
Aku hanyalah gadis biasa, seharusnya. Tapi entah kenapa tidak ada yang mau berteman denganku. Anak-anak seumuran denganku bahkan tidak mau menatapku. Terkadang aku befikir, apakah ada yang salah dengan rupaku?
Setiap malam aku selalu menangis di kamar, ibuku selalu membujukku untuk tidak menangis.
"Bu, kenapa gak ada orang yang mau temenan dengan aku?"
Ibuku mengelus-elus kepalaku.
"Karena kau itu spesial."
"Kalau begitu, aku tidak ingin jadi spesial. Aku pengen main ama anak yang lain! Hiks!" Isakku.
"Dengarlah nak, suatu saat pasti kamu akan mendapatkan teman. Teman yang akan menerimamu apa adanya." Ibuku memelukku.
Aku juga ikut memeluk ibuku. Perlahan tangisku mulai reda dan tanpa kusadari aku tertidur.
Tak lama setelah itu aku mendapat kabar dari kedua orang tuaku kalau kami akan pindah ke desa. Lantas aku bertanya pada kedua orang tuaku.
__ADS_1
"Yah, Bu, bukankah desa itu enggak ramai? Kalau begitu bagaimana aku bisa mendapatkan teman?"
"Pasti ketemu kok, kamu yakin aja dengan perkataan Ayah."
Aku menggam rokku dengan erat. Aku seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Ayahku. Tapi... Aku ingin memercainya. Aku yakin kali ini aku pasti akan mendapatkan teman. Walau hanya satu.
Akhirnya hari pindah pun tiba, aku membantu orang tuaku sebisa mungkin. Aku ingin keluar jalan-jalan melihat desa tapi tidak bisa karena masih harus berbenah barang.
Esoknya aku pun punya kesempatan keluar dan orang tuaku memperbolehkanku pergi keluar.
Aku berjalan-jalan, aku melihat ada beberapa anak bermain bola. Aku ingin ikut nimbrung tapi aku tidak bisa main bola, aku takut jadi beban. Makanya aku memutuskan untuk tidak ikut bermain. Aku berjalan-jalan hingga menemukan warung. Di situ aku membeli beberapa kue dan air mineral.
Apakah dia sedang tidur? Atau dia sedang melamun? Aku yang penasaran akhirnya mendatanginya.
aku bertanya padanya apa yang sedang dilakukannya dan ternyata yang dilakukannya hanyalah melihat awan. Bukankah melihat awan itu membosankan? Jadi aku memintanya mengajariku cara menikmati awan. Setelah dia setuju dia berbaring. Aku juga ikut berbaring sambil menatap anak itu.
Tak lama aku pun disuruh untuk melihat ke arah langit lalu dia mengajariku bagaimana menggunakan observasi dan imajinasi untuk melihat awan.
__ADS_1
Tak kusangka aku malah menikmatinya, melihat awan itu semenyenangkan ini kah? Begitulah fikirku. Awan membuat berbagai macam bentuk jadi seperti sebuah karya seni.
Aku menikmatinya, aku sungguh menikmatinya aku bisa berbicara tanpa memikirkan apa yang harus aku katakan dahulu. Aku banyak mengoceh tentang awan yang kulihat kenpada anak itu, tapi dia tidak mempermasalahkannya sama sekali.
Ini adalah kali pertama dimana aku benar-benar merasa berbicara dengan seseorang. Sangat menyenangkan.
Aku tak tahu berapa lama aku melihat awan bersamanya, dan dia akhirnya memutuskan untuk pulang.
Eh? Sudah berakhir? Begitulah fikirku. Apakah aku akan bisa bertemu dengan dia lagi? Aku menganggap seolah-olah dia adalah orang yang istimewa bagiku. Karena dialah yang membuatku merasakan bagaimana rasanya berteman.
Saat dia mulai berjalan menjauh aku pun berdiri dan dengan cepat mendekatinya lalu bertanya namanya. Lalu aku ingin bertanya suatu pertanyaan yang ingin kuutarakan dari dulu kepada anak yang lain. Aku bertanya padanya apakah dia ingin menjadi temanku.
Mukanya tersenyum. Senyuman yang menunjukkan bahwa dia senang melihatku, dengan senyumnya itu dia menjawab pertanyaaanku dan memberitahu dimana dia tinggal. Sesaat dia menjawab iya aku merasakan suatu kebahagiaan yang tak terucapkan. Kami berjabat tangan dan kemudian pulang kerumah setengah berlari dan melompat.
Sesaat aku berada di rumah aku menemui ibuku dengan senyum aku berkata kalau aku akhirnya punya teman. Ibuku tersenyum dan mengelus kepalaku. Aku pun berlari ke dalam kamar dan langsung melompat ke kasur.
"Ahahahahaha, aku mendapatkan teman. Ahahahahaha." Aku terus tertawa bahagia sambil memeluk bantal.
__ADS_1
Begitulah hari peringatan dimana akhirnya aku mendapat teman.