
Namanku, Kanza Azzahra, pekerjaanku seorang guru honorer. Melalui perjalanan panjang untuk bisa sampai di karir yang ku dapat sekarang ini. Dari terpuruk sampai hinaan aku pernah rasakan. Hidupku hancur setelah perceraian orang tuaku tapi berjalannya waktu aku bisa menjadi sekarang ini, selain menjadi guru, aku juga sebagai asisten dosen di universitas terbuka di kotaku. Selain mengambil ilmu ekonomi, sekarang aku sedang menempuh S2 ku di Bidang Psikolog. Sekali lagi aku bangga dengan pencapaianku sekarang, memang tidak mudah.
Mungkin beberapa orang beranggapan, hanya hal seperti itu saja sudah bangga, tapi melihat dari apa yang sudah aku lalui, aku harus bangga kepada diriku yang sempat merasakan kegagalan.
Cerita dimulai sejak aku duduk di bangku sekolah menengah atas, saat itu aku mengambil sekolah kejuruan, dan mengambil kelas administrasi perkantoran. Bayanganku dulu mengambil jurusan itu, nantinya akan menjadi sekertaris dan bekerja di kantor tapi aku salah, bahkan sebelum waktuku lulus masalah itu datang. Hanya anggan seorang yang ingin membahagiakan keluarga kecilnya tapi di patahkan karena hancurnya keluarga kecilku juga.
Aku sekarang sudah memiliki keluarga kecil sendiri dan di karuniai 2 orang anak. Bisa dikatakan aku cukup bahagia dengan suamiku, karena dia salah satu orang yang selalu memberiku support selama ini dan aku bersyukur mengenal dia walau awalnya sebuah kesalahan tapi mungkin ini yang namanya kesalahan terindah.
Dan ini kisahku.
***
2008
Aku bersiap untuk berangkat di hari pertamaku sekolah, antusias? Pasti, karena aku akan mendapatkan teman baru. Dan semoga aku bisa cepat beradaptasi di sekolah baruku. Walaupun ada beberapa teman SMP ku yang mendaftar ke SMK yanga aku masuki sekarang tapi tetap saja, aku antusias untuk hari pertama ku sekolah.
Tapi saat baru selesai berpakaian dan bersiap ke sekolah, aku di suguhkan pertengkaran orang tuaku. Hal yang sangat tidak aku sukai beberapa waktu ini. Entah aku merasa beberapa hari ini Ayahku berbeda, dia bahkan tidak segan membentak Ibu di depan anak anaknya. Dan kebetulan aku 3 bersaudara, aku nomor 2 perempuan sendiri setelah kakak dan adikku.
"Bu, aku berangkat." aku memberanikan diri untuk berjalan ke arah Ibuku yang sedang di dapur setelah kena omelan dari Ayahku.
"Biarkan kakakmu mengantarkanmu." jawab Ibu kepadaku.
"Tidak, biar aku sendiri. Kakak pasti lelah." jawabku.
"Aku berangkat."
Sebelum berangkat, aku berpamitan Ibuku terlebih dahulu. Tentang Ayahku? Entah kemana dia setelah memarahi Ibuku. Mungkin saja dia sudah berangkat bekerja. Ya, Ayahku salah satu karyawan swasta di kotaku. Dia menjadi aneh beberapa waktu ini, dia bukan lagi Ayah yang hangat, sempat aku berpikir kalau dialah cinta pertamaku. Bukankah cinta pertama anak perempuan itu adalah Ayahnya? Ya, aku merasakan itu tapi setelah melihat perlakuan Ayahku kepada Ibu, rasa itu seperti hilang. Mungkin aku juga perempuan, makanya merasakan hal yang sama.
Sesampainya di sekaloh, aku berjalan menuju kelas yang ada namaku di sana. Dan kebetulan sekali aku masuk di APK1 (administrasi perkantoran 1). Aku masuk dan melihat beberapa orang yang aku kenal di SMP ku dan teman teman baruku. Mereka terlihat tegang, ada juga yang terlihat santai.
Aku kemudian memilih tempat duduk seperti yang ada di dena yang di pasang di papan tulis.
"Hai, selamat pagi." sapa seseorang yang ada di depanku. Sepertinya dia akan menjadi teman sebangku.
"Selamat pagi juga." balasku.
__ADS_1
"Dari sekolah mana?" tanyanya.
"SMP xxx, kamu?"
"Aku dari SMP yyy. Dan ya, aku Nurry." ucapnya sambil mengulurkan tangannya seraya meminta di jabat.
"Kanza." balasku sambil menjabatnya.
"Semoga kita bisa berteman baik ya." ucapnya, dia tersenyum kepadaku. Dia terlihat baik, dan juga pendiam. Karena sejak aku masuk, Nurry hanya duduk di bangkunya saja.
Setidaknya hari pertamaku di sekolah tidak seburuk seperti pagi ku di rumah.
Itu awal aku bertemu dengan Nurry, dia itu teman yang friendly walau sedikit gesrek, tapi dia seru. Kita berdua kalau jadi satu pasti konyol, tapi dia bisa serius juga. Aku sering menangis di depannya hanya karena perlakuan Ayahku kepada Ibu dan diriku.
"Ada apa? Apa Ayahmu berulah lagi?" tanya Nurry.
"Sudahlah jangan menangis. Aku ada bersamamu. Apa perlu aku melaporkan tindakannya kepada pihak sekolah?"
2 hari kemarin, aku terluka karena Ayahku. Awalnya aku ingin melindungi Ibuku saat Ayahku ingin menamparnya, tapi saat aku mencoba menghalanginya. Aku terdorong olehnya dan aku terjatuh ke arah meja yang tak jauh dari tempatku berdiri, saat itu bahu kiriku terkena sudut meja dan membuat memar di bagian itu. Saat aku bercerita kepada Nurry, dia sangat marah, dia bahkan ingin melaporkan tindakan Ayahku kepada pihak sekolah agar pihak sekolah membantunya untuk melaporkan sikap Ayahku kepada polisi. Tapi aku melarangnya, pikirku aku tidak apa apa, itu juga bukan sepenuhnya kesalahan Ayahku. Entah setiap Ayahku bersikap baik dan mengakui kesalahanya aku kembali luluh. Ya, setelah kejadian itu. Ayahku memohon minta maaf kepadaku, dia merasa tidak melakukan dengan sengaja. Bagaimanapun juga dia Ayahku dan aku memaafkannya begitu saja tanpa berpikir kalau Ayahku akan melakukannya lagi.
"Kau masih akan tetap menutupi hal ini?"
"Ya, aku yakin Ayahku akan berubah menjadi sosok yang ku kenal dulu." ucapku, aku harus berpikir kalau Ayahku sedang merasa lelah dan bersikap seperti sekarang.
Waktu berjalan dengan sangat cepat, pertemananku dengan Nurry juga sudah hampir 1tahun. Aku dekat dengan orang tuanya, begitu juga dia. Dia juga dekat dengan keluargaku. Dia memang anak yang sopan walau sedikit aneh, karena dia selalu bersikap aneh saat aku merasa sedih. Di berusaha menghiburku dengan sikapnya yang aneh itu, tapi aku tersenyum saat Nurry sudah bersikap aneh seperti itu.
Dan tentang masalah keluargaku, semakin hari, Ayahku semakin berubah. Dia juga jarang pulang ke rumah. Usut punya usut, Ayahku memiliki perempuan lain di belakang Ibuku. Memang belum pasti apa itu benar atau tidak tapi saat aku ingin memastikan itu, Ibuku melarangku melabrak Ayahku dengan perempuan simpanannya.
"Sudahlah nak, biarkan saja Ayahmu. Ibu tidak apa apa." ucap Ibuku.
"Setidaknya kalau memang Ayah ingin menikah lagi, sebaiknya Ayah menceraikan Ibu." ucapku dengan penuh marah.
Entah kenapa Ibuku bisa bicara seperti itu, setiap kali aku ingin melabrak Ayahku, pasti Ibuku melarangnya. Dia memang bersikap baik baik saja di depan anak anaknya tapi aku tahu, dia menyimpan luka di hatinya tanpa ingin menunjukkan kalau dirinya sedang terluka kepada orang lain. Itu yang membuat ku salut kepada Ibuku. Beliau sosok yang sangat penyayang, beliau juga sabar. Tidak sekalipun aku merasakan cubitan bahkan pukulan darinya. Beliau sosok yang lemah lembut.
Saat ini kita hanya tinggal bertiga, aku, Ibuku, dan adikku. Kakak laki lakiku beberapa bulan lalu sudah menikah. Dan itu membuat Nurry patah hati, karena saat Nurry di rumah, dia akan bersikap seperti pacar kakakku, walaupun aku tahu kalau itu hanya candaannya saja karena dia juga memiliki pacar yang aku sendiri juga bingung dengan hubungan mereka. Dia bahkan mengerjai mempelai wanita saat prosesi resepsi di rumah istri kakakku. Memang dasar Nurry, dia bersikap menjadi pengantinnya menggantikan kakak iparku. Tapi semua itu hanya sebuah candaan saja, yang tandanya Nurry memang sudah menjadi bagian keluargaku, bukan hanya menjadi seorang teman atau sahabat tapi dia juga bagian keluarga untukku.
__ADS_1
"Ibu, bagaimana kalau aku bekerja saja? Aku ingin membantu Ibu mencari uang." ucapku.
Aku memang bukan terlahir dari orang yang kaya raya tapi aku juga tidak kekurangan tapi tetap saja, Ibuku harus bekerja keras untuk keluargaku karena Ayahku tidak memberi nafkah sejak aku masuk SMK. Hanya Ibu yang bekerja keras mencari uang untukku. Aku bahkan kasihan melihat Ibuku saat dia terlihat sudah sangat lelah tapi harus menyelesaikan pekerjaannya. Ibu membuka jasa catering yang memang sudah dia jalani sebelum aku lahir. Setelah aku lahir, Ayahku meminta Ibu untuk berhenti karena Ayah ingin Ibuku fokus mengurus anak anaknya tapi sekarang Ayahku malah meninggalkan Ibuku tanpa kepastian.
"Untuk apa? Tugasmu hanya sekolah. Jangan menjadi seperti Ibu. Yang bodoh ini. Ibu ingin anaknya bisa sukses, itu saja."
"Bukankah pendidikan itu penting nak, buktikan kepada orang lain, terutama keluarga Ayahmu kalau kamu itu bisa. Tidak seperti Ibu."
"Ibu bicara apa? Ibu itu, Ibu terhebatku. Tidak ada yang bisa menggantikan Ibu."
Aku memeluk tubuh Ibuku, aku tahu kalau beliau sering mendapatkan hinaan dari keluarga Ayahku. Mereka sering bersikap kasar kepada Ibuku yang menurut mereka Ibuku tidak berpendidikan. Kejadian sekarang pun mereka tetap menyalahkan Ibuku kenapa Ayahku bisa berubah. Ibuku memikul beban yang sangat berat, dia harus mendengarkan ocehan dari orang sekitarnya dan menjadi tulang punggung keluarga sekarang. Meskipun sesekali Kakakku akan membantu perekonomian keluarga ku tapi itu tidak setiap waktu karena dia juga menghidupi keluarga kecilnya sendiri.
Pagi ini aku di buat terkejut oleh Ayahku yang baru pulang dan berteriak teriak memaki Ibuku. Yang aku dengar, dia pulang untuk mengambil pakaiannya dan Ibu melarangnya untuk pergi tapi bukannya menuruti apa yang Ibu katakan, Ayah malah marah kepada Ibu.
"Apa kau tuli, pergi dari hadapanku."
"Setidaknya sapa anakmu sebelum pergi, beberapa hari ini Ayah tidak pulang. Rio menanyakanmu terus."
"Selain tuli, apa kau bisu? Aku rasa juga tidak. Memangnya tidak bisakah kau katakan kepada anak anak kalau aku sedang keluar kota untuk tugas pekerjaan?"
"Sampai kapan aku harus berbohong kepada mereka saat Ayah mereka sedang asyik dengan wanita lain."
"Tutup mulutmu." Ayah mencengkram kera baju Ibu.
"Kau ingin menamparku lagi? Ayo tampar? Bukankah sudah biasa anak anak tahu sikap Ayahnya seperti ini."
"Ini yang tidak aku suka darimu, kau selalu membantah apa yang suamimu katakan."
"Membantah? Selama ini aku diam, tapi tetap saja kau anggap aku ini salah. Kalau memang aku salah dan kau tidak ingin lagi bersamaku, ceraikan aku." ucap Ibuku. Aku hanya bisa diam di kamar sambil memeluk adikku yang sudah menangis mendengar pertengkaran orang tuaku di pagi buta seperti ini.
"Kau memang tidak berguna." ucap Ayahku sambil berjalan meninggalkan Ibuku yang sudah menangis di depannya.
Ayahku berjalan keluar rumah sambil membawa beberapa pakaian yang dia ambil di kamarnya. Mungkin memang sudah biasa pertengkaran orang tuaku di mata orang sekitarku tapi tetap saja, aku merasa malu saat setiap orang menatap kita karena sikap Ayahku.
🥰
__ADS_1