
Dering bel istirahat kedua hari ini telah berbunyi, riuh langkah menuju kantin menjadi fokus utama bagi Zena. Dia sedang menunggu sahabat paling cerewetnya yang sedang memesankan makanan.
Matanya bergerak ke sekitar guna memerhatikan aktivitas orang-orang yang sedang berada di sana. Sampai matanya menemukan satu orang yang mulai terasa familiar di hidupnya.
Arzan, cowok itu kelihatan celingak-celinguk memerhatikan sekitar. Zena bisa tahu dari gerak-geriknya kalau cowok itu sedang mencari tempat duduk untuk menikmati makanannya.
Kalau Dia menawarkan duduk bersama, apakah cowok itu akan nyaman dan.. Fira, apakah setuju?
Bukan apa-apa, Zena hanya tidak ingin kejadian dulu terulang kembali. Disaat Dia dan.. mungkin bisa dikatakan sahabat(?) sedang makan bersama, tiba-tiba teman sekelasnya juga sedang mencari tempat untuk makan, persis seperti Arzan sekarang.
Zena yang memang peduli langsung menawarkan duduk bersamanya. Tidak disangka, ternyata sahabatnya itu tidak suka dan langsung berkata yang cukup membuatnya sedikit kecewa.
Dan sekarang, entah dimana sahabatnya itu. Dia tidak tahu bagaimana kabarnya.
Tidak lama setelahnya Fira datang membawakan makanan untuk mereka berdua. Fira yang melihat wajah berpikir Zena yang aneh, mencoba menerka-nerka apa yang sedang dipikirkan sahabatnya itu.
" Ehh Zena, kamu kenapa? Muka kek memikul beban besar gitu? " tegurnya.
Sedangkan Zena masih saja berpikir tentang hal tersebut, apakah yang harus dilakukannya? Mohon maaf semua, maklumi saja kalau Zena sangat lama berpikirnya. Menurut kalian mungkin saja kan Arzan sudah duduk di tempat lain? Mana mau Dia lama berdiri di tengah-tengah kantin begitu.
Tapi, kalian salah kalau berpikir seperti itu. Nyatanya cowok itu masih celingak-celinguk mencari tempat duduk yang strategis untuk mengisi perutnya yang sangat lapar.
Jangan kalian pikirkan berapa lama waktu yang Dia lewatkan selama celingak-celinguk itu dan selama Zena berpikir. Kalau orang yang tidak sabaran pasti sudah menghilang pergi ke kelas ataupun taman.
Baiklah kita kembali dengan Zena dan sahabat paling setianya-itu gelar dari Fira sendiri.
" Astaga Zenaa kamu kesurupan? Apa ketempelan? Kok gak gerak gitu " Fira menggoyang-goyangkan bahu Zena.
" Aku lagi mikir " ucap Zena
" Apa? Mikir apa? "
__ADS_1
" Sebaiknya Arzan duduk disini apa gak ya? " telunjuknya mengarah ke arah Arzan yang-masih saja celingak-celinguk di tempatnya. Ke kelas saja deh Ar!!
Fira menganga di tempatnya. " Yaa kalo gitu kenapa gak diajak duduk sama kita aja Zenaaa," Fira memijat kepalanya sakit.
" Kali aja kan kamu gak nyaman "
" Gak, cepet suruh Dia kesini "
" Gitu yaa "
" Iya, begitu " Fira menggerutu di tempatnya.
" Ar! Kesini! " panggil Zena
Cowok itu langsung menoleh ke arah Zena dan menuju ke mejanya. Ia langsung duduk di sebelah Zena.
Fira yang sudah lapar tidak peduli dengan sekitar, Dia hanya ingin makan sekarang.
" Gak papa nih gue duduk sama kalian? " tanya cowok itu sungkan.
" Gue liat tempatnya udah lumayan penuh, yaa meskipun masih ada beberapa tempat duduk tapi gue gak terlalu akrab sama mereka " jelas Arzan
" Lain kali kalau gak dapet tempat, gabung sama kami aja. Iya kan Fir? " ungkap Zena.
Fira hanya mengangkat jempol tangannya untuk membalas pertanyaan Zena. Bodoamat lah, Fira cuma peduli dengan makanannya sekarang. Dia sangat lapar.
" Oke deh. Thanks ya kalian." ucap Arzan.
Sekali lagi Fira hanya mengangkat jempolnya sedangkan Zena tersenyum kecil.
Setelahnya mereka menikmati makanan masing-masing. Rupanya mereka sangat lapar sampai-sampai tidak mengobrol sedikitpun.
__ADS_1
Arzan telah selesai makan, Ia berniat mengambil tisu di atas meja dengan tangan kanannya sampai ketika tubuhnya terdorong ke samping.
Ia terkejut hingga kehilangan keseimbangan dan menabrak orang di sampingnya dengan posisi yang, ekhemm.. sedikit tidak nyaman.
" Ee-eeh, maaf maafin gue ya? Gak sengaja. Lo sih dorong-dorong gue! " maki seorang cowok pada temannya di samping. Yang sudah membuat adegan cukup mengganggu ini, ckck.
Cowok itu masih terkejut sama seperti Zena yang masih membatu di tempatnya sekarang.
Dengan tangan kiri yang memegang erat sisi kursi panjang yang berada di belakang Zena, wajah yang menghadap ke samping wajah Zena, Ia seperti mengurung Zena di dekatnya. Arzan ingin sekali menenggelamkan wajahnya sekarang.
Zena jangan ditanya! Dia pias sekali sekarang. Dia ingin pergi saja tapi tubuhnya sangat kaku sekarang.
Sedangkan Arzan, masih saja belum mengubah posisinya sekarang. Mata bulat, hidung kecil yang cukup mancung. Dan.. bibirnya yang sedikit merah. Stop! Alihkan pandangan, alihkan pandangan!
Arzan tidak berani bergerak. Ia hanya mengalihkan matanya menatap lurus.
Gadis di depan mereka sekarang hanya bisa melongo di tempat sampai Dia tersadar.
Brakk!
" Ayo kita ke kelas, jangan sampai terlambat masuk nihh " ajak Fira meluluhkan suasana.
Keduanya yang sudah tersadar pun mulai bergerak. Arzan yang pertama menarik tubuhnya dari posisi sebelumnya.
Zena? Dia sudah pergi duluan mengikuti Fira.
Arzan masih saja duduk di tempatnya dan memandang punggung Zena yang mulai mengecil. Lalu, Ia alihkan ke sekitar. semua orang menatapnya dengan berbagai macam ekspresi.
" Kalian gak ngira kalau gue lagi modus kan? " tanya Arzan lantang.
...****************...
__ADS_1
Pencet like nya jangan lupa
Komen juga bisaa