Kau tahu, matamu selama ini menggambarkan kalau kau tidak terlalu menikmati apa yang sedang kau lakukan. Tapi kali ini berbeda. Aku menyukainya"


"Terima kasih."


"Ayo kita menggambar!"


"Yeah!"


Ibu Kifa yang mengamati dari luar tersenyum di depan pintu.


"Kalau kalian mau menggambar ibu bisa membantu kalian lho "


"Yeay." Wina mengangkat kedua tangannya lalu berlari memeluk Bu Kifa.


Yah... Aku sebenarnya ingin melalukannya sendiri tapi tak apa. Aku yakin aku pasti bisa. Seseorang yang memiliki keterampilan mengajar dan mempunyai pengalaman jadi pelukis. Kombo yang bagus, kan?


Sekolah hari itu pun tak lama berakhir. Aku mengantar Wina pulang lalu pergi secepatnya kerumahku. Aku benar-benar tak terpikirkan. Cita-citaku sebelumnya aku menyerah pada cita-cita itu. Aku akan menjadi seorang komikus.


Suara langkah kaki yang sangat kuat. Pintu rumah dibukan dengan kuat. Lalu berhenti di depan ibuku.


"Mah..."


"Oh Daril, kenapa?"


"Belikan aku alat menggambar! Aku ingin menggambar!"

__ADS_1


__ADS_2