
Sepulang sekolah aku dan Nurry tidak langsung pulang. Kita berencana untuk jalan jalan dulu, bahasa kita ngadem di mall. Ya walau tidak belanja tapi senang saja bisa berjalan jalan di sana sambil menikmati es cream kesukaan kita. Tapi rencananya kali ini kita tidak berdua saja, Nurry mengajak pacaranya dan kebetulan pacar Nurry sedang berulang tahun. Karena itu, sejak kemarin dia sangat ribet, dia ingin mendapatkan kado spesial untuk pacarnya dan dia sudah menabung beberapa bulan ini hanya untuk pacarnya. Sejujurnya aku tidak begitu suka dengan Baim, pacar Nurry. Menurutku dia terlalu seenaknya kepada Nurry tapi bodohnya Nurry selalu menuruti apa yang pacarnya mau.
"Apa terlihat bagus, Za?" tanyanya kepadaku yang fokus dengan pemandangan sekitar.
"Za ...," panggilnya lagi.
"Hmmm.. Iya, bagus." jawabku.
Kita menunggu Baim sekitar 1 jam, dan memang begitulah dia. Suka seenaknya sendiri tapi mau gimana lagi, Nurry menyukainya. Aku tidak bisa memaksakan kehendakku saat sahabatku bahagia dengan pilihannya.
Setelah sampai, Baim tidak datang sendiri. Dia bersama temannya padahal Nurry sudah bilang kalau Baim kan datang sendiri karena pulangnya Nurry akan bersamanya. Kita memang tidak sekolah di tempat yang sama.
"Selamat ya sayang."
"Terima kasih. Tapi aku kan sudah bilang tidak perlu seperti ini. Bikin malu saja." ucap Baim.
Aku melihat raut wajah Nurry seketika berubah saat mendengar ucapan Baim. Bagaimana dia bisa bicara seperti itu saat Nurry menyiapkan ini semua untuknya. Ya, walau tidak mewah tapi ini usaha Nurry.
"Tapi aku ingin memberimu kejutan di hari ulang tahunmu."
"Tapi aku bukan anak kecil yang harus meniup lilin setiap waktu dan menuruti kemauanmu." ucap Baim.
"Sudahlah, kenapa kau kasar sekali kepada pacarmu." ucap teman Baim.
Aku hanya diam, ingin sekali rasanya menampar cowok yang sudah menghina sahabatku. Dia memang tidak pernah bersikap baik kepada Nurry.
"Maafkan aku, aku hanya merasa lelah saja. Kamu kan tahu, hari ini aku ada latihan tapi kamu terus saja menyuruhku untuk datang."
"Iya." jawab Nurry singkat. Dia bahkn hampir menangis karena ucapan Baim.
"Oh ya, ini Dirga. Dan Dirga ini, Kanza sahabat pacarku."
Aku tersenyum ke arahnya tanpa menjabat tangannya. Aku masih merasa kesal dengan sikap Baim kepada Nurry. Dia bahkan tidak mencoba membujuk Nurry yang hanya diam sejak Baim bicara seperti tadi.
Dan setelahnya kita menghabiskan waktu berempat, untung ada Dirga jadi aku tidak merasa seperti obat nyamuk. Tapi setelah beberapa saat sikap Nurry kembali hangat kepada Baim, mereka juga bercanda walau terlihat candaan mereka hanya membuatku geleng kepala.
"Nanti aku akan mengantarmu, bolehkan?" tanya Roy kepadaku. Kita sedang menunggu film yang akan kita tonton bersama.
"Tidak, aku pulang bersama Nurry."
"Bukankah Nurry pulang bersama Baim, dia tidak bawa motor kan."
"Jangan takut, aku tidak akan menyesatkan mu." ucapnya. Aku hanya tersenyum dengan jawabannya.
Sejak tadi Dirga memang terlihat baik, dia juga asyik. Tapi aku tidak bisa menilai seseorang dari 1x bertemu saja kan.
Dan sejak tadi pembicaraan Dirga mengarah ke hal pribadi, seperti apakah aku memiliki pacar?
"Kebetulan untuk sekarang aku belum mempunyainya." jawabku.
"Wah kebetulan sekali, aku jadi bisa bebas denganmu."
"Maksud kamu apa?" tanyaku.
"Ahh, maksud aku. Aku bisa dekat denganmu kalau kamu belum memiliki kekasih."
"Ohh.."
Dan akhirnya aku pulang di antar Dirga setelah acara film yang kita lihat selesai. Awalnya aku tidak ingin tapi Nurry memaksa untuk mau di antarkan pulang Dirga.
"Sampai sini saja." ucapku. Saat sampai di depan gang besar di kampungku.
__ADS_1
"Aku bisa mengantarkanmu sampai depan rumahmu."
"Tidak perlu, aku tidak biasa mengajak laki-laki ke rumahku. Maafkan aku."
"Tidak apa apa. Itu tandanya kamu anak baik."
Sejak pertemuan itu, kita semakin dekat. Dekat dalam arti pertemanan saja. Aku juga tidak memiliki perasaan apa apa kepada Dirga. Dia bahkan sesekali menjemputku ke sekolah dan mengantarkan ku pulang.
Pesan:
"Sedang apa?" tanya Nurry.
"Apa kau jadian dengan Dirga?" tanya Nurry tiba-tiba.
"Bisakah aku mengetik dulu lalu membalas pesanmu. Kenapa kau selalu banyak bertanya."
"Maafkan aku. Sudah jawab saja."
"Aku sedang di kamar, dan aku tidak jadian dengan Dirga. Aku tidak memiliki perasaan apapun kepadanya. Sudah jelas?"
"Kau yakin? Dirga itu anak orang kaya, kau bisa memanfaatkannya."
"Kenapa tidak kau saja, putuskan Baim yang tidak jelas itu."
"Kenapa kau jahat sekali kepada sahabatmu ini." ucap Nurry.
"Sudahlah bukankah kita besok bertemu, kita bahas di sekolahan saja."
"Kau jahat sekali, Kanza Azzahra ...,"
Aku tidak membalas lagi pesan Nurry, aku meninggalkan ponselku di tempat tidur dan berjalan ke dapur untuk membantu Ibuku. Dan saat aku akan mulai membantu Ibuku seseorang masuk rumah tanpa permisi. Tiba tiba seseorang yang entah siapa mencari keberadaan Ayah. Dia bahkan menuduh kalau kita menyembunyikan Ayah.
"Aku hanya ingin bertemu dengan suamimu. Suruh dia menemui ku atau dia akan menanggung akibatnya." ucapnya tegas.
"Tapi tolong jelaskan ada masalah apa anda dengan suami saya?" jawab ibu kepada wanita itu.
"Kau tidak perlu tahu, cukup bilang kepada suamimu. Aku beri dia waktu 3 hari. Kalau tidak, dia tahu apa yang akan aku lakukan." jawabnya.
Entah siapa pria yang mencari Ayah itu, dia bahkan tidak mengenalkan diri ataupun menceritakan kenapa dia mencari Ayahku. Kalau ini masalah piutang kenapa pria tadi hanya mencari Ayahku, dia bisa menagih kepada Ibuku kalau memang masalah piutang.
"Apa itu suami, pacar Ayah ya bu?" ucap Rio Agustinus, adikku.
"Hustt, kenapa bicara seperti itu nak." bantah Ibu.
"Benar juga, apa dia suami, pacar Ayah. Aku ingin sekali melabarak wanita ****** itu." ucapku dengan penuh emosi.
"Untuk apa nak? Biarkan saja. Bukankah kita sudah bahagia hidup bertiga."
"Setidaknya kalau status Ibu dan Ayah jelas, aku akan lebih tenang." ucapku.
"Sudahlah nak, biarkan Ayahmu melakukan apa yang dia mau."
"Tapi bu-"
"Sudah, sebaiknya kamu bantu Ibu untuk mengoreng perkedel itu." ucap Ibuku. Dia selalu tidak membolehkanku saat aku ingin melabrak selingkuhan Ayahku.
Pernah sekali aku bertemu dengan Ayahku saat aku sedang jalan jalan bersama Nurry, sangking malunya aku menarik Nurry agar dia tidak melihat Ayahku yang sedang bersama pacarnya. Aku masih malu mengakui kalau Ayahku itu busuk. Tapi Nurry mengerti itu, dia memang selalu bisa memahamiku. Dan selalu ada saat aku membutuhkan sandaran.
Mungkin dalam sisi keluarga, aku tidak bisa bahagia seperti keluarga yang lain karena Ayah yang bermain api di belakang Ibuku tapi aku beruntung memiliki teman sebaik Nurry dan yang lain. Sebenarnya kita memiliki genk. Memang tidak ada nama genk nya tapi kita selalu berenam kemana mana. Tapi dari kelima temanku, aku memang dekat dengan Nurry.
Tadi saat sebelumnya, aku tidak membalas pesan Nurry tapi sekarang aku menghubunginya sambil menangis. Hal yang sama, yang selalu aku keluhkan kepada Nurry tapi dia tidak pernah bosan. Dan dia adalah sahabat terbaikku.
__ADS_1
***
Keesokan harinya.
Pagi-pagi Dirga sudah berada di depan gang kampungku untuk menjemputku. Aku terkejut dengan adanya Dirga karena kebetulan sekali pagi ini aku berangkat bersama Kakakku.
"Pagi, Kanza Azzahra." sapanya saat motor Kakakku dekat dengannya.
"Dirga? Kenapa disini." ucapku bingung.
"Ya, aku ingin mengantarkanmu ke sekolah." ucap Dirga.
"Siapa dia dek?" tanya Kakakku.
"Ini teman Kanza, Kak." jawabku.
"Seragamnya kok beda." ucapnya lagi.
"Ah itu-"
"Maaf Kak, saya hanya ingin menjemput Kanza dan mengantarkannya berangkat sekolah." jawab Dirga.
"Ohh begitu, baiklah."
"Sudah cepat turun, Kakak keburu siang." ucap Kakakku, sungguh menjengkelkan sebenarnya tapi aku juga tidak bisa menolak ajakan Dirga yang entah sejak kapan menungguku.
"Tapi.."
Mau tidak mau aku turun dan menghampiri Dirga yang sudah di atas motornya. Ya, aku diatar Dirga pergi kesekolah.
"Maaf tidak menghubungimu dulu. Aku pikir rumahku dan rumahmu searah. Jadi aku mampir untuk menjemputmu." ucap Dirga.
"Ah iya.." jawabku singkat.
Kalau saja Kakakku tadi tidak terburu buru, aku tidak akan mau berangkat sekolah dengan Dirga. Sungguh pilihan yang sulit. Dan memang sejak pertemuan kita, Dirga sering memberiku kabar, menanyakan kabarku bahkan menjemputku seperti sekarang ini.
Sesampainya di sekolah, terlihat Nurry juga sedang menungguku di depan gerbang, dari senyumannya, dia terlihat seperti mengejekku. Karena memang dia yang seperti antusias saat aku dekat dengan Dirga.
Aku segera turun dan berpamitan kepada Dirga yang memang dia juga harus berangkat ke sekolah, dan setelah Dirga pergi aku berjalan ke arah gerbang sekolah.
"Cie cie.. Yang lagi kasmaran."
"Gundulmu itu." jawabku sambil berjalan masuk.
"Aku setuju saja kok kalau kamu sama Dirga, kita bisa sering double date." ucap Nurry sambil menggodaku.
"Hai. Siapa itu Za ..." sapa Menik temanku. Walau namanya Menik tapi tidak seperti tingkahnya. Dia itu super konyol tapi baik walaupun sedikit cerewet sih.
"Pacar Kanza." jawab Nurry.
"Wah benarkah?" ucap Puspa, Sari dan Intan bersamaan. Entah sejak kapan mereka datang tapi mereka tiba tiba ikut menggodaku. Dasar mulut Nurry.
"Jangan percaya ucapan Nurry, itu tidak benar." elak ku.
"Ahh kenapa harus malu sih, Za." ucap Menik.
"Terserah kalian saja." ucapku sambil mempercepat jalanku.
Kita berenam memang bersahabat, kalau dengan Puspa, kita memang dari SMP yang sama dan memang saling kenal. Ke empat lainnya kita berteman dari SMK. Mereka yang sering menghiburku saat masalah di rumah terus saja mengganguku. Aku beruntung mengenal mereka. Setidaknya hariku tidak seburuk itu, karena teman temanku selalu mendukungku.
🥰
__ADS_1