Memilih Menikah Muda

Memilih Menikah Muda
05. Tidak Semua Pria Itu Sama


__ADS_3

"Za, bisa aku pinjam ponselmu?" tanya Sari.


"Untuk apa?" tanya ku balik.


"Ponsel ku mati, aku harus mengirimkan pesan untuk Arief takut dia menungguku." ucap Sari.


Aku memberikan ponselku kepada Sari tanpa bertanya lagi. Dia bahkan masih memiliki status dengan pacarnya tapi Sari memberi harapan kepada Arief. Begitulah Sari, tidak ada yang bisa melarangnya karena sifatnya keras.


Setelah selesai, aku buru buru meminta ponselku karena angkot yang biasa aku naiki sudah berhenti di depan gerbang sekolah.


Sesampainya di rumah, aku melakukan rutinitasku seperti biasa. Membantu Ibu, karena kebetulan hari ini Ibu mendapatkan pesanan 100 kotak nasi. Ibu mengerjakan pesanannya hanya di bantu kakak perempuan Ibu yang tinggal tidak jauh dari rumah kita. Hanya Budhe yang selalu mengerti kita. Beliau selalu menjadi sandaran Ibu karena beliau juga kakak satu satunya.


Setelah menyelesaikan pesanan, rencananya aku akan membantu Ibu untuk mengantarkan pesanannya tapi ternyata alamat yang ditujukan tidak memesan atas nama yang disebut kan. Dari alamat itupun menolak menerima pesanan kotak nasi itu, Ibu dibuat bingung dengan bagaimana harus membawanya, haruskah membawanya pulang? Tapi sebanyak itu akan mubazir. Walaupun pesanan itu sudah di bayar tapi tetap Ibu merasa di bohongi.


"Lebih baik kita bagikan ini ke masjid itu." ucap Ibuku. Kebetulan juga ada sedang ada beberapa jamaah masjid di sana.


Sebenarnya siapa yang memesannya, walau tidak di rugikan tetap saja Ibu merasa di bohongi. Pemesan bahkan bilang kalau telat dia tidak akan menerima pesanan itu. Ibu dan aku sudah tepat waktu tapi tetap saja itu hanya seseorang yang ingin membagi rejekinya tapi caranya salah. Bukankah harusnya lebih di arahkan misalnya di berikan kepada orang yang membutuhkan.


"Ini untuk pembelajaran kita, seharusnya kita harus teliti lagi." ucap Ibu.


"Untung banyak yang mau, kalau tidak sayang kalau harus membuang buang makanan." ucap Budhe ku.


"Iya, apa nomornya bisa di hubungi, Bu?" tanyaku.


"Tidak. Sepertinya Ibu di blok." jawab Ibu.


Bisa dibilang ini rejeki tapi juga cobaan, semua Ibuku lakukan dengan ikhlas. Mungkin Tuhan memiliki cara lain untuk membagi rejekinya kepada Ibuku yang sangat membutuhkan uang untuk biaya anak anaknya karena Ayahku saja tidak pernah memberikan nafkah setelah dia memiliki wanita lain.


Terdengar notif dari ponselku berbunyi. Aku segera melihatnya karena aku menunggu kabar seseorang, entahlah bagaimana perasaanku kepadanya yang pasti aku nyaman dengannya.


Tapi saat membuka pesan itu, bukan dari Dirga melainkan nomor tanpa nama. Aku mencoba mengingat siapa itu, dan pesanku langsung di balas tanpa menunggu lama. Itu adalah Arief, kenapa dia mengirimiku pesan. Apa dia lupa kalau Sari hanya meminjam nomor ponsel ku.


Tak lama dia pun menelepon ku.


Telepon:


"Ya, halo." ucapku.

__ADS_1


"Benar ini nomor Kanza?" ucapnya.


"Ya, ini Kanza, ada apa?"


"Aku-"


Belum juga melanjutkan ucapnya, ponselku tiba tiba mati karena memang aku belum sempat mengisi daya. Ada perasaan bersalah tapi bagaimana lagi, aku juga tidak sengaja melakukannya.


***


Tadi saat baru sampai kelas, aku melihat Sari yang sedang menangis di bangkunya. Sudah ada Apa Intan dan Puspa bersamanya.


"Ada apa? Kenapa dengannya?" tanyaku.


"Dia putus dengan pacarnya, dan baru tadi dia di putuskan melalui pesan singkat." ucap Puspa.


"Memang apa masalahnya?"


"Kau tahu bagaimana dia." ucap Intan. Ya, aku mengerti pasti karena Sari ketahuan bersama pria lain. Bukankah itu kesalahan Sari sendiri. Kalau dia fokus dengan satu teman laki lakinya pasti tidak akan seperti ini.


"Selamat pagi semua." ucap Menik yang baru datang bersama Nurry. Dia bahkan seperti berteriak mengucapkan selamat pagi, seisi kelas juga mantapnya tapi begitulah Menik.


"Ops, kenapa?" ucapnya saat melihat Sari yang sedang menangis.


Aku hanya mengela nafas pelan, dan berjalan duduk di samping Sari.


"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Sepulang sekolah kau bisa membicarakannya lagi dengannya jadi tenangkan dirimu."


"Bagaimana aku menjelaskannya kalau aku ketahuan bersalah." ucap Sari.


"Minta maaf saja. Mengakui kesalahan yang kau buat. Bukankah kau sangat mengerti sifat dia, jadi ikuti saja dulu."


Tetap saja, aku tidak bisa menyalahkan Sari walau dia memang bersalah. Dia akan bertambah sedih kalau aku menekannya dengan kesalahan yang dia buat. Setelah tenang, Sari kembali bersikap biasa. Tidak tahu lagi bagaimana dia dengan mudahnya bersikap seperti itu tapi melihat saat dia menangis tadi membuat semua khawatir kepadanya.


"Za, nanti Baim dan Dirga menjemput kita sepulang sekolah. Kita akan ke Parayang, kau ikut ya." ucap Nurry.


"Kenapa tiba tiba?" tanyaku.

__ADS_1


"Tidak. Dirga semalam mencoba menghubungimu tapi Dirga bilang ponselmu tidak bisa di hubungi."


"Ah iya, semalam ponselku mati."


"Mau ya? Nanti aku yang akan bicara dengan Ibu." ucap Nurry.


Aku mengangguk setuju dengan apa yang Nurry katakan. Kalau urusan kencan dengan Baim, teman yang lain tidak pernah ikut. Baim sendiri jarang mau di ajak kumpul bareng yang lain.


Dan sepulang sekolah, aku pulang lebih dulu untuk pamitan dan berganti baju. Kita membawa mobil Dirga untuk ke tempat tujuan kita.


Kalau Nurry yang ajak, Ibu pasti membolehkannya. Karena Ibu tahu Nurry dan mengenal bagaimana Nurry.


Saat perjalanan aku duduk di belakang bersama Nurry dan para lelaki di depan. Sesekali aku melihat Dirga dari kaca spion belakang yang ada di dekatnya. Entah hari ini dia terlihat begitu tampan menurutku. Dia mencuri perhatian ku sejak tadi menjemputku.


"Ada apa dengan kalian? Kalian seperti malu malu saja." ucap Nurry yang tahu aku sedang menatap Dirga.


"Kau mau kita berpindah posisi?" tanya Baim.


"Boleh juga." ucap Dirga. Dia kemudian menepikan mobilnya dan berpindah ke bangku belakang, Baim yang menggantikannya mengemudikan mobilnya. Mereka memang jago mengendarai mobil. Kata Baim, Dirga yang mengajarinya.


Setelah berpindah posisi, aku di buat terdiam dekat dengan Dirga. Rasanya tiba tiba gerah sekali padahal AC mobil sudah menyalah. Sebenarnya ada apa denganku? Kenapa aku jadi salah tingkah. Jantungku juga berdebar saat dekat dengan Dirga.


"Maaf beberapa hari ini aku tidak bisa menjemputmu. Aku ada pertandingan jadi aku harus fokus dengan pertandingan ku." jelas Dirga.


"Tidak apa apa." ucapku.


"Ada apa? Apa aku membuatmu tidak nyaman?" tanya Dirga.


"Tidak. Aku baik baik saja."


Tidak banyak yang kita bicarakan, karena aku sendiri juga bingung apa yang ingin aku bicarakan. Aku seperti membeku dekat Dirga. Tidak biasanya memang tapi ini yang kurasakan sekarang. Apalagi Dirga beberapa waktu ini sering membuatku nyaman dengan sikapnya. Walau hal kecil tapi dia tidak pernah berani lancang. Dia menghargai aku, itu yang aku suka dari Dirga.


Dia juga sering mengingatkan ku tentang apa yang baik dan buruk aku lakukan. Memang kita belum ada status tapi aku mulai merasa nyaman dengan adanya Dirga. Biarkan orang bilang kalau aku sudah melupakan janjiku akan tidak berpacaran sampai aku lulus, nyatanya aku merasa nyamab dengan Dirga dan entahlah, biar waktu yang menjawabnya. Aku pikir bersamanya aku akan aman, karena dia bermain sehat.


Sepertinya aku harus membiasakan untuk berpikir kalau tidak semua pria itu sama. Hanya karena masalah Ayah, harusnya ku tidak berpikir seperti itu. Karena memang setiap orang itu berbeda. Tidak semua pria suka melukai perempuan. Seperti Nurry, walau Baim sedikit kasar tapi ada sisi lembut di diri Baim. Karena sekeras apa Baim tapi dia tetap menghargai Nurry, mungkin mulutnya tajam tapi setelahnya dia pasti akan meminta maaf walaupun rasa sakit dengan apa yang dia katakan masih terasa. Tapi kembali lagi. Setiap orang memiliki pribadi masing masing.


Kalau aku tertutup dengan pribadi ku, mungkin aku harus sedikit membuka hati untuk seseorang, aku juga ingin seperti yang lain. Dan semoga aku bisa melalui nya. Mungkin dari teman sekitarku aku bisa lebih menikmati hidup. Biarpun aku korban dari orang tuaku tapi tetap saja aku tidak bisa sepenuhnya menyalahkan mereka, apalagi Ibuku. Beliau juga korban jadi saling memahami saja walau terasa sangat sakit.

__ADS_1


__ADS_2