
Jawaban Aina sudah mewakili pertanyaan sekertaris Pratama Pilar. Dia mengenal mereka tapi tetap berani menentang. Mungkin orang yang melihat adegan Aina berfikir kalau Aina benar-benar gila karena dengan terang-terangan menentang mereka.
Selama ini tidak ada sejarah yang menceritakan perlawanan kepada Presedir utama Pratama Pilar.
Tidak disangka Aina yang hanya memiliki tubuh mungil berani menentang Direktur dan sekertarisnya yang terkenal tidak pernah mengampuni siapapun yang berani melawannya.
"Pras! Bawa bocah ingusan itu mendekat."
Suara dingin itu keluar dari bibir Direktur Pratama Pilar. Perintah yang harus dipatuhi dan tak terbantahkan. Jika Aina adalah orang lain Dia pasti akan langsung mendekat tanpa menunggu sekertaris Pras menjemputnya.
Pras berjalan kearah Aina dengan pandangan menusuk.
"Stop!!" teriak Aina sekuat mungkin melihat pras semakin dekat.
Teriakan Aina tidak mampu menghentikan Pras.
Gila ya, orang-orang ini, jangan-jangan mereka bukan manusia. Telinga mereka terbuat dari besi kali, ya. Mereka beneran monster kah? Ah, jangan ngaco Aina, mereka juga manusia, mereka minum. kamu lihat sendirikan waktu itu.
Aina serasa ingin menepuk jidatnya sendiri tapi tanggannya sudah tidak bisa bergerak.
Secepat kilat Pras memegang lengan Aina yang terbalut jaket. Aina tidak pernah meninggalkan jaket hitam miliknya meski Dia sudah memakai baju lengan panjang.
Dia mengakui kalau Dia belum bisa benar-benar menjadi wanita sholihah akan tetapi setidaknya berpakaian berlapis bisa sedikit melindunginya bersentuhan langsung dengan Pria yang bukan mahromnya.
Aina menyadari bahwa ada bahaya mengancam dirinya. Dia memukul tangan Pras dengan tenaga penuh hingga terlepas.
Tubuh Pras tidak bergerak hanya pegangan tangannya saja yang terlepas. Pukulan Aina yang kuat atau pegangan tangan Pras yang tidak kuat karena mengira Aina hanya bocah ingusan yang tidak mempunyai kekuatan.
Aina mundur dua langkah. Entah kekuatan apa yang membawa Direktur Pratama pilar sudah berada didepannya. Dia memutuskan untuk kabur tetapi sudah tidak ada celah baginya.
Aina melayangkan pukulannya tepat didada Refan tapi bukan dadanya yang kena, justru lengannya sekarang yang diterkam oleh lawannya.
Dia bukan tandinganku. Ilmu bela dirinya diatas rata-rata. Apakah ini akhir hidupku? Tidak. Tidak. Aku tidak akan mati konyol disini.
Aina mencoba melepaskan tangannya tetapi kekuatannya tidak mampu merubah posisi tangan Refan yang telah mrncengkram kuat lengan kanannya.
"Lepaskan!"
"kamu sungguh tidak tahu diri, Bocah ingusan." Suara Refan terdengar tenang tapi terasa sangat menakutkan.
Jujur nyali Aina seketika seperti mati tertelan bumi. Jarak mereka hanya satu langkah dan ini pertama kalinya berjarak dekat dengan seorang laki-laki.
Patut dicoba.
Ide konyol muncul begitu saja diotak kanannya.
__ADS_1
"Eh kenapa Kau mengintip jendela!" ucap Aina dengan mimik wajah yang serius. Matanya beralih menatap tajam Jendela kaca yang berada dibelakang Refan dan Pras.
Seketika kedua Pria itu menoleh kearah jendela. Melihat situasi yang berpihak terhadapnya. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan dan segera mengambil tindakan. Dia menendang kaki kanan Refan sekuat tenaga sehingga cengkraman tangan Refan terlepas.
"Argh.. Gadis gila!"
Aina tidak memperdulikan erangan Refan. Dia secepat kilat membalikan badan kemudian membuka pintu dan lari sekuat tenaga melewati koridor. Dia memilih tidak melewati Lift. Dia takut tiba-tiba Lift berhenti dan Dia tertangkap.
Setelah berlari lumayan jauh Aina menoleh kebelakang untuk memastikan mereka mengikutinya atau tidak.
Ternyata tidak ada mereka dibelakangnya. Aina hanya melihat dua karyawan yang sedang berjalan membawa map.
Nanti akan ku hubungi paman setelah aman.
Dia kembali berlari menuju pintu keluar.
Setelah sampai didepan gedung Dia membalikan badan.
Alhamdulillah akhirnya aku bisa terbebas dari dua monster tampan itu.
"Eh hati, kamu ngomong apa? tampan. Tidak. Tidak. Tarik kembali ucapanmu" gumamnya.
Dia memutuskan meninggalkan perusahaan milik Pamannya.
Lebih baik aku kembali kekedai.
"Ma'af Tuan, kenapa Tuan membiarkan Bocah ingusan itu kabur?" ucap Pras yang masih berjongkok mengobati lebam dikaki Tuannya.
Pras sangat heran dengan sikap Tuannya. Tuannya menahan tangannya menangkap Gadis kecil itu. Sungguh kejadian langka selangka-langkanya karena baru kali ini Dia menemuinya selama Dia memutuskan untuk mengabdi kepada Tuannya setelah kejadian waktu itu.
Refan Aditya Pratama seseorang yang terkenal dengan kekuatan dan ketangguhannya ternyata bisa terluka. Apa kata dunia apalagi terlukanya karena seorang Bocah. Memalukan. Dan lagi Dia melepaskannya sekarang. Apa ini? Sungguh perlu dimusiumkan.
"Kamu sama sekali tidak diizinkan menyebutnya Bocah Ingusan. Hanya aku saja yang bisa memanggilnya dengan sebutan itu."
Ada apa denganmu Re? Kenapa kamu tiba-tiba punya bibit-bibit possesif terhadap gadis kecil itu.
"Bangun."
"Baik Tuan."
"Kau pahamkan, apa yang harus dilakukan."
"Iya, Tuan."
Refan melangkahkan kaki meninggalkan Pras.
__ADS_1
Eh tunggu. Dasar Kau. kalau ini bukan dikantor sudah aku goda Dia.
Melihat pernyataan batin Pras sepertinya hubungan Pras dan Refan tidak sekaku yang dilihat sekarang.
Pras membukakan pintu mobil untuk mempersilahkan Tuannya masuk. Setelah itu Dia berjalan dipintu kemudi.
"Kita kerumah sakit, Tuan."
"Mau ku kirim kekutub utara, memanggilku dengan sebutan itu, disini."
"Tidak Re. Aku hanya bercanda kau fahamkan kalau Aku memang suka bercanda."
"Aku sama sekali tidak perduli."
Sabar Pras. Kamu sudah biasakan menghadapi Tuanmu yang super aneh ini.
"Kita kerumah sakit, ya."
"Tidak perlu, antarkan Aku pulang. Batalkan semua pertemuan yang sudah direncanakan."
"Baik, baik akan Ku batalkan. Tunggu sebentar ya."
"Siapa, Kau. Berani memerintahku menunggu."
Lebih baik aku diam moodnya benar-benar lagi tidak baik. Bisa habis aku kalau tetap berbicara.
Pras mengontak semua Klient atas pembatalan pertemuan mereka hari ini.
Dia juga mengirim pesan kepada seseorang untuk mencari tahu tentang gadis kecil yang berani melawan Tuannya. Harus lengkap tidak ada yang tertinggal sedikitpun kalau perlu sejak gadis itu masih dalam kandungan masuk dalam penyelidikkannya.
Pras juga memberi perintah untuk mengirim rekaman Cctv dikantor kepada Soni atas kekurangajaran keponakannya.
Tapi tidak lupa menyelipkan pesan mematikan setelah dilihat harus langsung dihapus. Kalau masih berani menyimpan rekaman Cctv itu tamatlah riwayatnya beserta keluarganya.
Pras kembali meletakkan Handpondnya.
"Re. Sepertinya kamu tertarik pada gadis itu."
"Tutup mulutmu. Beraninya kamu berbicara seperti itu dengan Tuanmu. Jalankan mobilnya."
"Oke, siap."
Bagi Refan hanya itu jawaban yang paling benar dalam kondisi seperti ini. Pras segera menghidupkan mesin dan mengemudikannya.
Kamu selalu bilang kalau diluar kantor aku disuruh biasa layaknya seorang Teman. Kalau aku tidak mau kau mengancamku dengan sungguh-sungguh. Dan sekarang aku melakukan apa yang kau katakan masih juga salah. Benar-benar pasal 1 ayat 1 Refan Aditya pratama selalu benar.
__ADS_1
Meskipun Pras sering menggerutu tapi Dia sangat faham dengan Tuannya. Tuannya seperti itu jika hatinya sedang tidak baik. Walaupun masih banyak tidak baiknya daripada baiknya.