
🍂Happy Reading🍂
"Venus, emang benar ya kamu mau nikah sama Mars?"
"Kok bisa sih?"
"Gimana ceritanya? Kasih tau dong Venus."
"Iya benar. Tiba-tiba banget, kalian kan nggak pernah akur."
Venus terdiam di tempatnya, gadis itu terkejut saat baru sampai di kampus ia langsung di serang dengan beruntun pertanyaan oleh teman kampusnya.
Entah dari mana sumber yang mereka dapatkan, yang pasti semua orang yang berdiri mengelilingi dirinya saat ini, memancarkan aura rasa penasaran yang tinggi tentang hubungannya dengan Mars.
"Aneh nggak sih, tiba-tiba kalian mau menikah, padahal kalian kan nggak pernah akur apalagi pacaran?" Celetuk salah satu gadis berambut bergelombang mendekatkan wajah pada Venus.
"Iya benar, hubungan kalian kan rumit banget," sahut yang lain. Venus meremas jemarinya, ia ingin melarikan diri dari tempat itu. Tolong siapapun bantu gadis itu menghilang dari sana.
"Oh ya, kalian ingat nggak... kejadian dua tahun lalu?" seorang gadis yang berambut pendek sependek pakaian yang ia kenakan itu tiba-tiba mengingatkan pada peristiwa yang sudah lama terkubur itu. Semua mata kini tertuju padanya, termasuk Venus.
"Dia kan pernah melukai dirinya sendiri, dan sejak saat itu, Mars terus menempel kemanapun dia pergi. Mars mengejarnya seperti orang yang cintanya bertepuk sebelah tangan. Tapi gadis ini bersikap seolah dia paling di puja oleh Mars dan mengabaikannya kan?" celoteh gadis berambut pendek tersebut, sementara yang lain dengan serius mendengarkan ocehannya.
"Jangan bilang kamu melakukan sesuatu, yang membuat Mars terpaksa menikah denganmu?" lanjutnya mendekat pada Venus menatap gadis itu sinis, tanpa ia duga Venus justru menatap balik dirinya dengan tatapan datar.
"Kamu siapa? kenapa saya harus menjelaskan sesuatu sama orang yang nggak saya kenal. Urus saja, dirimu sendiri," cetus Venus menatapnya dingin.
"Waah, coba lihat teman-teman... dia sok sekali. Hei Venus, Kamu pikir semua orang percaya dengan cerita yang beredar, kalo Mars itu sangat mencintai Kamu? Hah, lucu sekali. Orang buta juga tau, kalau itu nggak mungkin, Sadar diri dong," sinisnya lagi.
"Ayolah Venus, Apa yang terjadi? Apa kamu sengaja menyerahkan diri pada Mars? Mengingat hubungan kalian yang rumit, nggak mungkin Mars akan memintamu menikah dengannya kan?” cetus gadis berambut bergelombang, yang berdiri didepan Venus mendekat menatapnya merendahkan.
__ADS_1
"Apa kamu berniat bunuh diri lagi? Karena itu Mars terpaksa memutuskan menikah denganmu?" lanjutnya lagi dengan dingin. Venus masih tetap diam, meskipun ia merasa terhina dengan ucapan gadis itu. Ia juga ingat bagaimana Eyang Mars mengatakan hal serupa saat di apartemen pria itu.
Venus menunduk, jemarinya ia remas menahan perasaannya. Buku tangannya nampak memutih, segitu eratnya genggaman tangan gadis itu menahan semuanya agar tetap berdiri dengan kokoh di depan orang-orang yang menghinanya tersebut. Venus menatap sekilas beberapa mahasiswa lain yang juga sedang menatapnya seolah menanti apa yang akan ia katakan.
"Sudahlah. Bukannya kita nggak boleh, mengungkit kejadian itu lagi? Ingat, pihak kampus sudah menutup kejadian itu, dan memperingatkan tak ada yang boleh mengungkitnya kan." sela yang lain mengingatkan. Tapi sepertinya, beberapa diantara mereka tak perduli, dan kembali mendekati Venus.
"Ayolah Venus, jangan munafik. Bukankah sebelumnya kamu pernah memaksa Mars dengan cara yang sama, karena frustasi di tinggal mantan kekasihmu itu?" sela yang lain tak kalah sinis. Venus menghembus napas panjang, berusaha tetap tenang. Matanya mengitari wajah-wajah yang menatap merendahkan padanya itu datar.
"Aku tidak pernah memaksa siapa pun, karena... ."
"...karena Aku memang mencintai Venus… .” Mars tiba–tiba muncul dari belakang mereka. Ia menarik Venus dari kerumunan tersebut.
"Apa yang Kamu lakukan, lepaskan!" sentak Venus menghempas kasar tangan Mars yang memegangi tangannya.
"Maafkan Aku, seharusnya Aku melakukannya lebih awal," ujar Mars tiba-tiba berlutut didepan Venus membuat para gadis yang tadi membicarakan gadis itu terkejut. Sikapnya tersebut tak luput juga menarik perhatian mahasiswa yang lain.
"Venus… .” Plaak! Mars menghentikan kalimatnya karena Venus tiba – tiba langsung menamparnya, ia tertunduk menahan rasa perih di wajahnya. Sikap Venus membuat semua orang yang melihatnya terkejut, terlebih melihat sikap Mars yang hanya diam menanggapi perlakukan gadis itu padanya.
"Kamu nggak harus melihat wajahku, Venus. Tapi bisakah Kamu, terima aku." Mars mendongkak menatap Venus penuh harap.
"Kenapa aku harus menerima Kamu ?"
"Apa?" Mars sejenak bingung
"Aku mencintai Kamu, Venus. Dan, aku harus bertanggungjawab atas semua yang terjadi... ."
"Lucu sekali. Drama yang sangat menyentuh," cibir Venus menatap Mars dengan muak
"Semua terlihat seperti drama buat Kamu? Coba lihat dari sudat pandang lain Venus. Aku mencintai Kamu." Mars menatapnya seolah sedang mencoba menyakinkan gadis itu.
__ADS_1
"Mars Tolong, Aku mohon sama Kamu... ." Venus menangkupkan kedua tangan didepan wajah.
"Berhenti membuat semuanya menjadi rumit. Cukup drama yang Kamu buat, tinggalkan Aku sendiri. Aku mohon," mohonnya.
"Aku nggak akan berhenti, sampai Kamu menerima Aku... ."
"Aku nggak akan... ."
"Aku akan lakukan apapun sampai kamu menerimaku. Meski harus berlutut seharian,” sela Mars menimbulkan bisik–bisik diantara mahasiwa yang melihat mereka sejak tadi. Venus menghempas napas kasar, menatap Mars dengan dingin
"Venus, aku.... "
Plaak! Sekali lagi, tamparan kembali mendarat dipipi kanan pria itu. Beberapa dari mereka mengumpat kesal denga sikap Venus. Namun, banyak yang memilih diam menjadi penonton yang baik.
"Aku nggak butuh apapun darimu! Berhenti melakukan hal bodoh. Aku nggak tertarik, dengan permainan yang Kamu lakukan," cetus Venus sarkasme. Ia ingin segera pergi dari tempat itu, namun langkahnya terhenti saat mendengar ucapan Mars.
"Aku akan terus melakukannya, meski harus menerima ratusan bahkan ribuan kali tamparan dari Kamu.”
"Lakukan sesukamu!” pungkas Venus dingin tanpa berbalik tak terpengaruh sama sekali.
"Maafkan Aku Venus. Aku nggak bermaksud membuat semua orang menyudutkan kamu, Aku salah,“ aku Mars menatap Venus yang membelakanginya namun, gadis itu terus melangkahkan kakinya berlalu dan tak perduli.
"Aku mohon, bisakah Kamu menerimaku meski itu membuat kamu serasa tak bisa hidup!” tukas Mars lagi. Namun ucapannya tak menghentikan langkah gadis itu untuk pergi.
"Bahkan sekarang, Aku tak ingin hidup. Bisa-bisanya dia memintaku menerimanya, setelah semua yang dia lakukan padaku," gumam Venus pada diri sendiri. Mata gadis itu terlihat berkaca-kaca, ia sejenak berhenti mengatur napasnya yang tiba-tiba terasa sesak.
Venus hanya tak ingin dirinya terjebak dalam lingkaran drama yang dibuat oleh Mars. Bagaiamana pun pria itu adalah orang pertama yang menghancurkan hidupnya sejak awal.
🍁🍁🍁
__ADS_1
TBC