
Refan duduk memandangi tubuh mungil yang berselimut diatas tempat tidur rumah sakit. Rambutnya terbalut hijab seperti barang yang sangat berharga dan tak tersentuh.
Wajah gadis itu begitu cantik tanpa polesan make up sama sekali dan memiliki aura berbeda dalam pandangan mata Refan. Meski ada memar sedikit dibagian wajahnya dan dibagian kening ada luka yang lumayan parah sehingga membuatnya koma, akan tetapi tak mengurangi sedikitpun kecantikan itu. Begitu terlihat selembut sutra, sangat berbeda pada saat bertemu dikantor kemarin lusa.
Apa aku sedang mabuk? Hah aku bahkan tidak pernah menyentuh minuman sialan itu.
Refan punya pandangan sendiri tentang minuman yang memabukkan itu, kenangan pahit yang disebabkan minuman itu membuatnya membenci segala minuman yang memabukkan.
Dia sedikit menggelengkan kepalanya untuk mengembalikan kesadarannya.
Tidak lama kemudian, ponselnya berbunyi.
Dia berdiri dan berjalan menjauh agar tidak menganggangu seseorang yang sedang terbaring lemah diatas tempat tidur itu.
"Tuan, Tuan dimana, ini ada jadwal bertemu dengan klien 1 jam lagi." Suara dari sebrang sana tampak gusar.
"Undur sampai besok. Kalau tidak batalkan saja." Jawaban yang tegas dan tak terbantahkan.
"Tuan, ada apa? sekarang, Tuan dimana?"
"Pras! kamu sekarang benar-benar mirip sama ibu-ibu bawel yang jualan dipasar ayam ya," jawab Refan mengejek.
"Tuan, jangan bercanda. Emangnya Tuan pernah kepasar ayam. Katakan, Tuan sekarang dimana, saya akan segera kesana."
"Tuan, katamu?"
Yang disebrang sana sudah faham dengan pertanyaan Tuannya tanpa harus dijelaskan.
"Saya sudah dikantor, Tuan. Tadi saya kerumah kedua, tapi, Tuan tidak ada. Jadi saya langsung pergi kekantor."
Tidak ada jawaban dari Refan, Pras kembali menyambung perkataannya.
"Ini pertemuan penting, Tuan. Kerjasama ini bisa kita jadikan jalan untuk mencari informasi yang selama ini kita cari."
Refan diam sejenak.
"Aku dirumah sakit. Hospital xxxx"
"Tuan, sakit, kenapa tidak memanggil Dokter Rizal saja?"
Suara orang disebrang sana terdengar begitu gelisah.
"Beberapa hari ini, kamu makan apa? Pras, kelihatannya kadar kecerdasanmu biasanya, menurun secara drastis."
"Aku mana punya kecerdasan jika tentang keselamatanmu, Tuan," jawabnya berkilah.
"Wah, wah, hebat juga aktingmu."
"Cepat kesini, dan jangan lupa bawa dua kepala pelayan wanita," sambungnya.
"Buat apa, Tuan?"
"Cepat, atau kamu ingin mulutmu itu aku buat tidak berhenti bicara."
__ADS_1
"Tidak, Tuan. Siap laksanakan!"
Refan mendengus kesal sambil mematikan sambungan telepon.
Dia membalikkan badan kemudian kembali duduk ditempat yang tadi dia tinggalkan.
"Kamu harus menebus semua kerepotanku ini, Bocah ingusan," gumamnya disertai senyuman jahat dibibirnya. Tatapannya yang dalam, sedalam samudra, tidak ada yang bisa mengartikan kecuali dia dan Tuhannya.
Refan bangkit kembali dari duduknya. Dia beranjak pergi kekamar mandi. Dia merasa tubuh dan wajahnya begitu lengket karena dari tadi malam Dia belum mandi. Padahal jika orang lain melihatnya, tidak akan ketahuan kalau Dia belum mandi. Wajahnya yang tampan dan bau maskulin ditubuhnya tetap melekat seperti tidak mau lepas sedikitpun membuat orang lain tidak bisa melihat kekurangannya jika dengan mata telanjang.
Dia membasuh mukanya. Dia menatap pantulan wajahnya dicermin sambil sedikit memendekkan tubuhnya.
Memandangnya penuh heran. Kenapa Dia sampai terlibat sedalam ini terhadap gadis yang bahkan sama sekali tidak dikenalnya. Yang lebih mengherankan, gadis itu telah berani melawannya sedangkan diluar sana banyak gadis yang mendambakannya begitu banyak sampai tidak terhitung dan tanpa syarat sekalipun.
Jika hanya karena kecantikannya itu belum cukup menjadi alasan karena diluar sana banyak yang jauh lebih cantik mengintainya.
Lalu apa?
Jika Dia membiarkan gadis kecil itu mati tadi malam, bukankah seharusnya Dia bahagia karena Dia sudah membalas penghinaan gadis itu tanpa harus mengotori tangannya.
Akalnya mengelak, sisi kesombongannya muncul.
Dia hanya tidak ingin gadis itu mati dengan mudah setelah berani melawannya. Dia akan membuat perhitungan untuk membuat gadis itu memohon diampuni olehnya.
Suara kaki yang masuk didalam ruangan membuatnya sadar dari lamunannya.
Dia bergerak cepat membersihkan wajahnya dengan sapu tangan yang dia ambil dari saku celananya. Kemudian Dia berjalan keluar.
"Anda bisa melihat sendiri tanpa bertanya."
Suara itu begitu dingin dan menusuk.
Membuat lawan bicaranya langsung mengalihkan pandangan dan mencari alasan untuk menghindar dari tatapan membunuh itu.
Suster yang disampingnya tidak fokus dengan apa yang dikatakan Pria itu. Tapi Dia fokus dengan keindahan wajah pria itu, dan tanpa sadar matanya tidak berkedip sama sekali.
Padahal posisi Refan saat ini, tubuhnya sedang bersandar didinding dan kakinya terangkat satu memijak dinding tersebut. Jika orang lain dalam posisi itu mungkin akan terlihat seperti anak SD yang dapat hukuman dari gurunya. Tapi ini lain, Dia terlihat keren dan mempesona dengan posisi seperti itu.
"Wajahnya seperti pangeran dinegri dongeng."
"Sus, apa yang kamu lihat, ayo bantu."
yang dipanggil tetap tidak menyahut.
"Sus!!" sambil menepuk pundak suster itu sedikit kuat.
"Ah Iya, Dok."
Suster itu terlihat gelagapan sedangkan Refan tetap bersandar dengan tenang sambil melihat kekonyolan mereka.
"Kerja yang benar kalau kalian tidak ingin rumah sakit ini diratakan dengan tanah."
Katanya sederhana tapi terasa menusuk jiwa.
__ADS_1
"Baik, Tuan."
Entah mengapa Dokter wanita itu merasa, Dia bagaikan kerbau dicucuk hidungnya.
Pria itu bukan atasannya juga bukan kepala rumah sakit ini, tapi hatinya seolah berkata untuk tidak mengusiknya sedikitpun atau nyawanya yang menjadi taruhannya. Karena pekerjaan ini sangat Dia butuhkan dia sama sekali tidak ingin mengambil resiko.
Setelah memeriksa dengan teliti Dokter wanita dan susternya segera keluar ruangan.
Tidak lama kemudian Pras datang dengan membawa dua pelayan wanita dibelakangnya. Wajah mereka tertunduk, sama sekali tidak berani mengangkatnya sedikitpun.
"Tuan....."
Sebelum Pras melanjutkan bicaranya, Refan sudah memberi tatapan tajam.
Pras faham dengan kondisi ini. Saat ini Dia harus diam.
"Hubungi Dokter Rizal, bawa gadis itu pulang kerumah kedua."
Apa aku tidak salah dengar. Refan benar-benar aneh. Sejak kapan Dia perduli dengan seorang gadis. Apalagi sampai dibawa kerumah kedua. Apa yang terjadi?
Tapi terserah kamu saja sang Raja.
Pras baru mengerti kenapa Dia disuruh membawa dua pelayan wanita. Ternyata hanya untuk membatu seorang gadis.
Dia sangat penasaran dengan gadis itu, siapa Dia sebenarnya, wajahnya tidak terlalu jelas karena dia berbaring juga ada peralatan medis yang menempel dibagian wajahnya dan Pras berdiri agak jauh dari ranjang itu.
"Baik."
"Kalian tunggu disini sampai Dokter Rizal datang, kalian yang harus membantunya," kata Pras kepada kedua pelayan itu.
"Baik, Tuan."
Refan menegakkan tubuhnya. Kemudian mengambil jas yang dia letakkan disandaran kursi.
Dia menatap sebentar wajah gadis yang ditolongnya. Dia membalikkan tubuhnya melangkah keluar ruangan. Pras mengikuti dibelakangnya.
Setelah dua orang tampan itu hilang tertelan pintu.
"Huh, jantungku seperti mau lepas dari tempatnya," ucap salah satu pelayan sambil memegang dadanya.
"Sama, Kak."
"Maklum, kita baru kali ini bertemu langsung dengan Tuan Refan."
"Sudah, jangan bahas lagi."
"i iya."
Mereka merasa tidak pantas membahas ini.
Mereka mulai berjalan mendekati ranjang.
"Nona, Kamu cantik sekali, mirip seperti bidadari."
__ADS_1