
Seorang gadis cantik, bandannya tinggi semampai, memakai dres warna merah maroon sedang berdiri didepan kaca meja rias didalam kamarnya. Dia mengamati pantulan dirinya dicermin. Putih bersih, hidung mancung, rambut lurus berkilau. Sungguh cantik mempesona bagi siapa saja yang memandangnya.
"Maaf Non, Tuan Pras sudah menunggu dibawah."
Jasmin menoleh kearah suara yang berasal dari pintu yang sedikit terbuka.
pandangannya menerawang jauh, dari matanya ada cahaya kekecewaan.
"Baik, Bi. Katakan pada Kak Pras, Aku akan segera turun."
"Baik, Non."
Pintu kembali ditutup secara perlahan.
Kak Re. kenapa bukan kamu yang menjemputku.
Tanpa Aba-aba Jasmin menyambar tas senada dengan dressnya sedikit kasar dan membanting pintu kamarnya.
"Kenapa? bukan Kak Re, yang jemput," ucap Jasmin saat sudah berdiri didepan Pras.
"Dia masih sibuk dengan urusan perusahaan dan tidak bisa ditunda dengan alasan apapun."
"Jangan bohong, Kak. Kak Re, bisa melakukan apapun jika Dia mau." Mata Jasmin mulai berkaca-kaca.
"Sudahlah, pesta dan semua sudah disiapkan, tamu undangan juga sudah datang, sedangkan kamu yang punya acara masih disini memikirkan sesuatu yang tidak perlu kamu pikirkan." Tegas namun masih ada kelembutan.
Jasmin menghela nafas panjang. Harapannya tidak sesuai dengan kenyataan.
"Ayo, tunggu apalagi." Pras berjalan dengan langkah lebar.
Sedangkan Jasmin terdiam menatap punggung Pras yang telah meninggalkannya beberapa langkah.
Kenapa tidak ada suara langkah kaki.
Pras kembali menghentikan langkah kakinya.
"Jasmin! jangan biarkan aku menunggu."
"I iya, Kak."
Suara Jasmin sedikit bergetar, seakan Dia ingin menumpahkan air matanya disini. Namun Dia tidak boleh terlihat lemah didepan siapapun.
Jasmin berjalan sedikit berlari mendahului Pras. Dia ingin cepat-cepat masuk kedalam mobil.
"Jangan lari, nanti kamu bisa jatuh."
Jasmin seketika berhenti.
"Apa perduli, Kak Pras?"
" Aku hanya tidak ingin, kamu menyusahkanku," jawab Pras sambil membukakan pintu belakang kemudi.
Mesin mobil mulai dinyalakan dan tak lama kemudian melaju perlahan membelah jalanan.
Pras melihat kaca yang terhubung dengan kursi belakang. Dia melihat dengan jelas, wajah kecewa orang yang Dia bawa.
__ADS_1
Orang itu, sedari tadi hanya melihat diluar jendela, seakan terus bertanya dengan pohon yang berjajar dipinggir jalan.
"Selagi, Kak Refan tetap baik padamu, apa yang masih kamu susahkan. Kamu diberi kebebasan meskipun dengan syarat. Tapi syarat itu juga untuk kebaikanmu. Tidak hidup dalam pergaulan bebas didunia luar. Bukankah, Kak Refan sangat perduli."
Yang diajak bicara seoalah tidak mendengar apapun. Dia begitu malas menanggapi orang yang duduk didepan kemudi.
Baginya Pras itu sama saja, Tak berperasaan. Tidak peka dengan hati wanita.
Jasmin tidak terlalu dekat dengan Pras meskipun tinggal satu atap dirumah utama.
Kak Dev, kapan kakak kembali. Hanya Kakak yang bisa mengerti aku. Kenapa harus orang yang tidak berperasaan ini yang harus menggantikan posisi Kakak dirumah utama. Kak Re. Sudah tidak sayang lagi dengan Jasmin. Rasanya aku ingin menyusul ayah dan ibu.
"Turun!"
Jasmin baru sadar dari lamunannya.
"Kak, aku gak mungkin kan lewat pintu depan. Nanti bagaimana tanggapan mereka."
"Emang aku pikirin, lagian kamu dandan kayak putri solo."
"Kejam banget sih mulutnya." Matanya sudah mulai berair. Tapi seperti biasa Jasmin menghardik air matanya biar tidak tumpah.
Pras menarik nafasnya kemudian menghembuskan dengan perlahan.
"A..yo."
Pras mengulurkan tangannya. Jasmin mengamati tangan itu dengan seksama.
Gak salah Kak Pras mau mengulurkan tangannya. Bukankah biasanya Dia sering bilang "jangan sentuh barangku. Diakan seperti punya penyakit kebersihan yang over."
Jasmin bergidik ngeri membayangkan siapa pendamping hidup orang ini.
Jasmin terkejut tangannya sudah digenggam. Dia mencoba melepaskan tapi genggaman ditangannya begitu erat.
Mata pras menatap tajam. Menarik pelan tangan kecil itu.
Jasmin sadar, Dia terpaksa berkompromi dengan keadaan.
Dan kini mereka berjalan ditelan kegelapan.
***
"Re, jangan lupa, berikan hadiah yang aku kirim kemarin pada, Jasmin," ucap seseorang yang ada dalam layar ponsel Refan.
"Sudah disiapkan oleh, Pras," jawab Refan mencibir.
"Kamu, sudah menyiapkan hadiah yang terbaik untuknya kan?" tanya orang itu menekan.
"Bukan urusanmu."
"Ha ha ha kamu, dari dulu gak pernah berubah, Re. Datar, dingin dan tak berekspresi."
"Huh."
Tatapan Refan tajam seakan seperti silet yang siap merobek-robek kertas menjadi kepingan kecil-kecil hingga terbang diterpa angin.
__ADS_1
"Maaf, maaf, aku cuma bercanda."
Orang yang didalam layar tersebut terlihat menangkupkan kedua tangannya sambil pura-pura mohon ampun. Padahal Refan tahu persis itu hanya sebuah ejekan untuknya.
Refan segera mengeklik tombol telepon berwarna merah tanpa ragu.
Dia sangat tidak minat meladeni orang yang kebanyakan bicara seperti orang yang menganggu waktunya tadi.
Hatinya masih gundah saat ini. Haruskah, Dia datang untuk menghadiri ulang tahun Jasmin dengan membawa hadiah istimewa. Atau Dia kembali putar balik kerumah keduanya untuk menghabiskan waktunya untuk bekerja sampai larut malam seperti biasanya.
Setelah beberapa detik berfikir Dia memutuskan melajukan mobilnya.
***
Ruangan yang besar, khusus untuk acara ulang tahun malam ini penuh dengan gemerlap lampu. Terkesan begitu indah dipandang oleh setiap mata.
Setiap sudut ruangan mempunyai nyawa dan nafas yang menghiasi. Ada yang mengobrol dan bercengkrama sambil menunggu acara dimulai.
Tak lama kemudian seorang moderator naik keatas pentas yang telah disediakan. Memulai pembukaan pertanda acara telah dimulai.
Jasmin sudah duduk ditempat yang telah disediakan. Mata Jasmin selalu menatap pintu masuk berharap seseorang muncul dari sana, memberi kejutan yang tak terduga.
Pada kenyataannya dari awal acara sampai akhir, seseorang yang dinantinya tidak datang, hanya sebuah kado besar yang mewakili kedatangan orang itu.
Bahkan Jasmin sama sekali tidak tertarik membukanya. Rasa kecewanya mengalahkan segalanya. Harapannya hancur berkeping-keping.
Setelah selesai acara sampai saat ini Dia masih enggan bangun dan menyudahi tangisannya. Dia semakin terisak dibawah bantal kesayangannya.
Ada panggilan telepon berkali-kali sama sekali tidak dia hiraukan. Seakan telinganya tuli dengan semua suara.
Aku tidak perduli.
Tapi panggilan itu sama sekali tidak mau berkompromi padanya. Yang menelpon disebrang sana seperti tidak punya rasa lelah untuk mengakhiri.
Perlahan Jasmin bangun dari posisi tengkurapnya. Rambutnya berantakan begitu juga dengan baju yang Dia kenakan. Matanya sembab karena terlalu lama menangis. Dia menatap banyak kado yang tertumpuk didepan lemari bajunya.
Ya, Dia menyuruh pelayan meletakan disitu tadi. Kemudian setelah pelayan pergi Dia menumpahkan segala kekecewaannya.
Jasmin mengambil ponsel yang masih berada didalam tasnya. Melihat dua gambar telepon berwarna merah dan hijau bergerak-gerak didalam layar ponselnya.
Kak Dev.
Jasmin tidak mau menerima panggilan Vidio Call orang yang ada dilayar ponselnya dengan kondisi yang berantakan seperti ini.
Tapi kalau dia tidak menerima panggilan itu, akan sampai pagi ponselnya terus berdering.
Dia mensecrol layarnya keatas menuju arah gambar telepon berwarna merah. Kemudian dengan gerakan cepat Dia membuka aplikasi Whatsapp dan mengetik beberapa kata.
"Maaf, Kak, Jasmin ngantuk sekali."
Setelah pesan itu terkirim, langsung tercentang warna biru.
Ting.
"Kenapa, tidak angkat telepon Kakak, Kakak kangen. Kamu baik-baik ajakan?"
__ADS_1
"Besok ya, Kak, Jasmin benar-benar tidak kuat menahan mata ini. Seperti ada perekatnya. Sudah dulu ya, Kak."
Setelah mengirim pesan itu, Jasmin segera menonaktifkan ponselnya tanpa menunggu jawaban. Dia terpaksa berbohonh karena Dia tidak mau orang yang mengirim Dia pesan itu khawatir dengan keadaannya. Makanya Dia memutuskan besok Dia sendiri yang akan menelponnya setelah matanya tidak sembab.