Memilih Menikah Muda

Memilih Menikah Muda
04. Komenan Orang Lain


__ADS_3

Sejak kejadian itu, aku belum melihat Ayahku pulang. Ada kelegaan saat Ayahku tidak pulang, karena tidak akan ada ucapan kasar yang aku dengar kepada Ibu.


Hariku tetap sama, rutinitasku menjadi seorang pelajar. Memang masa abu abu itu sangatlah mengasyikkan. Kita hanya memikirkan kesenangan dan hiburan, aku juga bisa melupakan masalah rumahku saat bersama yang lain.


Karena hari ini sekolah pulang lebih cepat, aku menyempatkan datang ke rumah Menik. Kalau ke rumah Menik, biasanya kita akan membawa pacar dan kali ini tidak ada yang aku ajak. Nurry juga tidak bersama Baim, dia ada urusan dengan Ibunya jadi dia pulang lebih dulu.


Aku memilih ikut berkumpul yang lain karena di rumah hanya akan mengingatkan luka hatiku kepada Ayah.


"Za, sini." ucap Puspa.


"Sudah lanjutkan saja. Aku harus menyelesaikan tugasku." jawabku.


"Aku juga belum sempat mengerjakannya, nanti saja. Sekarang kita nikmati waktu kita." ucap Puspa lagi.


"Apa, Sari menghubungi kalian?" tanya Menik.


"Tidak. Memangnya kenapa?" jawab Intan.


"Dia bilang keluar sebentar tapi sampai sekarang belum juga datang."


"Apa kau merindukan ku, Menik ku sayang." ucap Sari yang baru masuk. Terlihat dia tidak sendiri, ada seseorang bersamanya tapi itu bukan pacar Sari sebelumnya.


"Kau itu-"


"Sudah jangan berisik. Bukankah aku sudah datang. Bisa kita mulai acara bikin rujaknya." kita memang senang sekali saat berkumpul bikin rujak manis. Sekedar untuk membuat camilan saja.


"Siapa itu?" tanya Intan.


"Ah ya, aku hampir melupakannya. Ini Arief." ucap Sari kemudian tersenyum malu.


"Kau sudah ganti lagi?" goda Menik.


"Apa sih, bisa kita mulai kupas buahnya." Sari mencoba menggelak.


Dan acara bikin rujak manis pun dimulai. Aku yang mendapat bagian bikin bumbunya karena yang lain sibuk dengan pasangan mereka masing masing. Tapi tidak dengan Arief, dia ada di sampingku, membantuku yang sedang mengulek bumbu.


"Aku tadi belum mengenalmu. Siapa namamu?" tanya Arief kepadaku.


"Aku, Kanza."


"Oh Kanza, senang berkenalan denganmu." ucapnya, aku hanya membalasnya dengan senyuman.


"Apa yang kalian bicarakan, sepertinya serius sekali." ucap Puspa.

__ADS_1


"Tidak ada. Dia hanya membantu ku." jawabku.


"Benarkah? Ingat Za, bukankah kau sudah memiliki Dirga?" goda Puspa.


"Apa sih. Dia bukan siapa siapaku, jangan ngacau. Lagian kenapa kau bicara seperti itu, memangnya aku tampang pelakor apa?"


"Ada apa?" tanya Sari yang dari tadi sibuk dengan ponselnya.


"Tidak ada, hanya bercanda saja." ucap Puspa.


Arief menatapku, dia terlihat tersenyum kepadaku. Entah apa maksud senyumannya itu tapi dia terlihat sangat manis dengan senyumnya itu.


"Sudah selesai?" tanya Menik.


"Sudah." jawabku.


Aku kembali tidak sengaja melihat Arief saat dirinya juga menatapku. Tapi bukankah Sari memiliki pacar, dan siapa Arief? Kenapa dia mengajak Arief datang. Apa Sari berselingkuh? Tapi saat melihat interaksi mereka berdua, seperti ada rasa dari tatapan Sari.


Dan kita menghabiskan waktu sampai sore, padahal kita hanya berkumpul biasa tanpa membicarakan yang penting tapi tetap saja kurang kalau sedang bersama mereka, sayangnya Nurry tidak ikut gabung hari ini jadi tetap ada yang kurang.


***


Aku memang tidak begitu aktif di sekolah, karena aku anaknya paling males kalau urusan kurikuler. Yang penting akademik ku bagus itu cukup untukku. Tapi karena masalah keluarga ku setelah SMK prestasi ku melorot drastis. Aku tidak pernah juara lagi, kadang aku juga ketinggalan pelajaran karena terlalu memikirkan urusan keluarga. Bagaimana aku bisa mengabulkan permintaan Ibu kalau aku saja seperti ini.


Di pesan, Dirga bilang tidak bisa menjemput ku seperti biasanya karena dia harus berangkat lebih pagi karena ada kegiatan di sekolahnya. Ada rasa sedih tapi aku juga tidak bisa memaksanya karena dia juga punya kesibukan sendiri dan aku juga bukan siapa siapa kenapa perasaanku seperti ini. Entahlah.


Aku memilih tidur, daripada terus memikirkan Dirga yang tak jelas.


Sesaat aku teringat beberapa hari lalu saat dia menjemput ku, waktu itu hari sedang hujan tapi dia tetap menungguku seperti biasa. Aku dibuat terkejut dengan Dirga yang sudah menungguku sambil berteduh. Ada rasa bersalah tapi itu juga kemauan Dirga sendiri, aku tidak menyuruhnya untuk menjemput ku setiap hari. Tega? Ya, aku begitu tega dengannya tapi dia tetap saja menjemput ku untuk mengantarkan ku sekolah. Dia tidak banyak ingin tahu tentang keluargaku bukan karena apa, pernah dia menanyakan tapi respon yang aku berikan tidak baik, sejak itu Dirga tidak pernah membahasnya. Sebenarnya dia itu baik tapi aku tidak memiliki perasaan apapun kepadanya tapi anehnya sekarang saat Dirga bilang tidak bisa menjemput ku aku merasa kecewa. Perasaan ini sungguh membuatku bingung.


***


"Selamat pagi, Bu."


"Pagi, Nak, oh ya nanti Ibu akan ada acara dengan bu RT jadi akan pulang larut." ucap Ibuku.


"Memang ada apa?" tanyaku.


"Membantu masak saja, lumayan bisa buat bayar iuran SPP adikmu."


"Bu, apa aku berhenti sekolah saja dan bekerja."


"Tidak. Ibu mau kamu fokus dengan pendidikan mu. Tentang biaya biar orang tua yang menanggungnya. Itu sudah jadi kewajiban Ibu sebagai orang tua dan kamu sebagai anak tugasnya belajar."

__ADS_1


"Tapi bu-" ucapku. Ibu hanya tersenyum ke arahku.


"Oh ya, kenapa kamu tidak pernah mengajak anak laki laki yang setiap hari menjemputmu itu ke rumah."


"Siapa? Dirga?" tanyaku.


"Tidak ah. Malu. Nanti apa kata orang."


"Walau sama saja, apa yang aku lakukan selalu menjadi sorotan orang sini."


"Tidak apa apa. Kita tidak melakukan kesalahan jadi tidak perlu mendengarkan ucapan orang lain." ucap Ibu. Dia selalu bersikap masa bodoh walau banyak orang meremehkan keluarga kita. Pikirnya, dia tidak pernah merepotkan orang lain jadi biarkan orang lain berkata apa.


Setelah sarapan aku berjalan ke arah tempatku biasa naik angkot, di depan gang aku menoleh ke arah dimana Dirga biasa menungguku. Hari ini dia benar tidak menjemput ku.


"Apa ini? Kenapa denganku? Fokus, Za. Fokus." ucapku.


Aku melangkahkan kakiku lebih cepat saat ada mobil angkot berhenti tak jauh dari tempatku. Di dalam mobil aku biasa baca buku pelajaran yang belum aku mengerti, tidak biasa memang tapi otak ini sedang bisa bekerja sama. Biasanya isi otak ini hanya ada Ayah dan Ayah


***


Pelajaran jam kedua baru selesai, dan sekarang waktunya untuk istirahat. Karena masih merasa kenyang. Aku hanya diam di kelas, tidak ada niatan untuk pergi dengan yang lain. Aku mencoba mengaktifkan ponselku yang sengaja aku matikan sejak pelajaran pertama tadi.


Saat baru menyalah, beberapa pesan masuk. Aku segera melihat itu. Dan saat aku membuka kotak masuk, aku tertuju dengan nomor yang sangat aku kenal. Hatiku langsung berdebar saat melihat nomor Ayahku tertulis di sana. Tapi aku tidak berniat untuk membukanya, aku takut akan membuatku sedih dengan apa yang akan aku baca. Aku lebih memilih membuka pesan lain yang kebetulan itu dari Dirga. Lagi lagi dia menanyakan apa yang sedang aku lakukan. Kalau terus seperti ini, aku akan semakin bingung dengan perasaanku. Karena saat ini menurut ku laki-laki itu sama, bisa dibilang aku takut untuk menyukai seseorang.


Aku memilih untuk tidak membalasnya, walau aku sudah membacanya. Aku hanya takut apa yang aku rasakan ini salah. Kenyamanan yang Dirga berikan membuatku terbuai. Tidak, aku tidak ingin hal itu. Aku tidak ingin sakit hati karena seorang yang disebut laki laki.


Apa ini yang dinamakan aku takut dengan laki laki? Tapi aku juga ingin seperti yang lain yang selalu bersama pacarnya, mereka bahkan bisa terbuka dengan masalah mereka kepada pacarnya.


"Za, ini dari Dirga." ucap Nurry. Dia memberiku sekotak susu stroberi dan roti.


"Dirga? Bagaimana bisa?" tanyaku.


"Ini dia mengirim pesan kepadaku dan menyuruhku membelikan ini untukmu." ucap Nurry.


Terlihat, pesan yang Dirga tulis memang untukku karena aku tidak membalas pesannya.


"Kalau kau tidak menerimanya, dia tidak akan menggantikan uangku ini. Cepat terima. Dan balas pesannya." ucap Nurry.


"Cepat." ucapnya lagi saat aku masih dengan pikiranku sendiri. Dirga benar benar penuh kejutan. Sepertinya dia, pria yang romantis.


Entah kenapa, aku tersenyum begitu menerima susu dan roti itu, memang hanya hal kecil tapi sukses membuat ku tersenyum karena apa yang dilakukan. Ini semakin membuat ku bingung dengan perasaan ku.


😊

__ADS_1


__ADS_2