
Gelang ini ... gelang yang dapat membantu Mayang menemukan titik terang. Bukan tanpa alasan, sejak memakai gelang itu, May jarang kerasukan. Ia jadi penasaran dengan siapa yang memberi gelang ini ke Azmir hingga efeknya begitu luar biasa.
"Mas, em ... Mas masih inget nggak sama muka kakek yang ngasih gelang ini?" tanya Mayang.
Azmir mengangkat kedua bahu; lupa sepertinya. "Duh ... gimana, ya? Agak samar, nih mukanya, Dek. Emang kenapa?"
"Begini, Mas. Semalam aku mimpi aneh, seram juga. Berkaitan dengan gelang dari Mas," jawab Mayang.
Azmir memasang wajah serius, penasaran.
"Mimpi apa?"
***
May bersiap-siap untuk tidur. Hati dan pikirannya begitu lelah. Beberapa hari belakangan jam tidurnya sangat minim. Ia terlalu banyak memikirkan hal yang tidak penting.
Tak butuh waktu lama hingga ia benar-benar terlelap. Gelang itu pembawa energi positif untuknya. May lebih tenang dan gangguan demi gangguan itu perlahan hilang.
Namun, mimpinya begitu menyeramkan. Awalnya, ia bermimpi melangsungkan pernikahan syahdu bersama Azmir. May mencium tangan suaminya dengan takzim. Ia bahagia, tak lupa terus mengucapkan rasa syukur pada Tuhan. Anehnya, ketika itu May tidak dalam kondisi mengandung. Benar-benar seorang gadis yang dinikahi perjaka kaya.
Adegan demi adegan berselang, tibalah ia di kamar pengantin yang dihias khusus untuk mereka berdua. Cantik, istimewa. Taburan bunga mawar merah membuat kedua insan itu semakin dimabuk asmara. Ketika hendak menyentuh Mayang, Azmir terkejut dengan keberadaan satu kelopak bunga melati di atas kasurnya.
"Mungkin tadi nggak sengaja jatuh di sini pas dihias, Mas," ucap Mayang. Azmir manggut-manggut, lalu kembali menatap istrinya itu.
Mayang bergelayut manja, menggoda suaminya. Siapa yang akan marah? Mereka sudah sah, tak perlu lagi menjaga jarak.
Namun, berselang beberapa lama, adegan tak menyenangkan muncul. May tiba-tiba berada di ruangan yang gelap, tanpa ada penerangan sedikit pun. Ketakutan itu berlanjut tatkala melihat sinar putih menyilaukan mata dari samping kanan tempat ia berpijak. Tempat apa ini? Mengapa begitu asing?
Sekeliling May hanya ada dan meja. Cahaya putih itu menghampiri, semakin mendekat. May ingin mundur tapi tubuhnya kaku; terasa dikunci. Perlahan, sinar misterius itu membentuk sosok manusia.
"Assalamu'alaikum, Nak." Sosok bercahaya itu memberi salam. Mayang gelagapan, ia semakin takut tapi juga penasaran.
"Wa-wa'alaikumsalam, Kek," jawabnya pelan. Kakek itu mendekati, lalu memegang tangan Mayang. Terasa begitu dingin.
"Takdir yang buruk," ucap kakek itu. Mayang terkejut sekaligus bersedih.
"Buruk?"
"Ya, sangat buruk."
__ADS_1
"Kau masih memakai gelang pemberianku itu?" tanyanya. Mayang menatap gelang hijau yang diberikan oleh Azmir waktu itu. Masih melingkar manis di pergelangan tangannya.
Wanita itu mengangguk. "Masih saya pakai, Kek."
"Bagus, sementara itulah yang menjadi pelindungmu."
"Pelindung apa, Kek?" tanya Mayang penasaran. Namun, kakek itu buru-buru menghilang dari pandangan. Setelah itu, Mayang tak tahu bermimpi apa lagi. Intinya ia terbangun dengan kondisi yang cukup memprihatinkan. Seperti orang sakit keras, tubuh Mayang terasa lumpuh tak bisa digerakkan.
Berselang beberapa jam, akhirnya ia bisa menggerakkan tangannya. Segera menelepon Azmir untuk datang ke rumah.
***
"Bisa jadi kakek yang kemarin itu juga masuk ke mimpimu. Dugaanku kemarin kalau dia itu bukan manusia semakin kuat," ucap Azmir setelah mendengar cerita Mayang.
"Hu'um, Mas. Aku kaget aja dia bilang nasibku buruk," ucap Mayang menunduk. Azmir menggenggam tangan kanan kekasihnya itu.
"Nggak usah dipikirin, anggap aja bunga tidur."
Malam harinya, entah apa yang terjadi pada Dahlia—nenek Mayang. Ia gelisah dalam tidurnya, seakan-akan mengalami mimpi buruk menyeramkan. Ketika terbangun, ia langsung bangkit dan keluar kamar.
Ia menuju kamar Mayang, tapi wanita itu sudah lama tertidur. Dahlia meliriknya dari balik celah pintu yang sedikit terbuka.
***
"Hu'um. Aku pikir bakal dapat bencana karena waktu awal pakai gelang ini—"
"Lho, Mas! Gelang aku ke mana?" Mayang panik setengah mati. Bisa-bisanya ia tak menyadari bahwa gelang itu tidak lagi ia kenakan.
"Nah loh. Kan sama kamu, Dek. Kok tanya Mas, sih. Siapa tahu jatuh di kamar mandi," kata Azmir.
"Nggak, Mas! May nggak pernah lepas gelang itu bahkan ke kamar mandi."
"Maaas ... kalau nggak ada gelang itu, aku kerasukan lagi nantinya," lanjutnya sembari menatap penuh iba. Ia berusaha mengingat apa yang dilakukannya semalam. Tidak ada yang aneh, semua normal. Ia merasa tak pernah melepas gelang itu.
"Ya, sudah nanti sekalian antar kamu pulang, aku di rumahmu dulu bantu cari. Udah jangan cemas."
Gelang itu membawa energi yang positif bagi Mayang. Meskipun awal memakainya ia langsung muntah darah. Sejak saat itulah, Mayang jarang kerasukan. Sakit kepala yang hebat, amarah yang tidak bisa dikendalikan, mendadak lenyap. Ia merasa bahwa gelang ini bukan sembarang perhiasan. Dilihat dari ukiran dan warnanya, ini dibuat khusus untuk seseorang.
Kini, entah berada di mana gelang itu. Mayang mulai sering melamun. Rasa malas kembali menyerangnya tatkala ingin beribadah. Juga amarahnya mulai tak bisa dikendalikan. Azmir khawatir dan membantu Mayang mencari gelang itu di semua sisi.
__ADS_1
Nihil. Tidak ada.
"Gimana ini, Mas? Ada aja cobaan buatku. Baru aja semangat sebentar lagi mau sembuh," ucap Mayang pasrah. Ia terduduk dan meringkuk. Isakannya terdengar pilu.
"Sabar, Dek. Mas tahu ini berat buat kamu. Tapi Mas selalu ada kok. Kita sama-sama lalui ini."
"Tapi sampai kapan, Mas!" Mayang bangkit sambil mengepal geram. "Sampai kapan iblis ini ada di tubuhku? Ngomong harus bayar janji, janji apa? Aku nggak tahu apa-apa tapi serasa jadi kambing hitam! Aku harus mati supaya dia senang, begitukah? Jawab, Mas!"
Azmir terdiam, wanita di hadapannya benar-benar marah. Rupanya Mayang sudah terlalu lelah dan muak. Ia tertekan batin dengan teka-teki ini. Sampai kapan?
"Nenek, Ibu, Bapak, semuanya setan! Nggak ada yang peduli! Kenapa aku dilahirkan di keluarga iblis ini, hah? Mana kasih sayang yang dulu kudapatkan!" Emosinya semakin tak terkendali. Napas tersengal, juga keringat mulai bercucuran.
Azmir meremas kedua bahu Mayang, mencegahnya melakukan hal nekat. Wanita itu terus memberontak, tapi tenaga calon suaminya sangat besar.
"Diam!" bentak Azmir akhirnya.
"Siapa bilang nggak ada yang peduli? Kamu anggap aku apa di sini?" Azmir menggoncang-goncangkan tubuh Mayang. Berusaha menyadarkan wanita itu bahwa cintanya begitu besar.
"Dengar. Kalau aku sama setannya kayak mereka, setelah tahu kamu hamil anak calon mertuaku sendiri, udah dari dulu aku tinggalin kamu! Cari gadis lain yang masih perawan. Aku setia sama kamu, bantu nyari pengobatan. Sama sekali nggak berniat ninggalin."
Mayang terdiam, ia seperti berpikir sejenak.
"Karena aku cinta."
"Maaas ...."
"Apa? Atau kamu mau aku selingkuh, begitu?" Ancaman Azmir cukup membuat Mayang patuh.
"Jangan pikir nggak ada yang care sama kamu. Tuhan ngirim aku buat kamu, buat jaga kamu." Azmir melonggarkan genggamannya, ia tak tega. Mayang kini menangis. Luapan air mata itu begitu melimpah. Ia takut, ia tak suka diancam seperti itu. Kalau sampai Azmir juga meninggalkannya, maka bunuh diri menjadi akhir dari segalanya.
Azmir mendekat lalu menarik wanita itu dalam dekapan. Tangis Mayang semakin pecah. Sekali-kali memang harus tegas, jika tidak ia akan selalu seperti ini. Memang tidak mudah tapi ... ia tak mudah menyerah.
***
"Selamat tidur, Sayang. Jangan mikir berat-berat, ya. Mas pulang dulu, sudah malam," ucap Azmir setelah mengecup kening Mayang.
"Iya, hati-hati, Mas."
Kembali malam, Mayang menatap punggung kekasihnya yang lambat laun hilang dari pandangan. Biarkan ia tertidur sebentar malam ini, biarkan rembulan ikut bernyanyi.
__ADS_1
***