Man That Has No Trust

Man That Has No Trust
TK


__ADS_3

Berbulan-bulan pun berlalu. Tak terasa hari ini adalah hari dimana aku akan masuk TK. Aku saat ini sedang dipakaiin ibuku seragam TK, padahal aku bisa melakukannya sendiri tapi ibuku tetap bersiteguh untuk memasangkan seragam padaku.


Dari rumahku menuju TK agak jauh. Tapi lebih jauh lagi rumah Wina, dan TK tidak jauh dari rumahnya. Aku bahkan sempat heran berapa banyak stamina yang dimiliki Wina bisa berjalan sejauh itu di umur 4 tahun. Kami masuk 5 tahun sekarang. Banyak hal yang bisa dilakukan di TK kata ibuku. Lantas setelah aku memakai seragam aku pun langsung berangkat. Aku harus menjemput Wina dahulu sebelum ke TK. Itulah kata ibuku. Terasa menyebalkan tapi karena tahun ini hanya aku dan wina yang masuk ke sekolah jadi lebih baik aku menjemputnya. Lagian dia satu-satunya temanku.


Setelah berjalan jauh akhirnya aku tiba di rumah wina. Aku memencet bel rumahnya. Lalu ada seseorang wanita membuka pintu.


Dia sepertinya ibu wina. "Maaf bu, Winanya ada?"


"Oh.. Kamu pasti Daril. Sebentar ya.. Wina sedang sarapan."


Sarapan? Tapi kenapa selama ini dia selalu sarapan dirumahku?


Tak lama setelah itu Wina pun keluar. Wina mencium tangan Ibunya lalu pergi.


"Aku berangkat dulu ya Bu."


"Iya, hati-hati dijalan."


Aku menggandeng tangan Wina. Ibuku menyuruhku untuk menggandeng tangan Wina saat pergi ke TK.


Hal seperti ini memang melelahkan. Kenapa aku selalu merasakan hal-hal sepele melelahkan, ya? Aku malah bingung sendiri.


"Woah..."


"Kenapa sekarang baru woah-nya? Kamu tiap hari lewat sini kan kerumahku?"


"Iya."

__ADS_1


"Jadi?"


"Aku kalau pergi kerumahmu gak lihat kanan-kiri. Jadi ini baru kali ini aku lihat TK ini."


"Seriusan?"


"Iya."


"Aneh."


"Aku gak aneh, aku manis."


Aku menatapnya sebentar.


"Ayo masuk."


"Selamat pagi..." Aku melihat seseorang yang sudah berumur 40-an. Mungkin dia pengajar disini.


"Pagi." Aku dan Wina menjawab.


"Perkenalkan, Ibu yang akan membimbing kalian selama setahun ini. Nama Ibu Kifa."


"Salam kenal Bu Kifa."


Bu Kifa tersenyum lalu menjelaskan banyak hal kepada kami.


Mulai dari apa yang akan kami pelajari sampai hal-hal sepele seperti aturan saat memainkan berbagai permainan di TK.

__ADS_1


Wina mengangkat tangan.


"Bu Kifa, apakah bermain lebih menyenangkan daripada melihat awan?"


Serius kau dek? Ada banyak hal yang harus kau khawatirkan, kenapa kau cuman mikirin awan? Gawat dah, ini pasti gara-gara aku.


"Dua-duanya." Bu Kifa tersenyum lalu mendekati Wina.


"Nanti.. Di SD bakalan lebih banyak hal menyenangkan di sd yang lebih bergengsi.. Jadi belajarnya yang giat ya.."


"Iya Bu Kifa."


"Daril juga ya.."


"Iya bu.." aku mengangguk.


Kami tak banyak belajar di TK kebanyakan kami hanya bermain. Namun Bu Kifa kadang terkejut karena aku dengan mudah belajar dalam behitung dan membaca. Kalau sekedar perhitungan dasar mah.. Aku tahu. Tapi kalau sudah tingkat menengah keatas aku angkat tangan. Mungkin karena aku mati tua kali ya.. Makanya banyak hal yang tidak diingat.


"Baiklah.. Sampai segini saja kita hari ini. Sampai jumpa besok lagi ya.."


"Baik bu." Aku dan Wina menjawab bersamaan.


Aku mengantar Wina ke rumahnya. Lalu Wina melambaikan tangannya kearahku sambil membuka pintu sekidit.


Aku sudah mendapatkan apa yang kuinginkan. Wina nanti bisa kuanggap sebagai sahabat, jadi aku bisa menambah teman kalau aku nanti sudah sd, smp atau sma.


Namun ada sesuatu hal yang kurasa kosong dan aku tak tahu apa yang bisa mengisi kekosogan hati ini.

__ADS_1


__ADS_2