Memori dalam Api

Memori dalam Api
Memori : Valda


__ADS_3

“I’m home!” Dengan


senyuman lebar yang menghiasi wajahnya, Erika berjalan memasuki rumahnya yang


disambut dengan pelukan hangat seorang wanita cantik di hadapannya.


“Selamat datang!


Bagaimana hari pertama sekolahmu?” Tanya Valda dengan antusias.


“Sangat menyenangkan! Aku


bahkan sudah mendapatkan seorang teman!” Jawab Erika tidak kalah antusias.


Mrs. Milson dengan sigap


langsung menghampiri Erika untuk mengambilkan tasnya namun segera ditolak oleh Valda.


“Tidak usah! Kami akan


mengobrol berdua di kamar. Kau bisa menyiapkan teh dan kue saja untuk sore


nanti.” Terang Valda.


Sejenak Mrs. Milson


tampak ragu. Tapi kemudian ia mengangguk hormat, dan menghilang menuju dapur.


“Sekarang ceritakan


padaku apa saja yang kau lakukan tadi di sekolah!” Dengan tidak sabar Valda


menarik tangan Erika menuju kamar Erika yang terletak di lantai 2. Erika


tersenyum, Valda sudah seperti kakak perempuan sekaligus ibu baginya. Ia selalu


memperhatikan Erika dan mengomelinya layaknya seorang ibu, dan selalu menempel


pada Erika sampai-sampai Alexander dibuat cemburu olehnya.


Saat sampai di kamar,


Valda membantu Erika untuk berganti pakaian. Setelah selesai mereka kemudian


duduk berhadapan di ranjang besar milik Erika.


“Jadi? Siapa teman yang


kau maksud itu?” Tanya Valda.


Erika sejenak menarik


napas, bersiap untuk menceritakan pengalaman pertamanya di sekolah hari ini.


Flashback : hari yang sama, pukul 07.55 pagi


Erika meremas kedua


tangannya dengan gugup. Keringat dingin perlahan mengucur di dahinya, yang sama


sekali tidak dihiraukan oleh gadis cantik itu. Ia menggigit bibir bawahnya, dan


pandangannya menyapu seluruh ruangan dengan cepat. Ia melihat papan nama di


atas meja di hadapannya, yang merupakan milik kepala sekolah tempat ia mendaftarkan


dirinya sekarang. Hari ini adalah hari pertamanya sekolah, dan ia merasa begitu


takut bercampur cemas. Sebelumnya ia tidak pernah bersekolah di sekolah umum,


di mana banyak orang yang sebaya dengan dirinya berkumpul, karena sejak kecil


ia mengikuti home schooling. Tempat ramai yang biasa ia datangi hanyalah pesta


para bangsawan dan petinggi negara di negara tempat ia tinggal sebelumnya, dan


itu juga selalu ditemani oleh kakaknya. Erika menengok ke atas, melihat jarum panjang


jam yang masih berada di angka 5, berarti masih 5 menit lagi ia harus menunggu


sebelum masuk kelas. Tiba-tiba Erika mendengar suara pintu terbuka, dan seorang


pria berumur sekitar 40-an lebih masuk dan tersenyum padanya. Ia adalah kepala


sekolah di sini, setidaknya begitulah ia memperkenalkan diri pada Erika


beberapa saat yang lalu. Erika sekali lagi melihat papan nama di depannya dan


membaca tulisan di bawah tulisan kepala sekolah, ‘Hendra Kurniawan, M.Pd’.


“Tidak perlu takut! Bapak


yakin akan banyak murid di sini yang ingin menjadi temanmu nanti.” Suaranya


begitu tenang dan berwibawa. Ia tersenyum lembut pada Erika yang dengan gugup


menyeka keringat dingin di dahinya.


“I,,iya, Pak!” Jawab


Erika. Ugh! Kenapa sekarang perutku jadi mual sih! Batin Erika.


Selanjutnya mereka berdua


saling diam. Pak Hendra yang kelihatan sibuk dengan kertas-kertas di


hadapannya, dan Erika yang pandangannya tak pernah lepas dari jarum jam. Lima


menit rasanya seperti lima jam bagi Erika. Lama sekali!


Akhirnya yang ditunggu-tunggu


sekaligus sumber kecemasan Erika tiba, bel masuk sekolah terdengar nyaring ke


seantero sekolah. Keringat dingin yang tadi disekanya muncul kembali. Kali ini


bertambah banyak.


“Tenangkan dirimu, Erika! Seorang bangsawan harus


selalu bersikap tenang dalam situasi apapun. Tarik napaaasss,,,, hembuskan,,,,


tarik napaaasss,,,, hembuskaaaannn,,,,” Erika memejamkan matanya dan bergumam


seorang diri.


“Ayo! Saatnya masuk ke


kelasmu!” Erika membuka matanya dan melihat Pak Hendra yang sedang berdiri di


hadapannya tersenyum. Erika mengangguk, dan mengikuti Pak Hendra yang mulai


berjalan keluar ruangan.


Walaupun Erika tidak

__ADS_1


pernah tahu sekolah itu seperti apa, tapi sedikitnya ia tahu bahwa murid baru


tidak diantar langsung oleh kepala sekolah ketika masuk kelas. Biasanya murid


baru itu akan diantar oleh wali kelasnya atau guru yang mengajar jam pelajaran


pertama di kelasnya. Pasti ini permintaan Al, pikir Erika.


Kelas yang akan Erika


masuki adalah kelas VIII-B. Kelas itu terletak di ruangan kedua dari ujung


lorong lantai 2. Lorong itu sangat sepi karena memang semua murid sudah


memasuki kelas untuk mengikuti pelajaran. Sekilas Erika melirik papan yang


menggantung di atas kepalanya. “VIII-B”, semoga aku bisa betah di sini,


batin Erika.


Pak Hendra mengetuk pintu


dan memasuki kelas, dengan Erika yang berdiri menunggu di luar. Dari balik


jendela, Erika bisa melihat keadaan kelas yang ia masuki. Guru yang sedang


mengajar di kelasnya sekarang adalah seorang perempuan, berumur sekitar 40-an. Ia


memakai kacamata persegi dan tampangnya ramah. Ia tersenyum pada Erika yang


dibalas oleh Erika dengan senyuman kaku. Pak Hendra sempat mengobrol sebentar


dengan guru tersebut lalu melangkah keluar.


“Kamu boleh masuk sekarang.”


Pak Hendra tersenyum dan menepuk pundak Erika pelan. “Yang betah disini ya!


Kalau ada apa-apa kamu bisa datang ke bapak.”


Erika hanya mengangguk.


Dengan langkah pelan ia memasuki kelas sambil menundukkan kepala. Seketika itu


juga seisi kelas riuh oleh teriakan para murid, apalagi yang laki-laki. Bahkan


sempat terdengar siulan nyaring dari belakang kelas. Erika yang merasa malu


semakin menundukkan kepalanya.


“Wiiihhhh,,,, cantik


banget cuuyy!!”


“Wah, dia bule ya?”


“Nona manis, duduk sama


abang sini!”


Sorakan dan teriakan para


laki-laki genit itu sontak disambut dengan ledekan para murid perempuan.


“Dasar norak lu pada!”


Ejek salah satu murid perempuan yang duduk paling depan.


“Sudah, sudah! Kalian


jangan berisik! Beri kesempatan bicara untuk teman baru kalian!” Bu guru itu


Erika, Bu Ratna, nama guru tersebut, mempersilahkan Erika untuk memperkenalkan


dirinya di depan kelas.


Erika sejenak menarik


napas panjang dan menegakkan badannya sebelum ia berbicara.


“Salam kenal semuanya!


Nama saya Erika MacGlory. Saya lahir dan dibesarkan di Inggris. Sebelumnya saya


tidak pernah bersekolah di sekolah umum, karena saya menjalani home schooling.


Jadi ini pertama kalinya saya memasuki sekolah formal. Saya akan sangat senang


dan menghargainya jika teman-teman yang terhormat bersedia menjadi teman saya!”


Erika sedikit menekuk kedua lutunya, dengan punggung yang tetap


tegak dan kedua tangan di kedua sisi roknya yang sedikit diangkat. Kepalanya


mengangguk hormat sementara ia tersenyum sopan.


Tiba-tiba kelas menjadi


hening. Mereka tidak menyangka akan sikap Erika yang terasa sangat asing bagi


mereka, seperti sedang berbicara kepada tamu kebesaran. Namun beberapa detik


kemudian suara riuh kembali terdengar, bahkan lebih berisik dari sebelumnya.


“Beneran dia bule!” Sahut


salah satu murid laki-laki dari belakang kelas. Ialah yang tadi bersiul nyaring


saat Erika masuk.


“Aduh, abang jadi


tersanjung. Sini duduk sama abang aja.” Sahut murid laki-laki yang duduk tepat


di depan Erika berdiri. Ia berbicara dengan sikap menggoda sekaligus konyol,


yang kontan saja disambut dengan sorakan temannya yang sesama lelaki.


“Lah, terus gue duduk


dimana donk!” Protes teman sebangkunya.


“Ya Elu duduk di mana


kek! Terserah! Pokoknya ini tempat duduk buat nona manisku.” Jawabnya sewot.


Tapi tampangnya malah semakin lucu. Melihat kekonyolan itu, mau tidak mau Erika


merasa geli juga. Tapi ia lebih memilih untuk menahan tawanya.


Bu Ratna kembali berteriak,


berusaha untuk menenangkan murid-muridnya. Ia kemudian tersenyum pada Erika


yang kembali menunduk malu karena mendapat sorakan dari seisi kelas.

__ADS_1


“Tidak perlu terlalu


bersikap formal. Santai saja.” Kata Bu Ratna lembut. Ia kemudian menunjuk salah


satu bangku kosong di barisan tengah dekat jendela.


“Kau boleh duduk


sekarang. Tempat dudukmu ada di sana.”


Dengan patuh Erika duduk


di kursinya. Ia kemudian melirik ke arah samping. Seorang perempuan cantik


dengan rambut sebahu tersenyum ke arahnya.


“Hai! Aku Lily. Salam


kenal!” Ia mengulurkan tangannya mengajak bersalaman.Erika sejenak merasa terkejut, lalu sepersekian detik


kemudian wajahnya berubah cerah. Matanya berbinar dan senyumnya langsung


merekah.


“Lily!!” Pekik Erika


tertahan. “Lily yang berarti bunga Lily?” Tanyanya antusias.


Teman sebangkunya itu


hanya mengangguk dan tersenyum manis. Lalu dengan semangat Erika menyalami


tangannya dan tersenyum lebar.


“Aku sangat menyukai


bunga Lily! Aku tidak menyangka akan bertemu dengan perwujudan bunga


kesukaanku. Kau sangat cantik dan putih seperti bunga Lily putih!” Puji Erika


tiba-tiba. Senyumnya semakin lebar.


“Hihi,, Terima kasih! Kamu


juga cantik !” Lily terkikik geli melihat sikap Erika.“Ternyata kamu ramah juga


ya. Tadi pas pertama kali liat kamu, apalagi waktu perkenalan itu, aku kira


kamu orang yang kaku dan pemalu.” Kata Lilly. Erika lalu tertawa pelan


mendengarnya.


“Tapi cara kamu ngomong


masih kaku. Geli aku dengernya.” Lily tertawa jenaka.


“Kalau begitu kau bisa


mengajariku.” Kata Erika.


“Oke deh! Nanti aku juga


bakal ngajak kamu jalan-jalan keliling sekolah!” Jawab Lily dengan riang.


Erika hanya tersenyum


mendengarnya. Rasa gugup dan takut yang ia rasakan tadi lenyap sepenuhnya. Ia


senang dengan keputusannya untuk bersekolah di sini. Di hari pertamanya


sekolah, ia sudah mendapatkan seorang teman, yang memiliki nama yang sama


dengan bunga favoritnya.


“Jadi teman barumu itu


juga bernama Lily?” Tanya Valda ketika Erika telah selesai menceritakan


pengalamannya dengan antusias.


Erika mengangguk, “Dia


juga sangat cantik dan baik.” Tambahnya.


“Kalau begitu aku tidak


perlu merasa khawatir lagi. Aku bisa pergi dengan tenang sekarang.” Kata Valda


tersenyum lega.


“Kau akan pulang?” Tanya


Erika. Raut wajahnya berubah murung.


“Ya. Awalnya aku takut


kau akan kesepian karena belum mendapatkan teman. Tapi sekarang kau sudah


mendapatkannya. Bertemanlah dengan banyak orang agar kau tidak kesepian. Tapi


bukan dengan sembarang orang, mengerti!” Valda mengelus kepala Erika dengan


lembut.


“Aku harus pulang karena


aku tidak bisa tinggal di sini terlalu lama. Maafkan aku.” Lanjutnya sambil


tersenyum sedih.


“Maafkan aku,,,,”


“Untuk apa?”


Seketika Valda terlonjak


kaget mendengar suara berat seorang pria di belakangnya. Laki-laki itu


mengerutkan dahi, menatap Valda dengan heran.


“Kenapa kau meminta


maaf?” Tanyanya.


“Bu,,bukan apa-apa!”


Jawab Valda gugup. Ia lalu menarik tangan pria itu untuk mengalihkan


perhatiannya. Valda tidak mau jika suaminya tahu bahwa ia sedang melamunkan


masa lalu dan menyesalinya.


“Ayo kita berangkat


sekarang! Alex bilang ia sudah sampai dan sedang menunggu kita di sana.” Dengan

__ADS_1


tergesa Valda menyeret tangan suaminya, berusaha untuk tidak mengindahkan tatapan


heran pria tampan di belakangnya itu.


__ADS_2