
Aku mengetuk pintu kamar Nenek. Sikapnya jadi aneh dan aku mulai khawatir. Tidak ada jawaban di sana. Berulang kali menyebut namanya tapi ia tak menjawab apalagi membukakan pintu. Ada apa denganmu, Nek? Jangan membuatku takut.
"Nek ... Nenek kenapa?"
"Nek, bukain pintunya. May mau ngomong," lanjutku sambil terus mengetuk pintu.
"Nenek, jangan bikin May khawatir gini. Tadi kenapa?"
Seseorang menepuk bahuku—pelan, tapi cukup mengejutkan. Aku berbalik dan mendapati tubuh besar itu sedang memperhatikanku sejak tadi.
"Kenapa?" tanyanya.
"Nenek ... dia aneh tadi, Pak. Tiba-tiba masuk kamar, nggak mau lihat Mayang," jawabku. Bapak pun mendesah pelan, ia maju selangkah dan ikut mengetuk pintu.
"Kamu yakin nenek ada di dalam?" tanya bapak memastikan.
"Yakin, Pak. Tadi May lihat sendiri nenek ketakutan terus masuk ke kamar," jawabku dengan mata yang mulai basah. Ya, air mata ini akan segera jatuh membasahi pipi. Cengeng, sangat. Jika melihat perubahan nenek yang tiba-tiba, aku khawatir dan entah mengapa perasaan ini mendadak kurang nyaman.
Bapak mundur selangkah lalu merangkul bahuku. Sebuah pelukan yang begitu nyaman dari cinta pertama anak perempuannya. Namun, entah mengapa, pelukan ini terasa familiar. Aku nyaman, aku merasa lebih disayangi dari sebelumnya. Sebuah dekapan kasih sayang yang tak pernah Azmir berikan padaku. Jarang sekali ia memeluk, hanya ketika ingin atau rindu.
"Emang tadi nenek kenapa?" tanya bapak sambil melonggarkan pelukannya.
Aku melepas pelukan dan menceritakan kejadian tadi. Bapak manggut-manggut tanda mengerti. Ia menghela napas berat, lalu beberapa kali menggumam. Ikut penasaran dan khawatir, ketakutan apa yang menimpa nenek.
"Nenek!" Pupil mataku melebar bersamaan dengan seulas senyum. Nenek membukakan pintu sambil membawa ....
Apa ini? Dupa?
"Nek, apa-apa ini?" tanyaku penasaran. Nenek hanya diam tanpa menatapku sama sekali. Ia sibuk menyebar asap tiga dupa ke sekeliling tubuhku. Bau asapnya kali ini sedikit berbeda dari dupa Mbah Rondo beberapa waktu lalu. Lebih pekat dan membuat dada sesak.
Aku terbatuk-batuk, tapi nenek seakan tak peduli akan hal itu. Bapak membawaku ke sofa, diikuti nenek dari belakang. Sesekali menoleh ke belakang, wajah nenek berubah ketakutan. Ia mendongak dan kami beradu tatap.
"Nek!"
Mulutnya komat-kamit membaca mantra. Sedangkan aku dipaksa duduk oleh bapak, tapi menolak. Nenek berdiri tepat di hadapan, dengan dupa yang sudah terbakar setengahnya. Seperti dugaan, akan ada hal yang terjadi. Kepala mulai pusing, mata kabur, dan tangan kaki bergetar.
Aku menutup mata karena merasa tidak nyaman. Seperti ada kekuatan lain yang memaksa untuk keluar. Ya, aku seperti bermimpi sekarang. Tak bisa berbuat apa-apa tapi masih merasakan sesuatu di luar kesadaran. Ini semacam ketindihan, bedanya aku tidak berbaring.
Samar-samar, bapak memanggil seseorang untuk mengambil air minum.
__ADS_1
"Kaukah itu?" Suara nenek, sayup-sayup terdengar. Mata seakan terkunci, sulit sekali untuk dibuka. Seluruh tubuh kaku dan seperti ada jiwa lain yang memaksa untuk mengendalikanku sepenuhnya. Hatiku menangis, ingin lepas dari belenggu jin ini secepatnya.
"Aaargh!"
"Mayang!"
***
Ketika sadar, aku sudah berada di dalam kamar. Gelap, sepi, tanpa seorang pun yang menemani. Hanya ada sepiring beras dan garam di samping—yang entah untuk apa diletakkan di sini. Saat hendak bangkit dan mengambil air, tiba-tiba aku merasa perih luar biasa di daerah tangan.
"Apa-apa ini? Kenapa bisa luka!" Aku panik, pergelangan tangan sebelah kiri diperban. Ada bekas darah di sana, pertanda luka yang cukup dalam. Siapa yang melakukan ini padaku? Tak mungkin bapak atau nenek.
Sreeek ... sreeek ... sreeek!
"Si-siapa di sana?"
'Aku adalah kamu, kamu adalah aku.'
'Aku kembali.'
Hati ini, seperti ada yang menjawab setiap pertanyaanku. Namun, entah siapa dan di mana dia, aku tidak tahu. Ia tak berwujud, tak ada tanda-tanda jelas keberadaannya. Jika memang benar diganggu jin, harusnya aku bisa melihat wujudnya bagaimana.
"Tolong ... jangan ganggu aku. Siapa pun kamu, apa maumu sebenarnya?" Tak ada jawaban. Hanya suara tirai yang tersibak sendiri tanpa angin yang menggerakkan. Atau suara orang mencakar dinding yang terdengar menakutkan.
"May?"
"Kamu ngomong sama siapa tadi?" tanya nenek sambil mengernyitkan dahi. Aku menghela napas, lalu menatap ke sekeliling. Semuanya tampak normal. Tidak mencekam seperti tadi. Nenek bangkit dan menyalakan lampu.
"Nggak tau sama siapa, Nek. Intinya May kayak orang gila, nanya sendiri, ada yang jawab sendiri," jawabku. Mungkin nenek kurang mengerti hingga tatapannya datar mengarah kepadaku.
"Pikiran May kayak terbagi dua. Kayak ada jiwa lain yang berdiam di tubuh May sekarang. Dia yang menjawab semua pertanyaan May. Tapi bingung di mana asal suaranya," lanjutku menjelaskan. Nenek meraih tangan kiriku yang diperban. Sedikit menyentuhnya hingga aku meng-aduh kesakitan.
"Kamu mau tau apa yang terjadi tadi? Coba lihat luka di lehermu kemarin. Kamu yakin itu bukan karena orang lain?" Nenek membuatku takut. Ya, jika dipikir-pikir memang, darimana luka ini berasal? Aku tidak sadarkan diri dan tahu-tahu sudah mendapatkan luka ini.
"Apa, Nek?" kataku balik bertanya. Ia tersenyum singkat, lalu kembali berekspresi aneh dan tak biasa.
"Tadi, waktu nenek membacakan do'a-do'a dan menyebar asap dupa, matamu berubah merah dan kosong menatap ke depan. Bibirmu pucat, tanganmu tak berhenti meraih vas bunga di atas meja," kata nenek mulai menjelaskan apa yang tadi kualami.
"Bapakmu pergi karena takut, Nanda yang datang bawa air minum tapi kamu pukul tangannya dan gelas itu jatuh. Pecah," lanjutnya. Aku memandangnya dengan wajah serius sekaligus tak percaya. Ternyata di balik ketidaksadaranku, semua yang terjadi benar-benar di luar dugaan. Tak menyangka.
__ADS_1
"Kamu bangun terus lari ke dapur. Mengacak-acak tempat piring dan cari pisau di sana. Nenek langsung panggil ibumu."
Setelah itu, mungkin aku bisa menebaknya sendiri. Sebelum ibu datang, pisau itu telah mengiris pergelangan tangan. Nenek tak berdaya karena takut makhluk di dalam tubuhku ini akan semakin mencelakai.
Nenek tak berkata apa-apa lagi setelah itu. Ia bangkit dan mematikan lampu. Padahal rasa penasaranku belum terobati sepenuhnya. Aku merasa nenek menyembunyikan rahasia besar dan itu tentang keberadaan jin ini.
***
"Nanda," panggilku. Putri kecil itu sedang bermain dengan boneka Barbie-nya.
"Iya, Kak May?"
"Kamu gak papa? Tadi kena beling nggak?" tanyaku. Ia menggeleng pelan, lalu tersenyum.
"Gak kena kok, Kak May. Pas Kakak pukul tangan Nanda, nenek suruh mundur ke belakang," jawabnya lugu. Aku menghela napas lega. Ia tak terluka.
Perih.
Aku takut jika tak bisa mengendalikan diri sendiri. Kemudian mencelakai orang yang kusayangi. Untuk nenek dan Nanda, mungkin hanya sekali ini diberi keberuntungan. Mereka selamat meski benda tajam berada di hadapan. Namun, bagaimana jika ini terjadi lagi dan aku tak sengaja melukai?
"Kak May kenapa nangis?" Aku buru-buru mengusap mata. Gadis lugu di hadapanku ini tentu tak paham apa yang tengah menjadi garis takdirku. Pahit dan berliku-liku.
"Nggak kok. Oh, iya tadi kamu lihat nggak Kak May kenapa?"
"Eum ... tadi itu Kak May serem banget. Sampe mau nyakar om. Terus mukanya Kak May pucet, Nanda aja takut," jawabnya. Aku terdiam. Anak kecil sepertinya tak mungkin berbohong.
Aku bangkit dan keluar. Namun, tiba-tiba ada yang menarik bajuku.
"Oh, iya, Kak. Tadi waktu nenek bacain do'a, Kakak ngomong 'aku kembali, aku kembali'. Terus nenek kayak marah gitu. Nenek ngebentak, Kak May juga balas ngebentak. Nggak boleh gitu, Kak. Kata Mama, bicara kasar sama yang lebih tua itu dosa," jelasnya. Aku berjongkok, menyesuaikan tinggi badan dengannya.
"Iya, lain kali nggak gitu lagi. Jangan dicontoh, ya, 'kan nggak baik," kataku sembari mengusap kepalanya. Ia berbalik badan dan naik ke atas kasur; kembali bermain seorang diri.
Aku duduk di kursi panjang samping rumah. Sesekali menjentikkan jari, atau merobek dedaunan kering yang jatuh di atas kursi. Tak terasa, bulir-bulir air mata menganaksungai. Aku merasa kasihan pada diri sendiri. Kapan teka-teki ini akan segera terungkap? Apa yang disembunyikan nenek sebenarnya?
Jujur saja, aku sudah lelah.
Cukup muak dan ingin pergi sejauh mungkin.
Lalu tak akan pernah kembali ....
__ADS_1
Lagi.
***