
Mobil keluaran terbaru dengan jumlah 5 buah diseluruh dunia berwarna silver berhenti dihalaman rumah minimalis tetapi tetap terkesan mewah dengan cat silver kombinasi putih. Halaman terlihat hijau karena tanaman bunga dan rumput hias yang tumbuh disana menambah aroma alam.
Pras turun dari dalam mobil, Laku Dia segera membuka pintu belakang.
"Sudah kau pastikan, semua orang sudah keluar dari rumah ini." Refan berkata dengan kondisi badan yang masih tersandar dikursi mobil.
"Sudah, Re" jawab Pras tegas.
Pras sudah mengkoordinasi semua pelayan yang ada dirumah kedua Tuan serta sahabat kecilnya itu sebelum sampai dirumah.
Refan tidak mau ada satu batang hidung orang pun yang tinggal dirumah itu selama Dia ada dirumah. Semua pelayan hanya bertugas membersihkan rumah itu dan menyiapkan segala keperluan Refan.
Mereka semua yang bekerja menjadi pelayan dirumah kedua Refan diberi tempat tinggal yang layak. Rumah itu letaknya berada dibelakang rumah besar yang terpisah dengan taman kecil. Semua itu berkat kerja keras Pras, bagaimana agar rumah selalu terawat dengan baik meskipun tidak ada pelayan yang tinggal dan saat kondisi darurat dengan mudah dipanggil kapan saja. Dia sangat memahami kenapa Refan menginginkan selama Dia dirumah sudah tidak ada orang didalamnya. Dia tidak mau orang lain tahu kehidupan pribadinya.
Refan melangkahkan kaki memasuki rumah diikuti Pras. Refan menuju ruang tengah dan duduk disofa kemudian menyandarkan kepalanya. Tidak biasanya badannya terasa lemah seperti ini. Pras pergi kedapur mengambil air putih. Refan tidak terbiasa meminum minuman beralkohol, soda dan sejenisnya. Dia lebih menyukai air putih untuk melepas dahaganya sepulang kerja.
"Silahkan diminum, Re" ucap Pras sambil menyodorkan segelas air putih hangat ditangan kanannya kepada Refan. Tangan kirinya memegang gelas berisi jus jeruk untuk dirinya sendiri.
Refan mengambil air itu dan meneguknya hingga habis tak tersisa.
"Sudah masuk file tentang Bocah Ingusan itu?"
Refan kembali menyandarkan kepalanya disofa.
"Uhuk uhuk." Pras tersedak jus jeruk mendengar pertanyaan Refan. Pasalnya Refan selama ini tidak pernah terburu-buru dalam hal apapun kecuali informasi tentang kematian kedua orang tuanya dulu.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Refan datar.
"Ha ha ha, tidak ada yang aku fikirkan, Re. Sepertinya tadi ada notifikasi, sebentar aku cek dulu."
__ADS_1
Pras segera mengambil handpon disaku celananya kemudian membukanya.
"Sudah terkirim kehandponmu, Re."
"Bacakan, Pras." Refan memejamkan matanya tapi tidak tidur. Perasaannya begitu gundah, fisiknya terasa lemah sehingga hanya untuk membaca berita kepalanya terasa pusing.
Semua ini tidak seperti biasanya karena Dia selama ini hanya kerja dan kerja tanpa rasa lelah sedikitpun.
"Aina Salsabila, Dia putri tunggal dari Mahendra mahiswari pewaris tunggal perusahaan Mahiswari yang sekarang pindah tangan menjadi milik Sony Mahesa dan perusahaan itu dirubah nama menjadi perusahaan Mahesa company."
"Apa!!" Suara Refan mengeras sedangkan tangannya terkepal seakan mau melayangkan pukulannya. Dia langsung bangun dari sandaran dan membuka matanya lebar. Dia mencium sesuatu yang tidak beres.
Pras melihat reaksi Refan seakan faham apa yang difikirkan sahabatnya itu.
"Masih mau dilanjutkan?" tanya Refan hati-hati.
"Ya, lanjutkan." Sekarang posisi Refan tidak sedang bersandar. Dia terlihat serius menyimak.
Saat Pras mau melanjutkan, Refan mengangkat tangan kirinya sebagai tanda kalau Dia menginginkan Pras berhenti.
"Sony, Psikopat" ucap Refan datar tapi tersirat begitu dalam.
"Selidiki sony dan sebab kematian orang tua gadis itu, jika yang aku fikirkan tentang sony benar, hancurkan Dia sampai ke akar-akarnya." Ungkapan Refan membuat Pras merinding untuk kedua kalinya.
Pras hanya menganggukkan kepala seperti tidak mampu berkata apapun.
Dia merasa waktu pertama kali mendengar ungkapan Refan saat itu sebuah hal yang wajar karena yang menjadi korban adalah orang tuanya sendiri. Tapi ini, orang tua seorang gadis kecil yang tidak dikenalnya dan bahkan berani melawannya.
Dia memang tahu persis bagaimana Refan menolong perusahaan yang diambil alih seperti perusahaan Mahiswari dengan cara yang berbeda tentunya, sehingga orang lain mengira bahwa Refan seorang pengusaha yang kejam. Padahal Refan sama sekali tidak mengambil keuntungan perusahaan yang sudah ditolongnya. Bagi Refan penilaian orang tidak penting dalam hidupnya. Dia sama sekali tidak butuh pengakuan kalau Dia adalah orang yang baik karena baginya justru mengundang banyak penjilat yang mendatanginya, membuat hidupnya semakin hambar jika banyak orang yang tahu jati dirinya.
__ADS_1
"Sekarang pulanglah, selesaikan tugasmu, jika sudah selesai penyelidikannya jadikan naskah tapi file tetap simpan dengan aman. Aku mau istirahat." Refan melangkahkan kakinya hendak meninggalkan Pras yang masih duduk menatapnya.
"Re." Panggil Pras serah berdiri dari tempat duduknya.
Refan menghentikan langkah kakinya tanpa berkata satu patah katapun tanpa membalikkan badannya.
"Kapan kau ikut pulang denganku?" tanya Pras ragu.
"Kenapa? apakah kau sudah bosan?"
"Bukan begitu, Re. Jasmin setiap hari menanyakanmu, dan besok adalah ulang tahunnya yang ke 23. Kau tahu, setiap hari aku melihat air matanya dibarengi rengekkan hanya ingin bertemu denganmu, Re."
"Terserah, aku sama sekali tidak perduli." Refan tidak melanjutkan langkahnya.
Pras mengambil nafas.
"Aku tahu ini berat bagimu, tapi Jasmin juga tidak tahu apa-apa, Re. Kecuali jika kau mau jujur padanya, setidaknya Dia tahu apa alasanmu menjauhinya selama ini."
Pras tidak punya pilihan lain Dia harus mengatakannya sekarang meskipun Dia tahu saat ini kondisinya kurang tepat.
Refan sama sekali tidak bergeming dengan ungkapan sahabat yang menjabat menjadi tangan kanannya itu.
"Pulanglah." Refan melanjutkan langkahnya yang terhenti.
Pras mengamati langkah kaki Refan sampai Dia menghilang dibalik pintu.
Pras tahu sebenarnya Refan perduli dengan Jasmin, kalau tidak mana mungkin Jasmin masih diizinkan tinggal dirumah utama dan menyuruh dirinya untuk menjaganya. Meskipun waktu itu Refan memerintahkannya bukan untuk menjaganya tapi dengan kata lain yaitu mengawasinya dengan ketat. Dengan alasan Jasmin bisa saja mewarisi tabiat orang tuanya.
Saat itu, Pras bertanya-tanya, kalau hanya itu alasannya kenapa Jasmin tidak ditempatkan dilain tempat atau bahkan diluar Negri jika Refan benar-benar membencinya. Malah justru Refan yang keluar dari Rumah Utama memilih tinggal dirumah kedua yang letaknya tidak pernah diketahui Oleh Jasmin sebelumnya.
__ADS_1
Tapi sekarang Dia faham, Dia masih menyayangi Jasmin seperti dulu. Hanya saja sekarang kondisinya berbeda jadi Dia menyayanginya dengan caranya sendiri.
Dan untuk Pras, Dia mengenal Jasmin tidak terlalu lama hanya saat Refan dan Jasmin berlibur dirumahnya dulu tapi waktu sebentar itu mampu membuat Pras memahami betapa Refan menyayangi Jasmin.