Memori dalam Api

Memori dalam Api
Memori : Theobold


__ADS_3

Langit malam tampak indah penuh bintang. Bulan purnama tampak memesona di atas sana, menyinari taman bunga dengan kilauan warna\-warni yang memantulkan sinar bulan oleh butiran embun yang mulai membasahi. Sebuah tangan dengan kulit putih bersih terulur, membelai sebuah kelopak bunga mawar pink yang tampak anggun dengan duri\-duri yang menghiasi tangkainya. Jari\-jarinya dengan lembut menelusuri setiap detil bunga tersebut, sampai sebuah suara gemerisik mengganggu perhatiannya.



Sreekk,,,,srrekk,,,,srekkk,,,



Terdengar langkah kaki yang dengan kasar menggesek rumput di bawahnya dengan tergesa\-gesa. Mengetahui siapa yang sedang berjalan –atau tepatnya setengah berlari, tidak jauh dari tempatnya, si pemilik tangan tersebut memetik bunga yang dibelainya tadi, dan sedikit meringis menahan sakit ketika jarinya tergores duri yang menghiasi tangkainya. Ia lalu berjalan menghampiri gadis kecil yang berdiri tidak jauh dari tempatnya.



“Putri, apa yang anda lakukan di sini?” Ia tersenyum, berdiri dengan sopan di samping majikannya yang terlihat sedang kesal. Salah satu tangannya berada di belakang punggung, menyembunyikan setangkai bunga mawar pink yang tadi di petiknya.



“Seorang Lady yang terhormat tidak pantas meninggalkan pesta yang sedang berlangsung, apalagi jika dia adalah tuan rumahnya.” Lanjutnya. Gadis di hadapannya menoleh, dan menjulurkan lidah ke arahnya.



“Aku tidak peduli!” Gadis itu kembali berpaling, berpura\-pura mengamati rerumputan tinggi di hadapannya yang membatasi area taman bunga.



“Lady Erika, anda juga tidak boleh menjulurkan lidah seperti itu. Itu sama sekali tidak mencerminkan sikap seorang bangsawan.” Lanjutnya lagi. Ia tidak memedulikan gadis di hadapannya yang semakin cemberut mendengar perkataannya.



“Sudah kubilang aku tidak peduli, Theo!” Kali ini gadis itu, Erika, membalikkan tubuhnya menghadap supir pribadi kakaknya, Theobold. Wajah Erika nampak merah menahan kesal, namun di mata Tehobold, wajah Erika sekarang terlihat menggemaskan. Bagaimana tidak? Gadis di hadapannya baru berusia 9 tahun, dan tingginya bahkan tidak mencapai dadanya, yang membuat gadis itu harus mendongak jika menatapnya. Gaun pink yang dikenakannya membuatnya tampak cantik, dengan hiasan kepala yang berwarna senada. Siapapun yang melihatnya pasti akan gemas, dengan wajahnya yang cantik dan lucu dengan pipinya yang merah merona. Ia malah tambah kelihatan cantik dan lucu ketika sedang kesal.



“Memangnya apa yang terjadi, Putri?” Theobold bertanya dengan sopan sambil tersenyum lembut pada Erika.



Melihat tatapan matanya yang menenangkan dan senyuman lembutnya, perlahan rasa kesal Erika memudar. Bibirnya membentuk senyum tipis, membalas senyuman Theobold padanya.



“Aku hanya sedikit merasa kesal pada Ibu dan Ayah.” Ucapnya pelan.



“Kalau saya boleh bertanya, kenapa anda merasa kesal dengan orangtua anda?” Theobold bertanya dengan hati\-hati, ia takut terlalu mencampuri urusan majikannya.



“Aku mendengar mereka berbicara tentang perjodohanku.” Jawab Erika. Rasa kesalnya kembali muncul saat ia mengingat kejadian tadi.



“Perjodohan?” Tanya Theobold dengan terkejut. Ia tidak menyangka Lord Alfred dan Lady Wanda membicarakan perjodohan putri mereka. Karena mengenai perjodohan kakak Erika saja, Alexander, mereka tidak pernah membicarakannya.


__ADS_1


“Kakak saja bahkan belum mempunyai tunangan. Kenapa ayah dan ibu malah menjodohkanku? Menyebalkan! Pokoknya aku tidak mau menikah sebelum kakak!” Erika kembali merajuk.



Mau tidak mau Theobold merasa lucu melihat tingkah Erika. Ia terkekeh pelan. Ia merasa lucu karena Erika berbicara seolah\-olah ia tahu apa arti pernikahan itu. Melihat Erika yang melotot padanya karena ditertawakan, Theobold akhirnya berlutut, membuat Erika tidak perlu lagi mendongak ke atas untuk melihatnya.



“Anda tidak boleh bersikap seperti itu, Putri! Saya yakin orangtua anda sangat menyayangi anda. Anda dijodohkan bukan berarti anda harus segera menikah, bukan! Lord Alfred dan Lady Wanda juga pasti ingin anda memiliki teman baru. Anda selalu berada di rumah dan menjalani home schooling. M’Lord juga mulai sibuk dengan tugasnya sebagai pewaris, dan saya juga Ray tidak bisa terus menemani anda karena kami harus membantu tugas kakak anda.” Terang Theobold panjang lebar. M’Lord adalah panggilannya pada Alexander. Ia dan Valeray biasa memanggilnya seperti itu. Sedangkan kepada Erika mereka memanggilnya dengan sebutan Putri.



“Teman baru?” Erika tampak berpikir. Ia memainkan ujung rambutnya yang sengaja digerai begitu saja. “Mungkin kau benar. Ayah dan Ibu juga pasti sedang merasa khawatir karena tadi aku tiba\-tiba berlari keluar.” Jawab Erika dengan penuh penyesalan. Wajahnya menunduk sedih. Lalu tiba\-tiba tatapannya teralih pada wajah dengan mata biru di hadapannya.“Tapi, seperti katamu tadi, apa kita benar\-benar tidak bisa terus bersama? Apa kau akan pergi meninggalkanku suatu saat nanti? Kakak dan Ray juga?” Kali ini raut wajah Erika terlihat sangat sedih.



“Tentu saja kami akan selalu bersama anda, Putri! Kami tidak akan mungkin meninggalkan anda sendirian. Begitu pun dengan M’Lord. Putri tahu sendiri, M’Lord bahkan sering sekali bolos dari pelajarannya untuk bermain dengan Putri sepanjang hari.”



Erika tertawa kecil mendengarnya. Ia ingat seringkali Alexander bersembunyi di kamarnya sementara Valeray dengan bingung mencari tuannya kesana kemari. Kakaknya akan bersembunyi di bawah selimut dengan Erika yang duduk di atasnya sambil tertawa cekikikan. Dan ketika Valeray menanyakan keberadaan Alexander padanya, dengan wajah tanpa dosanya ia hanya menggeleng, lalu tertawa keras saat Valeray kembali keluar dengan wajah bingung dan frustasi. Selanjutnya mereka berdua akan bermain seharian sampai makan malam tiba.



“Benarkah? Kau janji?” Tuntut Erika kemudian. Tawanya sudah berhenti, digantikan dengan senyum manis miliknya.



“Tentu saja! I cross my heart!” Theobold membuat tanda silang pada dadanya. Ia lalu menyelipkan bunga mawar yang tadi dipetiknya pada hiasan kepala Erika, membuat Erika terlihat semakin cantik dan menggemaskan.




“Terima kasih, Theo!” Tiba\-tiba Erika meloncat dan memeluk Theo dengan erat. Secara refleks Theo menahan tubuh Erika yang hampir saja membuatnya terjengkang ke belakang. Sejenak ia ragu untuk membalas pelukannya. Theobold tahu, bahwa ia hanyalah seorang supir yang bukanlah apa\-apa jika dibandingkan dengan putri cantik di hadapannya ini. Jadi pada akhirnya Theobold hanya tersenyum, dan menikmati pelukan hangat Erika.



Tidak lama Erika melepas pelukannya, lalu berlari\-lari kecil meninggalkan Theobold yang masih berlutut sambil tersenyum padanya. Erika kemudian berjalan mundur sambil melambaikan tangannya pada Theobold.



“Aku akan meminta maaf pada ayah dan ibu! Aku juga akan mengatakan pada mereka bahwa aku akan menyukai teman baruku!” Sahut Erika dengan riang.



“Berjalanlah yang benar, Putri! Anda bisa jatuh!” Dengan setengah berteriak Theobold memperingatkan Erika.



Erika kembali tertawa. Cantik sekali! Theobold bisa memastikan bahwa Erika akan tumbuh menjadi wanita yang cantik dan anggun, sama seperti ibunya. Bahkan mungkin melebihi kecantikan ibunya. Membayangkan hal itu, Theobold merasa sedikit sedih. Ia seakan tidak rela Erika tumbuh menjadi gadis dewasa, lalu menikah dengan pria lain. Ia terbiasa dengan hari\-harinya yang dipenuhi dengan tawa riang gadis kecil itu. Ia merasa tidak sanggup jika harus berpisah dengan Erika suatu hari nanti.



“Haaaa,,,I must be crazy!” Desah Theobold.

__ADS_1



“You already are!” Tiba\-tiba kepalanya terasa sakit karena dihantam oleh sesuatu. Ia melihat Valeray berdiri di sampingnya, punggungnya menyender pada pintu mobil limousine hitam di belakangnya. Valeray melipat kedua tangannya di dada dengan sikap tak acuh.



“Sialan kau! Kepalaku bisa bocor jika dipukul seperti itu!” Theobold mendecak sebal pada Valeray yang tak mempedulikan umpatan pria disampingnya.



“Sedang melamunkan apa kau?” Tanya Valeray. Ia memandang ke depan, menatap halaman samping mansion yang tampak asri. Lampu\-lampu kecil berkelap kelip menghiasi kolam air mancur yang penuh dengan ikan\-ikan hias kecil.



“Bukan apa\-apa!” Jawab Theobold. Ia masih merasa kesal pada Valeray.



“Apakah itu tentang Putri?” Tanyanya lagi. Theobold hampir tersedak mendengar tebakan Valeray yang tepat sasaran.



“Semua orang juga sedang mencemaskannya. Aku tidak heran jika kau melamun dan bersikap gila seperti tadi.” Lanjut Valeray. Raut mukanya berubah sedih. Pandangan matanya yang biasanya tajam menjadi sayu dan redup.



Theobold tidak menyahut ucapan pria gagah di sampingnya. Melihat Theobold terdiam, Valeray mendesah, lalu ikut terdiam bersamanya. Mereka berdua akhirnya larut dengan pikiran masing\-masing.



“Sudah puas melamunnya?” Tiba\-tiba Valeray dan Theobold terlonjak kaget mendengar suara bass seorang pria di belakang mereka. Sejenak mereka berdehem bersamaan lalu tersenyum dengan salah tingkah.



“Maaf, M’Lord! Apakah anda sudah siap pergi?” Theobold membungkukkan badannya secara sopan pada Alexander yang berdiri tegap dengan setelan tuksedo hitam yang terlihat pas di badannya.



“Tidak perlu bersikap formal Theo! Tidak ada siapapun di sini.” Alexander berkata sambil melirik Valeray yang sudah mengembalikan ekspresinya seperti semula.



“Maaf! Tadi itu refleks karena terkejut.” Sekarang Theobold tampak meringis, merasa malu karena ketahuan sedang melamun.



“Kita berangkat sekarang! Mereka pasti sudah menungguku.” Alexander sejenak merapikan dasi di lehernya lalu melangkah menghampiri mobil panjang berwarna hitam mengkilat di depannya.



Tanpa diperintah, Valeray mengitari mobil dan membuka pintu untuk Alexander. Setelah tuannya masuk ke dalam mobil, ia menyusul dan menutup pintunya kembali dari dalam.



Theobold dengan segera duduk di belakang setir, dan dengan perlahan membawa benda yang telah dikemudikannya selama 9 tahun itu keluar gerbang mansion megah di belakangnya.

__ADS_1


__ADS_2