Memori dalam Api

Memori dalam Api
Memori : Sergey


__ADS_3

Pasangan-pasangan


ABG terlihat mengantri panjang di loket. Mereka asyik berbincang satu sama


lain, saling mencubit, dan berangkulan. Beberapa anak kecil dengan riang


membuka sepatunya, merasakan lembutnya karpet berwarna hijau loreng yang


digelar rata di seluruh permukaan lantai. Meja-meja penuh dengan canda tawa, sesekali


diselingi dengan teguran sang ibu pada anaknya yang tidak sengaja menjatuhkan


minumannya dan mengotori meja. Aroma manis menguar memenuhi ruangan, menyatu


dengan udara sejuk yang memberikan suasana nyaman.


“Cars 3, 2 tiket.” Ucap Erika.


Pegawai


cantik di depannya mempersilahkan Erika untuk memilih kursi. Sejenak Erika


tampak berpikir. Tak lama kemudian ia tersenyum jahil. Dengan mantap ia


menunjuk gambar kursi yang terdapat di layar, lalu dengan senyum jahil yang


masih mengembang di wajahnya ia menghampiri gadis bermata sipit yang duduk di


salah satu meja. Ia terlihat serius membaca bukunya, sambil sesekali menyeruput


minumannya yang sudah setengah habis.


“Lily!”


Tegur Erika. Ia menjatuhkan pantatnya di kursi, berhadapan dengan sahabatnya


itu.


“Kalau


kamu minum terus, nanti di dalam malah kebelet pipis lagi.” Protesnya.


Gadis


di depannya mendongak, tangannya terulur untuk mengambil popcorn manis ukuran


jumbo di atas meja. Tanpa menanggapi ocehan Erika, ia menyumpal mulutnya dengan


popcorn dan kembali membaca, ketika dengan tiba-tiba Erika mencubit kedua


pipinya dengan gemas.


“AWW!!


Sakit tau!” Lily mengusap-usap pipinya yang memerah. Ia lalu nyengir, melihat


Erika yang dengan lucunya memberengut kesal. Ia diam saja ketika Erika dengan


sigap mengamankan popcorn yang bernasib sama dengan minumannya.


“Yah,,


sudah mau habis lagi.” Keluh Erika.


“Nanti


juga di dalam kita fokus nonton. Bukan makan.” Cetus Lily dengan santainya.


Erika


hanya bisa pasrah. Pasalnya, saat ia akan kembali membeli popcorn yang sudah


hampir habis oleh sahabatnya yang memang doyan makan itu, pintu teater sudah dibuka


dan Lily dengan semangat menyeretnya masuk.


Namun


kali ini Erika bisa membalaskan dendamnya.


Mata


sipit berwarna coklat itu melotot tajam pada gadis disampingnya yang hanya


tertawa jahil. Tidak peduli dengan pelototan tajam di sampingnya, Erika duduk


dengan manis di kursinya, dan mau tidak mau, gadis disampingnya ikut duduk, itu


pun setelah tangannya ditarik sekuat tenaga oleh Erika.


“Kenapa


milih tempat duduk di sini sih?” Decak Lily sebal. Ia menengok ke kanan dan ke


kiri, dan melihat banyak pasangan remaja yang ketawa ketiwi dan berangkulan


dengan mesra tanpa rasa malu.


Yup.


Mereka berdua duduk di kursi couple,


kursi yang terletak di jajaran paling belakang, yang didesain khusus untuk para


couple yang ingin menikmati waktu berdua sambil menonton. Terdapat jarak setiap


dua kursi, dengan sandaran yang melengkung ke depan, menciptakan tameng yang


akan mengahalangi lirikan penasaran dari kursi sebelah. Lily merasa jengah


sendiri, membayangkan apa yang akan dilakukan para ABG itu ketika lampu


dipadamkan nanti. Selama film berlangsung, Lily dengan gelisah bergerak-gerak


di tempat duduknya, merasa tidak nyaman walaupun ia sudah menghabiskan dua cup


popcorn berukuran sedang yang ditawarkan penjual sesaat sebelum film diputar


tadi.


“Lain


kali aku yang beli tiket!” Lily dengan tegas memberi ultimatum pada Erika, yang


hanya tersenyum melihat sahabatnya yang masih kesal itu. Film sudah selesai

__ADS_1


diputar, dan mereka sedang menikmati makan siang di salah satu restoran


seafood.


“Sudahlah!


Lagipula tidak ada yang mengira kita lesbian kan? Problem is solved!” Balas Erika.


“Eh,


ngomong-ngomong, kamu dengar sesuatu nggak sih tadi di dalam?” Bisik Lily.


“O


ya? Suara apa?” Tanya Erika.


“Suara,,,,


kayak,,, mmmm,,,,” Wajah Lily tiba-tiba memerah, lalu dengan malu ia membisikkannya


di telinga Erika.


“APA!!”


Jerit Erika kaget. Spontan ia menjadi pusat perhatian, dengan tatapan heran


mengarah padanya. Dengan malu Erika membungkam mulutnya dengan kedua tangan,


lalu menundukkan kepalanya , meminta maaf. Setelah orang-orang kembali tidak


mengacuhkannya, ia balik berbisik.


“Kamu


yakin? Mungkin kamu salah dengar.”


“Nggak


mungkin. Suaranya beda banget. Aku gak konsen nonton gara-gara suara itu. Masa


kamu gak denger sih!” Balas Lily.


Erika


hanya menggeleng. Sama seperti Lily, ia juga merasa malu sendiri. Menurutnya,


melakukan hal seperti itu di tempat umum sungguh tidak bermoral. Adegan yang


hanya boleh dilakukan oleh suami istri.


Tak


lama pesanan mereka datang. Kedua gadis itu menyambutnya dengan senang, karena


sejak tadi mereka memang sudah menahan lapar.


Selanjutnya


mereka asyik membahas film yang mereka tonton tadi sambil makan. Sepakat akan melupakan


kejadian tidak pantas yang menginterupsi acara menonton mereka tadi dan


menganggapnya tidak pernah terjadi.


Lily


berada di tanah kelahirannya, makan dengan sikap yang anggun, yang mengundang


lirikan dan tatapan kagum juga heran beberapa orang di sekitarnya.


Sementara


itu, seorang pria terlihat memperhatikan mereka berdua, atau lebih tepatnya


Erika. Pandangan matanya senantiasa mengikuti setiap gerak-gerik Erika. Ia


merasa kagum dan terpesona dengan gadis itu. Dari cara Erika menyendok


makanannya, caranya menyuapkan makanan ke mulutnya, bagaimana dengan anggunnya


Erika merapikan rambutnya yang tergerai bebas menutupi punggung, apalagi dengan


bagaimana Erika tersenyum dengan manisnya. Bahkan saat Erika memberengut kesal


karena digoda oleh gadis di depannya, pria itu terpana, ia jatuh cinta pada


pandangan pertama pada gadis di depannya, yang hanya terhalang jarak 2 meja.


“Maaf


aku terlambat!”


Pria


itu mengalihkan perhatiannya dari Erika, dan tersenyum lalu bertos ria dengan


pria gondrong yang baru datang itu.


“Kemana


saja kau? Aku sudah menunggu lama disini.” Ia melirik arlojinya. “Sudah hampir


setengah jam!”


“Dan


aku terkejut kau tidak marah seperti biasanya. Sejak aku melihatmu, kau terus


tersenyum sendiri seperti orang gila.”


“Aku


menemukannya, Louis!”


“Cinta


pertamamu? Tidak mungkin.” Louis menggeleng tidak percaya.


“Tentu


saja bukan. Dia tidak mungkin berada di sini. Aturan keluarganya sangat ketat.


Dia bahkan tidak tahu dunia luar selama hidupnya.”


Pria

__ADS_1


itu menunjuk Erika dengan dagunya. “Dia orangnya!”


Louis


mengikuti pandangan pria itu, dan melihat Erika yang sedang asyik bercanda


dan tertawa dengan gadis di depannya. Tawanya manis sekali! Sampai-sampai Louis


pun ikut terpana melihatnya. Tapi sebentar kemudian ia meringis kesakitan.


“Jangan kau berani mendekatinya.


Dia milikku!” Pria itu memperingatkan dengan pelototan tajam. Rupanya ia tadi


menyodok pinggang Louis dengan sikunya.


“Aww!! Iya,,iya,, aku tahu!


Lagipula siapa yang berani mendekati incaranmu! Bisa mati aku. Aduh! Ini


benar-benar sakit. Kau memukul terlalu keras, Sergey!” Pria yang dipanggil


Sergey itu hanya mendengus keras, sifatnya yang pemarah kembali.


“Tapi apa kau serius? Gadis itu


sepertinya jauh lebih muda daripada kita. Seleramu kan wanita seksi dan dewasa.


Bukan anak kecil yang manis seperti dia. Tunggu!! Apa jangan-jangan selain


pemarah  kau juga pedo−” Louis tidak


sempat menyelesaikan kalimatnya karena keburu disodok untuk yang kedua kalinya.


Ia kembali meringis menahan sakit.


“Sialan kau!” Umpatnya.


“Jika Cinta pertamamu tahu kalau


kau adalah seorang playboy berat, berani taruhan dia pasti akan menolakmu


mentah-mentah.” Kata Louis sinis.


“Dan berani taruhan, dia tidak akan


berani menolakku.” Jawab Sergey. Matanya masih terus memperhatikan setiap


gerak-gerik Erika, wajahnya menyunggingkan senyum miring. Beberapa pelayan wanita


yang melihatnya terpesona karena ketampanan Sergey yang tersenyum. Tapi lain


dengan Louis, dia menatap Sergey ngeri, sebelum pandangannya beralih pada Erika


yang terlihat mulai beranjak keluar dari restoran tersebut.


“Semoga kau berhasil melarikan diri


sebelum terlambat, gadis kecil.” Gumamnya prihatin.


***


"SERGEY!"


Lelaki yang dipanggil namanya itu tetap tak


bergeming, pandangannya terfokus pada benda di tangannya. Ia sama seali tak


menghiraukan panggilan yang sudah ia duga berasal dari siapa.


"BLOODY BEAR!"


Lelaki itu akhirnya menoleh, disertai dengan


tatapan galak dan seringaian buas. "Apa katamu tadi?"


Lelaki jangkung berambut pirang yang memanggil


Sergey dengan sebutan Bloody Bear itu nyengir, lalu tanpa tedeng aling-aling


merebut selembar foto dari tangan Sergey dan tersenyum melihat wajah seseorang


yang sedang tersenyum riang dalam foto.


"Kau masih belum bisa melupakannya?"


tanyanya lagi.


Sergey menggeram, tapi kemudian ia kembali diam.


"Dia milikku. Tidak ada alasan kenapa aku


harus melupakannya." Desisnya tajam.


"Milikmu? Setahuku dia sudah mempunyai


tunangan. Ditambah lagi, setelah peristiwa itu, aku rasa ia takut padamu."


Sergey kembali melayangkan tatapan buasnya,


tangannya dengan cepat merebut kembali foto itu, dan memandangi gadis yg berada


dalam foto dengan tatapan lapar.


"Sejak dulu ia sudah menjadi milikku, dan


sampai kapanpun, akan seperti itu. Aku bersumpah akan menghancurkan siapapum


yang berusaha menghalangiku. Dan itu juga berlaku untukmu!" Sergey menatap


tajam lelaki di sampingnya, yang meresponnya dengan gelengan kecil dan kedua


tangan terangkat, tanda menyerah.


Melihat itu Sergey tersenyum puas. Kemudin ia


berdiri, dan meninggalkan lelaki itu sendirian. Sergey bertekad untuk


mendapatkan kembali gadis itu, bagaimanapun caranya.


"Kali ini


sepertinya kau harus hati-hati sobat." Lelaki itu menatap Sergey tajam, namun


bibirnya membentuk senyum prihatin. "Karena pangeran berkuda putih dan para

__ADS_1


ksatrianya sudah tiba di sampingnya dan siap untuk melindunginya."


__ADS_2