
πHappy Reading π
"Maaf, apa kalian melihat Venus?" tanya Mars pada sekelompok mahasiswa yang ia hampiri. Mereka menggeleng, karena memang gadis itu jarang bergaul dengan teman-temannya meski satu fakultas.
Mars kembali bertanya pada beberapa mahasiswi yang ia jumpai di koridor kampus, tapi tak ada yang tau dimana gadis itu berada. Mars menghembus napas putus asa.
"Dia bersembunyi dimana, sampai aku hampir gila karena terus mencarinya," gumam Mars mencengkeram rambutnya kesal.
Ini sudah hampir satu minggu, sejak kejadian di apartemennya. Mars terus mencari dan berusaha menghubungi Venus, tapi entah kemana perginya gadis itu bahkan di kampus pun tak nampak sosoknya.
Kemanapun ia mencari, hasilnya nihil. Sulit menemukan gadis itu belakangan ini dikampus. Ia seperti sengaja menghindar, dan Mars mengerti akan hal itu. Tapi, penting baginya bertemu dengan Venus sekarang, jika tidak Eyang akan marah besar padanya.
Satu hal yang pasti adalah ia harus segera menemui Venus dan menyelesaikan masalah yang terjadi diantara mereka.
Mars sedang memeriksa ponselnya, dan berusaha menghubungi Venus, ketika tiba-tiba mendengar sebuah suara memanggil nama gadis itu.
"Venus, mau kemana. Udah mau pulang ya?" tanya seorang gadis didepannya menghentikan langkah Venus yang buru-buru. Mars melihat Venus yang tak jauh darinya, segera menghampirinya
"Venus," panggil Mars berdiri tepat dibelakangnya, Venus spontan berbalik. Gadis itu secara repleks melangkah mundur, mengetahui siapa sosok yang baru saja memanggil namanya tersebut.
"Venus, aku mau bicara...," Venus berbalik dan langsung pergi
"Venus," cegah Mars. Namun, Venus terus melangkah pergi, tak menghiraukan Mars yang terus memanggilnya, hingga pria itu terpaksa menghentikan langkahnya dengan memegangi tangannya.
"Venus, berhenti. Mau sampai kapan Kamu terus menghindar? Kamu nggak harus bersikap seperti ini kan?β Mars menghentak tangan gadis itu kesal.
"Lepaskan," tepis Venus kasar pada tangan Mars yang menahannya.
"Memangnya kamu pikir, aku harus bersikap seperti apa, sama orang yang sudah menghancurkan hidup aku, hah!" teriak Venus lantang mendorong Mars kasar.
"Iya,Aku tau. Tapi kamu juga salah... .β
"Iya, Aku memang salah. Aku terlalu bodoh, karena kenal pria brengsek seperti kamu!β cetus Venus tajam, dan berlalu. Mars menghentikan langkahnya dengan menghempaskan pundak gadis itu kasar.
"Brengsek? Memangnya kamu tau, apa yang aku lakukan sama kamu, hm?β cerca Mars menatap Venus tajam.
"Kamu mau, aku mengatakannya disini?!β tantang Venus tersenyum sinis menatap Mars yang berdiri dihadapannya.
__ADS_1
Mars melihat sekelilingnya, beberapa pasang mata sedang memperhatikan mereka sejak tadi. Terlebih ucapan Venus memancing beberapa orang menimbulkan bisik-bisik kecurigaan menatap mereka penuh rasa ingin tau.
Apalagi, hampir semua orang juga tau bagaimana hubungan Mars dan Venus. Selain memang keduanya tak pernah akur dan sering berselisih paham. Peristiwa dua tahun lalu, cukup membuat semua orang terkejut bagaimana kompleksnya hubungan keduanya.
Dua tahun lalu, Venus pernah dilarikan ke rumah sakit setelah beberapa saat sebelumnya terjadi perdebatan antara dirinya dengan Mars.
Tak ada yang tau pasti apa yang terjadi saat itu. Kampus tiba-tiba menjadi gaduh dan heboh karena Venus yang awalnya berdebat hebat dengan Mars berakhir dengan melukai pergelangan tangannya sendiri hingga harus dilarikan ke rumah sakit.
Selama sebulan lebih kejadian itu, masih menjadi perbincangan antara mahasiswa di kampus. Banyak isu yang berkembang, namun hingga saat ini pun tak ada yang tau pasti apa yang terjadi saat itu.
Venus bahkan tak pernah terlihat di kampus selama hampir sebulan tersebut. Banyak yang beranggapan gadis itu trauma bahkan ada yang menyebutkan ia dirawat dan pindah.
Namun entah kenapa, gadis itu tiba-tiba kembali ke kampus. Tak ada yang berubah, dari gadis itu, selain sikapnya yang makin dingin bahkan terkesan menghindari bersosialisasi dengan siapapun di kampus.
Seiring berjalannya waktu, orang-orang mulai tak perduli,dan bersikap seolah peristiwa itu tak pernah terjadi dan mengubur sepercik kisah tersebut tanpa berniat mengungkitnya sama sekali.
Mars menatap Venus sejenak, ia menarik tangan gadis itu mengikuti langkahnya menuju taman belakang kampus, yang kemungkinan sedang sepi karena menjelang sore kelas dikampus sudah mulai selesai.
Tiba di taman, Mars kembali melihat sekeliling memastikan tak ada orang yang menguping pembicaraan mereka. Tanpa sadar jika tangannya sejak tadi masih menggenggam tangan Venus.
"Buat apa kamu bawa aku kesini! " cetus Venus kesal berbalik ingin pergi namun dengan sigap Mars kembali mencekal pergelangan tangannya.
Venus meringis ketika Mars menyentuh tangannya, dengan kasar ia kembali menghempas tangan Mars darinya.
Mars terdiam beberapa saat, tatapannya tertuju pada pergelangan tangan Venus yang langsung menyembunyikan tangannya ke belakang ketika menyadari arah pandangan mata Mars tak tertuju padanya.
"Kalau kamu merasa, aku melakukan sesuatu yang tak sewajarnya... Aku akan bertanggungjawab," ucap Mars pelan memperhatikan Venus yang mengambil langkah mundur menjauh darinya.
"Me-rasa? Kamu pikir apa yang aku rasakan, hah?"
"Venus... ."
"Tanggungjawab? Aku nggak butuh! Bukannya ini yang kamu inginkan?!β
"Aku, tidak bermaksud... ."
"Sejak awal Kamu berhasil mengacaukan hidup aku. Apa masih belum cukup? Kenapa kamu harusβ¦ .β Venus menghentikan kalimatnya ia tersenyum namun matanya terlihat berkaca β kaca, gadis itu mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
"Heh. Mencintai? Kamu berhasil membuat semua orang percaya, dengan semua kebohongan itu. Semua orang berpikir, Aku yang brengsek, karena...β Venus terdiam menahan perasaannya.
"Venus," Mars mendekat, dan secepat itu juga Venus melangkah mundur menghindar.
"Kenapa kamu membuat semua kebohongan seperti nyata? Kenapa Mars, kenapa?!" teriak Venus, airmatanya tak bisa ia bendung lagi.
"Setelah semua yang kamu lakukan, apa harus kamu...membuat semua orang tahu tentang yang terjadi?β isaknya
"Venus."
"Aku hancur Mars. Dan, sekarang hidup aku benar-benar berakhir karena semua kebohongan yang kamu katakan... ."
"Itu bukan kebohongan,β timpal Mars menatap gadis itu tajam.
"...tidak bisakah kamu biarkan aku, menyelesaikan kuliah ku dengan tenang? Setidaknya dengan itu,Aku bisa berpikir untuk melakukan sesuatu, agar tetap hidup," isaknya tersedu
"Venus, Aku yang akan bertanggungjawab dengan hidup kamu."
Venus tertawa sumbang mendengar apa yang Mars katakan, meski airmatanya masih mengalir. Ia kemudian menghapus airmatanya dengan telapak tangan kasar.
Perkataan Mars sepertinya tak ada pengaruh, Venus membiarkan airmatanya yang kembali mengalir ia menghela napas panjang sebelum melanjutkan ucapannya.
"Apa aku terlihat sebodoh ituβ¦,β teriak Venus menatap tajam Mars didepannya, gadis itu menjambak rambutnya dengan kesal.
"Venus, hentikan!β sentak Mars menghempaskan tangan gadis itu. Namun, Venus mendorong tubuhnya menjauh.
"Iya benar. Bisakah kamu hentikan semua ini, hah? Kenapa kamu nggak buat saja aku berhenti bernapas, biar kamu puas!β jeritnya lagi menghindari tatapan Mars. Gadis itu berbalik ingin pergi, tapi langkahnya terhenti karena tangan Mars yang menahannya.
"Kamu mau kemana? Kita belum selesai bicara," ujar Mars menahannya.
PLAAKK! Sebuah tamparan mendarat di pipinya, membuat Mars terdiam.
"Itu penyelesaiannya. Setelah ini, kapan dan dimana pun, tolong anggap aku tidak pernah terlihat," pungkas gadis itu datar dan berlalu, tinggallah Mars yang terdiam di tempatnya.
πππ
To Be Continued
__ADS_1