
Embun bertengger diujung dedaunan jatuh ke tanah bak mutiara disambut kicau burung yang saling sahut, sementara di ufuk timur mentari mulai bertahta sungguh hari yang sangat indah dan damai.
Namun, nun jauh dari pemandangan tersebut tampak keadaan yang sebaliknya, suara bising menderu memekakkan telinga membangunkan siapa saja yang mendengarnya kepulan asap terlihat dimana – mana menyesakkan dada, tak ada kedamaian dan kesejukan yang terasa seperti itulah aktivitas yang terjadi setiap harinya di kota besar yang terkenal dengan keganasannya itu.
Sementara itu, di sebuah Apartement tampak seorang gadis belia sedang tertidur pulas dengan selimutnya. Rambut lurus hitam legamnya terlihat sedikit acak acakan. Tak beda jauh, pakaian gadis itu juga semeraut berantakan. Ia menggeliat pelan meregangkan tubuh, menyingkap selimut malas gadis itu seakan tak menghiraukan kebisingan yang terjadi dengan santai ia membuka matanya.
Beberapa saat ia hanya duduk, terdiam di tempat tidur sembari matanya menyapu ke semua penjuru ruangan. Dan, tiba – tiba gadis itu tersentak seolah menyadari sesuatu, ia terlonjak dari tempat tidur.
"Arrrggaahhhh!” jeritnya sekencang mungkin ketika menyadari, ia hanya mengenakan pakaian mini yang membungkus tubuhnya.
"Venus, Ada apa?” tiba – tiba seorang pria muda muncul dari balik pintu kamar membuat gadis bernama Venus itu kembali berteriak, ia menarik selimut secepat kilat menutupi tubuhnya, dengan terpaksa pria itu membekap mulutnya dengan tangan.
Venus, gadis yatim piatu itu sudah sejak usia lima tahun tinggal di panti asuhan. Ia yatim piatu bukan karena kedua orang tuanya yang sudah meninggal, melainkan karena kedua orang tuanya yang meninggalkannya. Gadis berambut panjang lurus dengan kulit putih bersihnya itu, tak percaya siapa pun selain dirinya dan Bu Marya kepala Panti Asuhan tempat ia dibesarkan. Termasuk sosok yang kini sedang membekapnya ini, mata gadis itu membulat menatap pria didepannya itu marah.
Venus terus berontak dan mengguman tak jelas karena mulutnya dibekap, hingga akhirnya gadis itu menginjak kaki pria tersebut dengan keras. Giliran pria muda itu yang berteriak kesakitan sembari memegangi kakinya, menjauh.
"Kamu kenapa sih?!” bentaknya meringis menahan sakit.
"A-apa yang kamu lakukan? Kenapa aku ada disini?!” teriak gadis itu tak kalah lantangnya.
"Semalam kamu nggak sadarkan diri, makanya aku bawa kesini… .” jawab cowok itu santai yang justru membuat gadis itu membelalakkan matanya terkejut.
"A-apa Kamu gila !? Kenapa Kamu bawa Aku kesini?! Dasar Brengsek!” makinya menjerit keras melemparkan benda apa saja yang ia raih dari tempat tidur pada pria di depannya itu marah.
__ADS_1
" Kalo bukan kesini, memangnya aku harus bawa Kamu ke mana? Lagian salah sendiri, ngapain mabuk tengah malam?” cerca pria itu, mengambil bantal yang berserakan di lantai dan melemparnya kembali ke atas tempat tidur.
" Memang B*J*NG*N Kamu, Mars Chesavior!" kalimat itu meluncur dingin dari mulutnya, tatapan penuh kebencian terlihat jelas dari manik hazel mata gadis itu.
" Venus... ." Pria muda itu mendekat mencoba meraih tangannya. Kasar, gadis bernama Venus tersebut langsung mendorongnya keluar kamar dan mengunci pintu.
" Percuma juga kamu mengunci pintu, jangan lupa ini Apartemenku. Venus, buka pintunya. " Mars menggedor pintu kamar beberapa kali. Tak ada jawaban, ia menyandarkan punggungnya pada tembok, sesekali ujung matanya melirik pintu kamar yang belum juga terbuka.
Mars menghela nafas, ia berbalik ketika mendengar knop pintu kamar dibuka. Venus keluar dengan pakaian lengkapnya, termasuk tas dan beberapa buku terlihat ditangannya. Mars yang sejak tadi berdiri di depan pintu kamar, langsung menghalangi langkahnya. Gadis itu menatapnya tajam, meski airmata terlihat membasahi
pipi cantiknya, ia tak perduli dengan sosok tinggi menjulang didepannya itu, Mars hanya tertegun terdiam ditempatnya.
Venus mendorong kasar pria didepannya itu, ia menghapus airmatanya kasar dan dengan keras membanting pintu kamar. Namun langkahnya kembali terhenti karena tangannya yang tiba-tiba ditarik oleh Mars. Venus menghempas kasar tangan Mars, ia tengadah membuang muka, menghembus napas kesal melihat semua bukunya berhamburan di lantai.
"Kamu nangis? Kenapa?” Mars memegangi lengan Venus.
" Hahh! dasar sial, " umpat Venus mendengus kesal menyeka air matanya. Ia melangkah pergi tanpa berniat mengambil bukunya yang berserakan di lantai.
Mars menyusul langkah Venus yang mendekati pintu dan dengan kasar ia menghempas pundak gadis itu kesal.
"Tunggu dulu. Nggak bisa gitu dong Venus. Kamu nggak bisa menyebut aku Bajingan sesuka kamu... .” Mars masih ingin melanjutkan ucapannya. Namun, Plaakk! pipinya terasa panas memerah tamparan tiba-tiba mendarat mulus diwajahnya. Mars memegangi pipinya kemudian beralih menatap tajam Venus yang berdiri didepannya, senyum tersungging di wajah pria itu membuat Venus menggeser posisinya sedikit menjauh.
".... untuk apa, tamparan kamu barusan? Hah! Kamu marah karena, aku membawa kamu kesini? Atau karena..."
__ADS_1
PLAAKK! sekali lagi tamparan keras mendarat di wajahnya. Mars memejamkan mata menahan rasa perih di pipinya.
" Brengsek! Puas kamu sekarang!” sentak Venus airmatanya kembali mengalir tanpa kompromi.
"Jangan sebut aku Brengsek!“ bentak Mars menghempaskan pundak gadis itu dengan kesal. Ia mendorong tubuh Venus hingga ke tembok, dan mengukungnya meletakkan kedua tangan di tembok menghimpit di kiri kanan Venus. Gadis itu terlihat menghindari tatapan Mars.
" Brengsek? Memangnya kamu tau, se-Brengsek apa yang aku lakukan sama kamu, hah!? Bukannya semalam kamu nggak sadarkan diri? Memangnya kamu ingat, apa yang aku lakukan?!?" Cecar Mars dengan nada meninggi mengintimidasi, tatapan tajamnya seakan siap menerengkam mangsa di depannya itu utuh tanpa sisa.
" Siapa yang akan berpikir, Bajingan seperti kamu akan berubah? Nggak akan pernah ada. Sekalinya Brengsek, selamanya akan seperti itu. Jadi, Menyingkir dari hadapanku! " Sarkis Venus mendorong tubuh Mars menjauh. Tapi pria itu tak bergeming sama sekali, senyum sinis terpampang jelas diwajahnya menatap penuh intimidasi gadis cantik yang sejengkal di depannya itu meremehkan.
" Sayang sekali. Coba saja kalau kamu ingat, kamu akan tau Bajingan di depan kamu ini... se-Brengsek apa memperlakukan gadis cantik seperti kamu. " Mars meraih tangan Venus lembut dan menggenggamnya, gadis itu tersentak dan menepisnya kasar.
" ...atau, kalau kamu mau dengar, aku bisa ceritakan semua yang terjadi tanpa terlewat satu pun. Gimana? Kamu mau dengar?" tawar Mars lembut, bersedekap melipat kedua tangan di depan dadanya. Mengajukan pertanyaan seolah tanpa beban, mata tajamnya tak luput mengawasi ekspresi Venus yang mengalihkan pandangannya.
Venus mendorong sekuat tenaga membuat Mars menjauh darinya. Ia berlari membuka pintu melangkah keluar, langkahnya gadis itu tiba – tiba terhenti saat didepan pintu dengan raut wajah terkejut. Sementara Mars kembali mencoba mengejar Venus dan menahannya dengan mencekal lengannya.
"Kenapa kamu melarikan diri? Aku belum jelaskan apa yang terjadi semalam--- . ”
"Apa yang terjadi?” terdengar sebuah suara yang memotong ucapan Mars membuat cowok itu terkejut dan segera mengalihkan pandangan kedepannya, melihat siapa yang datang. Ia semakin terkejut tatkala tau siapa yang kini berdiri dihadapnya. Secepat kilat, ia melepaskan tangannya yang menahan tangan Venus.
🍁🍁
TBC
__ADS_1
Annyeong Chingu,
Gomawo, udah mampir💚❤️