Memilih Menikah Muda

Memilih Menikah Muda
06. Ulah Sang Ayah


__ADS_3

Akhirnya aku sampai di tempat wisata yang kita tuju,


Langit masih terang saat kita sampai di sana. Cuacanya juga cerah, setelah memarkirkan mobil, kita segera keluar dan berjalan ke tempat biasa untuk melakukan paralayang. Pemandangan terlihat sangat indah, udaranya juga segar. Jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Terlihat dari bukti paralayang, kota terpapang indah dari kejauhan. Sebenarnya akan lebih indah saat malam hari, akan terlihat lampu lampu kota yang menyalah, menyuguhkan pemadangan kota di malam dari bukti paralayang.


Aku terfokus dengan beberapa orang yang sedang bersiap untuk melakukan paralayang. Mereka terlihat sangat ahli dengan yang mereka lakukan. Tanpa sadar Dirga sudah di sampingku sambil membawakan sebotol minuman instan yang dia beli tadi sebelum sampai paralayang.


"Terima kasih." ucapku.


"Apa kamu suka pemandangnya?" tanya Dirga, dia menjawab ucapan ku dengan tersenyum manis.


"Ya, aku suka. Disini juga sangat tenang." jawabku.


"Za, ayo kita ambil foto di sebelah sana. Sebelum gelap." ajak Nurry, dia sudah memegang kamera yang memang dia bawa.


Aku segera menghampiri Nurry dan mengambil beberapa foto dengannya, sebelum gelap kita memanfaatkan mengambil beberapa foto dia spot yang ada di sana.


Sesekali aku melihat Dirga yang sejak tadi menatapku. Sesekali dia tersenyum saat tatapan kita bertemu.


Dan waktu yang di tunggu akhirnya datang, matahari berganti cahaya rembulan. Terlihat sangat indah pemandangan di puncak paralayang walaupun sedikit dingin tapi tidak kalah dengan keindahan kota di malam hari. Sambil menunggu malam kita menikmati waktu dengan berbincang dan melihat suasana di sana.


"Pakailah." Dirga memberikan jaket miliknya kepadaku. Bodohnya aku tadi hanya menggunakan baju lengan panjang yang tidak begitu tebal.


"Lalu kamu?" tanyaku.


"Sudah pakai saja." Dirga kemudian memasang kan jaket miliknya kepadaku. Membuatku membeku dengan apa yang Dirga lakukan. Mata ku terus menatapnya, entah pipiku mungkin sudah merah karena malu.


"Maaf." ucap Dirga sambil tersenyum.


"Iya." ucapku malu.


Kita berdua duduk sambil menatap pemandangan kota dari puncak bukti Paralayang. Nurry dan Baim entah kemana mereka pergi.

__ADS_1


Dirga duduk tepat di sampingku. Dia terlihat kedinginan karena jaketnya di berikan kepadaku.


"Aku rasa kamu kedinginan, sebaiknya pakai jaketmu ini." ucapku. Saat aku akan melepaskan jaket milik Dirga, dia memegang lengan ku sambil menggelengkan kepala pelan, isyarat kalau aku tidak perlu membuka jaketnya.


"Begini lebih baik bukan." satu tangan Dirga memegang tanganku lalu memasukkan ke saku jaket yang aku kenakan.


Cuacanya memang dingin tapi aku merasa gerah dengan apa yang Dirga lakukan. Tanganku seketika berkeringat karena gugup dengan genggaman Dirga.


"Tidak apa apa kan? Seperti ini jauh lebih nyaman. Maaf sebelumnya." ucap Dirga.


Aku hanya mengangguk menjawab apa yang Dirga katakan. Setelah kita menikmati suasana di sana berdua dengan berbincang. Dirga sosok pria yang berbeda yang pernah aku kenal. Tapi perasaan ini, apa ini namanya cinta? Kenyamanan yang aku rasakan saat dekat Dirga membuatku tenggelam dalam khayalanku sendiri.


Dirasa sudah terlalu malam, kita berencana untuk pulang. Aku bahkan lupa kalau hari ini itu malam minggu, itu yang membuat kawasan wisata seperti ini banyak pengunjungnya walau hari semakin malam, tapi tetap saja kita harus pulang karena sudah pukul 9 malam.


Nurry dan Baim sejak tadi asyik sendiri, mereka berdua tidak mau mengganggu kita berdua kata Nurry.


Sesampainya di rumah, saat aku baru masuk dan membuka pintu rumah. Aku segera membersihkan diri, karena Ibu sudah tidur dan Rio sedang asyik menonton tv, aku memilih pergi ke kamar. Aku mengingat ingat apa yang Dirga lakukan tadi kepadaku. Sungguh membuat senyum mengembang begitu saja saat mengingat apa yang Dirga lakukan. Hanya hal sepele memang tapi aku sangat senang.


Minggu pagi, aku lakukan kegiatanku dengan membersihkan kamarku. Karena hari ini Ibu juga ada acara dengan Budhe ku jadi aku di rumah bersama Rio. Lebih tepatnya, aku di rumah sendiri karena Rio sudah bermain bersama teman sekampung.


Mau keluar juga malas, jadi aku memilih untuk tidur setelah menyelesaikan pekerjaan rumahku.


Tapi saat akan bersantai, aku mendengar seseorang membuka pintu depan rumahku. Kalau itu Ibu tidak mungkin karena Ibu bilang akan pulang sore, Rio juga tidak mungkin karena dia sedang asyik bermain PS di rumah temannya. Aku mencoba mengintip dari jendela kamarku yang memang posisi kamarku ada di depan. Terlihat itu Ayah, sudah beberapa hari dia tidak pulang, dan sekarang dia pulang tapi dengan kondisi mabuk.


Karena aku malas bertemu dengannya, aku tetap berada di kamar. Untung saja tadi pintu kamar sempat aku kunci, jadi Ayah tidak bisa masuk. Ada rasa takut saat melihat Ayah pulang dengan kondisi mabuk. Apalagi aku sendiri di rumah. Terdengar Ayah berjalan ke kamarnya dengan memanggil Ibu, dia juga seperti menjatuhkan gelas yang memang tadi aku belum sempat pindahkan ke tempat cuci piring, Ayah juga terus bicara yang tidak tidak, dia bahkan mengatai Ibu yang tak kunjung datang saat dia memanggilnya, beberapa saat tidak ada suara lagi darinya.


Aku mencoba menghubungi Nurry tapi tidak di angkat, aku bahkan mengirimkan pesan untuknya kalau Ayahku sedang mabuk dan aku di rumah sendirian. Mungkin Nurry masih tidur karena itu rutinitasnya di hari minggu.


"Buka-"


"Cepat Buka""

__ADS_1


"Kanza, cepat buka. Apa kau juga tuli, ha!Kenapa tidak ada yang menjawabku." ucap Ayah dari depan kamarku sambil memukul pintu kamarku. Aku pikir Ayah tidak tahu kalau aku sedang di rumah.


Aku bingung dan takut, aku tidak bisa keluar dari kamarku kalau Ayahku terus di depan pintu kamarku. Saat mencoba menghubungi Kakakku, ponsel ku yang sengaja ku mode getar sebelumnya bergetar tanda panggilan masuk. Terlihat itu dari Dirga, inginku menjawabnya tapi aku takut. Setelah Dirga mematikan sambungan teleponnya, aku mencoba memberanikan diri untuk mengirim pesan ke Dirga.


"Bisa tolong aku. Tolong, datanglah kesini. Aku terkunci di kamar. Ayahku sedang mabuk berat dan aku sendirian di rumah. Maaf aku tidak bisa menjawab telepon mu. Aku takut kalau Ayah tahu aku di rumah."


Aku segera mengirimkan pesan kepada Dirga, dan dengan cepat Dirga membalas pesan ku.


"Aku akan kesana, tunggu di sana jangan kemana mana."


Aku mengiyakan perintah Dirga, aku hanya takut kalau Ayah akan melukaiku. Tetangga tidak akan peduli dengan apa yang terjadi di keluargaku karena menurut mereka keluarga ku memang biang rusuh di kampung. Padahal itu juga karena Ayahku.


Sekitar 15 menit, Dirga datang tapi dia tidak langsung ke rumah ku. Dia meminta tolong ke tetangga ku tapi mereka bilang tidak mau ikut campur urusan keluargaku karena Ayahku. Akhirnya Dirga memilih meminta tolong kepada saudaraku yang tidak sengaja dia temui saat akan ke rumah ku.


"Ada apa kau kesini? Tidak ada siapa-siapa dirumah. Sudah sana pergi." ucap Ayahku. Mengusir pamanku.


"Aku hanya ingin membantumu ke kamar." ucap pamanku.


"Tidak. Pergi sana dari rumahku." ucap Ayah, paman bahkan di dorong oleh Ayah untuk tidak membantunya.


Aku tetap menunggunya di dalam kamar, aku benar benar takut untuk keluar saat Ayahku sedang mabuk berat. Aku mencoba untuk berani tapi tetap aku takut, aku hanya bisa menangis menunggu di dalam kamar.


Setelah beberapa saat di bujuk, Ayahku akhirnya mau masuk ke kamarnya. Dan aku bisa keluar kamarku dengan aman. Aku memang sengaja tidak menghubungi keluarga ku ataupun Ibuku. Aku tidak ingin melihat Ibu bertengkar dengan Ayah lagi. Mau tidak mau, aku memilih keluar rumah. Dirga yang sengaja menunggu di depan rumah kemudian membawaku pergi setelah berpamitan dengan paman ku.


Di perjalanan aku menangis di punggung Dirga, aku menutupi wajahku ke punggung Dirga. Membuat baju Dirga basah karena air mataku. Ini pertama kalinya Dirga tahu bagaimana kondisi keluarga ku. Meskipun begitu, Dirga tidak bertanya tentang Ayahku yang mabuk berat. Dia hanya mengkhawatirkan diriku. Dirga mengajakku ke sebuah tempat sebelum mengantarkan ku ke tempat Nurry. Dia ingin aku tenang sebelum ke tempat Nurry. Dia benar benar tidak mengatakan apapun, dia memberiku waktu untuk menangis. Sesekali dia akan menghapus air mataku tanpa bertanya. Itu cukup untukku, karena saat ini aku merasa malu Dirga tahu kondisi keluarga ku.


"Apa merasa lebih baik?" tanya Dirga.


"Ya, aku lebih baik sekarang. Maafkan aku sebelumnya." jawabku.


"Sudah jangan di pikirkan, yang penting kamu baik-baik saja. Tenangkan dirimu dulu baru kita ke tempat Nurry. Hemmm?!" ucapan Dirga sungguh membuatku tenang. Dia seperti pelindungku saat ini.

__ADS_1


__ADS_2