
“Lo liat deh,, Iiihhh jijik banget
gue ngeliatnya.”
“Heeh,,,, kok bisa ya dia pede-pede
aja kaya gitu.”
“Udah jelek, culun, idup lagi..”
“Eh,, katanya dia preman lho waktu
SMP dulu.”
“Amit-amit,, jangan sampe gue deket
deket ama dia!”
Dan masih banyak lagi bisik-bisik anak-anak
kelas 2 SMA Perdana yang sebenarnya kurang sreg kalau dibilang bisikan, karena
kata-kata mereka terdengar dengan jelas dan sampai pada si objek yang
digosipkan itu.
Sedangkan yang jadi objek gossip itu
cuek bebek. Ia sama sekali tidak peduli dengan omongan-omongan mereka. Toh
semua itu tidak benar. Dengan santainya dia berjalan melewati koridor lantai 2
menuju kelasnya sambil menenteng beberapa buku yang cukup tebal. Jam pelajaran
terakhir hari ini kosong, karena guru mereka sedang sakit. Jadi dia
menghabiskan waktu dengan membaca di perpustakaan. Sebelum kembali ke kelas, ia
meminjam beberapa novel untuk dibaca di rumah. Dan saat ini dia hanya akan
mengambil tasnya di kelas dan langsung pulang. Gadis itu sudah tidak sabar
untuk membaca novel itu di rumah sambil minum teh.
Saat
tiba di kelasnya, Gadis itu hanya bisa mendesah pasrah
melihat tasnya sudah tidak ada di tempatnya. Seakan sudah bisa menebaknya, ia
berjalan ke belakang kelas dan melihat tasnya tergeletak begitu saja di dalam
tong sampah dengan buku yang berceceran. Tanpa banyak mengeluh, ia membereskan
semua bukunya dan memasukkannya kembali ke dalam tas. Dia segera keluar kelas
dan menuruni tangga ketika ia mendengar suara teriakan.
“Heh!! Berhenti Lo!!”
Gadis itu menengok ke asal suara
dan mengernyit. Sial! Dia lagi. Sepertinya ia tidak akan bisa pulang cepat. Gadis
itu hanya berdiri menunggu orang yang berteriak padanya menghampirinya. Ia berjalan
diiringi dua ‘pengawal’nya dengan angkuh.
“Mau kemana lo?” Tanya si cewek
yang kelihatan dari tingkah lakunya, adalah pemimpin dari genk itu.
“Pulang.” Jawab gadis itu pendek.
“Gak boleh.” Kata si pemimpin genk,
“Lo gak boleh pulang. Bersihin dulu kelas kita! Sapu terus pel yang bersih!
Habis itu lap kacanya!”
“Tidak mau.” Kata gadis itu lagi.
Pandangannya dingin dan menatap tajam mata mereka bertiga. Tidak ada rasa takut
di tatapannya. Ia hanya diam di tempatnya dan berdiri dengan tenang.
“Eeh,, berani ngelawan dia.” Sahut
cewek centil yang berdiri di sebelah kanan si ketua genk.
“Kayaknya dia perlu diberi
pelajaran, biar kapok.” Sambung cewek di sebelah kirinya.
Gadis itu tetap bergeming. Ia sudah
bosan meladeni tingkah angkuh ketiga orang ini. Siapa yang tak kenal “The
Angels”, genk yang paling terkenal di sekolahnya. Mereka bertiga sangat cantik
dan kaya. Tania, si ketua genk, adalah anak tunggal dari direktur perusahaan mobil
merek ternama.
Sedangkan cewek centil yang berdiri
di sebelah kanan Tania sekarang bernama Sandy. Ia sudah sering muncul di
majalah-majalah remaja sebagai model. Seperti Tania, ia juga putri tunggal dari
direktur perusahaan besar di Indonesia. Wajahnya tidak kalah cantik dari Tania.
Kelompok terakhir dari genk itu
adalah Tamara. Ia sangat cantik walau tidak secantik kedua temannya. Tamara
adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Ayahnya adalah pemilik restoran
Prancis sekaligus seorang pengacara terkenal.
Mereka selalu bertingkah seenaknya
disekolahnya. Tania, terkenal playgirl karena selalu gonta-ganti pacar. Begitu
juga dengan Sandy dan Tamara. Seringkali mereka menjahili murid-murid yang
tidak mereka sukai. Tapi para guru tidak bisa berbuat apa-apa karena selain
nilai akademik mereka tinggi, ayah mereka adalah donatur utama sekolah mereka.
“Erika!”
Gadis itu menoleh ke arah suara itu
berasal. Ia melihat Bu Sita, pustakawan di sekolahnya melambai ke arahnya dari
bawah tangga.
Sekilas gadis itu mendengar ketiga
orang di belakangnya mendengus kesal.
“Bisa kemari sebentar?” Bu Sita
kembali memanggil.
Tanpa pikir panjang, Erika –gadis itu
–segera menghampiri Bu Sita tanpa mempedulikan pandangan kesal ketiga gadis di
depannya.
Tania menghentakkan kakinya ke
lantai dengan keras. Ia mendengus kesal.
“Jadi? Siapa yang mau bersihin
kelas kita?” Tamara bertanya dengan kecewa. Ia paling anti dengan yang namanya
bersih-bersih. Ia memiliki alergi dengan debu. Sedikit saja menghisapnya,
hidungnya akan langsung memerah dan tidak henti-hentinya bersin.
“Mana gue tahu! Suruh Mang Jono
aja!” Jawab Tania kesal.
Mang Jono adalah pengurus taman
sekolah. Ia sudah 20 tahun bekerja di sana. Usianya sudah lebih dari setengah
abad, namun tubuhnya tetap tegap dan selalu bersemangat. Seorang yang baik hati
dan selalu menebarkan senyumnya ke semua orang. Tidak terkecuali pada tiga
gadis yang sekarang sedang mendekatinya.
“MANG!!” Tania berteriak kencang
sambil berkacak pinggang.
“Ya?”
“Bersihin kelas kita sekarang!”
Sekarang ganti Sandy yang berteriak.
Dengan sabar sambil terus tetap memepertahankan
senyum di bibirnya, Mang Jono menjawab, “Lho kan Eneng bisa liat sendiri,
mamang lagi sibuk sekarang.” Mang Jono mengangkat kedua tangannya yang sedang
memegang sapu dan serok.
“Pokoknya mamang harus bersihin
sekarang! Kalau nggak, Aku laporin papa!” setelah puas dengan ancamannya, tanpa
menunggu tanggapan dari Mang Jono, Tania dengan tak acuh melenggang pergi.
Kedua temannya otomatis mengikuti.
Mang Jono hanya menggelengkan
kepalanya prihatin. Dia heran mengapa kebanyakan orang kaya dan berwajah
rupawan selalu bersikap seperti itu. Tidak punya sopan santun dan seenaknya
sendiri.
Sementara itu Erika memandangi Mang
Jono dari kejauhan. Ia menyaksikan semua adegan tadi dengan rasa kasihan.
Bersamaan dengan niatnya untuk menghampiri pengurus taman sekolah yang baik
__ADS_1
itu, sebuah suara kembali memanggilnya.
“Erika!” Bu Sita menepuk pundak
Erika dengan lembut.
Erika menoleh pada Bu Sita yang
berdiri di belakangnya.
“Sedang apa di sini? Kenapa belum
pulang juga?”
Dengan perlahan, Erika memegang
tangan Bu Sita yang menyentuh pundaknya dan menurunkannya dengan sopan.
“Terima kasih telah menolong saya
sebelumnya. Tapi Ibu tidak perlu melakukannya lagi.” Erika menundukkan kepalanya
pada Bu Sita dan berbalik menjauh.
Bu Sita hanya bisa mendesah. Erika
adalah gadis yang baik, pikirnya.Ia hanya sedikit pendiam dan tertutup. Tapi
Erika dikucilkan oleh seluruh siswa sekolah karena bekas luka di wajahnya.
Bukannya para guru tidak tahu. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena dalang
dibalik semua itu adalah Tania, putri dari donator terbesar mereka. Mereka
harus tutup mulut jika tidak ingin dipecat. Hanya Bu Sitalah yang terkadang
menyelamatkan Erika dari situasi yang tidak menyenangkan, seperti tadi. Tapi
melihat penolakan yang ditunjukkan Erika, membuatnya semakin sedih.
Bu Sita memandangi Mang Jono yang
menaiki tangga menuju lantai 2, tempat kelas ‘The Angels’ berada dan mendengus
pasrah. Dia juga ikut manyaksikan adegan tadi. Sebagai ganti Erika, Mang
Jonolah yang menjadi korban. Bu Sita terus mengikuti Mang Jono dengan tatapan
matanya. Setelah Mang Jono hilang dari pandangannya, Bu Sita kembali memasuki
ruang perpustakaan yang merupakan ruang kerjanya. Ia duduk di kursinya dan
memandangi rak buku di pojok ruangan. Di sampingnya terdapat jendela kaca besar
yang membuat sinar matahari dengan leluasa menembus masuk. Tempat favorit
Erika. Bu Sita seringkali memandangi Erika yang sedang membaca di lantai di
bawah jendela. Setiap jam istirahat dan jam pelajaran bebas, Erika selalu duduk
di sana dengan dikelilingi buku-buku tebal. Ia mendesah dan matanya menatap
menerawang.
Bu Sita masih mengingat pertemuan
pertamanya dengan Erika. Saat itu, ia baru diterima menjadi pustakawan sekolah
dan Erika masih duduk di bangku kelas satu. Ia sedang kerepotan menyusun buku
yang berantakan karena sudah lama posisi pustakawan kosong sejak ditinggalkan
pegawai sebelumnya. Ia menjatuhkan buku-buku yang terlalu berat dibawanya dan
melukai tangannya. Tiba-tiba sepasang tangan yang lembut mengusap tangannya
dengan saputangan. Saat Bu Sita mendongak, wajah Erika yang menunduk berada di
hadapannya. Ia sempat terkesiap melihat bekas luka di wajahnya, tapi melihat
perilaku Erika dan wajah tenangnya, entah kenapa ia tidak merasa takut atau
jijik sama sekali. Apalagi setelah bertatapan dengannya dan melihat matanya
yang hijau bening. Ia membiarkan
Erika membalut lukanya dengan sapu tangannya, dan tidak merasa terganggu ketika
Erika dengan sukarela membantunya membereskan buku dalam diam.
Bu Sita tersenyum mengenangnya.
Walau Erika jarang berbicara, ia tahu Erika adalah anak yang baik. Erika sudah
seperti adiknya sendiri.
Semburat merah yang menembus kaca
jendela membuat Bu Sita tersadar. Ia segera membereskan sisa pekerjaannya dan
mengunci pintu perpustakaan sambil menoleh ke atas, tempat Mang Jono menghilang
tadi.
“Sepertinya mamang sudah pulang.”
Gumamnya. Ia bergegas pergi ketempat parkir dan melajukan mobilnya keluar dari
area sekolah dengan hati gundah.
***
penjaga gerbang sebuah rumah mewah tempat Erika tinggal menyambutnya sambil
tersenyum ramah.
Erika hanya menundukkan kepalanya
sedikit tanpa berkata apa-apa. Dia terus berjalan ke pintu depan rumahnya yang
tiba-tiba terbuka. Seorang wanita berusia lanjut dengan pakaian pelayan melekat
ditubuhnya tergopoh-gopoh menghampirinya, diikuti dengan wanita setengah baya
yang memakai pakaian yang sama.
“Selamat datang, Putri! Saya sudah
menyiapkan air mandi untuk anda di kamar atas. Sebentar lagi teh dan kue akan
siap dihidangkan.” Sahut wanita berusia lanjut, yang bernama Mrs. Milson.
Mira, pelayan setengah baya, dengan
sigap mengambil alih tas dan buku dari tangan Erika. Mereka berdua lalu
berjalan mengiringi Erika memasuki rumah.
Erika dengan santai melenggang
pergi menuju kamarnya di lantai dua diikuti oleh Mrs. Milson.
“Kalau begitu saya akan menyiapkan
teh dan kuenya di taman belakang.” Mira membungkukkan badannya pada Erika dan bergegas
pergi menuju dapur.Ia menyerahkan tas dan buku Erika ke tangan Mrs. Milson.
Mrs. Milson dengan cekatan
membukakan pintu kamar untuk Erika dan menutupnya kembali. Ia menyimpan tas dan
bukunya di meja belajar dengan rapi, lalu menghampiri Erika untuk membantunya
melepaskan seragam. Ia mengambil baju kotor dan membungkukkan badan pada Erika.
“Saya akan membantu Mira di dapur.
Jika Putri butuh bantuan, anda bisa memanggil saya kapan saja.”
Erika hanya mengangguk ringan, dan
Mrs. Milson berjalan mundur beberapa langkah dan berbalik pergi ke luar kamar.
Dengan gerakan malas, Erika
mengambil handuknya dan mencuci muka di wastafel. Ia memandangi wajahnya
sendiri tanpa ekspresi. Rambutnya yang hitam dan panjang menutupi punggungnya.
Matanya yang berwarna hijau cerah dan bening, juga alis yang tebal dengan bulu
mata panjang dan lentik yang menghias matanya. Hidungnya ramping dan mancung
dengan bibir kecil berwarna merah alami. Wajahnya yang kebaratan dan mencerminkan
wajah seorang bangsawan. Terakhir ia menatap bekas luka yang memanjang dari
jembatan hidungnya hingga pipi kanannya.
Erika dengan hati-hati menyentuh
bekas luka di wajahnya. Bekas luka yang menutupi, bahkan merusak kecantikannya.
Bekas luka yang membuatnya dibenci dan dikucilkan seluruh murid di sekolah.
Erika menatap bekas lukanya dengan tatapan sedih. Air mata mulai menggenang di
pelupuk matanya, yang segera dihapus dengan kedua punggung tangannya secara
kasar.
Erika memutuskan untuk berendam
lebih lama dari biasanya sore ini. Ia memejamkan matanya dan mendesah. Beban
ini sungguh sangat berat baginya. Ia tidak tahu kapan ia bisa melepaskan
semuanya dan memaafkan dirinya sendiri.Yang ia tahu, ia harus menganggung beban
ini sendirian, tanpa melibatkan orang-orang di sekitarnya.
Setengan jam lamanya Erika berdiam
di kamar mandi. Saat keluar, ia melihat gaun panjang semata kaki berwarna hijau
yang serasi dengan matanya tergeletak rapi di atas kasur dengan Mrs. Milson yang
sedang berdiri menunggunya di samping tempat tidur sambil tersenyum.
“Teh dan kue sudah disiapkan
bersama buku yang akan Putri baca.” Dengan telaten ia memakaikan gaun indah itu
pada Erika yang berdiri di depan cermin besar.
Erika melirik meja belajarnya dan
__ADS_1
buku yang ia bawa tadi dari sekolah sudah tidak ada. Mrs. Milson pasti sudah
meletakkannya di taman belakang.
Setelah selesai membantu Erika
memakaikan baju, ia beranjak menuju rak sepatu dan mengambil sepasang sandal
berbulu lembut dan memasangnya di kaki Erika.
“Mrs. Milson.” Panggil Erika.
“Ya, Putri.” Jawab Mrs. Milson. Ia
tersenyum lembut.
“Bukan apa-apa.” Erika mengurungkan
niatnya untuk mengatakan sesuatu dan berjalan keluar, diikuti oleh Mrs. Milson.
Mrs. Milson memandang majikannya
sedih. Ia sangat tahu apa yang menyebabkan tuan putri kecilnya jadi seperti
ini. Ia sudah merawat Erika sejak kecil. Bahkan ia jugalah yang merawat Ayah
Erika.
Erika yang dulu sangatlah periang.
Ia sangat suka bermain di padang rumput dan tempat terbuka lainnya. Erika
selalu memanggil Mrs. Milson dengan sebutan Nanny. Namun sejak peristiwa itu,
semuanya berubah. Ia menjadi pribadi yang tertutup dan pendiam. Bahkan ia tidak
lagi memanggilnya Nanny.
Mrs. Milson tahu bahwa Erika
menyalahkan dirinya sendiri atas peristiwa itu. Walaupun banyak orang
mengatakan bahwa itu bukan kesalahannya, Erika tidak pernah mau mendengarkan.
Ia terus menghukum dirinya sendiri. Mrs. Milson mendesah, ia berharap ada
seseorang yang bisa menolong majikan kesayangannya itu.
***
“Jadi, bagaimana di sana? Apa
semuanya baik-baik saja?” Terdengar suara dari seberang sana.
“Aku baik-baik saja.” Jawab Erika
dengan suara yang agak bergetar. Ia memegang ponsel di tangan kirinya dan
tangan kanannya memeluk bantal. Erika mengoyang-goyangkan kakinya di ujung kasur,mencoba untuk bersikap sesantai mungkin.
“Kau yakin? Hmmm,,, kurasa
sebaiknya sudah saatnya kau pulang sekarang.” Suara dari seberang sana
terdengar khawatir.
“Kau tidak perlu khawatir. Mrs.
Milson selalu bersamaku.” Erika terlihat menahan tangisnya. Setiap kakaknya
menelpon, ingin rasanya ia menumpahkan seluruh rasa frustasinya. Tapi ia
bertekad untuk menanggung semuanya sendirian.
Terdengar suara mendesah dari ujung
telepon. “Apa sebaiknya aku datang menemuimu?”
“Tidak perlu. Jika kau datang ke
sini, siapa yang mengurus pekerjaanmu nanti? Hanya kau yang bisa melakukannya.”
Terdengar suara desahan lagi, kali
ini lebih keras. “Kalau begitu, sebagai gantinya, aku akan mengirim seseorang
ke sana untuk menemanimu.”
Erika seketika duduk tegak.
Mengirim seseorang? Siapa? Tidak banyak orang yang dipercaya oleh kakaknya jika
menyangkut urusan mengenai adiknya. Ia selalu mencegah orang-orang mendekat
padanya. Yang ia percaya untuk menjaga Erika dan mengizinkan mereka sangat
dekat dengannya hanya Mrs. Milson, Valeray yang merupakan butler kakaknya, dan
supir mereka yang bernama Theobold. Saat ini Mrs. Milson sudah bersamanya.
Erika pikir tidak mungkin kakaknya akan nekat mengirim Theobold, atau bahkan
Valeray yang selalu berada di samping kakaknya
“Al, sungguh! Aku baik-baik saja!”
Erika mulai gelisah. Apa suaranya tadi terdengar tidak baik-baik saja? Ataukah
Mrs. Milson mengatakan sesuatu pada kakaknya? Erika benar-benar tidak ingin
membuat kakaknya khawatir, apalagi sampai ia mengirimkan orang kepercayaannya
hanya untuk menemaninya di sini.
Setelah
hening beberapa saat, terdengar suara dari seberang telepon. “Erika….”
Dari suaranya, sepertinya ia sudah
menyerah, pikir Erika.
“Jika kau butuh sesuatu, katakan
saja padaku. Oke!” Pinta kakaknya.
“Oke.” Jawab Erika setenang
mungkin, walau ia tidak yakin usahanya berhasil.
“Kalau begitu, selamat tidur,
sweetheart! Have a nice dream!”
“Good night, Al!” Erika menutup
teleponnya dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut. Ia lalu menutup kepalanya
dengan bantal dan menangis tanpa suara.
***
Alexander *** kepalanya
kuat-kuat. Ia merasa frustasi. Sampai saat ini ia belum juga bisa membuat
adiknya terbuka padanya
“Dia pasti sedang menangis
sekarang.” Gumamnya sedih.
“Jadi, kau yang akan pergi ke sana?
Atau aku saja?” Valeray bersandar pada rak buku besar yang menempel di dinding.
Ia menutup buku yang sedang ia baca dan menatap Alexander. Melihat Alexander
hanya membalasnya dengan tatapan ‘aku-tidak-tahu’nya, Valeray kembali membaca
bukunya.
“Bukankah dari ekspresinya sudah
jelas? Ia ditolak mentah-mentah.” Valda, sepupu Alexander yang dua tahun lebih
muda darinya, menjawab dengan
cuek sambil memasukkan sepotong biscuit ke mulutnya. Ia mengabaikan tatapan
tajam Alexander dan duduk dengan santai di sofa sambil menyilangkan kakinya.
“Sayang, kau sekarang tidak bersikap
selayaknya seorang bangsawan. Duduklah yang benar!” Tegur Geoffrey, suami
Valda.
“Biarkan saja! Toh tidak ada orang
lain di sini.” Valda memasukkan biskuit yang berbeda ke mulutnya secara
sekaligus. Membuat pipinya menggelembung. Geoffrey hanya bisa
menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak habis pikir kenapa ia bisa jatuh cinta
pada gadis urakan sepertinya.
Theobold yang berdiri tidak jauh
dari mereka tertawa cekikikan melihat kelakuan Valda. Tapi tidak lama kemudian
perhatiannya kembali pada Alexander.
“Aku rasa Putri hanya ingin mencoba
untuk menghadapi masalahnya sendiri.” Katanya menenangkan Alexander yang
sekarang sedang berjalan mondar-mandir dengan cepat.
“Justru itu yang kukhawatirkan! Dia
pasti sedang menderita sendirian. Sejak peristiwa itu, sikapnya berubah. Dia
juga jadi tidak terbuka lagi padaku.” Alexander mengepalkan kedua tangannya
kuat-kuat, merasa kesal pada dirinya sendiri karena tidak bisa berbuat apa-apa.
Valeray tidak tahan lagi dengan
kelakuan majikannya. Dengan sedikit menyentak dia menutup bukunya, membuat
perhatian semua orang teralih padanya.
“Aku punya ide bagus! Walau mungkin
kau akan sedikit tidak menyukainya.” Valeray tersenyum simpul dan menatap
__ADS_1
Alexander penuh arti.