Man That Has No Trust

Man That Has No Trust
Keseharian


__ADS_3

Suara bel rumahku berbunyi.


Ibuku yang mendengarnya pun membuka pintu dan terkejut melihat orang yang datang adalah seorang gadis kecil berambut merah.


"Ah, cari Daril ya?"


Gadis tersebut mengangguk.


"Ayo masuk." Ibuku mengajaknya masuk dengan gembiranya.


"Ah... Gak nyangka kalau teman Daril bakalan datang secepat ini."


Wina hanya terdiam sambil melihat kebawah lalu menoleh kesana kemari.


"Bu, Darilnya dimana ya?"


"Jam segini Daril belum bangun. Kamu udah sarapan kah?"


"Sarapan? Aku lupa." Wina melihat ke bawah lagi.


"Mau sarapan bareng Daril?"


Tiba-tiba setelah mendengar itu mata Wina bersinar dengan terangnya.


"Mau!" Wina menjawab dengan antusias.


'Makan bersama teman.' Wina begumam dari hati sambil tersenyum.


"Mau coba bangunkan Daril? Kamarnya di kamar kedua di lantai dua."


"Bolehkah bu?"


"Tentu."


Wina pun dengan senangnya lari ke kamarku.


'Ah... Dia manis banget.. Harus bisa deketin mereka. Aku merasakannya kalau dia pasti bisa jadi istri yg baik.' Ibuku bergumam sambil tertawa kecil.


Si gadis kecil polos itu dengan gembiranya masuk ke kamarku. Dia mengobservasi dahulu apa yang harus ia lakukan. Tak lama setelah itu dia menggoyang-goyangku namun aku tetap juga tidak bangun. Lalu dia memutuskan untuk duduk diatasku.


"Ah, beratnya." kataku sambil membuka mata karena tiba-tiba ada rasa yang tidak mengenakkan.


Sesaat aku membuka mata betapa terkejutnya aku melihat wajah seorang perempuan kemarin yang aku temui di pondok. Lalu perempuan tersebut mencium pipiku. Aku langsung reflek mengangkat badanku hingga gadis kecil itu terjatuh dan terduduk di atas kasurku.


"K-Kenapa kau menciumku? Terlebih lagi... Kena kau ada disini?."


"Aku bosan di rumah terus, gak ada orang di rumah.. Jadi aku main ke rumahmu. Hehe."


"Lalu bagaimana dengan ciuman itu?"


"?" Si gadis kecil itu memasang muka bodoh.

__ADS_1


"Aaaa... Biasanya kalau Ayahku membangunkan aku, aku pasti di angkat lalu dicium di pipi."


"Dengarkanlah wahai gadis kecil." Aku memegang kedua pundaknya.


"Ciuman seperti itu hanya diperbolehkan untuk orang yang kau sayangi dan kedua orang tuamu saja."


"Tapi aku juga menyayangimu kok."


Wajahku memerah dan aku terdiam sebentar.


"Na-ma.." Suaraku kecil.


"?"


"Boleh aku tahu namamu?" Suaraku sedikit lebih keras dari sebelumnya.


"Wina, Wina Sylviana."


Nama yang bagus. Begitulah menurutku.


"Daril."


"Iya?"


"Ayo turun, kita makan bareng."


Tunggu dulu, kalau seperti ini aku terlihat seperti menyukai seorang gadis kecil ini. Apalagi aku tadi sempat tersipu malu. Walaupun aku nampak seperti seorang anak umur empat tahun tapi tetap saja mentalku ini sudah kakek-kakek.


"Ayo.. Turun." Aku memegang tangan Wina lalu mengajaknya turun ke bawah.


Wina juga tersipu malu saat aku memegang tangannya.


Urrghhh ini bukan serial komedi romantis, kan?


Setelah itu kami pun turun kebawah dan langsung ke arah dapur.


"Wah akhirnya keluar juga. Eh? Kenapa wajah kalian berdua merah begitu?" Ibuku mengejekku.


Aku duduk di kursi. Wina duduk di kursi sebelahku.


"Eh... Daril... Jangan-jangan kamu su-"


"Mah aku gak mau denger." Aku menunjukkan wajah kesal.


Setelah itu ibuku pun membawa beberapa piring yang berisikan lauk dan nasi. Kami bertiga makan bersama.


Lalu setelah itu aku dan Wina duduk di ruang keluarga sambil menonton acara pagi yang membosankan.


"Daril, kapan kamu ke pondok?"


"Entahlah, kalau aku niat aku pergi.. Tapi aku tidak tahu kapan."

__ADS_1


"Tapi aku mau lihat awan lagi."


"Kau kan bisa melihatnya sendiri."


"Tapi, aku ingin melihatnya bersama kamu." Wina tampak sedih.


"Oke oke... Kita pergi."


Wina yang tadi terlihat sedih langsung terlihat antusias.


"Mah, aku bareng Wina pergi main dulu ya.."


"Iya.. Hati-hati ya."


Kami pun pergi ke pondok. Wina baring di sebelahku. Aku tak menyangka gadis perempuan yang kutemui kemarin itu sangat agresif.


Tapi aku heran... Kenapa dia tidak pernah muncul selama ini. Bahkan ayahku bilang kalau anak usia empat tahun itu cuman aku. Apa dia pendatang baru?


"Uhhh, Wina."


"Iya?"


"Apa kamu aslinya dari sini?"


"Enggak.. Aku aslinya dari kota. Aku belum lama ini pindah ke sini."


"Gak kangen?"


"Enggak. Disana hanya ada pengalaman jelek."


"Berarti kamu betah berada disini?"


"Asalkan ada kamu."


Aku melihat ke arahnya. Dia tetap melihat ke awan. Aku malah tersipu malu.


Kenapa aku harus tersipu malu sih.. Aku lebih tua dari dia! (dari segi ingatan).


"Daril."


"Ada apa?"


"Apakah kita akan selamanya bisa seperti ini?"


Aku tak tahu kenapa dia bertanya seperti itu. Dia pasti memiliki hal yang di khawatirkannya dan aku harus menghilangkan kekhawatiran itu darinya. Ya. Itulah kewajibanku.


"Tentu.. Mari kita membuat banyak memori bersama."


Tiba-tiba Wina menggenggam tanganku dengan erat. Tapi kali ini aku tidak tersipu malu.


Dan kami pun sering menghabiskan hari-hari kami dengan melihat awan bersama.

__ADS_1


Semoga dia nanti bisa mengingat hari-hari ini ketika dewasa nanti. Itulah yang kuharapkan.


__ADS_2