Melawan Direktur Muda

Melawan Direktur Muda
Pov Aina


__ADS_3

Jantungku masih terus berlarian mengingat kejadian tadi. Aku tidak menyangka bertemu dengan mereka secara langsung. Jujur, sebenarnya aku takut dengan tatapan mereka. Tapi aku sadar mereka juga manusia, makanannya sama seperti yang aku makan. Walaupun makanan mereka jelas jauh lebih mewah. Tapikan tetap makanan manusia. Bukan darah atau daging mentah seperti Fampir difilm-film, jadi ku putuskan untuk bertanya dimana keberadaan paman. Itukan ruangan paman dan aku bertanya dimana paman jelas-jelas tidak salahkan? Ternyata jawaban mereka bikin aku menertawakan mereka dalam hati.


Gimana tidak, cuma bertanya katanya aku kurang ajar, benar-benar mereka bikin aku pengen jungkir balik sambil berguling-guling.


Rasanya semakin benci dengan mereka, kurang ajar berani memegang lenganku, walaupun masih terlapisi dua kain, jaket dan baju.


Lihat saja nanti kalau aku sampek dirumah. Terima pembalasanku monster gila. Sudah beberapa hari ini aku tidak memanah dan mengumpat kalian. Tadinya aku pengen tobat karena mengingat kata kakek kalau kita tidak boleh mengumpat tapi bagaimana lagi aku tidak tahan dengan kelakuan kalian.


Aina mengingat kejadian satu bulan yang lalu. Dia diperintahkan managernya untuk ikut serta menjadi koki dihotel pusat. Katanya ada Tuan Muda kaya raya yang akan datang menyewa tempat itu. Semua harus ditata dengan sempurna sampai mereka merasa teraniaya. Bagaimana tidak, persiapan pesta semegah itu harus disiapkan dalam waktu sehari semalam dan gaji yang diberikan juga sangat tidak sesuai dengan hasil kerja mereka. Kikir sangat, bukan. Tapi mau bagaimana lagi, mereka sangat butuh pekerjaan itu dan sama sekali tidak diperbolehkan untuk protes. Benar-benar seperti kerja paksa jaman penjajahan.


Yang paling membuat Aina benci kepada mereka pada malam itu. Mengingat kejadian yang menimpa sahabatnya. Sahabatnya dipermalukan didepan umum hanya gara-gara tidak sengaja menumpahkan minuman pada tamu undangan.


Flash back


"Kenapa tubuhmu bisa basah semua, Ra?" Aina melihat tubuh Vera dari bawa sampai keatas.


Wajah Vera terlihat sangat kusut seperti baju baru keluar dari pengering mesin cuci.


Dia menceritakan semua dari awal hingga akhir.


"Benar-benar tidak punya hati mereka. Mana majalahmu?" sambil mengulurkan tangannya.


"Untuk apa?" jawab Vera sambil melebarkan matanya.


"Biar aku panggang bersama ayam didalam oven itu." Tangannya sambil menunjuk oven.


Aina memang sudah tidak suka dengan Refan Aditya Pratama dari awal mendengar cerita dari pamannya tentang sifat dan watak mereka yang suka berbuat semena-mena dan kabar yang beredar dimana-mana. Didunia sekolah, tempat kerjanya bahkan dirumah juga menjadi topik hangat yang tidak ada habisnya.


Sebelum Vera menambah porsi minuman Aina diperintahkan lebih dulu untuk menambah kue yang mulai berkurang dimeja yang Dia hias bersama-sama pekerja kemarin malam.


Aina membawa satu nampan besar berisi kue.


Saat akan meletakkan kue ada suara tepuk tangan para tamu yang secara tidak langsung mengalihkan perhatiannya. Aina menoleh kearah tatapan mata semua orang.


Direktur Utama Pratama Pilar beserta sekertaris dan ajudannya memasuki ruangan.


Lumayan.


Hanya kata lumayan. Dia sebenarnya berusaha membohongi dirinya. Dia kembali fokus menata kue hingga selesai.

__ADS_1


Mereka semua berlebihan memberitakan Direktur Pratama Pilar paling tampan sedunia. Tidak salah tu. Buktinya mereka pegang gelas saja tidak jatuh karena terpesona dengan ketampanannya. Gimana kalau mereka melihat ketampanan Nabi Yusuf yang sangat dicintai istri Tuannya yang amat cantik jelita juga mempunyai kekuasaan di Mesir. Dan membuat para putri bangsawan memotong tangannya karena kagum melihat ketampanannnya.


"Jangan, Na. Disitukan ada fotonya Mas super ganteng idola para gadis dipenjuru Asia. Ya, walaupun Dia sama sekali tidak perduli saat aku dipermalukan tapi setidaknya Aku sudah bisa melihatnya dari jarak dekat dan tadi Dia sudah memandangku walapun dengan tatapan sedingin salju tapi Dia terlihat sangat cool, Na." Raut wajah Vera berubah cerah. Seperti ada bunga-bunga berterbangan.


Anak ini benar-benar cepet banget wajahnya berubah.


Niat Aina sudah bulat Dia akan tetap mengambil majalah Vera yang selalu dibawa kemana-mana Dia pergi.


"Ini Dia." Aina mengambilnya disamping tas milik Vera.


"Jangan, Na." Berusaha merebut majalah ditangan Aina. Tapi secepat kilat Aina menghindar.


"Bodo amat" ucap Aina acuh.


"Awas aja kalau kamu jatuh cinta sama pria pujaanku." Vera berakting mau meninju Aina.


"Huh, gak akan." Aina menyimpan majalah itu ditasnya. Tidak ada yang tahu mau diapakan majalah yang ada potonya Refan dan Sekertarisnya sebagai profil pengusaha terkenal diberbagai negara.


"Aku pegang kata-katamu, Na" ucap Vera sambil tersenyum.


"Mimpi ya kamu, Ra. Kataku sudah terbang tu. Mana bisa kamu pegang."


"Ha ha ha." Aina tertawa puas mendengar jawaban sahabatnya itu. Dia memang sengaja tidak pernah mengalah kepada siapapun. Dia ingin tahu seberapa tulus orang lain bisa menerima Dia apa adanya.


"Na," ucap Vera serius.


"Hem. kenapa?"


"Biasanya gadis berhijab yang aku kenal itu lembut, anggun. Nah kamu kebalikannya."


"Eh, berarti kamu gak kenal ni sama Aku" ucap Aina pura-pura mengecrutkan bibir.


"Ha ha ha. menurutmu?" sambil mendekatkan tubuhnya pada Aina.


"Stop. jangan nempel-nempel. cepet ganti sana. Nanti kamu masuk angin aku juga yang repot."


Biasanya kalau Vera masuk angin minta kerokan, karena Dia alergi minyak kayu putih dan sejenisnya Aina harus mencari minyak tanah yang keberadaanya sudah langka.


"Ya, ya, ya."

__ADS_1


Aina menggelengkan kepala melihat Vera pergi dengan melenggak-lenggokkan badannya sambil mengangkat tangan.


Mungkin benar kata Vera. Tapi setelah kepergian nenek rasanya semua telah berubah.


Flash back on


Aina tidak sadar ada seseorang yang memperhatikannya dari tadi.


"Ya, ngelamun aja terus. Handponmu bunyi terus, ni." Vera menyodorkan Handpon milik Aina.


Vera memutuskan keluar bersama Aina dari tempat kerjanya.


Awalnya Aina tidak setuju dengan keputusan Vera karena Aina tidak bisa memberi gaji sebesar gajinya dulu. Tapi Bera tetap memaksa akhirnya Aina menyetujui Vera ikut bekerja dengannya.


"Paman, tumben banget manggil sampai 10 kali. kenapa, ya?" Raut wajah keheranan tercetak diwajah Aina.


"Telfon balik aja, kayaknya penting."


"Aku buka dulu whatsAAPnya paman."


"Cepat pulang."


"Cepat pulang."


"Cepat pulang." sampai 15 kali pesan yang sama.


ada apa dengan paman sampai mengirim banyak pesan yang sama seperti ini. kejadian langka.


Aina segera mengambil tasnya dan memasukkan handponnya.


"Aku pulang dulu, ya. Salam buat Hanif tidak bisa bantu beres-beres." melangkahkan kaki melewati pintu belakang.


"Pasti Dia sedih." Vera mempraktekan wajah sedih Hanif kalau Aina pamit pulang.


"Ngaco aja terus. Ya sudah aku pamit, ya."


Aina melangkahkan kakinya dengan sedikit berlari melewati pintu belakang. Dia tidak memilih lewat pintu depan karena Dia tidak mau kalau Vera berbuat ulah menggoda Hanif dan dirinya. Kalau dirinya menghadapi ucapan Vera seperti kentut kalau sudah keluar bau sebentar terus hilang tapi kalau Hanif terlihat salah tingkah sampai berhari-hari membuat Aina jadi tak enak hati.


----

__ADS_1


Episode selanjutnya akan ada cuplikan kisah Nabi Yusuf. Yang penasaran boleh komentar dibawah ya biar makin semangat nulisnya.


__ADS_2