
Apa yang sebenarnya terjadi? Adakah hal yang tidak kuketahui di luar kesadaran?
Janin ini, haruskah aku menggugurkannya? Tidak, ini dosa besar. Aku tidak ingin menanggung dosa karena telah membunuh calon anak sendiri. Namun, apa yang telah menimpaku ini benar-benar di luar dugaan. Tidak masuk akal. Ini anak siapa kalau bukan darah daging calon suamiku sendiri?
Aku lupa memberitahu Bapak semalam. Cermin ini harus segera diangkat ke ruang keluarga. Jika terus menerus di sini, ruang gerak jadi terbatas. Takut juga jika sepupu datang dan bermain-main di sekitar sini, lalu tanpa sengaja menjatuhkan cermin.
Kau yakin hanya karena itu alasanku?
Sebenarnya, aku masa bodoh dengan kemungkinan buruk lainnya. Satu hal yang cukup membuatku takut. Ya, siapa sosok wanita yang mirip denganku ketika itu? Hanya mirip wajahnya, tidak penampilannya. Dia lebih berani dan sedikit menakutkan. Aku tak pernah mengurai rambut seperti itu. Atau menggunakan lipstik merah delima.
Sungguh, itu bukan Mayang yang biasanya. Selama ini orang mengenal Mayang adalah wanita yang sederhana. Lembut dan santun, tak banyak bicara.
***
Kehamilan ini harusnya sudah mulai terlihat. Aku pernah membaca jika hamil karena perzinahan, perempuan itu terlihat biasa-biasa saja. Tak menunjukkan tanda-tanda wanita yang sedang mengandung. Allah menyembunyikan dosa ini, tapi nanti balasannya lebih pedih lagi. Aku tahu, dan aku menangis ketika menyadari hal ini.
Belakangan memang, kesadaranku mudah hilang. Sering melamun dan berbicara tidak jelas. Ibu sering memergokiku berbicara sendiri, marah-marah, atau menangis tanpa suara. Ketika disadarkan, aku merasa tak melakukan apa-apa.
"Bu, kayaknya May memang benar-benar dihamili setan," ucapku ketika ibu sedang memasak. Ia menghentikan gerakan tangannya lalu menatapku dalam.
"Jelaskan kenapa kamu bisa yakin."
"Bukannya Ibu sendiri yang memprediksi bisa aja hal itu terjadi? Buktinya kehamilanku memang aneh. Kalau memang Azmir yang melakukan ini, kehamilanku masih berusia mingguan," jelasku tanpa berani menatapnya.
"Iya, ibu tau. Dari awal memang udah curiga sama kamu. Itu sebenarnya anak siapa. Kamu ditanya ada main sama yang lain jawabnya lupa."
Aku benar-benar lupa! Segalanya terjadi begitu cepat. Aku tidak ingat kejadian empat bulan yang lalu. Tidak mungkin selingkuh dengan lelaki lain. Aku hanya mencintai Azmir.
"May sering pingsan tiba-tiba. Pas bangun terasa capek banget. Padahal nggak ngelakuin apa-apa," kataku.
"Udah, nanti aja dibicarain. Ibu sibuk."
Ya, benar.
Aku bingung dan tak menyangka. Akhirnya, kuputuskan untuk mencari jalan tengah. Memercayai tahayul seperti ini memang jebakan. Semua keluarga mendalami hal supranatural, kecuali aku. Anak yang tak percaya dengan keberadaan makhluk lain di dunia ini.
[Mas, ayo ketemu di tempat biasa. Aku tunggu, sekarang.]
Kirim.
Centang biru itu akhirnya terlihat. Aku meletakkan benda pipih itu di atas kasur. Mengambil jaket dan menyisir rambut.
__ADS_1
***
"Kenapa?" Tatapannya khawatir. Juga tangan yang meraih tubuhku tenggelam dalam dekapannya. Hangat.
Momen seperti ini yang kurindukan. Ketika hubungan baik-baik saja tanpa ada masalah menghambat. Sebelum sikapnya yang perlahan berubah. Ia bagaikan psikopat berkepribadian ganda. Kadang romantis, membuatku terbang hingga ke awan. Kadang pula sadis, menjatuhkanku dalam harapan palsu.
"Aku ...."
"Hmm?"
"Antar aku ke orang pintar sekarang. Ada yang aneh sama aku, Mas!" ucapku dengan nada tinggi.
"Kamu ngomong apa, sih? Mabok apa gimana? Aneh apa? Kenapa bawa orang pintar segala?"
"Aku curiga. Bayi ini anak setan," jawabku lantang. Respon tak terduga. Mas Azmir tertawa kencang.
"Emang ada hal kayak gitu di jaman sekarang? Ada-ada aja kamu."
"Kalau bukan karena jin, bagaimana bisa kandunganku sudah berusia empat bulan. Coba jelaskan," kataku. Ia terdiam. Aku saja masih kebingungan tentang hal ini. Tolong beritahu alasan yang lebih masuk akal.
"Yaudah, aku temenin."
Ketika masuk, ruangan utama dipenuhi bermacam-macam boneka. Rata-rata boneka itu memiliki bentuk yang menyeramkan. Banyak juga keris, lukisan, dan barang antik yang sepertinya memiliki penunggu.
"Langsung aja, Mbah. Nama saya Mayang. Sebenarnya ini aib tapi mau nggak mau harus diceritakan," ucapku. Mbah Rondo tak menjawab, ia hanya menggumam kecil sambil menunduk.
"Saya dan calon tunangan telah melakukan hubungan terlarang sebulan yang lalu. Ketika di-cek, kandungan saya sudah berusia empat bulan. Apakah saya dihamili setan, Mbah?"
Ya Tuhan ... lidahku mendadak kelu. Menceritakan aib sendiri ini sangat memalukan. Semoga saja Mbah paham apa yang aku maksud karena jujur saja, ruangan ini terasa mencekam.
Mas Azmir mencubit pelan perutku. "Kenapa dia nggak ngejawab?"
"Mas, dia itu bisu," jawabku pelan.
Mbah mendongak dan menatapku dalam. Ia seperti membaca sesuatu dan entahlah ... ekspresinya sangat sulit ditebak. Aku hanya ingin jawaban iya atau tidak.
"Mbah?"
"Hm ... hm ...."
"Mbah, iya atau tidak?" Beliau mengangguk pelan. Entah anggukan itu menyiratkan ya atau tidak. Aku mulai muak dan menyerah.
__ADS_1
Ia memberiku segenggam bunga melati. Kuterima dengan ragu-ragu.
"Kayaknya kamu disuruh makan bunga itu," ucap Mas Azmir. Aku manggut-manggut, tapi memakan bunga melati adalah suatu kegilaan. Untuk apa?
"Udah, di rumah aja kamu makan. Aku pengen pulang," lanjutnya mendesak. Mbah Rondo mengangguk cepat, sepertinya Mas Azmir paham bahasa isyarat Mbah Rondo. Aku menghela napas berat, mengapa jadi runyam begini?
***
Kuremas bunga melati ini dalam genggaman. Satu persatu kelopaknya masuk ke dalam mulutku. Rasanya aneh dan hampir saja aku muntah. Demi apa aku seperti ini? Tidak masuk akal.
"Ngapain kamu?"
"Tadi May ke orang pintar. Terus dikasih bunga melati. Kayaknya disuruh makan," ucapku lalu membekap mulut.
"Buat apa?"
"May nggak dikasih tau apa-apa. Si Mbah Rondo, Bu. Yang bisu itu," jawabku.
Ibu tak menjawab, ia berbalik badan dan berlalu. Tinggal satu kelopak lagi tapi aku sudah tidak kuat.
Akhirnya, kumuntahkan semua isi perut. Perasaan tidak enak kembali menyerang. Kesadaran seperti terbagi dua. Jika memang benar ada jin di dalam tubuhku, bunga melati ini akan memberi efek. Kepalaku mulai pusing dan sekitaran tampak putih.
'Ikut denganku.'
Si-siapa?
'Cukup dengarkan dan ikut denganku.'
Aku membersihkan mulut dan mencari sumber suara. Seperti suara perempuan muda. Tubuhku serasa ada yang mengendalikan. Kesadaranku saja hampir hilang, tapi masih bisa merasakan keadaan sekitar.
"A-apa ini?" Tahu-tahu, aku sudah berada di dapur. Menggenggam pisau dan aku merasa perih luar biasa di daerah leher. Buru-buru melempar pisau ke sembarang tempat dan ke ruang tamu.
Cermin itu.
"Astaga! Kenapa bisa luka?" Aku terkejut bukan main. Bekas irisan di leher ini cukup dalam. Meski darahnya sudah berhenti mengalir. Siapa yang melakukannya?
Aku menangis. Meremas baju tidur yang kukenakan. Ternyata memang benar. Ada jin yang bersemayam di dalam tubuhku. Ia berusaha mengendalikan ragaku sepenuhnya. Sulit dipercaya tapi pada akhirnya aku menyerah.
Entah siapa dan apa yang diinginkan jin ini di dalam tubuhku. Satu yang menjadi pertanyaan. Apakah ia yang menghamiliku beberapa bulan yang lalu?
***
__ADS_1