
Keesokan paginya Alvin dan Elisa bangun dari tidur mereka, kemudian keduanya pergi menuju ke kamar mandi masing-masing, Alvin dan Elisa diberikan rumah oleh Yold untuk keduanya tinggal, Yold bahkan memberikan beberapa budak untuk melayani Alvin, di mana membuat mereka berkerja sebagai pembantu di rumah besar tersebut.
Setelah mandi dan makan, Alvin dan Elisa pergi menuju ke Asosiasi Pedagang, tapi baru saja beberapa menit keduanya berjalan, mereka menemukan segerombolan orang tengah membentuk sebuah lingkaran, yang di mana Alvin merasa penasaran.
"Ayo kita lihat, apa yang terjadi di sana, apakah ada hal yang menarik?" Alvin mengajak Elisa untuk ikut dengannya memasuki kerumunan.
Di tengah-tengah lingkaran, terlihat seorang anak tengah menundukkan kepalanya dan seorang pria berbadan besar, pria tersebut sedang menatap anak itu dengan tatapan menghina.
"Bukankah sudah kukatakan! Jangan ganggu aku lagi! Wanita itu sudah lama mati seharusnya! Tapi dirinya masih bisa hidup hingga sekarang sudah suatu berkah! Jadi jangan ganggu aku dengan meminta untuk menolong perempuan ****** itu!" Pria tersebut berteriak keras dengan wajah kesal kepada anak kecil tersebut.
"Aku mohon kak Jaden! Bukankah kalian berteman! Kakak juga orang yang menjadi rekan dari regu kakakku bukan, pada saat itu! Oleh karena itu tolong kak! Aku mohon! Kakak sedang membutuhkan bantuan sekarang!"
Melihat anak kecil tersebut terus memohon untuk meminta bantuan, membuat Alvin mengkerutkan keningnya, Alvin kemudian memutuskan untuk ikut campur, dirinya berjalan menuju ke arah anak laki-laki tersebut, pria yang merupakan seorang pemburu tersebut kesal dengan kedatangan Alvin.
"Hei dik, apa yang terjadi?" Alvin bertanya dengan suara lembut kepada bocah laki-laki tersebut.
"Ah! I-itu..." Anak laki-laki tersebut menatap Alvin dengan ragu-ragu, sebelum akhirnya melirik pria besar yang bernama Jaden.
"Tidak apa-apa, katakan saja ada apa, aku mungkin dapat membantumu." Ucap Alvin dengan dengan wajah tenang.
"Itu..."
__ADS_1
Melihat anak laki-laki tersebut masih ragu-ragu, membuat Alvin menghela nafas lelah, sebelum akhirnya menarik anak tersebut menjauh dari sana, melihat dirinya diabaikan membuat pria bernama Jaden menjadi sangat kesal, ketika dirinya ingin berbicara tapi sayangnya Alvin sudah menghilang, yang membuat pria bernama Jaden menjadi sangat kesal.
"Kakakku! Dia tengah sakit! Bisakah kau menolongnya?" Anak laki-laki tersebut bertanya dengan wajah ragu-ragu.
"Aku tidak tahu apakah aku bisa, tapi mari kita lihat dulu, jika bisa aku pasti aku membantumu." Alvin menjawab dengan tersenyum, meski Alvin memiliki Skill Mekanik bukan berarti Alvin tidak mengetahui penyakit atau hal-hal yang membuat orang sakit atau terluka, jadi Alvin berniat untuk membantu.
Alvin dan Elisa di bawa ke sebuah gubuk kecil, yang berada di pinggiran kota Ruis, anak laki-laki yang Alvin tolong bernama Digo, sedangkan kakak perempuannya bernama Dil.
Dil terluka parah ketika sedang menjalani misi saat menjadi seorang Pemburu pemula, tapi luka tersebut tidak bisa disembuhkan oleh para penyihir dengan sihir penyembuhan dari Asosiasi Pemburu, bahkan Pendeta dari Gereja tidak dapat menyembuhkan Dil.
Alvin sangat terkejut, alasan kenapa mereka tidak bisa menyembuhkan Dil, itu karena sebuah benang hitam tengah melilit benda kecil putih yang merupakan jiwa dari Dil, Alvin menghapus benang hitam tersebut, dengan menggunakan Mana untuk memotongnya.
Pada awalnya tidak ada perubahan, jadi Alvin meminta bantuan Elisa, tapi hasilnya masih sama, hingga akhirnya Alvin membuat keputusan gila, yaitu melapisi jiwa Dil dengan Mana, kemudian membuat pelindung atau lapisan tersebut berpusat cepat, yang membuat benang hitam terpotong, meski beresiko tapi berhasil, lalu secara tiba-tiba sebuah benda yang lebih besar dan lebih terang dari jiwa Dil muncul, dan berakhir menyatu dengan jiwa Dil.
Pada saat itu juga Alvin menemukan Pahlawan buatan pertamanya, Alvin tersenyum dalam hati, dirinya tidak menyangka akan mendapatkan Pahlawan Buatannya begitu cepat.
Setelah Dil sadar, Digo langsung memeluk kakaknya erat-erat, kemudian Dil terlihat mulai memproses semua yang tengah terjadi, sebelum akhirnya Dil menangis dan memeluk Digo.
Setelah itu Alvin memberi keduanya waktu sejenak untuk merayakan kebahagiaan tersebut, sebelum akhirnya Alvin dan Elisa masuk kembali ke dalam rumah Digo dan Dil, kemudian Dil berterimakasih banyak kepada Alvin, tapi Alvin hanya tersenyum sebelum akhirnya berkata bahwa dirinya akan kembali lagi besok pagi, keesokan harinya Elisa membawa Digo menuju ke pasar sebentar, sementara Alvin memberitahukan keinginannya kepada Dil.
"Maukah kau menjadi Pahlawan?"
__ADS_1
"Aku akan melatihmu untuk menjadi pahlawan buatan yang kuat dan hebat! Karena dunia saat ini tidak menentu akan bagaimana, bukankah lebih baik memiliki kekuatan untuk menjaga dirimu sendiri dan orang lain?"
"Karena di masa depan tidak mungkin kedua belas pahlawan dapat melindungi semua orang, karenanya aku berniat untuk membuat Pahlawan Buatan, yang mampu menjaga, melindungi dan menyelamatkan dunia ini!"
Mendengar semua perkataan gila Alvin membuat Dil tercengang, tapi meski begitu Dil juga sadar bahwa dunia mulai berjalan ke arah yang tidak pasti, oleh karena itu pada akhirnya Dil tetap bingung harus bagaimana.
"Baik, kau dapat memutuskan apapun, tapi yang pasti dunia akan menjadi lebih berbahaya, semua ini adalah pilihanmu jadi kau dapat memutuskan apapun yang terjadi..." Alvin tersenyum lebar membiarkan Dil membuat keputusannya dalam beberapa hari kedelapan.
Hingga suatu hari Dil memutuskan untuk menjadi Pahlawan Buatan, Alvin dan Elisa mulai melatih Dil dengan sangat keras, pelatihan bagai di neraka, dijalani dengan semangat oleh Dil.
Pelatihan tersebut berjalan cukup lancar, tidak ada masalah kecuali Dil yang masih mencoba beradaptasi dengan tubuhnya, Alvin masih belum tahu Dil itu apa, entah Dil seorang transmigrator, reinkarnator, atau regresitor.
Tapi satu hal yang berhasil Alvin konfirmasi, Dil pandai dalam pertarungan jarak dekat, dirinya hebat dalam menggunakan pisau untuk bertarung.
Pelatihan Dil berjalan dengan lancar, Alvin meminta bantuan Reine dan Yold, untuk memanggilkan seorang Pemburu peringkat C yang menggunakan pisau di kota Ruis, karena Alvin tidak pandai bertarung, sedangkan Elisa lebih ahli di bidang sihir, Alvin memutuskan untuk mendapatkan guru yang bagus untuk Dil.
Digo juga ingin berlatih juga, tapi Alvin mengatakan bahwa Digo tidak cocok di pisau, karena Digo sudah pernah mencoba untuk menunjukkan kemampuannya, dan Alvin merasa Digo lebih cocok dengan menggunakan Busur dan Panah, oleh karena itu Alvin yang melatih Digo.
Karena Alvin memang lebih baik dalam pertarungan jarak jauh, pelatihan keduanya berlangsung selama tiga bulan, dalam kurun waktu tersebut Alvin terus melatih kemampuan bertarungnya dan Skill Mekanik.
Dil sekarang mampu bertarung melawan Pemburu peringkat F tingkat tinggi dengan cukup baik, bahkan Dil beberapa kali mampu mengalahkan Pemburu Peringkat F yang berada di tingkat menengah, sedangkan Digo sekarang mampu mengenai target dengan baik, dirinya tidak hanya mampu mengenai target yang tidak bergerak dan yang bergerak, dirinya juga berlatih menggunakan pedang pendek, jika sewaktu-waktu diperlukan pertarungan jarak dekat.
__ADS_1
Alvin sudah mencapai level sekitar lima puluh puluhan, karena terus melakukan latih tanding dengan Elisa, Alvin juga melakukan latih tanding melawan beberapa penjaga Asosiasi Pedagang kota Ruis, Alvin masih tidak kesulitan saat berhadapan dengan musuh jarak dekat, tapi dirinya mulai terbiasa dengan semua hal-hal baru yang ditawarkan dunia ini kepadanya.