
Pagi harinya, semua berjalan seperti biasa. Mereka bersikap seolah tak terjadi apa-apa, termasuk Mawar. Sambil mengerjakan pekerjaan rumah, ia tak henti-hentinya memikirkan kejadian semalam. Meskipun harus menyembunyikan hal ini dari ibunya.
"Jangan melamun nanti kena pisau itu jarinya," kata nenek. Lamunan Mawar buyar dan langsung menoleh.
"I-iya, Bu."
"Semalem nginap di rumah Bik Rosita emang terasa ada yang janggal. Auranya gelap dan suram. Itu anaknya yang masih bayi, si Alitha, suka nangis tengah malem," ucap nenek menceritakan perihal tadi malam. Ya, pukul tujuh lewat, nenek meminta izin untuk menginap di rumah saudaranya. Tak jauh dari sini. Hanya berjalan kaki dua puluh menit. Bik Rosita mengalami kejanggalan aneh di rumah yang baru ia tempati tiga bulan itu.
"Oh, terus gimana jadinya, Bu?" tanya Mawar antusias.
"Ya, kita harus panggil orang pintar buat ngusir roh jahat di sana. Kasihan Alitha takut diapa-apain sama jinnya nanti," jelas nenek. Mawar manggut-manggut dan kembali melanjutkan kegiatannya. Dalam hati ia merasa tidak enak. Menerima kenyataan bahwa anaknya dihamili suaminya sendiri.
Namun, di balik itu semua, ia berusaha berpikir positif. Mengenai Maria, sosok lain yang entah darimana datang dan menguasai raga anaknya itu.
"Masak apa, Sayang?" tanya Kadir tiba-tiba muncul dari belakang. Mawar yang mendengar hal itu bukannya senang malah merasa jijik. Ia menjauh dari suaminya itu.
"Nggak usah deket-deket aku," kata Mawar sambil menahan tetesan air matanya jatuh. Kadir mendengkus pelan, ia tahu mengapa sikap istrinya menjadi seperti ini. Tentu saja perihal semalam. Mawar belum mengerti apa yang telah terjadi.
"Siapa Maria? Sejak kapan kamu berhubungan sama dia?" tanya Mawar sambil menatap tajam ke arah suaminya. Kadir malas berdebat pagi ini, ia memilih untuk pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Meninggalkan Mawar yang terdiam kebingungan di sana.
Wanita mana yang akan terima jika suaminya tega menghamili anaknya sendiri? Sakit ... hatinya terkejut. Hanya air mata yang bisa menenangkannya saat ini.
***
"Mayang! Ibu mau bicara sama kamu!" Mawar langsung mendobrak pintu dan menghampiri Mayang yang masih terbaring lemah di tempat tidur.
"Ap-apa, Bu?" tanya Mayang kaget. Ia berusaha bangun dan menerka-nerka apa yang membuat ibunya begitu murka.
Tanpa banyak cakap, Mawar menarik paksa tangan anaknya cukup kasar. Wanita yang belum sepenuhnya pulih itu hanya bisa pasrah. Ia menangis, merintih.
"Kamu tega, ya. Bisa-bisanya berhubungan sama bapakmu sendiri! Ibu nggak ada ajarkan kayak gitu, May!" bentak Mawar begitu emosi. Mayang terkejut bukan main. Ternyata ibunya sudah tahu rahasia besar ini. Susah payah ia menjaga agar ibunya tak tahu siapa ayah dari anak di rahimnya. Namun, entah mengapa, langit sedang menguji kesabaran wanita itu lagi.
Lelah ia berdo'a meminta jalan keluar; berharap Tuhan berbelas kasih padanya. Namun, semua do'a yang ia panjatkan bagai sampai ke langit, lalu kembali lagi ke bumi. Ia sudah mempersiapkan diri menerima perlakuan apa yang akan dihujamkan kepadanya nanti.
"Bu, sumpah demi Allah! May nggak tahu apa-apa soal ini. Semuanya terjadi begitu aja. May bahkan nggak tahu kalau sudah hamil empat bulan," jelas Mayang berderai air mata. Wajahnya semakin pucat, ia takut dibenci ibunya sendiri.
"Ibu ... percaya sama Mayang. Semua didikan ibu waktu kecil Mayang ingat sampai sekarang," lanjutnya sambil bertekuk lutut. Ia memohon dan mengiba. Sungguh, Mayang bagai kambing hitam. Disalahkan padahal ia sendiri tak tahu apa-apa.
"Nak, kalau bukan kamu, lantas siapa? Bisa kamu jelaskan siapa Maria?" Mayang berhenti menangis. Dahinya mengerut, tak paham siapa yang dimaksud ibunya itu. Ia bangkit sambil terus menatap mata Mawar.
"Maria?"
__ADS_1
"Iya. Sosok yang bersemayam di tubuhmu. Namanya Maria."
"Ta-tapi ... kok ibu tau?"
Mawar menjelaskan kejadian tadi malam. Tentu saja ketika itu Mayang tak tahu apa-apa. Seingatnya setelah memberikan obat untuk bapaknya, ia tak mengingat hal lain lagi. Ketika sadar, ia sudah berada di tempat tidur. Lemas dan kepalanya sangat nyeri. Emosi Mawar sedikit mereda ketika tahu anaknya tak menyadari apa-apa ketika itu. Kembali, Mayang dibuat kebingungan. Maria? Siapa dia?
Semuanya mulai menemukan titik terang. Mayang memang tak merasa pernah melakukan hal sekeji itu dengan bapaknya sendiri. Dulu, ia adalah gadis yang terkenal pendiam dan santun. Dididik dengan baik oleh ibunya sejak kecil. Sangat mengejutkan memang jika ia sampai melakukan hubungan sedarah dengan bapaknya. Apa kata orang di luar sana nanti?
Tentu saja, Mayang bukan wanita serendah itu. Ia bahkan membenci anak yang ada di dalam kandungannya kini. Sekarang ia tahu mengapa ketika hal itu terjadi, ia tak merasakan apa-apa. Semua terjadi begitu saja, tanpa ada gejala atau praduga.
Maria ... gadis misterius yang mendiami tubuh Mayang. Sejak kapan, apa tujuannya, semua itu masih menjadi rahasia.
Perlahan akan terkuak, meski Mayang harus menahan rasa sakit bertubi-tubi. Ia lelah terus menduga-duga apa yang telah terjadi.
Drrrt ....
Mayang mengusap layar benda pipih itu. Terpampang nama yang akan menemani sisa hidupnya kelak.
[Aku antar ke Mbah sekarang. Kamu siap-siap, keburu sore.]
"Hu'um, Mas."
***
"Mbah, masih ingat kami? Pasangan yang waktu itu konsul masalah jin. Tunangan saya sudah memakan bunga melati pemberian Mbah waktu itu. Tapi belum ada tanda-tanda akan membaik. Apakah dia bisa sembuh, Mbah?" tanya Azmir. Mbah Rondo hanya mengangguk, tak menatap dua orang yang duduk berhadapan dengannya. Sibuk membersihkan keris pusaka.
"Mbah?" panggil Mayang karena tak kunjung mendapat respon. Azmir mencubit pelan pinggang Mayang. "Jangan-jangan selain bisu dia juga mulai tuli?"
"Ish, Mas! Nggak boleh ngomong kayak gitu," kata Mayang sambil menahan senyum.
"Atau jin di dalam tubuh Mayang itu sangat kuat, Mbah?" Azmir berusaha fokus, ambisinya agar Mayang cepat sembuh sangatlah besar. Ia tak ingin pernikahannya nanti hancur dan tak sesuai harapan.
Mbah Rondo mengangguk, lalu memberikan bunga melati lagi.
"Dimakan?" tanya Mayang ragu. Mbah menggeleng, ia tak mengisyaratkan apa-apa lagi setelah itu. Mayang jadi bingung mau diapakan bunga ini?
"Ah ... iya, mungkin aja dimakan, Sayang. Kemarin 'kan begitu? Siapa tahu Mbah lagi males, hehe," ucap Azmir. "Ya, udah terima aja. Habis itu kita pulang."
Mayang menerima bunga itu dan bangkit. Azmir menaruh beberapa lembar uang kertas ke dalam kantung si Mbah. Ia tahu Mbah tidak mau menerima imbalan dalam bentuk apa pun. Namun, sebagai bentuk terima kasih, apa salahnya memberi sedikit rezeki? Lagipula, kakek tua itu hidup sebatang kara. Istrinya entah ke mana dan anak-anaknya pergi merantau jauh di luar sana.
Ketika berjalan menuju pintu luar, Azmir dikejutkan dengan bayangan seseorang di sana. Ia melangkah perlahan-lahan, memastikan tak salah lihat.
__ADS_1
"Eh, Ibu. Astaga, bikin kaget aja, hehe," ucap Azmir ketika berpapasan dengan Mawar.
"Lho, Ibu ngapain ke sini sama nenek?" tanya Mayang penasaran.
"Temenin nenek kamu mau minta bantuan sama Mbah soal Bik Rosita. Rumahnya berhantu," jawab Mawar.
"Oooh ... ya, udah, Bu, May sama Mas Azmir pulang duluan."
***
Di perjalanan pulang, Mayang tak henti-hentinya memikirkan sesuatu. Misteri ini memang perlahan terkuak, tapi rasa-rasanya tak menemukan ujung. Selalu ada misteri lain yang membuat pikirannya kalut.
"Oh, iya, kemarin aku ketemu kakek-kakek pas mau beli kopi. Dia ngasih gelang ini," ucap Azmir sembari memberikan gelang hijau tersebut. "Tiba-tiba aja si kakek langsung hilang pas aku dongak. Kalau dipikir-pikir gak mungkin kakek tua cepet banget jalannya."
"Gelangnya cantik, Mas." Mayang tersenyum lebar. Ia memakai gelang itu di tangan kanannya. Antik memang.
"Di mana, ya si kakek dapat gelang sebagus ini? Coba lihat, Mas. Cantik, 'kan?" Azmir juga ikut tersenyum. Akhirnya setelah beberapa hari terus bersedih, ia bisa melihat senyum manis itu lagi.
"Ya, udah kamu ambil aja."
Namun ....
"M-Mas ... kepalaku sa-sakit ...," keluh Mayang tiba-tiba. Azmir langsung meminggirkan mobilnya dan memeriksa kondisi Mayang. Ia terkejut karena wajah Mayang begitu pucat, keringat dingin bercucuran, dan tangan kakinya gemetar.
"Kok tiba-tiba, sih? Ke rumah sakit aja, ya?"
Mayang terbatuk-batuk, Azmir membukakan pintu dan membopong wanita itu keluar. Mungkin saja ia masuk angin karena di luar memang agak dingin.
"Aaakh ...." Mayang menjerit kesakitan sambil memegang lehernya. Azmir yang panik langsung menelepon Mawar.
"Maaas ... sakit!"
Mayang terbaring di atas rerumputan. Jalanan sangat sepi, tidak ada yang bisa dimintai tolong.
"Haaakh!"
Wanita itu memuntahkan cairan merah yang kental. Azmir langsung menghampirinya. Ia membangunkan Mayang dan memijat tengkuknya. Mayang terlihat sangat kesakitan, bulir-bulir air mata terus mengalir dan jatuh ke atas tanah.
"Heergh!" Satu jeritan lagi. Mayang memuntahkan darah dan tiga buah jarum di atas telapak tangannya. Azmir terbelalak, ini adalah tanda-tanda jika sedang dikirim ilmu hitam. Adakah seseorang yang dendam dan mengirim jin itu untuk mengusik kehidupan Mayang?
Tunggu, singkirkan dugaan itu dulu. Sekarang, Mayang pingsan dan kondisinya memprihatinkan.
__ADS_1