
Hari ini rencananya aku dan Nurry ingin mengikuti Ayahku bertemu dengan selingkuhannya itu. Tanpa sepengetahuan Ibu juga, karena Ibu selalu melarangku saat aku ingin mendatangi selingkuhan Ayahku. Padahal aku hanya ingin memastikan kalau apa yang salah satu saudaraku katakan itu tidak benar, kalau Ayahku memiliki wanita lain. Dan tentang pria yang mencarinya, dia datang lagi untuk mencari Ayahku. Dia memberiku beberapa bukti foto kalau Ayahku sedang bersama Istrinya. Itu membuatku hancur saat melihat bukti yang pria paruh baya itu tunjukkan kepadaku.
Aku mendatangi tempat kerja Ayahku, dan melihat Ayahku dari jauh. Tidak jauh memang tempat kerja Ayahku dengan rumah tapi aku tetap ingin mengikutinya hari ini. Sekitar beberapa jam, aku melihat Ayahku keluar dari tempatnya bekerja. Dia berjalan ke arah sebuah mobil yang tak jauh dari tempatku. Ayahku kemudian masuk ke mobil itu.
"Kita berangkat sekarang." ucapku kepada Nurry.
Kita menggunakan motor Nurry untuk mengikuti mobil itu. Sampai mobil itu berhenti di sebuah rumah besar. Saat pintu mobil itu terbuka terlihat Ayahku keluar lebih dulu dari bangku penumpang, di ikuti seorang wanita yang tidak begitu jelas siapa dia tapi terlihat mereka saling kenal, Ayahku bahkan menggandeng tangannya saat wanita itu keluar dari mobil.
Aku dan Nurry masih melihat dari kejauhan, ada perasaan takut saat ini tapi aku juga ingin tahu siapa selingkuhan Ayahku. Setelah Ayahku dan wanita itu masuk ke rumah itu, aku dan Nurry berjalan ke arah mobil itu tadi yang kebetulan supir mobil itu masih di sana.
"Maaf, Pak." ucap Nurry kepada sang supir.
"Iya." jawab bapak itu.
"Boleh saya bertanya." tanyaku, dengan rasa takut dan ingin tahu, aku memberanikan diri untuk bertanya.
"Ya, silakan." jawabnya.
"Apa mereka suami istri?" tanyaku sedikit gugup. Jantungku sudah berdetak kencang karena takut.
"Anda siapa?" tanyanya.
"Bukan siapa-siapa, hanya ingin tahu saja." elak ku. Aku tidak ingin mengatakan identitas ku.
"Maaf saya tidak berani menjawabnya, itu bukan hak saya." jawab supir itu.
"Atau saya bisa memanggilkan bos saya, dan anda bisa bertanya langsung." lanjutnya.
"Tidak perlu, Pak." ucapku.
"Sebaiknya memang kita bertemu dengan Ayahmu itu." ucap Nurry yang ikut penasaran siapa wanita itu.
"Apa anda putri, Tuan Agus?" tanya supir itu.
"Ahh tidak, saya permisi. Maafkan saya." ucapku. Aku mengajak Nurry untuk segera pergi. Entah kenapa, aku seperti tidak berani saat akan bertemu dengan Ayahku dengan selingkuhannya itu. Aku masih tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Aku mundur kali ini karena aku masih tidak yakin padahal aku sudah sangat yakin sebelumnya.
Aku dan Nurry kemudian sampai di rumah, tidak banyak obrolan antara kita. Sebelum sampai rumah Nurry sudah memarahiku karena aku memilih mundur dan tidak menemui Ayahku. Tapi aku masih tidak percaya, sosok cinta pertamaku dengan jelas pulang ke rumah selingkuhannya. Dan itu wanita yang berbeda saat aku tidak sengaja bertemu dengan Ayahku saat bersama Nurry waktu itu.
Apakah Ayahku seorang maniak, yang suka berganti ganti pasangan? Entahlah, pikiranku terus menghantuiku. Aku juga tidak ingin Ibuku tahu kalau aku baru melihat Ayahku dengan selingkuhannya.
"Ayo makan dulu, Ibu sudah siapkan makan untuk kalian berdua." ucap Ibuku yang tiba tiba masuk kamar dan membuyarkan lamunanku.
"Nurry, Ibu masak makanan kesukaanmu nak." ucap Ibu lagi.
"Benarkah bu? Baiklah. Nurry akan menghabiskan nasi di magicom Ibu." ucapnya antusias, dia selalu bersikap seperti itu kepada Ibuku tapi aku tidak cemburu karena dia juga sahabatku.
"Za, apa kau tidak lapar? Ayo." ajak Nurry saat aku masih di posisi yang sama.
__ADS_1
"Ayo kataku." Nurry menarik lenganku dan membawaku keluar kamar.
Di meja makan aku masih banyak diam, Nurry dan Rio sedang bercanda. Mereka seperti kucing dan tikus, selalu saja bertengkar. Tapi itu hanya candaan mereka saja, mereka tidak bertengkar sampai harus tidak tegur sapa. Dan Ibu sudah biasa dengan itu sejak mengenal Nurry.
"Ada apa nak? Apa kamu tidak suka dengan masakan Ibu?" tanya Ibu, saat melihatku melamun.
"Ah tidak kok, Bu."
"Lalu kenapa sejak tadi Ibu lihat, kamu hanya memainkan makananmu."
"Tidak apa apa kok, Bu, hanya Kanza belum begitu lapar."
"Apa sesuatu menggangu pikiranmu nak?"
"Tidak." ucapku. Aku tidak ingin Ibuku tahu tentang aku melihat Ayahku dengan wanita lain yang berbeda lagi.
Setelah makan, Nurry berpamitan pulang dan tinggal lah aku sendiri di kamar. Aku mulai menyalahkan musik melalui ponselku dan menuliskan apa yang sedang aku pikirkan sekarang, bisa di bilang mengisi diary walau tidak setiap hari aku mengisinya karena memang bukan hobiku menulis seperti itu.
Aku tuangkan rasa kecewaku kedalam secarik kertas, tak terasa air mata juga mengalir begitu aku mengingat bagaimana sikap Ayahku sebelumnya. Bayangan demi bayangan teringat saat dimana masih menjadi Ayahku sosok seorang Ayah yang penyayang, sabar, humoris dan pastinya dia adalah cinta pertamaku. Dulu aku sangat dimanja karena akulah anak perempuan satanya. Ayah sering mengajakku bermain bahkan pada saat itu keluarga ku terlihat sangat bahagia, berbeda seperti sekarang ini.
Seperti tertancap duri di kakiku, saat aku mencabutnya bukan sembuh malah luka itu semakin banyak mengeluarkan darah rasanya sangat sakit. Ingin sekali rasanya hilang dari dunia ini agar apa yang aku rasakan saat ini tidak terasa kembali.
Tuhan seperti sedang mengujiku saat aku sangat membutuhkan Ayahku, sosok yang selalu membuatku tenang sekarang pergi. Entah setan apa yang telah merasukinya hingga dia lupa dengan keluargannya.
Tak terasa air mata jatuh membasahi kertas yang berisi tulisan tanganku itu. Dengan musik melow, aku terbawa suasana dan membuatku menangis semakin menjadi. Tapi aku sudah mengunci pintu kamarku, aku tidak ingin Ibuku tahu kalau aku sedang menangis seperti sekarang ini. Beliau sudah merasa luka di hatinya, jadi aku tidak ingin membuat luka itu semakin dalam saat, Ibu tahu kalau aku menangis.
Hal yang biasa aku lakukan setelah menangis adalah tidur, aku tertidur setelah menangis lama. Dan tidak ingat lagi apa yang terjadi.
Keesokan paginya.
Saat aku sedang menikmati sarapan, Ayahku pulang. Tidak ada sapaan dari mulutnya. Dia hanya berjalan masuk ke kamar dan tak lama keluar. Rio dan Ibu juga tidak menyapanya. Karena mereka tidak ingin setiap kali bicara pasti Ayah akan balik memarahi mereka.
Akupun mencoba tidak peduli, saat aku sangat ingin bertanya siapa yang bersamanya kemarin. Aku menahan diri untuk Ibu. Dan memang aneh, setiap seminggu atau bahkan beberapa hari sekali Ayah akan pulang. Tapi dia tidak mengatakan apa apa. Hanya pulang sebentar dan pergi, Ibu saja tidak pernah lagi mendapatkan belanja bulanan dari Ayah, entah di kemana kan gaji Ayah, Ibu sudah tidak peduli lagi. Sebenarnya Ibu hanya ingin kepastian tapi setiap Ibu mencoba bicara tentang kepastian, Ayah akan marah dan menolaknya. Egois memang, saat Ibuku hanya butuh kepastian tapi Ayah malah seenaknya sendiri bersikap seperti itu kepada Ibu.
"Kanza-" panggil seseorang yang sangat aku kenal. Sepertinya dia sengaja menungguku tak jauh dari rumah.
"Bisa Ayah mengantarmu?" itu Ayahku, tidak tahu kenapa tiba tiba dia mencegatku saat aku akan menaiki angkot pergi ke sekolah.
"Ayolah, Nak." bujuknya.
Tanpa menjawab aku berjalan ke arah motor Ayahku. Dan segera naik dan tak lama Ayahku melajukan motornya.
"Apa sekolahmu berjalan baik?" tanyanya, saat perjalanan menuju sekolah.
"Ya." jawabku singkat.
"Syukurlah." ucapnya.
__ADS_1
"Ada apa Ayah seperti ini. Tidak biasanya. Katakan saja." aku tahu, Ayahku pasti memiliki niat mengantarkanku ke sekolah. Aku yakin ada yang ingin dia katakan.
"Apa kau mengikuti Ayah kemarin?" ucapnya.
Dan benar, ini tentang kemarin aku yang mengikuti dia bersama dengan wanitanya.
"Kalau kau butuh sesuatu, telepon Ayah saja. Jangan pergi menemui Ayah seperti itu."
"Kenapa? Apa Ayah malu?" tanyaku. Aku mulai kesal dengan apa yang Ayahku katakan tapi aku tetap berusaha tenang.
"Bukan begitu. Ayah-"
"Sudahlah, turunkan aku disini. Aku bisa berangkat sendiri." ucapku. Walau mencoba tenang, tetap saja rasanya sakit.
"Biar Ayah yang mengantarkan mu saja nak."
"Turunkan aku atau aku harus berteriak." ancamku.
Ayah menghentikan motornya, dan aku segera turun dari motor Ayah.
"Nak." panggilnya.
"Kenapa kau marah kepada Ayah. Ayah hanya bertanya. Tunggu, Nak."
"Dengar kan Ayah, tolong." ucapnya lagi.
"Cukup. Aku bahkan malu menyebutmu dengan sebutan Ayah, saat sikapmu seperti ini. Aku hilang rasa hormatku kepadamu." ucapku.
"Maafkan, Ayah, Nak."
"Apa maaf yang Ayah katakan itu tulus?" ucapku.
"Ya, Ayah tulus mengatakannya."
"Kalau begitu, Ayah bisa bersikap seperti dulu lagi? Seperti Ayahku yang dulu lagi, meninggalkan wanita ****** itu."
"Jaga bicaramu, Ayah tidak pernah mengajarkanmu bicara seperti itu. Apa Ibumu yang mengajarimu bicara seperti itu." ucapnya.
"Ibumu itu memang tidak bisa menjaga ucapannya, dia juga sulit diatur, dia bahkan bersikap sesuka hatinya." ucapnya lagi. Ayah terus berbicara yang tidak tidak tentang Ibu.
Aku tersenyum sinis mendengar perkataannya, Ayah malah menyalahkan Ibu saat kelakuannya sendiri itu benar benar busuk. Apa itu yang dinamakan permintaan maaf yang tulus.
Aku memilih berjalan menjauhinya dan mencoba menghentikan mobil angkot.
Tapi Ayah tidak mengejar ku, dia bahkan tidak lagi menghentikanku. Dan dia bilang minta maaf dengan tulus? Aku hampir luluh dengan ucapannya. Aku memang belum bisa sepenuhnya percaya dengan apa yang Ayahku lakukan.
Di dalam mobil angkot, aku menahan untuk tidak menangis. Karena banyak penumpang saat itu. Sesampainya di sekolah, aku segera kekamar mandi sekolah dan menangis di sana. Aku menyalahkan diriku yang masih mengharapkan Ayahku berubah dan menjadi seperti dulu.
__ADS_1
Aku terus menangis di kamar mandi, aku tidak ingin orang tahu kalau aku sedang bersedih seperti sekarang ini tapi tetap saja akan ada bekas setelah menangis. Tapi yang aku pikirkan aku harus tenang sekarang, aku tidak bisa seperti ini saat di sekolah. Aku harus ingat pean Ibu, pendidikan nomor 1 untuk anak anaknya.
🥰