
“I’m home!” Dengan
senyuman lebar yang menghiasi wajahnya, Erika berjalan memasuki rumahnya yang
disambut dengan pelukan hangat seorang wanita cantik di hadapannya.
“Selamat datang!
Bagaimana hari pertama sekolahmu?” Tanya Valda dengan antusias.
“Sangat menyenangkan! Aku
bahkan sudah mendapatkan seorang teman!” Jawab Erika tidak kalah antusias.
Mrs. Milson dengan sigap
langsung menghampiri Erika untuk mengambilkan tasnya namun segera ditolak oleh Valda.
“Tidak usah! Kami akan
mengobrol berdua di kamar. Kau bisa menyiapkan teh dan kue saja untuk sore
nanti.” Terang Valda.
Sejenak Mrs. Milson
tampak ragu. Tapi kemudian ia mengangguk hormat, dan menghilang menuju dapur.
“Sekarang ceritakan
padaku apa saja yang kau lakukan tadi di sekolah!” Dengan tidak sabar Valda
menarik tangan Erika menuju kamar Erika yang terletak di lantai 2. Erika
tersenyum, Valda sudah seperti kakak perempuan sekaligus ibu baginya. Ia selalu
memperhatikan Erika dan mengomelinya layaknya seorang ibu, dan selalu menempel
pada Erika sampai-sampai Alexander dibuat cemburu olehnya.
Saat sampai di kamar,
Valda membantu Erika untuk berganti pakaian. Setelah selesai mereka kemudian
duduk berhadapan di ranjang besar milik Erika.
“Jadi? Siapa teman yang
kau maksud itu?” Tanya Valda.
Erika sejenak menarik
napas, bersiap untuk menceritakan pengalaman pertamanya di sekolah hari ini.
Flashback : hari yang sama, pukul 07.55 pagi
Erika meremas kedua
tangannya dengan gugup. Keringat dingin perlahan mengucur di dahinya, yang sama
sekali tidak dihiraukan oleh gadis cantik itu. Ia menggigit bibir bawahnya, dan
pandangannya menyapu seluruh ruangan dengan cepat. Ia melihat papan nama di
atas meja di hadapannya, yang merupakan milik kepala sekolah tempat ia mendaftarkan
dirinya sekarang. Hari ini adalah hari pertamanya sekolah, dan ia merasa begitu
takut bercampur cemas. Sebelumnya ia tidak pernah bersekolah di sekolah umum,
di mana banyak orang yang sebaya dengan dirinya berkumpul, karena sejak kecil
ia mengikuti home schooling. Tempat ramai yang biasa ia datangi hanyalah pesta
para bangsawan dan petinggi negara di negara tempat ia tinggal sebelumnya, dan
itu juga selalu ditemani oleh kakaknya. Erika menengok ke atas, melihat jarum panjang
jam yang masih berada di angka 5, berarti masih 5 menit lagi ia harus menunggu
sebelum masuk kelas. Tiba-tiba Erika mendengar suara pintu terbuka, dan seorang
pria berumur sekitar 40-an lebih masuk dan tersenyum padanya. Ia adalah kepala
sekolah di sini, setidaknya begitulah ia memperkenalkan diri pada Erika
beberapa saat yang lalu. Erika sekali lagi melihat papan nama di depannya dan
membaca tulisan di bawah tulisan kepala sekolah, ‘Hendra Kurniawan, M.Pd’.
“Tidak perlu takut! Bapak
yakin akan banyak murid di sini yang ingin menjadi temanmu nanti.” Suaranya
begitu tenang dan berwibawa. Ia tersenyum lembut pada Erika yang dengan gugup
menyeka keringat dingin di dahinya.
“I,,iya, Pak!” Jawab
Erika. Ugh! Kenapa sekarang perutku jadi mual sih! Batin Erika.
Selanjutnya mereka berdua
saling diam. Pak Hendra yang kelihatan sibuk dengan kertas-kertas di
hadapannya, dan Erika yang pandangannya tak pernah lepas dari jarum jam. Lima
menit rasanya seperti lima jam bagi Erika. Lama sekali!
Akhirnya yang ditunggu-tunggu
sekaligus sumber kecemasan Erika tiba, bel masuk sekolah terdengar nyaring ke
seantero sekolah. Keringat dingin yang tadi disekanya muncul kembali. Kali ini
bertambah banyak.
“Tenangkan dirimu, Erika! Seorang bangsawan harus
selalu bersikap tenang dalam situasi apapun. Tarik napaaasss,,,, hembuskan,,,,
tarik napaaasss,,,, hembuskaaaannn,,,,” Erika memejamkan matanya dan bergumam
seorang diri.
“Ayo! Saatnya masuk ke
kelasmu!” Erika membuka matanya dan melihat Pak Hendra yang sedang berdiri di
hadapannya tersenyum. Erika mengangguk, dan mengikuti Pak Hendra yang mulai
berjalan keluar ruangan.
Walaupun Erika tidak
__ADS_1
pernah tahu sekolah itu seperti apa, tapi sedikitnya ia tahu bahwa murid baru
tidak diantar langsung oleh kepala sekolah ketika masuk kelas. Biasanya murid
baru itu akan diantar oleh wali kelasnya atau guru yang mengajar jam pelajaran
pertama di kelasnya. Pasti ini permintaan Al, pikir Erika.
Kelas yang akan Erika
masuki adalah kelas VIII-B. Kelas itu terletak di ruangan kedua dari ujung
lorong lantai 2. Lorong itu sangat sepi karena memang semua murid sudah
memasuki kelas untuk mengikuti pelajaran. Sekilas Erika melirik papan yang
menggantung di atas kepalanya. “VIII-B”, semoga aku bisa betah di sini,
batin Erika.
Pak Hendra mengetuk pintu
dan memasuki kelas, dengan Erika yang berdiri menunggu di luar. Dari balik
jendela, Erika bisa melihat keadaan kelas yang ia masuki. Guru yang sedang
mengajar di kelasnya sekarang adalah seorang perempuan, berumur sekitar 40-an. Ia
memakai kacamata persegi dan tampangnya ramah. Ia tersenyum pada Erika yang
dibalas oleh Erika dengan senyuman kaku. Pak Hendra sempat mengobrol sebentar
dengan guru tersebut lalu melangkah keluar.
“Kamu boleh masuk sekarang.”
Pak Hendra tersenyum dan menepuk pundak Erika pelan. “Yang betah disini ya!
Kalau ada apa-apa kamu bisa datang ke bapak.”
Erika hanya mengangguk.
Dengan langkah pelan ia memasuki kelas sambil menundukkan kepala. Seketika itu
juga seisi kelas riuh oleh teriakan para murid, apalagi yang laki-laki. Bahkan
sempat terdengar siulan nyaring dari belakang kelas. Erika yang merasa malu
semakin menundukkan kepalanya.
“Wiiihhhh,,,, cantik
banget cuuyy!!”
“Wah, dia bule ya?”
“Nona manis, duduk sama
abang sini!”
Sorakan dan teriakan para
laki-laki genit itu sontak disambut dengan ledekan para murid perempuan.
“Dasar norak lu pada!”
Ejek salah satu murid perempuan yang duduk paling depan.
“Sudah, sudah! Kalian
jangan berisik! Beri kesempatan bicara untuk teman baru kalian!” Bu guru itu
Erika, Bu Ratna, nama guru tersebut, mempersilahkan Erika untuk memperkenalkan
dirinya di depan kelas.
Erika sejenak menarik
napas panjang dan menegakkan badannya sebelum ia berbicara.
“Salam kenal semuanya!
Nama saya Erika MacGlory. Saya lahir dan dibesarkan di Inggris. Sebelumnya saya
tidak pernah bersekolah di sekolah umum, karena saya menjalani home schooling.
Jadi ini pertama kalinya saya memasuki sekolah formal. Saya akan sangat senang
dan menghargainya jika teman-teman yang terhormat bersedia menjadi teman saya!”
Erika sedikit menekuk kedua lutunya, dengan punggung yang tetap
tegak dan kedua tangan di kedua sisi roknya yang sedikit diangkat. Kepalanya
mengangguk hormat sementara ia tersenyum sopan.
Tiba-tiba kelas menjadi
hening. Mereka tidak menyangka akan sikap Erika yang terasa sangat asing bagi
mereka, seperti sedang berbicara kepada tamu kebesaran. Namun beberapa detik
kemudian suara riuh kembali terdengar, bahkan lebih berisik dari sebelumnya.
“Beneran dia bule!” Sahut
salah satu murid laki-laki dari belakang kelas. Ialah yang tadi bersiul nyaring
saat Erika masuk.
“Aduh, abang jadi
tersanjung. Sini duduk sama abang aja.” Sahut murid laki-laki yang duduk tepat
di depan Erika berdiri. Ia berbicara dengan sikap menggoda sekaligus konyol,
yang kontan saja disambut dengan sorakan temannya yang sesama lelaki.
“Lah, terus gue duduk
dimana donk!” Protes teman sebangkunya.
“Ya Elu duduk di mana
kek! Terserah! Pokoknya ini tempat duduk buat nona manisku.” Jawabnya sewot.
Tapi tampangnya malah semakin lucu. Melihat kekonyolan itu, mau tidak mau Erika
merasa geli juga. Tapi ia lebih memilih untuk menahan tawanya.
Bu Ratna kembali berteriak,
berusaha untuk menenangkan murid-muridnya. Ia kemudian tersenyum pada Erika
yang kembali menunduk malu karena mendapat sorakan dari seisi kelas.
__ADS_1
“Tidak perlu terlalu
bersikap formal. Santai saja.” Kata Bu Ratna lembut. Ia kemudian menunjuk salah
satu bangku kosong di barisan tengah dekat jendela.
“Kau boleh duduk
sekarang. Tempat dudukmu ada di sana.”
Dengan patuh Erika duduk
di kursinya. Ia kemudian melirik ke arah samping. Seorang perempuan cantik
dengan rambut sebahu tersenyum ke arahnya.
“Hai! Aku Lily. Salam
kenal!” Ia mengulurkan tangannya mengajak bersalaman.Erika sejenak merasa terkejut, lalu sepersekian detik
kemudian wajahnya berubah cerah. Matanya berbinar dan senyumnya langsung
merekah.
“Lily!!” Pekik Erika
tertahan. “Lily yang berarti bunga Lily?” Tanyanya antusias.
Teman sebangkunya itu
hanya mengangguk dan tersenyum manis. Lalu dengan semangat Erika menyalami
tangannya dan tersenyum lebar.
“Aku sangat menyukai
bunga Lily! Aku tidak menyangka akan bertemu dengan perwujudan bunga
kesukaanku. Kau sangat cantik dan putih seperti bunga Lily putih!” Puji Erika
tiba-tiba. Senyumnya semakin lebar.
“Hihi,, Terima kasih! Kamu
juga cantik !” Lily terkikik geli melihat sikap Erika.“Ternyata kamu ramah juga
ya. Tadi pas pertama kali liat kamu, apalagi waktu perkenalan itu, aku kira
kamu orang yang kaku dan pemalu.” Kata Lilly. Erika lalu tertawa pelan
mendengarnya.
“Tapi cara kamu ngomong
masih kaku. Geli aku dengernya.” Lily tertawa jenaka.
“Kalau begitu kau bisa
mengajariku.” Kata Erika.
“Oke deh! Nanti aku juga
bakal ngajak kamu jalan-jalan keliling sekolah!” Jawab Lily dengan riang.
Erika hanya tersenyum
mendengarnya. Rasa gugup dan takut yang ia rasakan tadi lenyap sepenuhnya. Ia
senang dengan keputusannya untuk bersekolah di sini. Di hari pertamanya
sekolah, ia sudah mendapatkan seorang teman, yang memiliki nama yang sama
dengan bunga favoritnya.
“Jadi teman barumu itu
juga bernama Lily?” Tanya Valda ketika Erika telah selesai menceritakan
pengalamannya dengan antusias.
Erika mengangguk, “Dia
juga sangat cantik dan baik.” Tambahnya.
“Kalau begitu aku tidak
perlu merasa khawatir lagi. Aku bisa pergi dengan tenang sekarang.” Kata Valda
tersenyum lega.
“Kau akan pulang?” Tanya
Erika. Raut wajahnya berubah murung.
“Ya. Awalnya aku takut
kau akan kesepian karena belum mendapatkan teman. Tapi sekarang kau sudah
mendapatkannya. Bertemanlah dengan banyak orang agar kau tidak kesepian. Tapi
bukan dengan sembarang orang, mengerti!” Valda mengelus kepala Erika dengan
lembut.
“Aku harus pulang karena
aku tidak bisa tinggal di sini terlalu lama. Maafkan aku.” Lanjutnya sambil
tersenyum sedih.
“Maafkan aku,,,,”
“Untuk apa?”
Seketika Valda terlonjak
kaget mendengar suara berat seorang pria di belakangnya. Laki-laki itu
mengerutkan dahi, menatap Valda dengan heran.
“Kenapa kau meminta
maaf?” Tanyanya.
“Bu,,bukan apa-apa!”
Jawab Valda gugup. Ia lalu menarik tangan pria itu untuk mengalihkan
perhatiannya. Valda tidak mau jika suaminya tahu bahwa ia sedang melamunkan
masa lalu dan menyesalinya.
“Ayo kita berangkat
sekarang! Alex bilang ia sudah sampai dan sedang menunggu kita di sana.” Dengan
__ADS_1
tergesa Valda menyeret tangan suaminya, berusaha untuk tidak mengindahkan tatapan
heran pria tampan di belakangnya itu.