
Sudah beberapa jam berlalu, sejak Mars berlutut di depan Venus, suasana kampus kini mulai sepi. Terlihat, hanya ada beberapa mahasiswa yang masih berada di kampus.
Sementara itu, Mars masih dengan posisinya semula. Ia masih berlutut ditempatnya. Pria itu nampak kelelahan karena berjam-jam berlutut dengan posisi yang sama, kakinya mengalami kram.
Mars mengerjapkan mata dan menggelengkan kepala beberapa kali, mengusir rasa penat dan lelahnya. Ia menahan diri untuk tak beranjak.
"Kamu salah, kalau berpikir aku akan menyerah. Aku bersumpah, Kamu pasti akan datang, Venus," batinnya mencoba bertahan.
"Mars, lebih baik kamu menyerah. Mungkin Venus, nggak akan datang. Dia sudah pulang." Sesorang pemuda mendekat mencoba menyadarkannya.
"Dia pasti kembali," gumam Mars hampir tak terdengar. Waktu terus berlalu tak berkompromi, meninggalkan Mars yang masih pada posisinya.
"Venus nggak akan datang. Sekarang udah jam tujuh malam, dia pasti sudah pulang." Beberapa mahasiswa yang masih berkumpul di sekitar Mars pun, perlahan satu persatu meninggalkan tempatnya.
"Nggak ada gunanya dia bertahan, Venus bahkan nggak ada di kampus." Beberapa diantara mereka masih saja belum meninggalkan Mars karena rasa penasarannya.
Mars tertunduk lesu, menyadari sikap angkuhnya tak mengubah apapun, Venus tak terlihat meski ia bersikeras berlutut disana.
"Kamu akan menyerah, Venus. Aku tau pasti, bagaimana kamu," batinnya lagi.Begitu besar keyakinan Mars, jika Venus akan kembali hingga ia rela bertahan meski kakinya kram dan lututnya sudah memerah.
Rasa gemetaran pada kakinya semakin terasa seakan menandakan jika ia sudah tak sanggup menopang beban tubuhnya lagi.
🍁
Di halaman Kampus Rindtama.
Kelamnya langit kampus Rindtama, malam ini. Awan hitam menggumpal menyelimuti. Beberapa kelompok mahasiswa masih setia nangkring, tak jelas di sana.
"Apa dia gila. Kenapa harus melakukan hal konyol seperti itu. Dramatis sekali." Seorang gadis mendengus kesal menatap Mars yang bersimpuh berlutut di halaman kampus sejak siang tadi.
Mars tengadah menatap langit yang diseliputi awan gelap nan kelam, dibalut gemuruh ringan yang kadang muncul mengejutkan.
Tiba-tiba, beberapa dari mereka berbisik-bisik, menatap ke arah seorang gadis yang berjalan ke arah Mars. Gadis itu adalah Venus.
"Apa yang kamu inginkan?" cetus Venus berdiri di depan Mars menatapnya dingin. Pria itu mendongkak menatapnya dalam.
"Kamu," jawabnya singkat, mengulurkan tangan. Namun, Venus tak bergeming. Mars berusaha meraih tangan gadis itu, ia merasa seluruh tubuhnya kaku hingga ia kembali tertekuk.
Mars membiarkan dirinya kembali berlutut, ia menatap dalam mata sayu gadis bernama Venus yang kini berdiri dihadapannya itu.
"Aku tau, Kamu pasti kembali," Mars meraih tangan Venus yang tak bergeming.
"Aku kembali, bukan untuk menerima tawaran Kamu," cetus Venus menarik tangannya membuat Mars menatapnya tak mengerti.
"Terus apa? Bukannya Kamu kembali, karena setuju menerima permintaan Aku?" tanya Mars ingin tau. Tapi Venus malah memberikan sebuah amplop berisi kertas di dalamnya pada Mars.
"Apa ini?" Mars membuka amplop tersebut dan terdiam membaca isi yang tertulis pada kertas tersebut.
"Apa-apaan ini? Kamu yakin mau melakukannya? " tanya Mars memastikan. Apakah benar gadis itu berpikiran seperti yang ia tulis pada kertas tersebut.
Sementara Venus terdiam tak ingin mengatakan apapun. Mars menghembus napas berat, ia mencoba bangkit dan menatap Venus. Gadis itu mengalihkan pandangannya.
"Liat Aku Venus. Kamu benar-benar akan melakukannya?" Mars menatap gadis itu tak yakin.
"Venus... ." Mars mencengkeram kedua pundak gadis itu erat, membuatnya tersentak.
"Kamu tidak harus setuju. Aku cuma memberikan penawaran."
"Penawaran? Pemikiran gila apa yang tawarkan, hah?!" Sentak Mars dengan kesal.
"Nggak ada jalan buat kita berdua, selain hal gila yang Aku tawarkan. Kamu pikir Aku akan menyesal? Nggak. Kamu setuju atau nggak, sama sekali tidak berpengaruh buatku,” cetus Venus membalas tatapan Mars. Venus berbalik ingin pergi, dan langkahnya terhenti karena tiba – tiba Mars memeluknya. Gadis itu ingin berontak tak terima.
__ADS_1
"Diam-lah. Aku akan melakukannya,” bisik Mars masih memeluknya. Venus terdiam, ia seakan memikirkan sesuatu dalam benaknya. Namun tak seorang pun tau apa yang ada dalam benak gadis itu.
Beberapa mahasiswa yang masih berada disana bersorak dan bertepuk tangan, karena berpikir akhirnya Venus menerima proposal yang diajukan oleh Mars, yaitu melamarnya.
Mars meraih tangan Venus, dan membawa gadis itu menuju ke arah parkir dimana mobilnya berada.
🍁
"Siapa yang akan menyimpan surat perjanjiannya?" Mars bertanya begitu selesai membubuhkan tandatangan pada secarik kertas di depannya.
"Aku akan menyimpannya," putus Mars menepis tangan Venus yang baru saja akan mengambil kertas tersebut.
Venus mengalihkan pandangannya dari Mars, gadis itu menatap sekeliling. Kenapa pria di depannya ini harus membawanya ke sebuah kafe hanya untuk menandatangani perjanjian itu. Mereka bisa saja kan melakukannya dimana pun, kenapa harus kafe Melati?
"Tempat pertama kali kita bertemu. Aku mau memulainya dari sini,"jelas Mars tanpa diminta seolah bisa membaca pikiran gadis di depannya itu sembari tersenyum.
Sebuah lagu tiba-tiba mengalun di seluruh kafe.
Not sure if you know this
But when we first met
I got so nervous I couldn't speak
In that very moments
I found the one and
My life had found its missing piece
So as long as I live I love you
Will have and hold you
You look so beautiful in white
And from now 'til my very last breath
You look so beautiful in white
Tonight
What we have is timeless
My love is endless
And with this ring I
Say to the world
You are my every reason
You are all that I believe in
With all my heart I mean every word
So as long as I live I love you
Will haven and hold you
You look so beautiful in white
__ADS_1
And from now 'til my very last breath
You look so beautiful in white
Tonight
Mars berdiri dan bersimpuh di hadapan Venus, tiba-tiba kelopak bunga mawar berjatuhan entah dari mana, disambut riuh tepuk tangan pengunjung kafe yang malam itu cukup ramai. Mars mengeluarkan cincin dan meraih tangan Venus yang masih termangu bingung.
"Aku bersumpah, nggak akan pernah melepaskan kamu Venus,” ujar Mars menyematkan cincin ke jemari manis Venus yang terdiam masih tak mengerti dengan keadaan yang ia hadapi.
"Aku mencintai Kamu Venus." Mars memeluknya, namun Venus masih tak bergeming. Pria itu melonggarkan pelukannya menatap Venus yang tertunduk memandangi cincin di jemarinya.
Apa yang terjadi? Ia datang karena ingin menandatangani perjanjian yang ia buat dengan Mars. Situasi apa yang sekarang ia hadapi? Lamaran? Untuk apa pria ini melakukan semua ini? Semua itu berkecamuk menjadi satu dipikiran Venus, ia tersadar saat Mars mencium keningnya lembut.
Venus terkejut, spontan ia mendorong tubuh Mars menjauh. Namun, Mars malah menangkup pipi gadis itu dengan kedua tangannya.
"Maaf, Kamu pasti terkejut," ujar Mars menarik tengkuk Venus sementara tangan yang satunya meraih pinggul gadis itu dan kembali memeluknya.
Venus berusaha melepaskan diri dengan mendorong tubuh Mars, tapi pria itu justru malah mempererat pelukannya.
🍁🍁🍁
Mars menghentikan mobilnya tepat didepan sebuah gedung Apartement berwarna gold dengan aksen sederhana. Ia kemudian menatap Venus yang sejak tadi menatap keluar jendela mobil tanpa sekalipun melihat ke arah dirinya. Gadis itu tak mengatakan apapun sejak keluar dari kafe.
Mars melepaskan seatbelt, dan kembali melirik Venus. Ia melepaskan seatbelt Venus dan menyentuh tangan gadis itu lembut.
"Venus," panggilnya
"Perlu Aku ingatkan, perjanjiannya?" Venus yang tiba-tiba menatapnya membuat Mars terkejut. Jaraknya yang masih terlalu dekat dengan gadis itu, membuatnya bisa melihat langsung ke dalam mata Venus.
"Pertama, Tidak akan pernah ada ikatan apapun diantara kita. Kedua, Kamu harus menjamin masa depan Aku, maka Anak ini akan jadi milik Kamu. Ketiga, apapun yang terjadi satu tahun ke depan, akhir dari pernikahan ini adalah perceraian. Dan,terakhir... ."
" Venus...," sela Mars
"Diam. Terakhir, jika Kamu melanggar salah satunya, maka apapun yang Aku lakukan Kamu nggak punya hak melarang, termasuk jika aku harus... melenyapkan... ."
"Venus! Cukup! " sentak Mars marah menarik lengan gadis itu kasar.
"Jangan menyentuhku! Kamu pikir, Aku akan terlena hanya karena bunga dan cincin? Ingat satu hal Mars Chesavior, Aku Kehilangan orang yang paling berharga dalam hidupku karena Kamu," cecar Venus mendorong Mars.
Mars tersentak, tak menyangka gadis itu akan mengungkit kembali hal tersebut. Ia menatap Venus sejenak, kemudian ke luar.
Venus langsung turun dan melangkah menuju ke rumah, Mars berjalan dibelakang mengiringinya. Venus berbalik dan menatapnya dingin.
"Jangan coba-coba memancingku. Kamu tau pasti, Aku bisa melakukannya," tekan Venus.
"Haruskah Kamu menggunakan itu, untuk mengancam ku?” tandas Mars terdengar dingin menatap Venus yang berdiri angkuh didepannya.
"Jika keberadaannya sangat penting buat Kamu, itu menguntungkan buatku. Jadi jangan memprovokasi ku!” ujarnya mengingatkan
"Aku tau, dia juga penting buat kamu," batin Mars. Pria itu menuju mobil dan menutup pintunya dengan keras, seolah sengaja membanting pintu tersebut sebagai pelampiasan rasa kesalnya.
Mars memacu mobilnya kencang meninggalkan Venus yang hanya termangu menatap kepergiannya.
Venus melangkah menuju taman di samping Apartemennya. Ia duduk dibangku taman memandangi rerumputan dibawah kakinya.
Gadis itu kemudian menarik ujung lengan bajunya dan perlahan tangan kanannya terulur mengelus lembut beberapa bekas goresan luka yang terlihat samar dipergelangan tangannya.
🍁🍁🍁
#TBC
__ADS_1