Mekanik Massa Menyelamatkan Ratu Jahat

Mekanik Massa Menyelamatkan Ratu Jahat
Vol1 - Bab 4 - Tujuan Dan Kota Ruis


__ADS_3

"..."


"Kenapa kau hanya memakai dedaunan!" Elisa berteriak keras dan memalingkan wajahnya, terlihat bahwa wajah Elisa merona memerah.


"... Kau sendiri mengapa memerah karena seorang anak kecil?" Seketika Elisa memukul pipi kanan Alvin, yang membuat Alvin terhempas ke tanah.


"Argh!" Alvin menatap Elisa dengan wajah bingung.


"Sudahlah cepat pakai saja bajumu!"


"Tidak bisa, ****** ***** dan celana pendekku basah!" Mendengar hal itu membuat Elisa melihat ke arah ****** ***** dan celana pendek Alvin.


"Sihir Air: Penguras Air!" Dalam sekejap air yang terdapat di ****** ***** dan celana pendek Alvin, seketika itu pula mengering.


"Hem... Kau cocok sebagai pengering pakaian..." Alvin mengangkat kedua alisnya dan berjalan ke arah pakaiannya berada, sementara Alvin tengah memakai pakaiannya, Elisa terus menatap danau, dirinya tidak ingin melihat Alvin yang tengah berganti pakaian.


"Sekarang... Apa?" Alvin menatap lurus tepat ke mata Elisa.


"Katakan bagaimana kau mengetahui tentang diriku?" Elisa berbicara dengan nada serius dan memelototi Alvin.


"... Itu... Kau tidak perlu tahu..." Alvin bergumam dan memalingkan wajahnya.


"!!!"


"Kenapa!"


"Aku... Tidak dapat menjelaskannya... Ini sulit untuk dijelaskan, tapi yang jelas aku tidak akan membuatmu dalam masalah..." Mendengar semua perkataan Alvin seketika Elisa terdiam, dirinya menatap Alvin dengan perasaan rumit.


"Lalu apa tujuanmu?" Mendengar hal itu Alvin terdiam sejenak, dirinya kemudian menoleh ke arah langit malam.


"Melindungi dan menyelamatkan dunia?" Elisa menatap Alvin dengan mata terbuka lebar.


"Jangan bercanda!" Elisa membantah perkataan konyol tersebut.


"Aku tidak bercanda, lagipula bukankah kalian para Spirit dapat membedakan kebenaran dan kebohongan?" Alvin tersenyum tipis kepada Elisa.


"!!!"


"Kau juga mengetahui hal itu..."


"Ya, tentu saja aku tahu, oleh karena itu kau pasti tahu bahwa aku berkata jujur." Alvin terus menatap Elisa yang tengah berpikir keras.


"Kenapa?"


"Kenapa kau ingin melindungi dan menyelamatkan dunia?" Elisa menatap tepat ke mata Alvin.


"..."


"Mungkin aku hanya ingin melihat akhir yang bahagia?" Alvin tersenyum lebar mengingat tujuannya untuk melindungi dan menyelamatkan dunia Gargan.


Memang ada dua puluh lima rute yang ada, di mana hal itu diketahui secara umum oleh semua pemain Game Raja Pahlawan Dengan Pedang Sihir Dewa, tapi sebenarnya ada satu rute tersembunyi, yang mungkin hanya diketahui oleh Alvin dan Para pengembang game tersebut.


Itu sebuah rute yang di mana pemain dapat melakukan segala cara untuk melindungi dan menyelamatkan dunia, untuk melihat akhir yang benar-benar bahagia, dan di rute ini pula karakter dari penyebab segala masalah di dunia Gargan akan muncul.


Tapi untuk melihat akhir yang bahagia dari rute tersembunyi tersebut, pemain harus mengorbankan nyawa karakter mereka, yang tentunya hal itu tidak bisa membuat para pemain melihat akhir yang benar-benar bahagia, karena karakter pemain telah mati dan tidak sempat melihat scene akhir bahagia tersebut.


Alvin sudah mencoba segala cara tapi dirinya tetap tidak bisa melihat akhir yang bahagia di rute tersembunyi, hingga suatu ketika Alvin terpikirkan mengenai dua nyawa, dirinya tahu bahwa game Raja Pahlawan Dengan Pedang Sihir Dewa memiliki banyak karakter, item, dan hal lainnya yang unik dan luar biasa.


Tentu saja ada item atau karakter yang bisa menghidupkan kembali seseorang, tapi semua itu tidak bisa Alvin dapatkan, karena jika dirinya melakukan hal tersebut ada beberapa karakter yang akan terkena beberapa hukuman, yang bisa memperpendek umur mereka atau bahkan kematian.


Sedangkan item yang dapat menghidupkan kembali seseorang, hanya ada tiga, kesatu hilang sejak zaman kuno, kedua menyatu dengan salah seorang karakter baik, jadi Alvin menolak opsi tersebut, dan yang ketiga sekaligus terakhir, berada di tangan Helkhis Raja Para Dewa-dewi.


Jadi jika Alvin ingin melihat akhir yang bahagia dirinya perlu membunuh Raja Para Dewa-dewi, tapi hal itu tidak mungkin untuk saat ini, oleh karena itu Alvin hanya bisa menunggu untuk menjadi cukup kuat supaya dapat membunuh Raja Para Dewa-dewi.


"..." Elisa terus menatap Alvin sebelum akhirnya menundukkan kepalanya.


"Hem... Kenapa?" Alvin menatap Elisa dengan wajah bingung.


"Kalau begitu aku akan ikut denganmu."


"Apa!"


"Aku belum pernah melihat seseorang sepertimu selama ini, melihat akhir yang bahagia kah, maka aku akan membantumu untuk melihat akhir yang bahagia seperti yang kau inginkan."


"Perjalanan ini akan sulit!"


"Aku tahu."


"Aku akan mendapatkan banyak masalah!"


"Aku akan terus membantumu."


"Kau terlalu lemah!"


"...!!!"


"Heh apakah kau bilang aku lemah?" Elisa seketika memunculkan banyak tombak yang terbuat dari air, yang melayang di udara dan mengarah ke Alvin.


"Helkhis... Aku akan membunuhnya..." Seketika itu pula semua air yang melayang disekitar meledak, di mana terlihat wajah Elisa melototi Alvin.


"..." Alvin yang terguyur air hanya bisa menatap Elisa dengan tatapan bodoh.


"Jangan menatapku seperti itu! Katakan mengapa kau ingin membunuh Helkhis, kau tahu tidak siapa Helkhis itu hah?" Elisa seketika membentak Alvin dengan nada keras.


"Aku tahu, tapi... Dirinya telah mengambil yang tidak seharusnya dia ambil, lagipula dia telah membuat banyak Ras sengsara, jadi cara untuk melindungi dan menyelamatkan dunia ini salah satunya dengan membunuh Helkhis."


"Plakk!"


Sebuah tamparan keras mengenai pipi Alvin, sebuah bekas merah telapak tangan terlihat jelas di pipi kiri Alvin.

__ADS_1


"Jangan mengatakan hal gila dengan begitu mudah seperti itu! Kau belum tahu betapa mengerikannya dunia ini! Tidak semuanya berjalan sesuai yang kau inginkan! Terkadang... Ada... Beberapa hal yang tidak bisa berjalan sesuai kehendak kita..." Nafas Elisa memburu, dirinya tidak dapat tetap tenang dan berakhir menampar pipi Alvin.


"...!" Elisa kemudian tersadar bahwa dirinya baru saja menampar dan membentak seorang anak dengan keras, meski Alvin bertingkah seperti orang dewasa, dirinya masih tetap seorang anak kecil, Elisa kemudian segera mengalihkan pandangannya ke arah Alvin.


Betapa terkejutnya Elisa ketika dirinya melihat Alvin yang tersenyum lebar, sambil menatapnya dengan tatapan tenang.


"Terimakasih telah mengkhawatirkan diriku, aku tahu itu gila, aku tahu bahwa mungkin dunia atau seluruh ras akan membenciku, aku juga tahu mungkin aku akan kehilangan nyawaku karena hal itu, tapi... Aku benar-benar hanya ingin melihat akhir yang bahagia..." Mendengar hal itu tubuh Elisa bergetar hebat, setelah terdiam sejenak, dirinya kemudian berlari dan memeluk Alvin erat-erat.


"Aku baru ingat... Maaf aku telah menamparmu..."


"Hah?" Alvin tidak sempat mendengar bagian pertama yang dikatakan oleh Elisa, dirinya hanya mendengar bagian maaf dan seterusnya, bagian sebelum itu Alvin tidak sempat mendengarnya.


"Tidak, tidak apa-apa, aku akan ikut denganmu dan membantumu, mulai sekarang aku Elisa Water Spirit, akan ikut dalam perjalanan panjang Alvin Malvis untuk melindungi dan menyelamatkan dunia."


"!!!"


"Bagaimana kau mengetahui namaku?" Alvin yang kali ini terkejut, sebab selama percakapan mereka sebelumnya, Alvin belum menyebutkan namanya.


"Hem... Itu rahasia..." Elisa tersenyum lebar.


Alvin mengkerutkan keningnya, dirinya memikirkan semua kemungkinan yang dapat terjadi, karena jika ada sebuah anomali, maka rencananya kemungkinan besar akan menjadi berantakan.


"Kau tidak perlu memikirkannya, lagipula bukankah sekarang wanita cantik ini akan selalu bersamamu?" Elisa dengan nada sombong memuji dirinya sendiri.


"..."


"Terserah, cepatlah berubah jadi anak kecil..." Alvin berbicara dengan wajah datar.


"Apa?"


"Berubahlah jadi anak kacil, akan terlalu menarik perhatian jika seorang anak laki-laki berpetualang dengan seorang wanita dewasa, jadi sekarang ubahlah wujudmu menjadi anak berumur sekitar lima tahun yang seumuran denganku." Mendengar penjelasan Alvin yang panjang lebar membuat Elisa tercengang.


"Apakah tidak bisa selain hal itu?" Elisa mengkerutkan keningnya mendengar penjelasan Alvin.


"Tidak!"


"Ayolah pasti itu tidak akan menarik perhatian!"


"Tidak!"


"Aku tidak mau menjadi anak kecil!"


"Jika begitu jangan ikut denganku!"


...


...


...


Setelah perdebatan panjang antara keduanya, akhirnya Elisa menyerah dan mengubah wujudnya jadi seperti anak kecil.


Sesampainya di desa Yahvi Alvin kemudian bertanya kepada para pedagang apakah ada yang akan pergi ke Kota besar Ruis, sayangnya hal itu tidak, Alvin merasa sedikit kecewa.


Pada akhirnya Alvin membawa Elisa menuju pintu keluar Desa Yahvi, kemudian Alvin dan Elisa berjalan menuju ke kota Ruis dengan berjalan kaki.


Mungkin aneh kenapa keduanya tidak menaiki kuda, karena harganya cukup mahal, dan Alvin jelas-jelas tidak memiliki uang, sedangkan jika mereka terbang menggunakan Sihir milik Elisa itu akan membuat beberapa masalah jadi Alvin memutuskan untuk berjalan kaki saja.


...


...


...


Waktu terus berlalu hingga akhirnya hampir satu bulan semenjak perjalanan Alvin dan Elisa menuju ke kota Ruis, selama itu mereka juga telah menjadi lebih dekat, Alvin sedikit mengandalkan Elisa dalam beberapa hal, sebelumnya Alvin tidak dapat mengandalkan Elisa karena dirinya masih belum terlalu akrab dengan Elisa meski Alvin sangat mengetahui Elisa dari Game, tapi yang di dalam Game dan di dunia nyata tidak mungkin benar-benar sama.


Jadi Alvin pada awalnya terpaksa melakukan banyak hal seorang diri, tapi sekarang sudah berbeda.


"Hei itu terlihat sebuah kereta kuda tengah di serang?" Elisa berseru keras melihat sebuah kereta kuda dikelilingi oleh segerombolan Goblin.


"Ayo kita bantu mereka." Alvin segera berlari menuju ke sana, diikuti oleh Elisa di belakangnya, kemudian Alvin mulai menembakkan beberapa batu menggunakan ketapel yang diperkuat.


Dengan Elisa yang menggunakan sihir air untuk menghabisi sebagian besar goblin di sekitar, Alvin menembakkan beberapa batu yang diperkuat dengan sangat cepat, batu-batu itu Alvin arahkan ke mata para goblin yang menyebabkan para goblin menjadi buta, kemudian akhirnya dihabisi oleh Elisa.


"Hem... Tidak buruk..." Alvin menganggukkan kepalanya setelah menatap ketapel sejenak, kemudian Alvin berniat untuk melanjutkan perjalanan bersama Elisa pergi menuju ke kota Ruis melalui jalan tersebut.


"Tunggu!" Tapi seseorang tiba-tiba saja menghentikan mereka berdua.


"Ehm?"


"Maaf bisakah kalian menunggu sebentar, Nona Muda ingin bertemu dengan kalian berdua?" Melihat seorang perempuan yang merupakan kusir dari kereta kuda tersebut, membuat Alvin berhenti lalu berbalik.


"... Baiklah." Alvin mengangkat kedua bahunya dan berjalan menuju kereta kuda dengan wajah datar.


Kemudian Alvin dan Elisa masuk ke dalam kereta kuda, melihat wanita tersebut Alvin sedikit bingung, karena Alvin seolah-olah pernah melihatnya, tapi pada saat yang bersamaan juga tidak, setelah menatap wanita tersebut cukup lama Alvin akhirnya sadar siapa wanita itu sebenarnya.


"Khum!" Mendengar suara batuk membuyarkan lamunan Alvin, dirinya segera melihat ke asal suara tersebut yaitu Elisa yang menatap Alvin dengan mata melotot.


"..." Alvin terdiam sebelum kembali melihat ke arah wanita pemilik kereta kuda.


"!!!"


"Reine Regle." Seketika wanita itu menatap Alvin dengan tatapan tajam sebelum kembali tenang.


"Maaf maksud anda apa, saya hanya ingin berterimakasih karena telah menolong saya..." Wanita itu dengan senyum sopan melihat ke arah Alvin dan Elisa.


"Tidak perlu berpura-pura Reine Regle, meski wajahmu berubah, dan penampilan pengawalmu juga berubah, tapi kau tidak mengubah kuda kesayangan ayahmu Brisfon bukan?" Tepat setelah Alvin mengatakan itu semua raut wajah wanita itu berubah drastis, kemudian sebuah pedang menembus kereta kuda yang hampir mengenai Alvin dan Elisa.


Wanita itu yang bernama Reine seketika dibawa paksa untuk menjauh dari Alvin dan Elisa, melihat bahwa orang yang melakukan itu kepada Reine adalah pengawalnya, Alvin hanya tersenyum tipis.

__ADS_1


"Siapa kalian!" Ucap pengawal Reine yang menatap Alvin dan Elisa dengan tatapan bermusuhan.


"Aku hanya seorang pemburu biasa dan juga seorang pedagang paruh waktu..." Alvin tersenyum lebar saat memperkenalkan dirinya, Elisa yang mendengar hal itu mengkerutkan kening tidak menyukai perkenalan payah yang dilakukan oleh Alvin.


"Tidak mungkin, lalu bagaimana kau bisa-!" Sebelum pengawal Reine sempat menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba saja sekelompok orang bertopeng dan berjubah mengelilingi mereka berempat.


"Ternyata kalian benar-benar penjahat!" Ucap pengawal Reine dengan wajah marah, dirinya menatap ke sekeliling dengan wajah frustasi.


"Tidak! Kami bukan bagian dari mereka, sudah kukatakan aku hanya pemburu biasa dan memiliki pekerjaan pedagang sebagai pekerjaan sampingan!" Alvin membantah dengan wajah tidak puas.


"Huuuh... Elisa habisi semua orang itu dengan cepat..." Alvin menghela nafas lelah, dan meminta bantuan Elisa.


"Aku tahu!" Kemudian puluhan tombak yang terbuat dari air muncul sebelum berputar dengan cepat dan melesat ke arah setiap penjahat.


"Apa! Mereka tidak mengatakan ada seorang penyihir di sini!"


"Lari!"


"Tidak! Arghh!"


"Tolong!"


Melihat semua pembunuh bayaran dilenyapkan seketika, membuat Reine dan pengawalnya tercengang, mereka mencoba memproses semua itu, tapi kejadian tersebut terjadi begitu cepat.


"Nah sekarang ayo kita berbicara layaknya orang beradap!" Alvin tersenyum lebar.


...


...


...


Melihat Alvin terus menatap mereka berdua membuat Reine dan pengawalnya menjadi sedikit gelisah.


"Terimakasih sekali lagi karena telah menyelamatkan kami!" Ucap Reine dengan menundukkan kepalanya sedikit.


"Tidak masalah!" Alvin melambaikan tangannya, dirinya tidak peduli dengan kejadian tersebut, sebab dirinya tidak percaya akan bertemu karakter yang cukup populer lainnya selain Elisa dalam waktu cukup dekat.


Reine Regle seorang anak dari ketua cabang Asosiasi Pedagang di Kekaisaran Lightsun, dan merupakan salah satu dari karakter pembantu yang sangat bisa diandalkan, oleh karena itu Alvin berniat untuk mendapatkan bantuannya dan bisa melakukan kerjasama.


"Baiklah, namaku Alvin Malvis dan ini Elisa, seperti yang aku katakan sebelumnya aku pemburu dan juga seorang pedagang!"


"Uhm... Begitukah?" Reine hanya menatap Alvin dengan tatapan bingung.


"..." Bibir Alvin berkedut melihat Reine yang tidak peduli dengan perkenalannya, tapi Alvin tahu bahwa akan sulit untuk membicarakan semua itu di tempat luas seperti itu, oleh karena itu Alvin kemudian meminta Elisa untuk menebang beberapa pohon, kemudian Alvin mengambil beberapa hal sebelum akhirnya menciptakan sebuah kereta kuda yang baru dalam waktu beberapa puluh menit saja.


"Beliana, bisakah kau membawa kereta kudanya kembali menuju ke kota Ruis?" Ucap Reine kepada pengawal wanitanya.


"Baik!" Beliana atau biasa di kenal sebagai Beliana Ros merupakan pengawal pribadi Reine, meski tidak terlalu kuat, dirinya juga tidak terlalu lemah.


Tidak hanya itu Beliana Ros sebenarnya seorang keturunan bangsawan, lebih tepatnya bangsawan tingkat Baron, karena suatu masalah keluarganya terbunuh yang hanya menyisakan Beliana dan ayah dari Reine menolong Beliana, karena ayah Reine dan ayah Beliana berteman.


"Hem?" Reine menatap bingung saat merasakan kereta kuda tersebut tidak mengalami guncangan yang cukup menyakiti, biasanya kereta kuda akan mengalami sedikit guncangan yang membuat tidak nyaman, tapi kereta kuda tersebut sangat nyaman.


"Nah kau pasti tidak akan menolak kerjasama ini, setelah merasakan kereta kuda ini?" Alvin berbicara sambil menyeringai.


"Kereta kuda ini memang cukup menarik, bahkan kereta kuda kerajaan tidak sebaik ini..." Reine menganggukkan kepala sambil melihat ke sekitar kereta kuda.


"Yah alasan lainnya itu karena aku dapat menyembuhkan keracunan ayahmu."


Mendengar hal itu membuat Reine menatap Alvin dengan tatapan tajam, meski Reine ingin membentak Alvin untuk tidak mengatakan hal yang mustahil, tapi entah mengapa rasanya seolah-olah Alvin benar-benar dapat menyembuhkan keracunan milik ayahnya.


Akhirnya Alvin dan yang lainnya sempai di Kota Besar Ruis, di sana Alvin dan Elisa pergi bersama Reine ke Asosiasi Pedagang Cabang Kota Ruis.


Sesampainya di kantor Reine, Alvin kemudian mulai mengeluarkan beberapa barang hasil dari kemampuannya, barang-barang tersebut adalah Jam Sihir dan Kipas Angin Sihir Kecil.


Melihat kedua barang tersebut membuat Reine dan Beliana menjadi sangat terkejut, tapi keduanya segera menjadi skeptis, karena biasanya penemuan baru itu terkadang ada saja masalahnya, dan biasanya yang utama ada dalam permasalahan konsumsi Kristal Sihir yang besar.


Melihat mereka berdua menatapnya dengan tatapan ragu, terutama Reine yang menatap Alvin dengan tatapan rumit, Alvin akhirnya tahu apa yang mereka pikirkan, Alvin segera memberitahukan dan menunjukkan bahwa konsumsi kristal sihirnya tidaklah besar.


"Ini... Baik, bagaimana dengan hasil penjualan 30% untukmu?" Reine menganggukkan kepalanya, sebelum akhirnya memulai penawaran bagi hasil.


"Tidak! Aku mau 45%!" Alvin menggeleng-gelengkan kepalanya, dirinya menolak proposal tersebut.


"Kenapa, bukankah itu sudah banyak, lagipula produksi dan penjualan ada di kami, bukanlah sudah jelas kami mendapatkan lebih banyak?" Reine mengerutkan keningnya, bingung dengan penolakan Alvin.


Alvin menolak karena dirinya membutuhkan banyak uang untuk kepentingan di masa yang akan datang, oleh karena itu Alvin membutuhkan lebih banyak hasil dari penjualan.


"Aku tidak hanya akan menyembuhkan ayahmu, aku juga akan memberitahukan lokasi ibumu." Hal itu membuat Reine dan Beliana bak disambar petir, keduanya terlihat sangat terkejut hingga membeku tak dapat bicara.


Reine menatap Alvin dengan tatapan terkejut, kedua matanya bergetar hebat, dirinya tidak mampu menahan tubuhnya untuk bergetar karena terguncang akan informasi tersebut.


"Kau tidak percaya bukan, baik akan aku buktikan salah satunya." Ucap Alvin sebelum meminta untuk mengetahui lokasi keberadaan ayah Reine, setelah dibawa Reine menuju ke sebuah kamar yang berada di Asosiasi Pedagang, Alvin menemukan seorang pria tua yang terlihat pucat dan berbaring lemas tidak sadarkan diri.


"Apakah kau benar-benar bisa melakukannya?" Elisa bertanya dengan bingung di sebelah Alvin.


"Hehe ini mudah, kau bisa mengendalikan Air bukan?" Alvin bertanya kepada Elisa yang berada di sebelahnya.


"Uhm... Tentu saja bisa, kenapa?"


"Gunakan sihir untuk mengendalikan racun dan mengeluarkannya." Ucap Alvin dengan mempersiapkan diri.


"Begitu."


Kemudian sihir mulai digunakan, secara perlahan zat cair berwarna biru kehitaman, mulai keluar dari pori-pori kulit ayah Reine, Alvin lalu mengeluarkan sebuah toples kaca dan meminta Elisa memasukkan racun tersebut ke dalam toples.


"Baik dengan ini selesai!" Setelah Alvin mengatakan itu, Reine berlari ke samping tempat tidur, dirinya menatap ayahnya dengan tatapan penuh harap.


Secara perlahan tangan kanan ayah Reine mulai bergerak, melihat itu Reine menangis bahagia dirinya tersenyum lebar.

__ADS_1


Melihat itu Alvin memutuskan untuk pergi bersama Elisa, membiarkan Reine dapat melakukan reuni yang bahagia dengan ayahnya.


__ADS_2