
"Assalamu'alaikum, Bi, dimana Paman?," ucap Aina memasuki ruang tengah. Sedangkan Bibinya lagi duduk manis didepan TV.
"Dasar Anak bodoh. Apa yang kau lakukan pada Pamanmu sehingga Aku juga kena imbasnya. Dasar wanita tak berguna, wanita murahan seperti Ibumu," ucap Bibinya penuh dengan kekesalan.
Aina tak bergeming. Dia menahan amarahnya yang siap membuncah. Dia mengambil sapu tangan didalam tas yang Dia bawa. Lalu menyodorkannya kepada Bibinya.
" Apa, maksudmu?," tanya Farah penuh geram.
Aina menjatuhkan sapu tangan itu didepan Bibinya.
"Untuk menutup.." Aina tidak melanjutkan bicaranya Dia malah menunjuk mulutnya.
"Agar Bibi tidak mengeluarkan kata-kata kotor yang tidak berguna," sambung Aina lagi sambil melangkahkan kakinya menuju tangga. Jujur, Aina sebenarnya ingin memaki-maki Bibinya itu. Seandainya dirinya yang dihina mungkin Dia sanggup untuk menahan amarahnya tapi ini ibunya, hatinya terasa sakit mendengar itu semua. Untung saja, Aina masih sadar kalau semua itu tidak berguna dan hanya akan membuang waktu dan mengotori mulutnya jadi Dia hanya memutuskan sekedar mengejek Bibinya.
"Apa katamu, Bocah sialan, gak tahu diuntung, Kamu benar-benar tidak punya sopan santun kepada orang tua." Farah berdiri sambil berkacak pinggang.
"Bukankah, Bibi, yang selama ini mengajariku untuk tidak punya sopan santun pada Bibi," jawab Aina dengan berusaha menguasai amarahnya sambil menoleh sekilas kemudian melanjutkan langkahnya menaikki tangga. Dia sudah lelah. Dia tidak mau meladeni Bibinya lebih jauh lagi. Dia mendengar Bibinya mengomel dibawah. Sebenarnya Aina sedih dengan semua ini, seharusnya Dia bersikap sopan dengan yang lebih tua seperti pesan kakeknya.
"Al adabu faukol 'ilmi" adab itu lebih tinggi dari ilmu. Pesan kakeknya dulu.
Tapi Bibinya selalu menghina Ibunya. Dia tidak sanggup untuk berdiam diri. Andaikan dirinya yang dihina dan bukan Ibunya mungkin Aina masih sanggup untuk bersikap sopan.
Aina sudah sampai didepan pintu kerja Pamannya. Dia merasa sedikit ragu untuk mengetuknya karena teringat perkataan Bibinya tadi.
Melihat pesan yang dikirim Pamannya kepada Aina tadi, memang terlihat kalau kesalahan berpihak kepadanya. Ini pertama baginya. Tiba-tiba ada rasa takut menelusup dihatinya.
"Assalamu'alaikum, Paman," ucap Aina sedikit terbata.
"Masuk." Suara Pamannya terdengar dari dalam. Tidak ada jawaban salam seperti biasanya. Dingin dan tidak ada kelembutan.
Aina memegang gagang pintu dan membukanya dengan pelan, lalu Dia menutupnya kembali.
Dia melihat pamannya duduk membelakanginya.
Dia lalu melangkahkan kakinya untuk mendekat.
"Ada apa, Paman?," tanya Aina hati-hati.
__ADS_1
Pamannya memutar kursinya kemudian menatap lekat wajah Aina. Aina secara tidak sadar memundurkan langkahnya. Pamannya sadar dengan reaksi Aina, Dia segera mengubah ekspresi wajahnya.
"Paman, minta ma'af, Na. Mungkin Paman sudah tidak bisa menjagamu lagi," ucap Paman Aina. Wajahnya berubah lembut seperti biasanya.
"Kenapa, Paman bicara seperti itu, ma'afkan Aina, Paman. Aina tahu selama ini Aina selalu merepotkan Paman," jawab Aina dengan rasa bersalah.
"Bukan, begitu, Na. Paman akan menjadi budak Tuan Refan Aditya Pratama untuk menebus hutang Paman serta untuk menebus kesalahan Paman yang tidak memberi tahu Kamu untuk tidak datang hari ini, dikantor Paman," ucap Paman Aina dengan nada penuh penyesalan.
Mendengar penjelasan Pamannya Aina membelakakan matanya.
"Maksud, Paman. Monster itu mengancam Paman?," tanya Aina serius.
"Duduklah dulu, Paman akan menceritakan semuanya," jawab Pamannya sambil menunjuk kursi yang ada didepannya memberi kode kepada Aina agar duduk dikursi itu.
Aina melangkahkan kakinya mendekati kursi tersebut kemudian duduk dengan perasaan sedikit ragu.
"Tolong ceritakan semua Paman, jangan ada yang disembunyikan," ucap Aina memohon.
Sony menghela nafasnya pelan.
"Perusahaan Paman sedang mengalami masalah. Keuangan perusahaan merosot secara drastis. Dan sekarang perusahaan Paman berada dibawah kendali perusahaan Pratama Pilar milik Tuan Refan Aditya Pratama. Tuan Refan mengancam Paman untuk mengikuti semua kemauannya karena tindakkanmu tadi kepadanya. Tapi tidak apa-apa, Na. Paman tidak akan membiarkan kamu bertanggung jawab untuk masalah ini."
"Apa yang bisa Aku lakukan untuk membantu Paman," ucap Aina penuh harap. Dia benar-benar tidak menyangka kalau Refan akan melakukan semua ini kepada Pamannya.
"Jangan banyak berfikir, Na. Kamu sudah banyak menderita jadi biarkan Paman yang menyelesaikan semuanya," jawab Pamannya penuh dengan penegasan.
"Tidak, Paman. Aku mohon. Katakan apa yang harus Aku lakukan," ucap Aina sambil mendekat dengan kepala tertunduk. Matanya berkaca-kaca. Dia merasa selama ini telah menjadi beban Pamannya. Dia tidak mau menambahnya lagi dengan kejadian ini.
"Baiklah, Na. Paman akan memikirkan apa yang akan kita lakukan kedepannya. Sekarang Kamu istirahat dulu. Paman akan melibatkanmu nanti," ucap Paman Aina sambil berdiri mendekat dengan mengusap kepala Aina yang masih terbalut dengan hijab.
"Terimakasih, Paman," jawab Aina lalu berdiri dari duduknya.
Aina melihat Pamannya menganggukkan kepala.
"Aina, Pamit dulu."
"Ya, Na," jawab Pamannya sambil tersenyum.
__ADS_1
Ada kelegaan dihati Aina. Dia membalikkan badan meninggalkan ruangan Pamannya.
Sony mengamati punggung Aina sampai menghilang dibalik pintu.
Apa yang telah direncanakan Refan? Kenapa sekertarisnya melarangku untuk memarahi Aina. Ada sesuatu dibalik ini semua aku harus lebih berhati-hati.
----
Aina menghampaskan tubuhnya diatas ranjang. Semua tubuhnya terasa pegal, fikirannya seperti sedang terkuras.
Dia melihat jam yang melingkar ditangan kirinya. Waktu menunjukkan jam 15.00 WIB.
Sebentar lagi 'Ashar.
Dia segera bangun dan mengambil tasnya yang ikut terhempas dengan tubuhnya tadi. Lalu menaruhnya didepan meja.
Dia melihat foto Pria yang Dia pajang satu tahun yang lalu, yang Dia dapat dari merampas majalah milik temannya. Wajah difoto itu penuh dengan lobang-lobang kecil dan coretan.
Ya, Dia sering melayangkan jarum dan tinta pena saat mendengar kabar tentang kesombongan Pria itu.
Dia sama sekali tidak mengenalnya tapi rasa tidak sukanya muncul begitu saja. Supaya Dia bisa meluapkan emosinya Dia menggunakan foto Pria itu untuk menjadi sasarannya.
"Aku sama sekali tidak menduga kalau aku akan bertemu kamu dalam kondisi seperti ini. Sebenarnya Aku tidak menyesal melawanmu. Namun aku menyesali kenapa Pamanku yang jadi sasaran dari sifat sombongmu itu," gumam Aina sambil menusuk-nusuk wajah Pria itu dengan jarum yang menjadi pengait dijilbabnya.
"Kau tahu, jika bunuh diri tidak berdosa dalam agamaku mungkin sekarang aku sudah mengakhiri hidupku," sambungnya lagi. Kali ini air matanya mengalir dipipi hingga menetes dijilbab depannya.
"Ayah, ibuku pergi meninggalkanku saat aku lagi butuh-butuhnya kasih sayang, kemudian disusul nenekku setelahnya. Aku hanya hidup dengan kakekku, Kau tahu itu, itu semua sangat berat bagiku. Disaat semua temanku dijemput ibu dan ayahnya. Saat teman-temanku ditunggu Ayah Ibunya waktu kelulusan. Aku hanya melihat adegan mereka dengan rasa pilu. Aku selalu menjadi bahan ejekkan teman-temanku. Dan saat aku mulai bahagia hidup dengan kakek, kakek juga pergi meninggalkanku." Aina mengusap air matanya. Hatinya terasa sakit mengingat itu semua. Hanya Dia dan Tuhannya yang tahu kalau sebenarnya Dia sering menangis dalam diam.
"Dan sekarang kamu hadir untuk mengambil Pamanku. Saat ini hanya Dia satu-satunya orang yang menyayangiku. Kamu punya segalanya tapi kenapa kamu masih serakah mau merampas sesuatu berharga milik Pamanku."
Aina mengusap air matanya kembali. Dia mengambil pena didalam tasnya. Lalu menggerakan pena itu disamping foto Pria itu.
Aku benci kamu.
Tulisan itu tertera disamping foto Pria itu.
Setelah Dia merasa bebannya telah berkurang Dia masuk kedalam kamar mandi. Dia mengambil air wudhu kemudian sholat 'Ashar. Diakhir sholatnya Dia memperbanyak membaca istighfar. Dia merasa malu dengan apa yang dilakukannya barusan, Dia sadar bahwa Dia masih mempunyai Alloh yang dekat dengannya seperti yang tertulis didalam Al-Qur'an surah Albaqarah ayat 186, yang artinya berbunyi:
__ADS_1
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.