
Pasangan-pasangan
ABG terlihat mengantri panjang di loket. Mereka asyik berbincang satu sama
lain, saling mencubit, dan berangkulan. Beberapa anak kecil dengan riang
membuka sepatunya, merasakan lembutnya karpet berwarna hijau loreng yang
digelar rata di seluruh permukaan lantai. Meja-meja penuh dengan canda tawa, sesekali
diselingi dengan teguran sang ibu pada anaknya yang tidak sengaja menjatuhkan
minumannya dan mengotori meja. Aroma manis menguar memenuhi ruangan, menyatu
dengan udara sejuk yang memberikan suasana nyaman.
“Cars 3, 2 tiket.” Ucap Erika.
Pegawai
cantik di depannya mempersilahkan Erika untuk memilih kursi. Sejenak Erika
tampak berpikir. Tak lama kemudian ia tersenyum jahil. Dengan mantap ia
menunjuk gambar kursi yang terdapat di layar, lalu dengan senyum jahil yang
masih mengembang di wajahnya ia menghampiri gadis bermata sipit yang duduk di
salah satu meja. Ia terlihat serius membaca bukunya, sambil sesekali menyeruput
minumannya yang sudah setengah habis.
“Lily!”
Tegur Erika. Ia menjatuhkan pantatnya di kursi, berhadapan dengan sahabatnya
itu.
“Kalau
kamu minum terus, nanti di dalam malah kebelet pipis lagi.” Protesnya.
Gadis
di depannya mendongak, tangannya terulur untuk mengambil popcorn manis ukuran
jumbo di atas meja. Tanpa menanggapi ocehan Erika, ia menyumpal mulutnya dengan
popcorn dan kembali membaca, ketika dengan tiba-tiba Erika mencubit kedua
pipinya dengan gemas.
“AWW!!
Sakit tau!” Lily mengusap-usap pipinya yang memerah. Ia lalu nyengir, melihat
Erika yang dengan lucunya memberengut kesal. Ia diam saja ketika Erika dengan
sigap mengamankan popcorn yang bernasib sama dengan minumannya.
“Yah,,
sudah mau habis lagi.” Keluh Erika.
“Nanti
juga di dalam kita fokus nonton. Bukan makan.” Cetus Lily dengan santainya.
Erika
hanya bisa pasrah. Pasalnya, saat ia akan kembali membeli popcorn yang sudah
hampir habis oleh sahabatnya yang memang doyan makan itu, pintu teater sudah dibuka
dan Lily dengan semangat menyeretnya masuk.
Namun
kali ini Erika bisa membalaskan dendamnya.
Mata
sipit berwarna coklat itu melotot tajam pada gadis disampingnya yang hanya
tertawa jahil. Tidak peduli dengan pelototan tajam di sampingnya, Erika duduk
dengan manis di kursinya, dan mau tidak mau, gadis disampingnya ikut duduk, itu
pun setelah tangannya ditarik sekuat tenaga oleh Erika.
“Kenapa
milih tempat duduk di sini sih?” Decak Lily sebal. Ia menengok ke kanan dan ke
kiri, dan melihat banyak pasangan remaja yang ketawa ketiwi dan berangkulan
dengan mesra tanpa rasa malu.
Yup.
Mereka berdua duduk di kursi couple,
kursi yang terletak di jajaran paling belakang, yang didesain khusus untuk para
couple yang ingin menikmati waktu berdua sambil menonton. Terdapat jarak setiap
dua kursi, dengan sandaran yang melengkung ke depan, menciptakan tameng yang
akan mengahalangi lirikan penasaran dari kursi sebelah. Lily merasa jengah
sendiri, membayangkan apa yang akan dilakukan para ABG itu ketika lampu
dipadamkan nanti. Selama film berlangsung, Lily dengan gelisah bergerak-gerak
di tempat duduknya, merasa tidak nyaman walaupun ia sudah menghabiskan dua cup
popcorn berukuran sedang yang ditawarkan penjual sesaat sebelum film diputar
tadi.
“Lain
kali aku yang beli tiket!” Lily dengan tegas memberi ultimatum pada Erika, yang
hanya tersenyum melihat sahabatnya yang masih kesal itu. Film sudah selesai
__ADS_1
diputar, dan mereka sedang menikmati makan siang di salah satu restoran
seafood.
“Sudahlah!
Lagipula tidak ada yang mengira kita lesbian kan? Problem is solved!” Balas Erika.
“Eh,
ngomong-ngomong, kamu dengar sesuatu nggak sih tadi di dalam?” Bisik Lily.
“O
ya? Suara apa?” Tanya Erika.
“Suara,,,,
kayak,,, mmmm,,,,” Wajah Lily tiba-tiba memerah, lalu dengan malu ia membisikkannya
di telinga Erika.
“APA!!”
Jerit Erika kaget. Spontan ia menjadi pusat perhatian, dengan tatapan heran
mengarah padanya. Dengan malu Erika membungkam mulutnya dengan kedua tangan,
lalu menundukkan kepalanya , meminta maaf. Setelah orang-orang kembali tidak
mengacuhkannya, ia balik berbisik.
“Kamu
yakin? Mungkin kamu salah dengar.”
“Nggak
mungkin. Suaranya beda banget. Aku gak konsen nonton gara-gara suara itu. Masa
kamu gak denger sih!” Balas Lily.
Erika
hanya menggeleng. Sama seperti Lily, ia juga merasa malu sendiri. Menurutnya,
melakukan hal seperti itu di tempat umum sungguh tidak bermoral. Adegan yang
hanya boleh dilakukan oleh suami istri.
Tak
lama pesanan mereka datang. Kedua gadis itu menyambutnya dengan senang, karena
sejak tadi mereka memang sudah menahan lapar.
Selanjutnya
mereka asyik membahas film yang mereka tonton tadi sambil makan. Sepakat akan melupakan
kejadian tidak pantas yang menginterupsi acara menonton mereka tadi dan
menganggapnya tidak pernah terjadi.
Lily
berada di tanah kelahirannya, makan dengan sikap yang anggun, yang mengundang
lirikan dan tatapan kagum juga heran beberapa orang di sekitarnya.
Sementara
itu, seorang pria terlihat memperhatikan mereka berdua, atau lebih tepatnya
Erika. Pandangan matanya senantiasa mengikuti setiap gerak-gerik Erika. Ia
merasa kagum dan terpesona dengan gadis itu. Dari cara Erika menyendok
makanannya, caranya menyuapkan makanan ke mulutnya, bagaimana dengan anggunnya
Erika merapikan rambutnya yang tergerai bebas menutupi punggung, apalagi dengan
bagaimana Erika tersenyum dengan manisnya. Bahkan saat Erika memberengut kesal
karena digoda oleh gadis di depannya, pria itu terpana, ia jatuh cinta pada
pandangan pertama pada gadis di depannya, yang hanya terhalang jarak 2 meja.
“Maaf
aku terlambat!”
Pria
itu mengalihkan perhatiannya dari Erika, dan tersenyum lalu bertos ria dengan
pria gondrong yang baru datang itu.
“Kemana
saja kau? Aku sudah menunggu lama disini.” Ia melirik arlojinya. “Sudah hampir
setengah jam!”
“Dan
aku terkejut kau tidak marah seperti biasanya. Sejak aku melihatmu, kau terus
tersenyum sendiri seperti orang gila.”
“Aku
menemukannya, Louis!”
“Cinta
pertamamu? Tidak mungkin.” Louis menggeleng tidak percaya.
“Tentu
saja bukan. Dia tidak mungkin berada di sini. Aturan keluarganya sangat ketat.
Dia bahkan tidak tahu dunia luar selama hidupnya.”
Pria
__ADS_1
itu menunjuk Erika dengan dagunya. “Dia orangnya!”
Louis
mengikuti pandangan pria itu, dan melihat Erika yang sedang asyik bercanda
dan tertawa dengan gadis di depannya. Tawanya manis sekali! Sampai-sampai Louis
pun ikut terpana melihatnya. Tapi sebentar kemudian ia meringis kesakitan.
“Jangan kau berani mendekatinya.
Dia milikku!” Pria itu memperingatkan dengan pelototan tajam. Rupanya ia tadi
menyodok pinggang Louis dengan sikunya.
“Aww!! Iya,,iya,, aku tahu!
Lagipula siapa yang berani mendekati incaranmu! Bisa mati aku. Aduh! Ini
benar-benar sakit. Kau memukul terlalu keras, Sergey!” Pria yang dipanggil
Sergey itu hanya mendengus keras, sifatnya yang pemarah kembali.
“Tapi apa kau serius? Gadis itu
sepertinya jauh lebih muda daripada kita. Seleramu kan wanita seksi dan dewasa.
Bukan anak kecil yang manis seperti dia. Tunggu!! Apa jangan-jangan selain
pemarah kau juga pedo−” Louis tidak
sempat menyelesaikan kalimatnya karena keburu disodok untuk yang kedua kalinya.
Ia kembali meringis menahan sakit.
“Sialan kau!” Umpatnya.
“Jika Cinta pertamamu tahu kalau
kau adalah seorang playboy berat, berani taruhan dia pasti akan menolakmu
mentah-mentah.” Kata Louis sinis.
“Dan berani taruhan, dia tidak akan
berani menolakku.” Jawab Sergey. Matanya masih terus memperhatikan setiap
gerak-gerik Erika, wajahnya menyunggingkan senyum miring. Beberapa pelayan wanita
yang melihatnya terpesona karena ketampanan Sergey yang tersenyum. Tapi lain
dengan Louis, dia menatap Sergey ngeri, sebelum pandangannya beralih pada Erika
yang terlihat mulai beranjak keluar dari restoran tersebut.
“Semoga kau berhasil melarikan diri
sebelum terlambat, gadis kecil.” Gumamnya prihatin.
***
"SERGEY!"
Lelaki yang dipanggil namanya itu tetap tak
bergeming, pandangannya terfokus pada benda di tangannya. Ia sama seali tak
menghiraukan panggilan yang sudah ia duga berasal dari siapa.
"BLOODY BEAR!"
Lelaki itu akhirnya menoleh, disertai dengan
tatapan galak dan seringaian buas. "Apa katamu tadi?"
Lelaki jangkung berambut pirang yang memanggil
Sergey dengan sebutan Bloody Bear itu nyengir, lalu tanpa tedeng aling-aling
merebut selembar foto dari tangan Sergey dan tersenyum melihat wajah seseorang
yang sedang tersenyum riang dalam foto.
"Kau masih belum bisa melupakannya?"
tanyanya lagi.
Sergey menggeram, tapi kemudian ia kembali diam.
"Dia milikku. Tidak ada alasan kenapa aku
harus melupakannya." Desisnya tajam.
"Milikmu? Setahuku dia sudah mempunyai
tunangan. Ditambah lagi, setelah peristiwa itu, aku rasa ia takut padamu."
Sergey kembali melayangkan tatapan buasnya,
tangannya dengan cepat merebut kembali foto itu, dan memandangi gadis yg berada
dalam foto dengan tatapan lapar.
"Sejak dulu ia sudah menjadi milikku, dan
sampai kapanpun, akan seperti itu. Aku bersumpah akan menghancurkan siapapum
yang berusaha menghalangiku. Dan itu juga berlaku untukmu!" Sergey menatap
tajam lelaki di sampingnya, yang meresponnya dengan gelengan kecil dan kedua
tangan terangkat, tanda menyerah.
Melihat itu Sergey tersenyum puas. Kemudin ia
berdiri, dan meninggalkan lelaki itu sendirian. Sergey bertekad untuk
mendapatkan kembali gadis itu, bagaimanapun caranya.
"Kali ini
sepertinya kau harus hati-hati sobat." Lelaki itu menatap Sergey tajam, namun
bibirnya membentuk senyum prihatin. "Karena pangeran berkuda putih dan para
__ADS_1
ksatrianya sudah tiba di sampingnya dan siap untuk melindunginya."