Mayang

Mayang
Mayang 6


__ADS_3

Mayang sengaja memakai gaun yang sedikit longgar untuk menutupi lekuk tubuh. Menyembunyikan kehamilan dari semua orang, termasuk keluarga Azmir. Bagaimana jadinya jika mereka tahu bahwa ia tengah mengandung? Ini aib besar, tak bisa membayangkan kehancuran jika kesalahan kecil ia lakukan.


"Bersikap normal aja biar nggak ketahuan. Sebenernya nggak terlalu kelihatan. Perutmu masih kecil. Jaga-jaga aja," kata ibunya. Mayang menyunggingkan senyum terbaiknya, meski ada luka dan perih yang disembunyikan.


"Tapi, Bu gimana dengan luka leherku? Bekasnya masih kelihatan," kata Mayang.


"Pakai kalung ini, ketutup rambutmu juga nanti. Setidaknya nggak terlalu kelihatan," jawab ibunya sambil merapikan rambut Mayang.


Di luar sana, tamu-tamu mulai berdatangan. Acara yang dinantikan ini harusnya berjalan dengan baik, tanpa halangan atau kejadian yang membuat segalanya berantakan. Sebisa mungkin Mayang bersikap biasa-biasa saja di hadapan tamu undangan. Ia menuruni tangga dengan anggun ditemani ibunya.


"Baiklah untuk mempersingkat waktu, kita mulai saja acara pertunangan ini," ucap pembawa acara.


Ketika Mayang disandingkan dengan Azmir, tiba-tiba ia merasa tak nyaman di daerah perut. Mungkin mual karena efek mengandung. Mayang meminta izin sebentar untuk pergi ke toilet. Ibunya yang heran ingin menyusul tapi ditahan sang nenek.


"Aduh, sakitnya," keluh Mayang. Ia tidak memuntahkan apa pun. Dadanya terasa sesak, keringat dingin mengucur deras. Karena hampir 20 menit menunggu, akhirnya Mawar datang memeriksa.


Tok, tok, tok!


"May, buka pintunya. Kamu kenapa? Ayo cepetan udah ditunggu itu," kata Mawar. Mayang menoleh, ia ragu membuka pintu itu. Dengan cepat dia mengusap keringat dan memperbaiki rambut. Berjalan pelan menuju pintu dan membukanya.


"Ngapain? Udah ditunggu buat tukar cincin."


"Tadi May mual, Bu," jawabnya parau. Mawar mendesah pelan dan menarik tangan Mayang.


Suasana yang cukup ramai membuat Mayang terasa sesak. Baginya, orang-orang ini tak semestinya berada di sini. Ia harusnya ditinggalkan sendiri. Diasingkan tanpa teman dan berkawan dengan sepi.


"Cantik banget calon mantuku, apa kabar?" tanya Ihda, ibu Azmir.


"Alhamdulillah baik, Bu. Ibu sendiri bagaimana?"


"Baik juga. Tapi kok mukamu pucet banget? Sakit?" Ihda terlihat khawatir, ia memegang pipi Mayang dan terasa dingin.


"Ah, nggak, kok, Bu. Hawanya agak dingin jadi May menggigil," jawabnya berbohong. Ihda mengangguk dan tersenyum simpul.


"Beruntung banget Azmir dapet calon istri kayak kamu. Manis, cantik, baik, dan lugu," kata Ihda bangga. Bagi kebanyakan wanita, itu merupakan pujian terindah. Kapan lagi dibanggakan calon mertua sendiri? Namun, tidak untuk Mayang. Secara tidak langsung, itu adalah penghinaan. Mayang tidak selugu itu.


"Makasih, Bu," ucapnya datar.


Azmir di sana berjalan pelan menuju Mayang sambil menyembunyikan sesuatu di balik badannya. Mayang tersenyum bahagia. Tepat hari ini, ia akan resmi berkomitmen dengan kekasihnya.


"Imut banget anak bapak, udah makan?" tanya Kadir yang tiba-tiba muncul di depan Mayang. Menghalangi jarak pandang Azmir untuk melihat kekasihnya itu. Mayang sedikit terganggu tapi ia memilih tak mengatakan apa-apa. Diam dan mematung di tempat.

__ADS_1


"Kok ditanya diem?"


Mayang mendongakkan kepalanya. "Iya, Pak udah tadi," jawabnya ragu. Kadir mengelus puncak kepala Mayang, lalu menghilangkan jarak di antara mereka. Ia mendekatkan bibir ke telinga Mayang, lalu membisikkan sesuatu.


"Bapak!" teriak Mayang terkejut. Entah apa yang dikatakan bapaknya hingga ia berteriak kencang. Kadir buru-buru mencairkan suasana dengan menjelaskan kepada tamu undangan.


"Ah, maaf. Anak saya emang begini kalau lagi seneng," katanya. Mayang mengernyitkan dahi sambil meremas gaun merahnya; ia geram. Ekspresi bahagia itu berubah jijik dan hina.


***


Selesai acara pertunangan, Azmir menarik tangan Mayang menuju luar. Mayang menepis tangan Azmir karena mengeluh kesakitan.


"Lepasin, sakit!"


"Bapak ngomong apa ke kamu tadi?" tanya Azmir. Wanita itu menunduk, tak berani menatap pria di hadapannya.


"Mayang, jawab!" paksa Azmir membuat Mayang semakin tertekan. Ia meremas kedua bahu Mayang hingga wanita itu memberontak ingin dilepaskan.


Haruskah ia menjawab? Ini petaka, bahkan Azmir pun tak seharusnya mengetahui ini.


"Aku ... aku takut," kata Mayang. Suaranya bergetar tanda ia tak kuasa menahan tangis.


"Aku mencintaimu."


"Ok, aku bakal coba percaya sama kamu," kata Azmir. Mayang tersenyum dan mendekat. Hendak membisikkan sebuah rahasia besar sekaligus aib baginya.


Sedetik setelah Mayang berbisik, ekspresi Azmir mendadak berubah. Ia terkejut dan tak mampu berkata-kata.


***


"Aku cemburu."


"Cemburu kenapa? Karena tadi aku mengikat janji dengan Azmir? Haha, tenanglah. Dia pelampiasan, aku hanya mencintaimu."


"Iya, aku percaya. Hatimu untuknya, tapi seluruh tubuhmu, adalah milikku."


"Ayo ...."


***


Tok, tok, tok!

__ADS_1


Seseorang mengetuk pintu kasar, Mayang mengusap matanya dan bangkit untuk memeriksa. Rasa sakit kembali menyerang perut bawahnya.


"Nenek?"


"Jam segini baru bangun? Cepat mandi dan bantu-bantu ibumu masak," perintah nenek. Mayang heran dengan sikap nenek yang berubah drastis sejak kejadian hari itu. Dulu, sang nenek berkata lembut dan penyayang. Sekarang, rasa-rasanya semua yang dilakukan Mayang itu salah.


"Iya, Nek."


"Ya, ampun. Pantes nenek marah. Udah mau jam delapan tapi aku masih nyenyak tidur. Biasanya juga jam lima bangun, kok sampe kesiangan begini?" gumam Mayang. Ia merasa heran karena biasanya sudah terbiasa bangun subuh. Seluruh tubuhnya terasa begitu lelah. Habis melakukan apa semalam?


"Astaga ... jangan-jangan ...." Ia membekap mulutnya sendiri lalu berlari ke toilet. Membasahi seluruh wajah dengan air, menatap ke cermin. Ya, inilah Mayang yang sekarang.


Ketika ia membuka pintu, Mayang terkejut dengan kehadiran Kadir di sana. Kadir tersenyum memandang putrinya.


"Makasih buat semalam," kata Kadir. Mayang kebingungan dan mengernyitkan dahi. Ada apa dengan semalam?


"Apa ... apa semalam?" tanya Mayang.


"Kamu lupa atau pura-pura polos?" Pria yang usianya hampir menginjak kepala lima itu berkacak pinggang. Puas rasanya telah menikmati tubuh putrinya sendiri.


Ya, ayahnya sendiri pelakunya selama ini.


"Bapak! Kenapa tega? Aku putrimu. Emangnya kenapa sama Ibu?" Mayang emosi, air matanya menganaksungai.


"Aku bosan sama ibumu! Udah tua, udah basi! Aku pengen cari anak muda, tapi selagi ada anak perempuan, ngapain cari yang lain?" Kadir terkekeh, lalu ia mengelus pipi mulus Mayang.


"Pak, ini dosa! Jadi anak ini ...."


"Iya, itu anakku. Anak kita," ucapnya. Bagai tersambar petir di siang bolong, Mayang terkejut bukan main. Pertahanannya hancur saat itu juga. Ia terjatuh.


Ternyata, Kadir telah melakukan hubungan sedarah ini sudah lama. Sekira empat atau lima bulan yang lalu, awal kehancuran itu terjadi dan Mayang tak menyadari. Barulah ketika ia mengetahui kehamilannya yang berusia empat bulan, kejanggalan ini membuatnya bingung.


Sekarang, ia tahu bahwa anak ini bukan darah daging calon suaminya. Bukan juga anak hasil pemerkosaan. Ia hamil anak bapaknya sendiri. Perlahan, misteri itu terkuak, tapi bagaimana bisa ia tak sadar ketika Kadir merenggut kesuciannya?


Tidak, ada yang salah dengan ini. Mayang merasa tidak pernah melakukan dosa sehina itu. Ia merasa masih suci dan tak pernah tersentuh.


Jin itu.


Jin yang bersemayam di tubuhnya.


Apakah ia yang melakukan itu semua?

__ADS_1


__ADS_2