Memaksa Jadi Isteri CEO

Memaksa Jadi Isteri CEO
Hatiku mulai tak tahu diri


__ADS_3

'Kata orang,jika kamu benar-benar menyukai seseorang,apapun yang bisa membuatnya bahagia kamu juga akan bahagia,walaupun kebahagiaannya bukan bersamamu melainkan bersama orang lain.'


Tapi mengapa aku tidak dapat merelakannya dengan siapapun?...


***


Karena sudah dipersilakan oleh Stefi,apa boleh buat.Baru saja masuk sudah mendapati suaminya menatap tajam kearahnya,seperti mengatakan:"Kamu gila?"


Tapi ekspresi itu hanya beberapa detik saja,sehingga hanya Lofe yang menyadarinya.


"Selamat pagi pak Raja,tante Mayang tadi menyuruh saya untuk kemari memasakkan untuk anda,"Lofe menyapa Raja seperti tidak ada yang terjadi.


Raja menaikkan satu alisnya,"Perempuan ini benar-benar pandai sekali berakting,"batin Raja berlalu menggandeng tangan Stefi kearah Sofa.


"Sayang,kenapa pagi-pagi sekali?kamu juga perlu istiharat yang cukup,"ucap Raja perhatian dengan mengecup dahi Stefi dengan mesra.


Karena mendapati kejadian yang menusuk mata,Lofe berlalu pergi dari hadapan mereka.Dia seringkali melihat kejadian seperti ini dimasa lalu,tapi kenapa sekarang hatinya merasa sedikit tidak nyaman?sedikit tidak rela?diapun tak begitu jelas,yang jelas matanya sudah berkaca-kaca sebelum menyadarinya.


Dia berencana memasak masakan rumahan,karena memang hanya masakan rumahan yang dia bisa.Tapi sebelum memasak,dia sudah menyuguhi Raja dan Stefi dengan jus jeruk dan beberapa buah yang sudah dipotongnya.


Hari ini ingin memasak sop daging sapi,jadi dia mulai memebersihkan daging,dan mulai memotongnya.


Setelah matang dia menyajikannya diatas meja.Terlihat beberapa sayur mentah dan sambal,dengan beberapa ikan yang sudah digoreng,tak lupa dengan sop daging yang ditata rapi.


Setelah melepaskan apronnya,dia berjalan kearah Raja.


"Sudah selesai saya hidangkan pak,saya pamit undur diri,"ucap Lofe dengan sopan,dan keluar dari apartemen Raja.


Lofe berjalan pelan,tidak tergesa-gesa.Dia mengingat kejadian tadi,saat masih di apartemen Raja.Apakah dia sedang cemburu?dia sepertinya mulai tidak tahu diri?memikirkan ini dia tiba-tiba tertawa,hingga beberapa orang menoleh kearahnya.


"Aku sepertinya benar-benar sudah gila,"batinnya sedih.

__ADS_1


Kemudian dia teringat dengan bapaknya yang berada di sel tahanan.Karena sudah lama tidak menjenguk,akhirnya dia berencana untuk menemuinya setelah berlalu selama dua pekan.Dia membelikan beberapa makanan yang di sukai oleh bapaknya.


Setelah satu jam menaiki bus,dia sampai di kantor polisi,dan meminta izin untuk kunjungan menemui bapaknya.


Setelah menunggu lima menit,terlihat bapaknya menghampiri dia dengan langkah gontai.


"Bagaimana kabar bapak?ini Lofe bawakan makanan kesukaan bapak,"walaupun kadang kala sangat membencinya,dia tetap puteri ayahnya.melihatnya seperti ini,membuatnya ingin menangis.


Plak!!!


tamparan keras mengenai pipi Lofe,dia sedikit kaget.Dia pikir setelah bapaknya masuk penjara dia akan tahu kesalahannya.Namun sepertinya tak mengubah apapun.Pipinya terasa panas,dan hilang rasa,bapaknya yang tempramen itu mungkin telah menamparnya sekut tenaga.Stempel merah lima jari dipipinya benar-benar parah.


"Dasar anak durhaka!!berani-beraninya kamu memperlihatkan wajahmu di depanku,"sepertinya belum puas dengan tamparan tadi,dia juga mendorong bahu Lofe.Untungnya dia dengan cepat memegang erat meja di sampingnya,hingga keseimbangannya terjaga.


sedetik kemudian makanan yang telah dibawanya berhamburan di lantai,dan bapaknya berbalik berjalan meninggalkannya.Ingin menangis?tentu saja.


Dia berjalan tak bersemangat keluar,matahari sudah di atas kepala,sangat panas.Dia ingin pulang,tapi mengingat Stefi.Dia takut Stefi belum pulang.Jadi dia memutuskan untuk mencari makan terlebih dulu.Dia memutuskan untuk berjalan jalan sebentar dipinggir jalan raya melihat berbagai kendaraan berlalu lalang.Terlihat tenda penjual makanan,dia memutuskan untuk makan disitu,harganya pas dengan dompetnya.


sesampainya di apartemen dia tidak melihat Stefi,jadi dia bernapas dengan lega.Dia teringat bahwa semua pakaiannya sudah di pindah ke kamar Raja,jadi mau tidak mau dia harus kekamar suaminya itu.


Pintu sudah terbuka olehnya,dia berjalan pelan masuk kamar.Tidak ada Raja?dimana dia?Lofe melihat sekeliling kamar suaminya itu yang di dominasi warna hitam putih,luas kamar ini seperti luas rumah orang tuanya.Ini benar-benar terlalu luas untuk dihuni satu orang.Mereka benar-benar seperti bumi dan langit,selalu ada jarak diantara mereka.


"Darimana kamu?"Suara dari belakang punggungnya membuatnya kaget,refleks dia menoleh.


Lofe tersenyum kearah Raja,


"Ra,,ja,"suaranya terdengar lemah dan sedih?,karena Lofe menunduk dia tidak bisa melihat wajahnya yang terluka.


"Kamu kenapa?"ucap Raja menangkup wajah Lofe dengan kedua tangannya,mata mereka saling menatap,dia melihat mata Lofe yang berkaca-kaca,seakan sebentar lagi genangan itu akan mengalir deras jika sedikit memejamkan matanya.


Mengapa hatiku merasa tidak nyaman melihatnya seperti itu?batin Raja bergejolak.

__ADS_1


"Maafin aku,"ucap Lofe dengan menggenggam erat tangan Raja yang masih menempel di pipinya.Sekarang dia tidak tahan lagi untuk menangis.Sebenarnya dia selalu merasa bersalah dengan Raja.


Raja bingung melihat Lofe menangis,dia tidak sedekat itu untuk memeluknya dan memberikan kata-kata penghibur.Dia hanya menepuk nepuk bahunya dengan pelan,berharap yang dilakukan dapat sedikit menenangkannya.Setelah lebih dari sepuluh menit,Lofe kembali tenang.Dia baru sadar yang dilakukan sekarang ini sangat konyol,dia buru-buru menghapus air matanya,merasa sedikit malu.


"Baiklah aku pergi mandi dulu,"dia ingin secepat mungkin bergegas dari hadapan Raja.Tapi,


"Tunggu sebentar,"Raja menarik pergelangan tangannya.


"Apa yang terjadi dengan pipimu?siapa yang berani memukulmu?"Tanya Raja khawatir.Lofe menatap matanya tidak menjawab,dia hanya tersenyum.Dia tidak bisa menerima perlakuan baik seperti ini terus menerus,dia takut jika dirinya mulai tak tahu diri,dan mengharapkan lebih dari ini?.


"Tidak sakit kok,"ucapnya berbohong dengan tersenyum,dia ingin mengabaikannya,dan berlalu pergi,tapi tangannya di cengkeram erat oleh Raja.


"Dasar keras kepala,"ucap Raja dengan dingin.


"Aku tidak mengkhawatirkanmu,aku hanya takut mama akan salah paham jika melihat pipimu seperti itu,kamu sengaja ingin membuatku dalam kesulitan?"tatapan Raja benar benar mematikan membuat Lofe takut.


Kenapa dia tiba-tiba marah?apakah aku menyinggungnya?


Raja mendudukkan Lofe di sofa,dia mengambil kotak obat ,dan es batu.Dia melihat Lofe sekilas,terlihat pipinya yang membengkak keunguan,bagaimana dia masih keras kepala seperti itu?


Raja mengompres pipi Lofe dengan es batu berharap bengkaknya segera menghilang.


"Auu,"jerit Lofe tatkala Raja tak sengaja sedikit menekan pipinya.


"Kamu bilang tidak sakit,baru saja disentuh sedikit sudah berteriak,"ucap Raja kesal.


Karena jarak yang sangat dekat Raja bisa melihat dengan jelas wajah Lofe,mulai dari rambutnya yang memang lurus alami,alisnya yang tertata rapi,bulu mata lentiknya bergerak naik turun,sesekali matanya tersirat kesakitan saat Raja mengompres lukanya,hidung yang sedikit mancung,dan bibir tipis sedikit penuh itu membuatnya ingin berlama lama memandangnya.


Lofe tahu kalau Raja sedang memperhatikannya,tapi dia berusaha terlihat biyasa saja,padalahal jantungnya berdetak sangat cepat.Raja mendekat kearahnya,nafasnya terasa menyebar dipermukaan kulit wajahnya,membuatnya memerah.Waktu seakan berhenti,berjalan dengan lambat,membuatnya gugup,dia menoleh kesamping,menhindari ciuman dari Raja.


"Pak Raja,aku bisa melakukannya sendiri,"dia mengambil kompresan yang dipegang oleh Raja.

__ADS_1


"Baiklah,"


__ADS_2