
🍂Happy Reading🍂
Venus duduk di bangku taman kampus, sembari membaca buku ditangannya. Ia seakan tak perduli dengan sekitar yang menatapnya dan berbisik-bisik. Tiba–tiba ponselnya berdering, gadis itu langsung beranjak dari duduknya.
"Kamu dimana?" Kalimat pertama yang ia dengar saat menjawab telepon tersebut. Sejenak ia terdiam, mendengar suara dari seberang sana.
"Jawab. Temui Ibu di depan gerbang kampus, atau Ibu yang kesana," cetus suara dari seberang sana, cukup membuat Venus tersentak.
"I-Ibu, di kampus Venus?" gagapnya bergegas menuju gerbang kampus.
"Tidak usah banyak tanya, cepat kesini." Wanita setengah baya itu langsung mematikan sambungan telepon. Wajahnya terlihat kesal, dan menahan amarah. Ia mengibaskan tangan menghalu panas sambil celingukan menunggu Venus, dari kejauhan tampak gadis itu setengah berlari menuju kearahnya.
"Bu, kenapa datang ke kampus? Venus udah bilang kan akan pulang besok," Venus memegangi lengan wanita setengah baya tersebut gugup.
"Keterlaluan Kamu, bisa-bisanya... ." Venus langsung menarik wanita yang ia panggil Ibu tersebut menjauh dari area kampus.
"Bu... ."
Plaakk! Belum sempat gadis itu melanjutkan ucapannya, sebuah tamparan mendarat diwajahnya.
"Tidak tau diri Kamu!" maki wanita itu mendorong tubuh Venus kasar. Sementara Venus hanya terdiam, menunduk tak ingin membantah.
"Kenapa diam? Dasar anak tidak tau terimakasih." Wanita itu kembali akan melayangkan tangan menampar wajah Venus.
Tiba–tiba Mars muncul dan melindungi Venus, ia yang terkena tamparan. Wanita itu terkejut, begitu juga dengan Venus. Gadis itu menatap Mars yang berdiri membelakanginya.
"Siapa lagi, pria ini? Tidak tau malu! Bisa–bisanya, Kamu mempermalukan Kita dengan tidur dirumah pria asing." Wanita itu terus memaki Venus dan mendorong tubuh Mars yang menghalanginya dengan kasar.
Venus diam tak berniat sama sekali meladeni amarah wanita didepannya tersebut. Sementara Mars yang sejak tadi berdiri disana, berbalik menatap Venus.
"Bu Ratna, Saya mencintai Venus.” Pengakuan Mars membuat wanita yang ternyata salah satu Ibu dari panti asuhan, tempat Venus dibesarkan itu terkejut, tapi tidak dengan Venus yang terlihat semakin kesal.
"Hentikan!” Sentak Venus lantang.
"Venus."
"Apa, cinta? Hah, karena itu kalian tidur bersama? Dan, mengirim orang tua itu menemui Bu Aminah!” cetus Bu Ratna sinis menatap Mars dan Venus bergantian.
"O-orang tua, siapa?” tanya Venus tak mengerti.
"Jangan pura-pura bodoh. Jual diri sekalian, kalau kamu butuh uang." Sinis Bu Ratna menatap rendah Venus.
__ADS_1
"Bu Ratna, tolong jaga ucapan Anda,” sela Mars tak suka dengan caranya memperlakukan Venus.
"Venus akan terima saran Ibu. Maaf, Venus akan pulang besok menemui Bu Aminah,” ujar Venus, membuat wanita bernama Ratna tersebut terdiam. Sementara Mars menatap Venus, terkejut. Wanita setengah baya itu melengos pergi, mencibir Venus dengan tatapan sinisnya.
"Apa masih ada yang mau kamu katakan?” ucap Venus datar menatap Mars dingin, begitu Bu Ratna sudah tak terlihat lagi. Tatapan Mars berubah saat melihat raut wajah Venus, ia mendekat dan meraih tangan gadis itu lembut.
"Bisakah Kamu ikut aku, Venus? Kita temui Eyang," ucapnya hati-hati. Gadis itu menatapnya dengan pandangan yang tak ia mengerti.
"Aku akan katakan sekali lagi," Venus melepas tangan Mars yang memegangi tangannya. Mars mengerutkan keningnya tak mengerti.
"Kapan dan di manapun, tolong anggap Kamu tak pernah melihatku. Aku mohon, berhenti muncul di depanku," pinta Venus.
Belum sempat satu kata keluar dari bibir Mars, gadis itu langsung berlalu meninggalkan Mars yang terdiam termangu memandangi punggung Venus yang kian menjauh.
🍁🍁🍁
"Kenapa dia belum keluar juga?" gumam Mars terus menerus melihat ke arah gerbang sebuah Panti Asuhan yang bertuliskan Kasih Bunda itu. Sejak beberapa jam yang lalu ia duduk di dalam mobilnya. Sengaja mengikuti Venus dari dua hari yang lalu, pria itu terlihat gelisah tak sabar menunggu.
Venus terlihat keluar dari Panti Asuhan tersebut dengan membawa sebuah koper. Mars hanya mengikutinya pelan mengiringi langkah gadis itu pelan dengan mobilnya.
Mars menghentikan mobil tepat didepan Venus, saat ia sudah lumayan jauh dari Panti Asuhan. Venus langsung bergegas menjauh, ketika melihat Mars keluar dari mobil menghampirinya. Tapi, dengan sigap Mars menariknya, masuk ke dalam mobil.
"Apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku. Cepat buka pintunya," ketus Venus memaksa membuka knop pintu, mencoba untuk kabur.
"Lepaskan aku…,” beronta Venus mendorong tubuh Mars menjauh.
"Venus, dengarkan Aku. Menikahlah denganku,” pinta Mars menatap dalam Venus yang tertegun dengan ucapannya.
"Apa? Menikah? Buat apa, hah?" Sinisnya kesal
"Aku akan bertanggungjawab... ."
"Apa yang kamu inginkan sebenarnya? Tidak ada yang akan berubah, meski kamu menikahiku," cetus Venus mengalihkan pandangannya.
"Venus---”
"Bagaimana bisa, seseorang berkomitmen hidup dengan orang lain, sementara Dia tidak pernah mempercayai siapapun."
"Kamu bisa, mencoba mempercayai Aku... ." Venus tertawa sarkasme menatap tajam Mars yang tak melanjutkan ucapannya.
"Percaya bukan tentang kata. Berpikirlah Mars, bisakah seorang gadis mempercayai pria yang sudah menghancurkan hidupnya?!" Sarkasme-nya sinis. Mars terpana menatap penuh penyesalan pada gadis di depannya itu.
__ADS_1
"Maafkan Aku Venus,"
"Dibuang dari satu-satunya tempat yang dia anggap rumah. Tak punya tujuan, dan jaminan masa depan. Hidupnya sekarang benar-benar berakhir,” cetus Venus, tersenyum getir.
"Ini bahkan belum dimulai,” tandas Mars tegas.
"Benar. Dia akan memulai hidup yang baru, dengan identitas baru. Mengikuti saran seseorang yang dia anggap Ibu, dia mungkin akan hidup sebagai wanita panggilan."
"Venus!" sentak Mars kembali memegang pundak gadis itu kasar.
"Aku meminta Kamu, menikah denganku. Aku tidak akan menuntut apapun, hm? Menikahlah dengan Venus," pintanya lagi.
"Menikah, dengan orang yang tidak dicintai. Atau, bahkan malah mencintai orang lain? Apakah hidup seperti itu yang harus Aku jalani?” Mars terdiam mendengar ucapan Venus.
"Apa hidup akan sesulit itu, jika Kamu bersama denganku?” ujar Mars akhirnya. Venus hanya terdiam tak bergeming.
"Aku cuma mau kita men... .”
"Aku tidak butuh apapun dari kamu…," potong Venus tanpa menoleh Mars yang masih menatapnya. Gadis itu meremas jemarinya sendiri, pandangannya beralih keluar jendela yang tertutup rapat. Pantulan wajah sayu gadis itu, samar terlihat dari kaca jendela mobil berwarna pekat tersebut.
"Venus," panggil Mars lembut, namun gadis itu tak bergeming. Mata sayu itu, sekuat tenaga membendung bulir bening yang tanpa permisi mulai membasahi pipinya.
"Apa yang harus Aku lakukan, agar Kamu menerima Aku, Venus," ujar Mars menggenggam setir didepannya erat, ia mengulurkan tangan untuk memegang tangan Venus, namun ia urungkan. Gadis itu menangis tanpa suara.
"Aku salah. Aku tau, meminta maaf tak akan mengubah apapun. Katakan apa yang harus aku lakukan, Venus?" Mars menatapnya sendu terlihat jelas dari mata pria itu rasa bersalah, meski penyesalannya tak akan mengubah apapun sekarang.
"Aku, akan berusaha melakukan apapun yang Kamu inginkan... .” Venus menatap Mars. Mata cantik itu basah, jelas terlihat bulir bening itu mengalir jatuh diwajah pucatnya, membuat Mars tertegun menghentikan kalimatnya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" gadis itu sesenggukan menutup wajah dengan kedua tangan. Tubuhnya bergetar menahan isak tangisnya.
"Venus, Menikahlah denganku. Aku mohon, biarkan Aku melakukan yang seharusnya,” pinta Mars lembut mencoba meyakinkan Venus yang seketika terdiam, meski isaknya masih terdengar pelan. Gadis itu menatap tajam Mars.
"Apa yang Kamu sebut seharusnya? Setelah kamu menghancurkan hidup Aku… apa yang kamu sebut dengan seharusnya? Hah! Apa?” teriak Venus meluapkan amarahnya dengan memukul Mars tak beraturan.
Airmata gadis itu kembali tumpah, Mars meraih tangan Venus dan menahannya, ia menatap dalam manik hazel mata yang basah itu.
"Aku akan berikan apapun yang Kamu inginkan, termasuk hidup Aku. Kamu bisa lakukan apapun, Aku janji tak akan mengharapkan atau menuntut apapun… .”
Venus menghempas tangan Mars, ia membuka knop pintu mobil dan keluar langsung pergi, diikuti pandangan Mars.
🍁🍁🍁
__ADS_1
TBC