
laily berjalan pulang.dia melihat mobil ludro melaju dengan kencang.laily berfikir mungkin ludro diberi misi oleh ayahny.laily trus jalan sambil memakan bakpaonya.lalu ada segerombolan pria membawa tongkat kayu masuk gang sempit.laily hanya berjalan dan tak menghiraukan.dia hanya berfikir paling'paling juga orang yang sedang kalah judi dan lari karna tidak mau bayar.
dia melewati gang tersebut,ketila dia lewat ada suara laki-laki meminta bantuan kepada laily.laily pun terus berjalan,seketika itu dia berhenti sejenak.dan berfikir jika dia tidak menolongnya mungkin akan mati dan bergentayangan dikompleknya.
Laily pun berbalik untuk menelongnya.
"Kalian laki'laki tidak tau malu ya.delapan banding satu?yakin?." kata laily
"Hey nona.lebih baik jangan ikut campur.atau kau mau mati sekalian hah?." saut salah satu dari mereka
"heizzz.. aku memang suka menindas orang,tapi aku gak suka menindas orang yang lemah.lah kalian lawan aja gak sebanding gak malu nindas kah?." bantah laily
"hey adik kecil.mulutmu ternyata pedas juga ya.jangan buat kami marah,atu kalau tidak aku akan membunuhmu juga." saut mereka
"adik kecil?huh... mau membunuhku?coba saja kalau bisa.mari kita lihat seberapa hebat kalian semua.." tegas laily
laily menantang segerombolan pria itu dan berkelahi tanpa ada lecet ditubuhnya.laily sudah belajar berkelahi dari dia kecil dan setiap dia berkelahi selalu melihat taktik dan gerakan lawan.maka dari itu dia dijuluki *COOL TAKEN*.dalam 25menit delapan orang jatuh ke tanah dan K.O.laily membersikan tangannya.dan bergegas mengambil makanan dan kopinya.
__ADS_1
"Anu... Terimakasih telah menolongku." teriak seorang laki'laki
laily berbalik badan sambil minum kopi.
"Ah ternyata kamu bisa bicara?aku kira kamu bisu,maaf." saut laily
"ah harus aku yang minta maaf karna melibatkanmu kedaĺam masalahku.maaf ya,dan sekali lagi aku minta maaf." kata laki'laki itu
"oh iya.bukan masalah bagiku.ya sudah aku pulang dulu,aku kan anak perempuan.gak boleh keluar malam.oke sampai ketemu lagi." ucap laily lgsung pergi.
laki'laki yg ditolongnya pun hanya mengangguk dan tersenyum.dia juga bergegas pulang kerumah.laily sudah sampai didepan rumahnya,dia melihat lokas sedang berbicara dengan orang yang laily tak kenal.laily terus meminum kopinya dengan sedikit'sedikit.
"Laily,kamu dari mana?sudah lama berdiri disini?." tanya lokas
"habis beli cemilan sama kopi.baru saja.kakak kedua sedang ngobrol dengan siapa?sepertinga penting." jawab laily
"oh itu,dia temanku.apa kamu sudah menyelesaikan skripsimu?boleh aku bantu mengerjakannya?." alih bicara lokas
__ADS_1
"Logika jika memang temanmu kenapa tidak ngobrol didalam?apa rumah kita sempit,tidak ada ruang untuk mengobrol?apa memang kamu tidak punya sopan santun." saut laily sambil pergi masuk kedalam rumah
"haiz.. adikku memang tidak bisa dibohongi.bahkan cara bicaranya bisa membuat panag dan menusuk kedalam hati.oh tuhan aku memang kakak yang tidak beruntung yah." gerutu lokas mengikuti laily kedalam
ketika laily dan lokas menaiki tangga.laily ingin bertanya tapi ragu,jika nanti lokas marah karna hanya ludro yg diberi ayah misi sedangkan dia hanya pemeran pengganti.tapi laily memberanikan diri untuk bertanya
"kak,tadi aku melihat mobil kakak pertama,kelihatannya dia sedang buru'buru.dia pergi kemana?." tanya laily
"entah,mungkin ada urusan dengan anak buahnya.dan dia harus pergi.itu mungkin kan?." jawab lokas.yang fokus ke hape.nya
"apa mungkin dia punya misi? apa ayah memberinya misi pribadi dan hanya kakak pertama yang bisa menyelesaikannya?." tanya laily lagi
"buwahahaha... ludro bisa apa,hah? tanpa kita dia gak bakal bisa menyelasikan misinya.dan juga dia gak bisa menggunakan kekerasan seperti kita! apa yang diharapkan?." lagak lokas
"heleh... setidaknya dia pandai dan cekatan.tidak seperti kamu.. ceroboh pengacau..." ucap laily ketua,masuk kedalam kamarnya
"hehehe... dalam sekali yah ejekanmu.apa kamu tidak bisa sedikit memuji untukku sekali saja.aku terus dihina oleh adikku sendiri.huhuhuhu." kata lokas yang duduk dilantai dan memainkan jarinya ke lantai.
__ADS_1
lokas bergegas ke ruang kantor ayahnya.untuk menanyakan sesuatu kepada ayahnya.dia mempercepat jalannya.dia memendam seribu pertanyaan kepada ayahnya.entah kapan akan meledaknya seribu pertanyaan yang dia pendam itu.