
"Nenek! Mayang mau tanya sesuatu," ucap Mayang tiba-tiba. Neneknya yang sedang menampi beras, langsung mendongak. Mayang duduk di samping neneknya, menyiapkan kata demi kata lalu dirangkai menjadi sebuah pertanyaan besar untuknya.
"May yakin nenek tahu semua ini. Sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang ada di dalam tubuh May?" Bibir wanita itu bergetar ketika mengeluarkan semua tanda tanya di dalam pikirannya.
"Jin, May. Jin, nggak ada yang lain," jawab nenek. Mayang masih tak merasa puas dengan jawaban itu, memilih untuk bertanya lagi.
"Bohong, pasti ada sesuatu yang nggak May tau. Nek ... May mau memberitahu sesuatu, hal yang besar dan ini memalukan. Tapi tolong percaya sama May," katanya mengiba. Nenek mengangguk ragu, lalu melempar pandang ke sembarang arah; malas.
"May ... hamil," lanjutnya. Nenek langsung menoleh ke arahnya, melempar tatapan tajam dan menakutkan.
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Mayang. Wanita itu meng-aduh, air matanya meleleh seketika. Ia tak menyangka, sosok penyayang selain ibunya kini telah menampar pipinya.
"Nenek ...," lirihnya. Mata neneknya merah, berkaca-kaca. Nampan beras ia letakkan di samping, lalu bangkit dan menarik tangan Mayang pergi entah ke mana.
***
"Siapa ayah dari bayi ini? Kapan kamu melakukan?" tanya nenek.
"Nek, denger penjelasan May dulu. May sama sekali nggak ngerasa pernah melakukan itu. May merasa masih suci. Ba-bapak yang ngelakuin ini, Nek," jawabnya menunduk.
"Bayi ini bukan anak jin. Tapi May benar-benar ngerasa nggak pernah melakukan, sama sekali nggak! May tahu ini dosa, Nek. Tiba-tiba langsung seperti ini," lanjutnya sambil sesenggukan.
Sang nenek tak menjawab, ia memilih tenggelam dalam pikirannya sendiri. Mayang menunggu sepatah dua kata itu keluar dari bibir neneknya. Ia berharap akan diberi kesempatan mencari tahu hal yang sebenarnya, meski butuh banyak pengorbanan.
"Nek, May janji bakal cari apa yang terjadi. Asal nenek percaya sama May gak pernah melakukan hubungan sedarah ini," katanya lagi. Ia benar-benar mengiba. Berharap langit mengasihinya kali ini saja.
"Neeek ... jawab Mayang. Bantu May cari obat. Bisa-bisanya May nggak sadar waktu ditiduri Bapak."
Hening di antara mereka untuk beberapa saat. Mayang sudah menyerah. Entah bagaimana lagi caranya membujuk sang nenek. Ia memilih diam, menatap tangan keriput wanita itu dengan wajah sendu.
***
Jangan sampai ibunya tahu akan hal ini. Ia harus menjaga dan mengubur rahasia besar dari siapa pun lagi, termasuk ibunya. Hatinya menangis, ia terlalu lemah menanggung beban ini sendirian. Dosa apa yang telah ia lakukan di masa lalu hingga Tuhan mencampakkannya sekejam ini? Bagaimana bisa ia tak sadarkan diri ketika si bejat itu meniduri Mayang?
Ini masih menjadi teka-teki. May mengusap air mata dan menekan nama Azmir di kontak teleponnya.
"Mas, bantu aku cari solusi. Otakku benar-benar buntu."
Lelaki yang resmi menjadi calon suaminya itu mendesah kecil. Deru napasnya menjadi pertanda bahwa ia juga ikut kebingungan. Bencana apa yang menimpa Mayang hingga menimbulkan misteri serumit ini?
__ADS_1
[Iya, Sayang. Mas bakal bantu kamu, meski keluar uang banyak. Asal kamu sembuh.]
Menenangkan, Mayang lega. Azmir tak marah, malah ikut mendukungnya. Ia tersenyum dalam luka. Bertahan dalam penderitaan.
"Mas ... nggak marah?" tanyanya. Azmir terkekeh.
[Kamu siap-siap. Kita jalan-jalan sebentar. Ketemuan di tempat biasa.]
***
Dua insan yang tengah dimabuk cinta itu duduk berdampingan. Tangan Mayang yang selalu bergetar jika dipegang oleh Azmir, membuat pria itu gemas. Mereka saling beradu tatap, hingga salah satu darinya mencairkan suasana.
"Mas, kamu percaya sama aku?" tanya Mayang dengan binar mata yang tampak jelas. Azmir meliriknya sekilas, lalu menggenggam tangan kanan Mayang.
"Percaya. Kita udah lama pacaran, masa aku nggak tau sifat calon istriku ini. Nggak mungkin ngelakuin hal sebejat itu," jawab Azmir teduh. Mayang merasa bersalah, ia telah gagal menjaga mahkota sucinya untuk Azmir. Bulir-bulir penyesalan dan pedih itu jatuh setetes demi tetes.
"Maaf, Mas. Aku nggak bisa jaga kesucian, sekarang aku udah ternoda. Maaf ...."
Lelaki 25 tahun itu menatap puncak kepala Mayang cukup lama. Dilihatnya sang kekasih yang sedang menangis, menderita batin. Lalu, ia menarik Mayang ke dalam dekapan. Wanita itu terkejut, tapi ia tak menolak. Inilah yang diinginkannya sejak lama. Waktu berdua.
Dalam pelukan Azmir, ia tersenyum malu. Iseng-iseng memasukkan tangan ke kantung jaket Azmir.
"Iya, Sayang."
"Sekarang aku tau, ini anak siapa. Satu persatu teka-teki ini terbongkar. Tapi ... ada satu hal lagi," ucap Mayang lalu melepas pelukan. Azmir mendengkus pelan, menunggu kata-kata selanjutnya.
"Apa?"
"Kenapa aku nggak sadar sama sekali waktu itu, Mas? Nggak ada tanda-tanda dia melakukan itu. Aku hidup normal selama lima bulan terakhir."
"Mungkin bapak ngasih kamu obat apa gitu supaya nggak sadar. Coba inget, sebelum itu dikasih makan atau minum apa sama dia?" tanya Azmir. Ia juga penasaran apa yang telah terjadi.
"Ng ... nggak ada, Mas," jawab Mayang. Azmir memijit keningnya, lalu bangkit. Ia menarik tangan Mayang dan mengajaknya ke suatu tempat.
"Mau ke mana, Mas?"
Sambil merapikan jaket Mayang, Azmir berkata, "Kita jalan-jalan seharian hari ini. Kamu mau makan apa bilang, ya. Supaya kamu nggak stres." Mayang mengangguk pelan. Rasanya ia jijik dan tak rela mempertahankan kandungan ini. Seandainya aborsi tidak dosa, mungkin ia sudah lama melakukan tindakan itu.
***
"Darimana kamu?"
__ADS_1
Mayang dikejutkan oleh sosok wanita yang tak lain adalah ibunya. Mawar memasang wajah curiga dan tak sedap dipandang.
"Habis jalan-jalan sama Azmir, Bu," jawab Mayang ragu. Mawar langsung menarik tangan anaknya itu dan menutup pintu.
"Jangan suka keluar rumah! Gimana jadinya kalau tetangga tau kamu lagi hamil, hah? Mau taruh di mana muka ibu!" bentak Mawar.
"Mau jawab apa kalau ditanya ini anak siapa!"
"Bu, sudah, Bu. Mayang nggak salah. Saya yang ngajak dia tadi, kasihan di rumah terus." Azmir datang berusaha melerai. Namun, Mawar bak kesetanan, ia tak memedulikan kehadiran Azmir di sana.
Mayang terdiam, ia mengusap air mata dan masuk ke kamar. Percuma juga menjelaskan, Mawar takkan mau mendengarkan. Entah hukuman apa yang sedang ia jalani belakangan. Air mata dengan mudahnya jatuh dan membuka kembali luka lama. Sakit sekali ketika mengingat, Mayang yang murah senyum dan selalu ceria. Sekarang, ia bagai raga tanpa nyawa.
"Aku hidup, tapi terasa mati. Sebenarnya apa yang terjadi! Aku muak!"
Ia meremas rambutnya sendiri. Tak peduli sakit yang dirasa, jika itu bisa meredakan emosinya, maka akan dilakukan. Lalu, pertahanannya rubuh. Ia berteriak histeris, mengeluarkan semua emosi di dalam dada. Jatuh bersama tetesan air mata yang menjadi penanda bahwa ia sudah lelah.
Cukup, hanya sampai di sini. Mengapa Tuhan begitu keji? Sebesar apa dosanya di masa lalu hingga karmanya sepedih ini?
Ia terus menyakiti diri, menghantamkan kepala ke tembok. Mungkin bagi sebagian orang ini adalah tindakan bodoh. Namun, jika berada di posisinya, ini adalah hal yang wajar. Ia sudah lelah, memilih mati seandainya jika bisa.
"Jin! Jin itu. Dia pelakunya!"
***
Suasana rumah yang tadinya tenang menjadi mencekam. Tiba-tiba, Mayang keluar dari kamar dengan kondisi yang mengerikan. Ia berlari menuju dapur dan mengobrak-abrik hingga berantakan. Nenek yang melihat kegaduhan itu langsung mengambil tiga dupa yang dibakar.
"Mayang! Sadarlah! Sadar!" ucap nenek. Mayang mengambil sebilah pisau di tempat sendok dan mengancam akan bunuh diri. Ujung pisau itu sudah berada di depan lehernya sendiri. Nenek yang panik berteriak memanggil Mawar.
"Keluar kamu! Iblis jahat! Keluar dari tubuh cucuku!" perintahnya sambil terus menyebar asap dupa. Mayang tertawa kencang, bak menertawakan orang di hadapannya.
"Keluar atau kamu akan mati!" ancam nenek.
"Mati? Kalau kau mau aku mati, pemilik raga ini juga harus mati!"
"Apa yang mau kamu lakukan di situ, hah?"
"Kau sudah lupa, Tua Bangka? Aku tidak akan keluar dari sini karena Mayang adalah rumahku. Kau diam saja di situ atau ... cucumu yang akan mati!"
"Mayang!"
"Aaakh ...!"
__ADS_1