Memori dalam Api

Memori dalam Api
Si Putri Es


__ADS_3

“Lo liat deh,, Iiihhh jijik banget


gue ngeliatnya.”


“Heeh,,,, kok bisa ya dia pede-pede


aja kaya gitu.”


“Udah jelek, culun, idup lagi..”


“Eh,, katanya dia preman lho waktu


SMP dulu.”


“Amit-amit,, jangan sampe gue deket


deket ama dia!”


Dan masih banyak lagi bisik-bisik anak-anak


kelas 2 SMA Perdana yang sebenarnya kurang sreg kalau dibilang bisikan, karena


kata-kata mereka terdengar dengan jelas dan sampai pada si objek yang


digosipkan itu.


Sedangkan yang jadi objek gossip itu


cuek bebek. Ia sama sekali tidak peduli dengan omongan-omongan mereka. Toh


semua itu tidak benar. Dengan santainya dia berjalan melewati koridor lantai 2


menuju kelasnya sambil menenteng beberapa buku yang cukup tebal. Jam pelajaran


terakhir hari ini kosong, karena guru mereka sedang sakit. Jadi dia


menghabiskan waktu dengan membaca di perpustakaan. Sebelum kembali ke kelas, ia


meminjam beberapa novel untuk dibaca di rumah. Dan saat ini dia hanya akan


mengambil tasnya di kelas dan langsung pulang. Gadis itu sudah tidak sabar


untuk membaca novel itu di rumah sambil minum teh.


Saat


tiba di kelasnya, Gadis itu hanya bisa mendesah pasrah


melihat tasnya sudah tidak ada di tempatnya. Seakan sudah bisa menebaknya, ia


berjalan ke belakang kelas dan melihat tasnya tergeletak begitu saja di dalam


tong sampah dengan buku yang berceceran. Tanpa banyak mengeluh, ia membereskan


semua bukunya dan memasukkannya kembali ke dalam tas. Dia segera keluar kelas


dan menuruni tangga ketika ia mendengar suara teriakan.


“Heh!! Berhenti Lo!!”


Gadis itu menengok ke asal suara


dan mengernyit. Sial! Dia lagi. Sepertinya ia tidak akan bisa pulang cepat. Gadis


itu hanya berdiri menunggu orang yang berteriak padanya menghampirinya. Ia berjalan


diiringi dua ‘pengawal’nya dengan angkuh.


“Mau kemana lo?” Tanya si cewek


yang kelihatan dari tingkah lakunya, adalah pemimpin dari genk itu.


“Pulang.” Jawab gadis itu pendek.


“Gak boleh.” Kata si pemimpin genk,


“Lo gak boleh pulang. Bersihin dulu kelas kita! Sapu terus pel yang bersih!


Habis itu lap kacanya!”


“Tidak mau.” Kata gadis itu lagi.


Pandangannya dingin dan menatap tajam mata mereka bertiga. Tidak ada rasa takut


di tatapannya. Ia hanya diam di tempatnya dan berdiri dengan tenang.


“Eeh,, berani ngelawan dia.” Sahut


cewek centil yang berdiri di sebelah kanan si ketua genk.


“Kayaknya dia perlu diberi


pelajaran, biar kapok.” Sambung cewek di sebelah kirinya.


Gadis itu tetap bergeming. Ia sudah


bosan meladeni tingkah angkuh ketiga orang ini. Siapa yang tak kenal “The


Angels”, genk yang paling terkenal di sekolahnya. Mereka bertiga sangat cantik


dan kaya. Tania, si ketua genk, adalah anak tunggal dari direktur perusahaan mobil


merek ternama.


Sedangkan cewek centil yang berdiri


di sebelah kanan Tania sekarang bernama Sandy. Ia sudah sering muncul di


majalah-majalah remaja sebagai model. Seperti Tania, ia juga putri tunggal dari


direktur perusahaan besar di Indonesia. Wajahnya tidak kalah cantik dari Tania.


Kelompok terakhir dari genk itu


adalah Tamara. Ia sangat cantik walau tidak secantik kedua temannya. Tamara


adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Ayahnya adalah pemilik restoran


Prancis sekaligus seorang pengacara terkenal.


Mereka selalu bertingkah seenaknya


disekolahnya. Tania, terkenal playgirl karena selalu gonta-ganti pacar. Begitu


juga dengan Sandy dan Tamara. Seringkali mereka menjahili murid-murid yang


tidak mereka sukai. Tapi para guru tidak bisa berbuat apa-apa karena selain


nilai akademik mereka tinggi, ayah mereka adalah donatur utama sekolah mereka.


“Erika!”


Gadis itu menoleh ke arah suara itu


berasal. Ia melihat Bu Sita, pustakawan di sekolahnya melambai ke arahnya dari


bawah tangga.


Sekilas gadis itu mendengar ketiga


orang di belakangnya mendengus kesal.


“Bisa kemari sebentar?” Bu Sita


kembali memanggil.


Tanpa pikir panjang, Erika –gadis itu


–segera menghampiri Bu Sita tanpa mempedulikan pandangan kesal ketiga gadis di


depannya.


Tania menghentakkan kakinya ke


lantai dengan keras. Ia mendengus kesal.


“Jadi? Siapa yang mau bersihin


kelas kita?” Tamara bertanya dengan kecewa. Ia paling anti dengan yang namanya


bersih-bersih. Ia memiliki alergi dengan debu. Sedikit saja menghisapnya,


hidungnya akan langsung memerah dan tidak henti-hentinya bersin.


“Mana gue tahu! Suruh Mang Jono


aja!” Jawab Tania kesal.


Mang Jono adalah pengurus taman


sekolah. Ia sudah 20 tahun bekerja di sana. Usianya sudah lebih dari setengah


abad, namun tubuhnya tetap tegap dan selalu bersemangat. Seorang yang baik hati


dan selalu menebarkan senyumnya ke semua orang. Tidak terkecuali pada tiga


gadis yang sekarang sedang mendekatinya.


“MANG!!” Tania berteriak kencang


sambil berkacak pinggang.


“Ya?”


“Bersihin kelas kita sekarang!”


Sekarang ganti Sandy yang berteriak.


Dengan sabar sambil terus tetap memepertahankan


senyum di bibirnya, Mang Jono menjawab, “Lho kan Eneng bisa liat sendiri,


mamang lagi sibuk sekarang.” Mang Jono mengangkat kedua tangannya yang sedang


memegang sapu dan serok.


“Pokoknya mamang harus bersihin


sekarang! Kalau nggak, Aku laporin papa!” setelah puas dengan ancamannya, tanpa


menunggu tanggapan dari Mang Jono, Tania dengan tak acuh melenggang pergi.


Kedua temannya otomatis mengikuti.


Mang Jono hanya menggelengkan


kepalanya prihatin. Dia heran mengapa kebanyakan orang kaya dan berwajah


rupawan selalu bersikap seperti itu. Tidak punya sopan santun dan seenaknya


sendiri.


Sementara itu Erika memandangi Mang


Jono dari kejauhan. Ia menyaksikan semua adegan tadi dengan rasa kasihan.


Bersamaan dengan niatnya untuk menghampiri pengurus taman sekolah yang baik

__ADS_1


itu, sebuah suara kembali memanggilnya.


“Erika!” Bu Sita menepuk pundak


Erika dengan lembut.


Erika menoleh pada Bu Sita yang


berdiri di belakangnya.


“Sedang apa di sini? Kenapa belum


pulang juga?”


Dengan perlahan, Erika memegang


tangan Bu Sita yang menyentuh pundaknya dan menurunkannya dengan sopan.


“Terima kasih telah menolong saya


sebelumnya. Tapi Ibu tidak perlu melakukannya lagi.” Erika menundukkan kepalanya


pada Bu Sita dan berbalik menjauh.


Bu Sita hanya bisa mendesah. Erika


adalah gadis yang baik, pikirnya.Ia hanya sedikit pendiam dan tertutup. Tapi


Erika dikucilkan oleh seluruh siswa sekolah karena bekas luka di wajahnya.


Bukannya para guru tidak tahu. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena dalang


dibalik semua itu adalah Tania, putri dari donator terbesar mereka. Mereka


harus tutup mulut jika tidak ingin dipecat. Hanya Bu Sitalah yang terkadang


menyelamatkan Erika dari situasi yang tidak menyenangkan, seperti tadi. Tapi


melihat penolakan yang ditunjukkan Erika, membuatnya semakin sedih.


Bu Sita memandangi Mang Jono yang


menaiki tangga menuju lantai 2, tempat kelas ‘The Angels’ berada dan mendengus


pasrah. Dia juga ikut manyaksikan adegan tadi. Sebagai ganti Erika, Mang


Jonolah yang menjadi korban. Bu Sita terus mengikuti Mang Jono dengan tatapan


matanya. Setelah Mang Jono hilang dari pandangannya, Bu Sita kembali memasuki


ruang perpustakaan yang merupakan ruang kerjanya. Ia duduk di kursinya dan


memandangi rak buku di pojok ruangan. Di sampingnya terdapat jendela kaca besar


yang membuat sinar matahari dengan leluasa menembus masuk. Tempat favorit


Erika. Bu Sita seringkali memandangi Erika yang sedang membaca di lantai di


bawah jendela. Setiap jam istirahat dan jam pelajaran bebas, Erika selalu duduk


di sana dengan dikelilingi buku-buku tebal. Ia mendesah dan matanya menatap


menerawang.


Bu Sita masih mengingat pertemuan


pertamanya dengan Erika. Saat itu, ia baru diterima menjadi pustakawan sekolah


dan Erika masih duduk di bangku kelas satu. Ia sedang kerepotan menyusun buku


yang berantakan karena sudah lama posisi pustakawan kosong sejak ditinggalkan


pegawai sebelumnya. Ia menjatuhkan buku-buku yang terlalu berat dibawanya dan


melukai tangannya. Tiba-tiba sepasang tangan yang lembut mengusap tangannya


dengan saputangan. Saat Bu Sita mendongak, wajah Erika yang menunduk berada di


hadapannya. Ia sempat terkesiap melihat bekas luka di wajahnya, tapi melihat


perilaku Erika dan wajah tenangnya, entah kenapa ia tidak merasa takut atau


jijik sama sekali. Apalagi setelah bertatapan dengannya dan melihat matanya


yang hijau bening. Ia membiarkan


Erika membalut lukanya dengan sapu tangannya, dan tidak merasa terganggu ketika


Erika dengan sukarela membantunya membereskan buku dalam diam.


Bu Sita tersenyum mengenangnya.


Walau Erika jarang berbicara, ia tahu Erika adalah anak yang baik. Erika sudah


seperti adiknya sendiri.


Semburat merah yang menembus kaca


jendela membuat Bu Sita tersadar. Ia segera membereskan sisa pekerjaannya dan


mengunci pintu perpustakaan sambil menoleh ke atas, tempat Mang Jono menghilang


tadi.


“Sepertinya mamang sudah pulang.”


Gumamnya. Ia bergegas pergi ketempat parkir dan melajukan mobilnya keluar dari


area sekolah dengan hati gundah.


***


penjaga gerbang sebuah rumah mewah tempat Erika tinggal menyambutnya sambil


tersenyum ramah.


Erika hanya menundukkan kepalanya


sedikit tanpa berkata apa-apa. Dia terus berjalan ke pintu depan rumahnya yang


tiba-tiba terbuka. Seorang wanita berusia lanjut dengan pakaian pelayan melekat


ditubuhnya tergopoh-gopoh menghampirinya, diikuti dengan wanita setengah baya


yang memakai pakaian yang sama.


“Selamat datang, Putri! Saya sudah


menyiapkan air mandi untuk anda di kamar atas. Sebentar lagi teh dan kue akan


siap dihidangkan.” Sahut wanita berusia lanjut, yang bernama Mrs. Milson.


Mira, pelayan setengah baya, dengan


sigap mengambil alih tas dan buku dari tangan Erika. Mereka berdua lalu


berjalan mengiringi Erika memasuki rumah.


Erika dengan santai melenggang


pergi menuju kamarnya di lantai dua diikuti oleh Mrs. Milson.


“Kalau begitu saya akan menyiapkan


teh dan kuenya di taman belakang.” Mira membungkukkan badannya pada Erika dan bergegas


pergi menuju dapur.Ia menyerahkan tas dan buku Erika ke tangan Mrs. Milson.


Mrs. Milson dengan cekatan


membukakan pintu kamar untuk Erika dan menutupnya kembali. Ia menyimpan tas dan


bukunya di meja belajar dengan rapi, lalu menghampiri Erika untuk membantunya


melepaskan seragam. Ia mengambil baju kotor dan membungkukkan badan pada Erika.


“Saya akan membantu Mira di dapur.


Jika Putri butuh bantuan, anda bisa memanggil saya kapan saja.”


Erika hanya mengangguk ringan, dan


Mrs. Milson berjalan mundur beberapa langkah dan berbalik pergi ke luar kamar.


Dengan gerakan malas, Erika


mengambil handuknya dan mencuci muka di wastafel. Ia memandangi wajahnya


sendiri tanpa ekspresi. Rambutnya yang hitam dan panjang menutupi punggungnya.


Matanya yang berwarna hijau cerah dan bening, juga alis yang tebal dengan bulu


mata panjang dan lentik yang menghias matanya. Hidungnya ramping dan mancung


dengan bibir kecil berwarna merah alami. Wajahnya yang kebaratan dan mencerminkan


wajah seorang bangsawan. Terakhir ia menatap bekas luka yang memanjang dari


jembatan hidungnya hingga pipi kanannya.


Erika dengan hati-hati menyentuh


bekas luka di wajahnya. Bekas luka yang menutupi, bahkan merusak kecantikannya.


Bekas luka yang membuatnya dibenci dan dikucilkan seluruh murid di sekolah.


Erika menatap bekas lukanya dengan tatapan sedih. Air mata mulai menggenang di


pelupuk matanya, yang segera dihapus dengan kedua punggung tangannya secara


kasar.


Erika memutuskan untuk berendam


lebih lama dari biasanya sore ini. Ia memejamkan matanya dan mendesah. Beban


ini sungguh sangat berat baginya. Ia tidak tahu kapan ia bisa melepaskan


semuanya dan memaafkan dirinya sendiri.Yang ia tahu, ia harus menganggung beban


ini sendirian, tanpa melibatkan orang-orang di sekitarnya.


Setengan jam lamanya Erika berdiam


di kamar mandi. Saat keluar, ia melihat gaun panjang semata kaki berwarna hijau


yang serasi dengan matanya tergeletak rapi di atas kasur dengan Mrs. Milson yang


sedang berdiri menunggunya di samping tempat tidur sambil tersenyum.


“Teh dan kue sudah disiapkan


bersama buku yang akan Putri baca.” Dengan telaten ia memakaikan gaun indah itu


pada Erika yang berdiri di depan cermin besar.


Erika melirik meja belajarnya dan

__ADS_1


buku yang ia bawa tadi dari sekolah sudah tidak ada. Mrs. Milson pasti sudah


meletakkannya di taman belakang.


Setelah selesai membantu Erika


memakaikan baju, ia beranjak menuju rak sepatu dan mengambil sepasang sandal


berbulu lembut dan memasangnya di kaki Erika.


“Mrs. Milson.” Panggil Erika.


“Ya, Putri.” Jawab Mrs. Milson. Ia


tersenyum lembut.


“Bukan apa-apa.” Erika mengurungkan


niatnya untuk mengatakan sesuatu dan berjalan keluar, diikuti oleh Mrs. Milson.


Mrs. Milson memandang majikannya


sedih. Ia sangat tahu apa yang menyebabkan tuan putri kecilnya jadi seperti


ini. Ia sudah merawat Erika sejak kecil. Bahkan ia jugalah yang merawat Ayah


Erika.


Erika yang dulu sangatlah periang.


Ia sangat suka bermain di padang rumput dan tempat terbuka lainnya. Erika


selalu memanggil Mrs. Milson dengan sebutan Nanny. Namun sejak peristiwa itu,


semuanya berubah. Ia menjadi pribadi yang tertutup dan pendiam. Bahkan ia tidak


lagi memanggilnya Nanny.


Mrs. Milson tahu bahwa Erika


menyalahkan dirinya sendiri atas peristiwa itu. Walaupun banyak orang


mengatakan bahwa itu bukan kesalahannya, Erika tidak pernah mau mendengarkan.


Ia terus menghukum dirinya sendiri. Mrs. Milson mendesah, ia berharap ada


seseorang yang bisa menolong majikan kesayangannya itu.


***


“Jadi, bagaimana di sana? Apa


semuanya baik-baik saja?” Terdengar suara dari seberang sana.


“Aku baik-baik saja.” Jawab Erika


dengan suara yang agak bergetar. Ia memegang ponsel di tangan kirinya dan


tangan kanannya memeluk bantal. Erika mengoyang-goyangkan kakinya di ujung kasur,mencoba untuk bersikap sesantai mungkin.


“Kau yakin? Hmmm,,, kurasa


sebaiknya sudah saatnya kau pulang sekarang.” Suara dari seberang sana


terdengar khawatir.


“Kau tidak perlu khawatir. Mrs.


Milson selalu bersamaku.” Erika terlihat menahan tangisnya. Setiap kakaknya


menelpon, ingin rasanya ia menumpahkan seluruh rasa frustasinya. Tapi ia


bertekad untuk menanggung semuanya sendirian.


Terdengar suara mendesah dari ujung


telepon. “Apa sebaiknya aku datang menemuimu?”


“Tidak perlu. Jika kau datang ke


sini, siapa yang mengurus pekerjaanmu nanti? Hanya kau yang bisa melakukannya.”


Terdengar suara desahan lagi, kali


ini lebih keras. “Kalau begitu, sebagai gantinya, aku akan mengirim seseorang


ke sana untuk menemanimu.”


Erika seketika duduk tegak.


Mengirim seseorang? Siapa? Tidak banyak orang yang dipercaya oleh kakaknya jika


menyangkut urusan mengenai adiknya. Ia selalu mencegah orang-orang mendekat


padanya. Yang ia percaya untuk menjaga Erika dan mengizinkan mereka sangat


dekat dengannya hanya Mrs. Milson, Valeray yang merupakan butler kakaknya, dan


supir mereka yang bernama Theobold. Saat ini Mrs. Milson sudah bersamanya.


Erika pikir tidak mungkin kakaknya akan nekat mengirim Theobold, atau bahkan


Valeray yang selalu berada di samping kakaknya


“Al, sungguh! Aku baik-baik saja!”


Erika mulai gelisah. Apa suaranya tadi terdengar tidak baik-baik saja? Ataukah


Mrs. Milson mengatakan sesuatu pada kakaknya? Erika benar-benar tidak ingin


membuat kakaknya khawatir, apalagi sampai ia mengirimkan orang kepercayaannya


hanya untuk menemaninya di sini.


Setelah


hening beberapa saat, terdengar suara dari seberang telepon. “Erika….”


Dari suaranya, sepertinya ia sudah


menyerah, pikir Erika.


“Jika kau butuh sesuatu, katakan


saja padaku. Oke!” Pinta kakaknya.


“Oke.” Jawab Erika setenang


mungkin, walau ia tidak yakin usahanya berhasil.


“Kalau begitu, selamat tidur,


sweetheart! Have a nice dream!”


“Good night, Al!” Erika menutup


teleponnya dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut. Ia lalu menutup kepalanya


dengan bantal dan menangis tanpa suara.


***


Alexander *** kepalanya


kuat-kuat. Ia merasa frustasi. Sampai saat ini ia belum juga bisa membuat


adiknya terbuka padanya


“Dia pasti sedang menangis


sekarang.” Gumamnya sedih.


“Jadi, kau yang akan pergi ke sana?


Atau aku saja?” Valeray bersandar pada rak buku besar yang menempel di dinding.


Ia menutup buku yang sedang ia baca dan menatap Alexander. Melihat Alexander


hanya membalasnya dengan tatapan ‘aku-tidak-tahu’nya, Valeray kembali membaca


bukunya.


“Bukankah dari ekspresinya sudah


jelas? Ia ditolak mentah-mentah.” Valda, sepupu Alexander yang dua tahun lebih


muda darinya, menjawab dengan


cuek sambil memasukkan sepotong biscuit ke mulutnya. Ia mengabaikan tatapan


tajam Alexander dan duduk dengan santai di sofa sambil menyilangkan kakinya.


“Sayang, kau sekarang tidak bersikap


selayaknya seorang bangsawan. Duduklah yang benar!” Tegur Geoffrey, suami


Valda.


“Biarkan saja! Toh tidak ada orang


lain di sini.” Valda memasukkan biskuit yang berbeda ke mulutnya secara


sekaligus. Membuat pipinya menggelembung. Geoffrey hanya bisa


menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak habis pikir kenapa ia bisa jatuh cinta


pada gadis urakan sepertinya.


Theobold yang berdiri tidak jauh


dari mereka tertawa cekikikan melihat kelakuan Valda. Tapi tidak lama kemudian


perhatiannya kembali pada Alexander.


“Aku rasa Putri hanya ingin mencoba


untuk menghadapi masalahnya sendiri.” Katanya menenangkan Alexander yang


sekarang sedang berjalan mondar-mandir dengan cepat.


“Justru itu yang kukhawatirkan! Dia


pasti sedang menderita sendirian. Sejak peristiwa itu, sikapnya berubah. Dia


juga jadi tidak terbuka lagi padaku.” Alexander mengepalkan kedua tangannya


kuat-kuat, merasa kesal pada dirinya sendiri karena tidak bisa berbuat apa-apa.


Valeray tidak tahan lagi dengan


kelakuan majikannya. Dengan sedikit menyentak dia menutup bukunya, membuat


perhatian semua orang teralih padanya.


“Aku punya ide bagus! Walau mungkin


kau akan sedikit tidak menyukainya.” Valeray tersenyum simpul dan menatap

__ADS_1


Alexander penuh arti.


__ADS_2