
Setelah adegan yang cukup membuat perasaan Zena tak karuan itu, kini ia sudah berada di depan gerbang rumahnya. Zena pun turun dari motor Arzan,
" Makasih ya udah nganterin sampe rumah " ucap Zena
" Sama-sama, santai aja " jawab Arzan
Terjadi kecanggungan yang cukup singkat setelahnya, namun Arzan mencoba menghilangkan kecanggungan itu
" Emm.. Zena gue boleh kan temenan sama lo? " tanya Arzan sedikit was-was
Zena tersenyum mendengar ucapan Arzan, baginya semua orang adalah temannya, selama mereka berperilaku baik dan tidak jahat padanya. Iya kan?
" Boleh dong, bagiku semua orang yang baik padaku mereka adalah temanku. " jawab Zena sembari tersenyum manis
Lagi-lagi senyuman Zena sangat berpengaruh untuk jantung Arzan, ia tanpa sadar mengangkat tangannya dan memegang dadanya sendiri. Hal itu membuat Zena merasa sedikit khawatir.
" Kamu kenapa megangin dada, apa kamu sesak nafas? " tanya Zena asal
Mendengar suara Zena membuat Arzan tersentak kaget dan langsung menurunkan tangannya dari dadanya " Ee.. e.. enggak gue ga kenapa-napa " jawab Arzan gugup bercampur malu
" Terus kamu kenapa megangin dada dari tadi? " tanya Zena lagi membuat Arzan merutuki dirinya sendiri karena dia tidak mungkin mengatakan kenyataan yang sebenarnya bahwa jantungnya berpacu dengan cepat gara-gara melihat senyuman Zena tadi. Mau ditaruh di mana muka Arzan nantinya.
" Ga papa, tadi dada gue mendadak sakit aja " jawab Arzan asal
" Oh gitu, coba cek aja ke dokter biar tau penyebabnya apa " saran Zena
Hal itu membuat Arzan tersenyum senang menatap Zena
" Ya udah aku masuk dulu ya " pamit Zena, dan Arzan langsung menjawab " Ehh iya, maaf kalo lo kelamaan diluar ngobrol sama gue " ucapnya sembari menyengir
" Ga papa " jawab Zena sembari tersenyum
Lalu ia melangkah berbalik dan hendak membuka gerbang rumahnya, kemudian suara Arzan menghentikan aktivitasnya.
" Zena helm gue ga dikembaliin? " canda Arzan sembari tertawa
" Oh iya, lupa " balas Zena sembari tertawa juga
Ia kemudian berjalan ke arah Arzan sembari mencoba melepaskan helmnya, tetapi itu sulit bagi Zena karena ia sangat jarang memakai helm. Kemanapun ia selalu memakai mobil, maklumlah ia dan keluarganya termasuk orang berada.
Arzan yang melihat Zena kesusahan pun berinisiatif membantu melepaskan helmnya. Kemudian ia turun dari motornya " Sini biar gue bantu " kata Arzan
Tangan Arzan terulur untuk melepaskan pengait helmnya dan tidak sengaja menyentuh tangan Zena, sedetik kemudian mata mereka bertemu. Tetapi Zena buru-buru mengalihkam pandangannya dan menurunkan tangannya.
Lagi-lagi hal itu membuat jantung Arzan berpacu dengan lebih cepat, begitupun dengan Zena.
" Aku kenapa sii.. ini jantung juga ga mau diem " batin Zena, ia merasa sangat heran baru kali jantungnya berdebar dengan cepat ketika berdekatan dengan seorang laki-laki.
" Apa aku sudah... " Zena langsung menggelengkan kepalanya, menepis semua pikirannya yang aneh menurutnya.
" Lo kenapa? " tanya Arzan merasa heran
" Ehh ga papa kok " jawab Zena setelah tersadar dari lamunannya, Arzan pun menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
__ADS_1
" Kalo gitu gue pulang dulu " pamit Arzan setelah melepaskan helmnya dari Zena
" Iya, sekali lagi makasih ya " ucap Zena lagi
" Sama-sama " balas Arzan sembari tersenyum
Setelah itu ia melajukan motornya untuk pulang ke rumah, dan Zena pun masuk kedalam rumahnya. Di ruang tamu Zena bertemu mamanya, dan ia segera mencium tangan mamanya.
" Zena, kamu pulang sama siapa? " tanya mama Zena
" Itu tadi dianterin temen ma " jawab Zena
" Ohh. Tadi kata pak supir mobil kita rusak dan harus dibawa ke bengkel, trus tadi mama lupa ngabarin kamu " jelas mama Zena
" Oh gitu " jawab Zena sembari mengangguk
" Ehh ngomong-ngomong yang nganterin kamu cewek apa cowok? " tanya mama Zena penasaran
" Cowok, emang kenapa ma? " Zena balik bertanya pada mamanya
" Ga papa sih, jarang-jarang aja kamu dianterin cowok " ucap mama Zena
" Tadi dia yang nawarin buat nganterin aku, kalo ga aku mana mau dianterin sama cowok " jelas Zena
" Jangan-jangan dia suka lagi sama kamu " pikir mama Zena asal
" Ihh mama jangan asal ngomong " celetuk Zena, mamanya ini memang suka sekali menggoda Zena sampai-sampai Zena kesal pada mamanya.
" Udah ah ma, aku mau ke kamar dulu mau bersih-bersih " ucap Zena lalu berjalan menuju kamarnya
" Awas aja kalo nanti kebukti " gumam mama Zena sembari cekikikan
....
Setelah selesai dengan kegiatannya, Zena merebahkan tubuhnya dia atas kasur sembari memainkan benda pipih nan canggih miliknya. Namun sepertinya pikiran gadis itu berada di tempat lain, ya ia kepikiran saat bersama Arzan tadi.
Zena merasa aneh, kenapa dia bisa berdebar saat berdekatan dengan laki-laki itu. Baru kali ini dia merasa begitu, apa dia terkena penyakit jantung sampai-sampai jantungnya berpacu dengan lebih cepat dari biasanya.
Entahlah Zena merasa pusing memikirkan itu semua. Dan seketika itu juga ponselnya berbunyi menandakan pesan masuk. Ia pun langsung mengalihkan pandangannya ke layar ponselnya.
+6207xxxxxxxx
Zena ini gue Arzan
Begitulah pesan singkat yang baru saja diterima Zena, Zena berpikir dari mana laki-laki itu mendapatkan nomornya.
Zena
Iya
Arzan
Lagi ngapain Ze?
__ADS_1
Zena
Lagi istirahat nih di kamar
Arzan
Ehh sorry kalo gue ganggu
Zena
Enggak kok
Arzan
Kalo gitu gue mandi dulu ya
Aneh, begitulah pikir Zena. Baru kali ini ia merasa senang berkirim pesan dengan seorang laki-laki, bahkan dulu saat ada seorang laki-laki yang mengirim pesan padanya selalu diabaikannya kecuali ada keperluan yang memang sangat penting.
Zena
Hmm iya
Setelah itu tidak ada balasan dari Arzan dan tulisan online telah menghilang, menandakan laki-laki itu sudah tidak memainkan ponselnya.
Zen pun meletakkan ponselnya di atas kasur, lalu pergi ke dapur untuk mengambil minum karena tenggorokannya terasa haus.
Sesampainya di dapur Zena mengambil air dari dalam kulkas dan menuangkannya ke dalam gelas lau meminumnya. Setelah itu Zena menuju ke ruang keluarga dan duduk bersama papa dan mamanya yang memang sudah berada di sana sejak tadi.
" Zena, kata mama kamu dianterin sama cowok tadi " ucap papa Zena
" Iya pa, emang kenapa? " tanya Zena merasa heran
" Jangan pacaran dulu ya sampai kamu lulus SMA. Fokus sama sekolahmu saja dulu " ucap papa Zena mengingkatkan
" Papa, dia itu cuma temen Zena. Lagian baru kenal kok tadi, dia murid baru dikelas aku " jelas Zena panjang lebar
" Aku juga ga mau pacaran pa " tambah Zena
" Baguslah kalo gitu " jawab papa Zena senang
" Yakin kamu Zena? " tanya mama menggoda
" Mama ini suka banget ngegoda aku ya " ucap Zena sembari memasang muka kesal
" Siapa yang ngegoda " jawab mama lagi
Begitulah interaksi antara keluarga Zena, keluarga mereka memang suka bercanda. Dengan begitu keluarga mereka akan harmonis menurut mereka.
...
Rate, like, dan komen yaa
Itu gratis kok ga bayar;v
__ADS_1