
Langkahnya tergesa-gesa menuju lapangan upacara. Setelah sampai, Dia memasuki barisan kelasnya dengan sangat hati-hati agar tidak ketahuan terlambat datang. Sambil mencoba mengatur nafasnya yang terasa berat, cowok itu menoleh ke samping barisannya. Zena, gadis itu menatap bingung kearahnya.
" Kamu kenapa terlambat? " tanya Zena
" Iya nih, gara-gara keasikan nonton film horor sampe hampir subuh jadinya gue terlambat bangun " kekeh Arzan malu
" Kalau mau nonton itu boleh, tapi harus ingat waktu juga" ucap Zena bijak
" Iya dehh, ini juga baru sekali gue kayak gini, santai aja lah " Arzan nyengir santai. Zena hanya geleng-geleng kepala heran.
Mereka berdua kembali fokus untuk mengikuti upacara pagi Senin yang masih berlangsung. Zena pun berdiri dengan tenang dan fokus ke arah depan. Sedangkan Arzan, cowok itu malah curi-curi pandang ke samping, kalian tau lah siapa ya.
Saat upacara hampir selesai, Arzan tiba-tiba memanggil Zena dengan pelan. Membuat Zena terlonjak kecil karena kaget. Gimana gak kaget, tadi saja Dia dan Arzan hanya diam sembari mengikuti upacara dengan khidmat.
" Zena " panggil Arzan
" Ehh astagaa, aku kaget ini " jawab Zena kaget
Arzan terkekeh pelan, " Hehehe... sorry nih ngagetin "
" Ada apa? " tanya Zena penasaran
" Lo kenapa gak pake panggilan Lo-Gue kalo ngomong? Sorry aja nih gue cuma penasaran " Arzan nyengir sembari mengangkat dua jarinya membentuk peace.
" Penasarannya tingkat mana dulu nih, yang tinggi, sedang, atau biasa? " balas Zena dengan serius yang dibuat-buat.
Arzan tertawa sedikit kencang membuat beberapa atensi murid-murid menatap kearahnya, refleks Dia menutup mulut dan menundukkan kepalanya dekat dengan kepala Zena. Zena yang kaget refleks memundurkan kepalanya yang berada dekat dengan wajah Arzan.
Setelah beberapa detik, Zena masih mematung menatap Arzan kaget. Sedangkan cowok itu mulai membuka mulutnya yang tertutup tangannya sendiri dan beberapa detik Dia langsung memalingkan wajah ke arah lain. Zena mengerjapkan matanya beberapa kali dan segera tersadar dari kekagetannya.
' Heh Ar, lo itu kenapa juga harus malingin wajah ke Zena, Dia pasti ilfil ' batin Arzan sambil menampar-nampar pipinya sendiri.Sedangkan Zena sudah kembali memperhatikan ke depan.
Setelahnya upacara selesai dan murid-murid kembali ke kelasnya masing-masing untuk mengikuti pelajaran seperti biasa. Zena dan Arzan pun berjalan menuju kelas mereka, dengan Zena yang lebih dulu berjalan ke kelasnya bersama Fira.
Kalau kalian nyariin Fira di mana waktu upacara tadi, tentu saja Dia ada di barisan belakang tapi beda dengan Zena. Dan kalau kalian nanya apa yang Fira lakukan, tentu saja Dia sibuk memperhatikan interaksi Zena dan Arzan dari awal sampai akhir. Tidak tertinggal sedikitpun dari perhatian Fira.
__ADS_1
Arzan pun mengikuti Zena dan Fira dari belakang dengan jarak cukup dekat. Fira tahu kalau Arzan ada di belakang mereka, tapi Dia acuh saja. Fira menyenggol lengan Zena, membuat Zena menoleh kearahnya.
" Kenapa Fir? " tanya Zena
" Aku yang harusnya nanya, kamu itu kenapa dari tadi diem mulu, sakit?" gerutu Fira, yah sebenarnya Dia tahu apa yang terjadi ' Gak seru kan ya kalo gak basa-basi muehehe ' batin Fira
" Enggak kok Fir, cuma rada pusing aja " jawab Zena
' Pusing karna natap Arzan kann, ngaku deh Zen, aku tau kok. Semuanya malah aku tau ' batin Fira tertawa mengejek.
" Kalo gitu ke UKS aja yuk, biar kamu bisa istirahat bentar baru ikut pelajaran lagi " saran Fira
" Gausah Fir, aku cuma pusing dikit kok gak parah " tolak Zena sembari tersenyum kecil
" Bener nih? Kalo banyak juga gapapa biar gaada yang suka nanya waktu pelajaran Kimia nanti " canda Fira sembari tersenyum mengejek.
Satu yang kalian harus tahu, Zena itu suka sekali bertanya saat pelajaran Kimia. Setelah pertanyaan-pertanyaan Zena dijawab oleh guru, maka satu kelas pasti akan diberi tugas sekolah dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman murid di pelajaran Kimia. Padahal menurut mereka itu sama sekali tidak ada gunanya, karna bagi mereka Kimia itu sulit. Ingat, Kimia itu sulit.
" Yee aku nanya karna gak paham " gerutu Zena sembari mencibir kecil
" Iya, tapi kan-" ucapan Fira terhenti ketika bel tanda masuk kelas berbunyi
Saat di dalam kelas, Zena sudah duduk di bangkunya sembari membaca buku pelajarannya. Arzan pun baru saja duduk di samping Zena yang masih membaca. Dia melirik sedikit ke arah Zena.
' Ngomong gak ya? Duhh, gue takut Dia gak nyaman gara-gara kejadian tadi ' batin Arzan bimbang. Setelah beberapa saat, Arzan mencoba berbicara dengan Zena.
" Zena " panggilnya kecil
" Hmm " jawab Zena singkat tanpa menolehkan kepalanya sedikitpun
' Tuh kan pasti Dia ilfil sama gue ' duga Arzan
" Emm Zena, gue minta maaf ya soal di lapangan tadi. Gue beneran gak sengaja itu, percaya deh " pinta Arzan sedikit melas
" Gapapa kok, aku biasa aja " ucap Zena sembari tersenyum kecil kearah Arzan. Cowok itu menatap Zena dalam beberapa detik sebelum akhirnya Dia mengerjapkan matanya pelan.
__ADS_1
" Ohh, emm kalo gitu lo gak ilfil atau marah kan sama gue? " tanya Arzan lagi
Zena tertawa kecil, membuat Arzan terpaku beberapa saat, " Ya enggaklah, kamu santai aja Ar "
' Ini Dia manggil nama gue kan? Tapi rasanya beda banget sama panggilan orang-orang biasanya ' batin Arzan heran
" Ar, Ar? Kamu kenapa bengong gitu ngeliat aku? " heran Zena
" Ehh gak gak ada " jawab Arzan dengan terburu-buru
Beberapa menit kemudian, guru Kimia datang ke kelas mereka. Bu Sana masuk kelas dengan senyum lebarnya.
" Pagi anak-anak, maaf ibu terlambat masuk karena ngurus beberapa file penting dulu " jelas Bu Sana
" Gak papa Bu " jawab murid serentak
" Baik, mari kita mulai pelajaran hari ini. Buka halaman 59, disana.... " kata-kata Bu Sana menghilang dari telinga Arzan tergantikan wajah tenang Zena disampingnya yang fokus mendengar penjelasan Bu Sana di papan tulis.
Setengah jam kemudian, murid-murid diberi tugas oleh Bu Sana. Dan gerutuan-gerutuan samar terdengar di telinga Zena.
Saat ini Arzan sedang kesusahan menyelesaikan soal terakhir dari 3 soal Kimia itu. Cowok itu mendekatkan wajahnya ke arah Zena untuk bertanya.
" Zena, ini gimana cara selanjutnya? Gue gak nemu caranya dari tadi, udah pusing ini " tanya Arzan sembari menggerutu pelan.
Zena menoleh ke samping kanannya dan otomatis wajahnya menghadap wajah Arzan dengan dekat. Untuk kedua kalinya mereka terpaku. Tetapi Zena bisa menguasai diri dengan cepat dan memalingkan wajahnya ke depan.
" Sorry lagi nih Zena, muka gue deket banget ya sama lo. Gue gak maksud apa-apa " jelas Arzan
" Iya deh, ga papa aku maafin kok " balas Zena tersenyum sedikit mengejek. Arzan tertawa kecil sembari menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
" Yang ini caranya gini dulu... "
Arzan terpaku melihat keseriusan di wajah Zena ketika Dia menjelaskan cara dari soal kimianya. Cowok itu merasa semakin tertarik pada Zena. Dia terus memperhatikan Zena yang masih menjelaskan disampingnya. Arzan rasa, Zena benar-benar berbeda dari yang lain
...****************...
__ADS_1
Haloo, masih ada gak nih yang nyimpen cerita ini? Udah lama banget gak update yaa. Yang udah baca chapter-chapter sebelumnya makasiih banyak yaa, karna cerita ini cuma cerita biasa yang gak ada apa-apanya dibanding cerita-cerita lain. Udah segitu dulu cuap-cuap nyaa, see u^^
Jangan lupa like and comment')