
πHappy Reading π
"Jadi, siapa dia?" Wanita paruh baya itu bertanya, menatap Mars tajam kemudian beralih pada Venus.
Penampilannya yang anggun dan elegan, tak bisa menutupi sikap angkuh ynag ia tunjukkan saat menatap Venus yang duduk di depannya.
"Dia, Venus. Eyang... ." Singkat Mars menjawab pelan dengan kepala tertunduk. Wanita itu kembali menatap intens gadis didepannya itu meneliti setiap jengkal penampilan Venus.
"Katakan saja. Anda tidak perlu menatap saya, seperti itu," cetus Venus mulai jengah dengan tatapannya
"Mars Chesavior."
"Iya, Eyang."
"Dimana kamu bertemu dengan gadis ini?" selidik beliau dingin, menatap datar Venus.
Venus menghempas napasnya kasar, pandangannya tertuju pada wanita paruh baya yang sejak tadi menatapnya tajam.
Sungguh menyebalkan. Ia harus menahan rasa kesal yang memuncak, karena harus kembali ke tempat yang sejak tadi ingin ia tinggalkan.
"Venus satu kampus sama Mars, Eyang."
"Oh benarkah? " sela beliau kembali menatap Venus. Sementara Mars hanya mengangguk pelan.
"Namamu Venus?" tanya beliau sambil menyeruput teh hijaunya.
"Iya." Singkat tanpa basa-basi Venus menjawab, menatap datar wanita paruh baya tersebut. Ia benar-benar ingin melarikan diri dari tempat itu sekarang. Sialnya ia malah bertemu wanita ini, yang malah menahannya di tempat memuakkan tersebut.
"Katakan padaku, alasan apa yang membuat seorang gadis sepertimu, bisa berada di Apartement seorang pria sepagi ini?" lanjut wanita itu tak sabar.
Mars mengangkat kepalanya, ketika mendengar pertanyaan tersebut terlontar dari bibir Eyang-nya.
"Eyang... ." sela Mars, tapi ia langsung terdiam, begitu sang Eyang mengangkat jari telunjuknya mengisyaratkan agar ia tak ikut campur sekarang.
"Katakan, apa hubungan kamu dengan Mars?" tanya beliau lagi pada Venus.
"Eyang, Mars akan jelaskan semuanya. Tapi ..."
"Diam! Eyang tidak bertanya denganmu," sentak beliau tegas. Nada penuh diktator wanita yang di panggil Eyang oleh Mars tersebut menyentak tanpa kompromi. Beliau menatap Mars dan Venus tajam penuh penekanan.
__ADS_1
"Jangan menyela Eyang!β titah beliau tegas. Tatapan Mars memohon penuh harap, tak beliau hiraukan. Beliau malah menatap Venus yang masih terdiam.
"Bicaralah. Katakan, apa yang terjadi antara kamu dan Mars, cucuku,β tukas Beliau.
"Apa kamu sangat menyukai cucuku? hingga harus menyerahkan diri sepagi ini?β pernyataan Eyang membuat gadis itu menatapnya, pun dengan Mars yang sangat terkejut mendengar ucapan beliau.
"Eyang... ." sela Mars, namun sebelum ia melanjutkan ucapannya, Venus lebih dahulu berdiri dari duduknya.
"Apa?!" Venus tersenyum meremehkan menatap wanita di depannya itu dan Mars bergantian.
"Maaf, Nyonya. Kalau pun saya harus menyerahkan diri, bukan cucu Anda yang saya inginkan.β cetus Venus, Eyang tersenyum samar mendengarnya.
"Jadi, apa yang membuat kamu berada disini?β tanya beliau kembali menyeruput teh-nya.
"Itu karenaβ¦.β Venus menghentikan ucapannya karena tiba β tiba Mars mencekal tangannya, spontan ditepis oleh gadis itu tak suka.
"Eyang, tolong hentikan---β Mars kembali memohon.
"Apa yang sebenarnya, terjadi disini?β tanya Eyang lagi dengan nada seriusnya, tanpa menghiraukan cucunya yang sejak tadi terus merengek memohon.
"Eyang---β cegah Mars lagi mulai kesal karena tak di dengar sejak tadi.
Venus mulai jengah sejak tadi ia terus di brondol tanpa henti oleh wanita di depannya itu. Ia kembali menghempas napas dengan kesal.
"Itu karena, cucu Anda yang membawanya. Dia bahkan... dilecehkan. Anda puas?" Sesak Venus menahan rasa kesal dan amarahnya mengingat apa yang terjadi padanya.
Eyang terpengarah tak percaya, menatap Venus dan Mars bergantian. Beliau berdiri, menghampiri Mars. Dan, PLAAKK! Satu tamparan mendarat diwajah tampan cucu kesayangannya itu.
Mars terdiam, dan Venus tak bergeming, meski sebenarnya ia juga terkejut dengan yng terjadi barusan.
"Eyang, tidak pernah mengajarkan kamu, untuk merendahkan wanita seperti itu." Eyang berucap dengan nada gemetar tak percaya, tangannya baru saja menampar anak yang bahkan tak ia biarkan terluka sedikitpun ketika ia kecil.
"Mars mencintai Venus, Eyang,β ujar Mars, membuat pandangan gadis itu dan Eyang seketika beralih padanya.
Gadis itu, menatap Mars karena terkejut, Venus bukannya senang mendengar ucapannya, ia malah makin muak. Venus menatap sinis Mars disampingnya, dengan senyum sumbang.
"Apa? Cinta kamu bilang? Kamu pikir kata cinta, bisa membenarkan perbuatan yang kamu lakukan. Hah!? β cecar Venus menatap muak pada Mars.
"Itu bukan pembenaran. Aku mencintai kamu, sejak lama Venus---β
__ADS_1
"Cukup...!!β teriak Venus menutup kedua telinganya tak ingin mendengarkan. Tapi Mars menahan kedua tangannya agar gadis itu tetap mendengar apa yang ingin ia ucapkan.
"Venus, Aku membawa kamu kesini, juga bukan tanpa alasan. Tapi semalamβ¦.β
Plaakk! Venus mendaratkan tamparan dipipi kiri cowok itu, mata Mars yang terpejam menahan rasa sakit, seolah menggambarkan seberapa kuat tangan halus gadis itu mendarat mulus di wajahnya, Mars menatap Venus terdiam.
"Apa yang kamu lakukan!β sentak Eyang membuat Mars seketika langsung beralih menatap Eyang yang spontan menarik Mars, melihat apa yang terjadi di depan matanya. Sementara Venus tampak tak bergeming dari tempatnya.
"Eyang," Mars menggeleng menahan lengan beliau yang mau menghampiri Venus di depannya.
"Hah, menjijikkan. Jangan membuat drama seolah kita memang punya hubungan." Pungkas Venus berhasil mengalihkan pandangan Mars seketika ke arahnya. Ia menatap lurus kedepan seolah Eyang yang berdiri hadapannya tak pernah ada.
"....karena, sampai kapanpun, itu nggak akan pernah terjadi,β pungkas Venus lagi, menatap tajam Mars dihadapannya. Venus meraih tasnya, dan berlalu ingin pergi. Tapi, ucapan Eyang berhasil menghentikan langkahnya.
"Seperti inikah, cara kamu memperlakukan orang yang mencintai kamu?" Ujar Eyang, membuat Venus berbalik dan menatap Eyang kemudian beralih pada Mars. Ia akhirnya tertawa samar, sumbang terdengar ditelinga, tatapan dinginnya tertuju pada Mars.
"Katakan. Apa seperti ini, cara kamu memperlakukan gadis yang kamu cintai?" Venus memutar ucapan Eyang, ditujukan pada Mars. Eyang pun ikut menatap Mars tajam, yang justru terkejut tak menyangka jika Venus akan mengatakan hal tersebut padanya.
"Dengar nak, bagaimana pun kamu akan menjadi istrinya Mars." Eyang menatap tajam Venus , namun gadis itu seakan tak acuh.
"Maaf Nyonya, tapi saya sama sekali tak punya keinginan menjalin hubungan dengan cucu Anda. Apalagi harus menjadi istrinya,β cetus Venus dingin. Mars langsung menatapnya, cowok itu ingin mengatakan sesuatu namun Eyang keburu mendahuluinya. Eyang tersenyum, beliau menghampiri Venus dan meraih tangannya.
"Sikap kamu terlalu angkuh, sayang. Tak ada seorang wanita, yang tak menginginkan tanggung jawab dari pria yang menodainya." Ucapan Eyang tak pelak membuat Mars terkejut, ia menatap Venus. Namun gadis itu seakan tak bergeming, dengan senyum tipis Venus menepis tangan Eyang yang menyentuhnya.
"Maaf membuat Anda kecewa. Tapi saya, tidak butuh pertanggungjawaban dari seorang pria brengsek, seperti cucu Anda." Ucapnya halus dan menusuk, cukup membuat Eyang terpana.
Meski hatinya sakit dan merasa terhina mendengar ucapan Eyang. Namun Venus tak ingin wanita itu mengintimidasi dirinya. Ia masih ingin mengatakan sesuatu, tapi melihat Mars yang mendekat, Venus langsung bergegas berlalu meninggalkan ruangan tersebut.
"Venus! " cegah Mars. Tapi langkahnya berhenti karena dicegah oleh Eyang.
"Eyang tidak seharusnya mengatakan itu pada Venus. Eyang melukai harga dirinya. " Mars tak bisa menahan rasa kesal, dan meluapkan emosinya.
"Diam! Kamu yang berbuat. Kamu harus menikahi gadis itu." Putus Eyang
"Eyang tidak bisa memutuskan secara sepihak. Mars yang akan memutuskan, apa yang harus dilakukan..."
"Mars Chesavior! Jangan mendebat Eyang!" Tajam tak ingin kompromi Eyang menatap penuh perintah pada Mars, yang tak bisa berbuat apa-apa lagi.
Venus yang masih berdiri di depan pintu apartemen Mars mendengar sayup suara Mars dan Eyang-nya berdebat didalam sana. Ia tak tahan lagi airmatanya tumpah, mengiringi setiap langkah kakinya meninggalkan jejak saksi bisu dilorong yang ia lewati.
__ADS_1