Memori dalam Api

Memori dalam Api
Memori : Alexander


__ADS_3

“Aku mohon! Biarkan aku pergi!” Erika menatap pemuda di depannya dengan wajah memelas. Sudah berkali\-kali Erika membujuk dan meyakinkannya. Tapi dasar keras kepala, ia tidak juga mengabulkan permintaan Erika.



“Tidak bisa! Aku tidak bisa membiarkanmu pergi sendirian. Ini terlalu berbahaya. Kau masih 13 tahun, masih belum dewasa, kau tidak boleh bepergian jauh sendirian. Apalagi kau bilang kau ingin pergi ke sekolah biasa? Tidak, Erika! aku tidak akan membiarkannya. Bagaimana jika mereka jahat padamu? Atau kau dibully? Atau –“ Alexander terkejut dan menghentikan ucapannya ketika Erika memeluknya dengan tiba\-tiba. Alexander diam mematung, tidak sanggup melanjutkan kata\-katanya.



Ini adalah cara Erika untuk membungkam mulut kakaknya. Jika kakaknya yang overprotektif mengoceh tak henti\-henti, Erika akan memeluk kakaknya dengan erat, sehingga kakaknya secara otomatis akan terdiam.



“Erika, kau tahu aku sangat menyayangimu. Setelah kepergian ayah dan ibu, aku tidak sanggup jika harus berpisah denganmu. Aku tidak ingin kehilangan orang yang kusayangi lagi. Kau satu\-satunya yang kumiliki saat ini.” Alexander membalas pelukan Erika dengan erat. Ia menundukkan kepalanya, menghirup aroma wangi dari rambut hitam Erika, dan mencium puncak kepala Erika dengan lembut.



Sebenarnya Erika juga tidak ingin berpisah dengan Alexander. Ia takut pergi sendirian ke negeri asing yang belum pernah dikunjunginya. Namun rasa frustasinya karena tidak mengingat apapun semenjak kecelakaan 3 tahun lalu, membuatnya melakukan keputusan sulit untuk pergi. Ia bahkan tidak bisa mengingat wajah kedua orangtuanya setelah kecelakaan mobil yang menimpa mereka, kecuali lewat foto yang ditunjukkan Alexander padanya.



“Kenangan kita seluruhnya berada di sini. Erika! Di rumah kita! Kita tidak pernah berkunjung ke Indonesia satu kalipun. Rumah Ibu sudah tidak ada di sana. Ibu juga tidak mempunyai saudara ataupun orangtua. Kau tidak akan menemukan apa\-apa!”



Erika tahu betul akan hal itu. Ia juga tahu tentang fakta bahwa dirinya dan Alexander hanya saudara seayah. Alfred yang merupakan seorang Marquess menikahi Victoria, ibu kandung Alexander yang merupakan seorang Inggris tulen. Namun Victoria meninggal saat melahirkan Alexander. Alfred kemudian menikah dengan Wanda saat Alexander berusia 10 tahun untuk menggantikan posisi Victoria menjadi ibu bagi Alexander. Satu tahun kemudian mereka memberi Alexander adik perempuan yang lucu, yang mereka beri nama Erika.



“Aku mohon, ubahlah keputusanmu! Aku akan melakukan apapun untukmu asalkan kau tidak pergi.” Bujuk Alexander.



Tapi sayangnya, Erika sama keras kepalanya seperti kakaknya. Erika melepaskan pelukannya dan menatap Alexander dengan sungguh\-sungguh. Sejenak ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan air matanya agar tidak tumpah. Hal ini juga merupakan keputusan sulit untuknya. Meninggalkan tanah tempat ia dilahirkan dan semua orang yang disayanginya.



“Aku harus pergi. Dan kau tidak perlu khawatir. Aku tidak sendirian. Aku akan pergi dengan Nanny.” Erika tersenyum, mencoba untuk sekali lagi meyakinkan Alexander.



“Sama saja! Kalian berdua adalah perempuan. Apalagi Nanny yang sudah tua, ia tidak bisa menjagamu sendirian. Aku takut jika –“ Perkataan Alexander kembali terputus oleh genggaman Erika pada tangannya. Ia bisa merasakan tangan adiknya yang gemetar. Alexander menyadari bahwa keputusan ini juga sangat sulit bagi Erika.

__ADS_1



 “Percayalah! Aku akan baik\-baik saja. Aku janji akan menjaga diri baik\-baik. Aku juga akan berteman dengan banyak orang sehingga tidak dibully. Aku akan langsung pulang ke rumah agar tidak ada penjahat yang mencelakaiku. Aku juga janji akan menelponmu tiap malam dan memberi kabar bahwa aku baik\-baik saja. Jadi kumohon, biarkan aku pergi! Aku hanya ingin melihat tanah tempat ibu dilahirkan. Aku juga ingin sekolah di tempat ibu bersekolah dulu.” Erika menggenggam tangan Alexander kuat\-kuat, air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya tumpah. Rasa rindu pada ibunya yang bahkan tidak bisa ia ingat wajahnya kembali membuncah.



“Aku janji akan pulang setiap liburan, dan kau juga bisa mengunjungiku saat kau tidak sibuk. Bersama Ray dan Theo juga.” Erika mendongak, menatap wajah kakaknya yang tampak mengeras dan kaku.



“Al, kau tidak marah padaku kan?” Tanya Erika takut.



Alexander akhirnya mendesah, tanda bahwa ia sudah menyerah. Ia tahu ia tidak akan bisa menahan Erika, sifat keras kepala mereka sama persis. Dan ia juga mengerti alasan Erika ingin pergi.



“Tentu saja tidak. Kau tahu aku tidak akan pernah bisa marah padamu, sweetheart!” Alexander tersenyum dan mengelus kepala Erika dengan lembut.



“Jadi kapan kau akan pergi?” Tanyanya kemudian.




“APA?!! Besok lusa? Apa kau bahkan sudah mendapatkan tempat tinggal?” Alexander tidak menyangka bahwa adiknya akan pergi secepat itu.



Erika hanya menggeleng. “Aku hanya nekat membeli tiketnya saja. Aku berencana untuk membatalkannya jika kau masih tidak mengijinkan. Tenang saja, selama mencari tempat tinggal, aku dan Nanny bisa tinggal di hotel untuk sementara.”



Alexander tertegun mendengar jawaban Erika. “Jadi kau tidak akan pergi jika aku tidak setuju?” Tanyanya antusias. Tapi kemudian ia meringis memegangi perutnya yang sakit karena ditonjok Erika.



“Aku tarik ucapanku tentang penjahat tadi. Aku yakin mereka akan kabur jika mendapat pukulanmu. Benar\-benar sakit.” Candanya. Erika hanya melotot sambil menahan tawa. Alexander kemudian terkekeh geli melihat ekspresi adiknya. Tapi sebentar kemudian wajahnya kembali serius.

__ADS_1



“Tidak bisa! Batalkan saja tiketnya. Kau akan berangkat seminggu lagi.” Sekarang ganti Erika yang tertegun. Ia mengernyit, dan memandang Alexander dengan heran.



“Aku tidak bisa membiarkanmu tinggal di sembarang tempat. Aku akan menyiapkan rumah untukmu. Kau bilang akan bersekolah di tempat ibu dulu kan? Walau kau berkata begitu, aku yakin kau belum tahu di mana sekolahnya. Tunggu seminggu lagi, lalu kau bisa berangkat. Aku akan menyiapkan segalanya untukmu. Kau juga tidak perlu membeli tiket lagi. Kita bisa memakai pesawat pribadi.” Terang Alexander panjang lebar.



Erika hanya mengangguk setuju. Setidaknya ia bisa pergi ke negara ibunya berasal walau diiringi dengan sikap berlebihan kakaknya. Alexander memang selalu memanjakannya dan bersikap overprotektif pada Erika, tapi Erika mengerti bahwa kakaknya menyayanginya, dan dengan cara itulah Alexander menunjukkannya, walaupun terkadang Erika merasa tidak nyaman, karena ia juga ingin melakukan segala sesuatunya sendiri.



Erika tersenyum dengan pandangan yang tak lepas dari sosok Alexander. Kakaknya itu dengan serius berbicara lewat telepon, memberi perintah pada anak buahnya untuk keperluan dirinya.



“Terima kasih, Al! Aku sangat menyayangimu.” Bisik Erika dalam hati.



“M’Lord!”



“M’Lord!”



“M’LORD!!!” Valeray mengeraskan suaranya yang membuat Alexander terlonjak kaget.



“Y,,ya. Apa?”



“Kita sudah sampai, M’Lord!” Valeray sedikit membungkuk menatap Alexander yang masih terpaku di dalam mobil, tangannya memegang pegangan pintu, menahannya agar tetap terbuka.


__ADS_1


Alexander seketika tersadar. Ia segera merapikan tuksedonya dan menjulurkan kakinya keluar.Ia lalu berjalan dengan langkah tegap, diiringi dengan Valeray dan Theobold yang berdiri di belakang kanan dan kirinya.


__ADS_2