Memori dalam Api

Memori dalam Api
Memori : Valeray


__ADS_3

 


Padang bunga lily putih menghampar luas di belakang Mansion milik Marquee of Winterfall. Kelopak-kelopak lily yang indah bergoyang pelan tertiup hembusan angin yang terasa sejuk di kulit. Mentari senja dengan semburat merahnya menambah indah pemandangan. Sungguh sangat memanjakan mata. Seorang pria tinggi dan gagah berdiri di bawah pohon rindang, merentangkan kedua lengannya sambil tersenyum. Matanya terpejam, menikmati hembusan angin yang membelai lembut wajahnya. Rambutnya yang berwarna coklat kayu melambai tertiup angin. Janggut halus dan tipis menghiasi wajahnya yang tampan. Tuksedo putih yang dikenakannya membuat penampilannya semakin memukau. Siapapun wanita yang melihat pasti akan terpesona dibuatnya.


“Ray!!”


Suara gadis kecil tiba-tiba mengusik ketenangan pria gagah itu. Ia membuka mata coklatnya yang tajam dan memandangi padang bunga lily di hadapannya. Berharap menemukan sosok gadis kecil itu di sana. Tapi hanya kupu-kupu kecil berwarna kuning bercorak hitam yang dilihatnya. Pria itu tersenyum sedih.


“Ray!!!” Seorang gadis kecil melambaikan tangannya dengan semangat, mengajak seorang remaja kurus berjas putih yang sedang tersenyum memandangnya untuk menghampirinya.


“Ayo cepat sini!” Gadis kecil itu tersenyum lebar, berdiri di bawah bayangan pohon maple yang sesekali merontokkan daunnya, membuat salah satu daunnya jatuh ke atas kepala sang gadis.


Valeray berjalan menghampiri dan terkekeh geli melihat kelakuan si kecil di depannya. Ia mengambil daun dari kepala si gadis dan membuangnya ke tanah.


“Putri, Mrs. Milson sedang gelisah mencari anda ke mana-mana. Kenapa anda tidak kembali saja ke dalam? Matahari sudah hampir tenggelam.”ia berlutut sambil merapikan pakaian gadis kecil yang sangat disayanginya itu.


Gadis itu memberengut kesal, kedua pipinya menggelembung lucu. “Sudah aku bilang, panggil aku Erika! Ray, kau menyebalkan! Huh!!” Erika melipat kedua tangan di dadanya, memalingkan wajahnya dari Valeray.


“Tapi anda majikan saya. Saya tidak bisa memanggil anda seperti itu.” Valeray dengan sabar mencoba menjelaskan.


“Kau adalah butler kakakku! Bukan pelayanku!” Erika mulai merajuk. Ia menolak ajakan Ray untuk masuk ke dalam mansion.


Valeray merasa kewalahan. Ia tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya pada majikannya yang satu ini. Walaupun dibesarkan sebagai seorang bangsawan, Erika tidak suka jika dirinya disanjung terlalu berlebihan.

__ADS_1


Erika melihat wajah kesusahan Valeray. Ia lalu merasa kasihan. Erika akhirnya hanya berkata, “Setidaknya jangan bersikap terlalu kaku, rasanya jadi aneh.”


Valeray tersenyum lega dan mengangguk. Ia membelai kepala Erika, sebagai tanda bahwa ia menyetujui syarat Erika. Ia memutuskan untuk melanggar peraturan yang satu itu. Karena sebenarnya seorang butler tidak boleh menyentuh majikannya secara sembarangan.


Diperlakukan seperti itu, Erika kecil tersenyum lebar. Ia menarik tangan Valeray menuju padang bunga lily putih. Dengan riang, Erika berlarian kesana kemari sambil merentangkan kedua lengannya dan tertawa. Rambutnya yang hitam panjang berkilauan, dengan mata hijaunya yang bening. Kulitnya putih dengan pipi yang berwarna kemerahan. Gaun putih one piece yang dikenakannya menambah kecantikan dan kelucuan gadis itu. Valeray tersenyum memandangi Erika kecil, dengan latar belakang langit kemerahan, dan matahari yang terlihat bulat sempurna di ujung lembah.


Setelah puas berlari, Erika berjongkok dan mulai mengagumi bunga dihadapannya. Ia menyentuh lembut salah satu kelopak bunga, dan mencium baunya. Harum sekali!


“Indah sekali! Bunga apa ini?” Erika menoleh pada Valeray, yang ikut berjongkok di sampingnya.


“Ini namanya bunga Lily. Bunga lily putih melambangkan kesucian dan ketulusan. Juga bisa melambangkan persahabatan.” Valeray menjelaskan yang dibalas oleh anggukan Erika.


“Persahabatan? Jadi bunga ini untuk sahabat?” Erika yang masih belum terlalu mengerti berkata sekenanya.


Erika memetik cukup banyak. Tangannya hampir kewalahan memeluk tangkai-tangkai bunga yang menutupi mukanya. Ia lalu membawanya ke bawah pohon maple. Sambil bersenandung riang, Erika terlihat sangat sibuk dengan kegiatannya. Tidak lama kemudian, ia berlari menghampiri Valeray yang sejak tadi tidak beranjak dari tempatnya dan tersenyum lebar.


“Sekarang tutup matamu!” Pinta Erika.


Valeray menurut. Ia memejamkan kedua matanya dan menutupnya dengan sebelah tangan. Erika menggandeng tangan satunya, menariknya menuju pohon maple.


“Nah, sekarang buka matamu!” Erika sudah melepaskan gandengannya dan berdiri di hadapan Valeray.


Perlahan Valeray membuka matanya. Ia melihat Erika dengan senyum lebarnya menyodorkan sesuatu padanya. Seikat bunga lily putih. Erika memakai ikat rambutnya untuk menyatukan semua bunga. Tangan kecilnya terlihat sedikit kotor karena tercampur tanah. Valeray berlutut, menyejajarkan tingginya dengan Erika.

__ADS_1


“Ini untukmu! Mulai sekarang kita bersahabat, Oke!!” Erika menyerahkan seikat bunga itu pada Valeray. Valeray sempat terkejut, namun dengan senang hati ia menerima bunga tersebut dan mendekapnya.


“Terima kasih Putri! Aku akan merawatnya dengan baik dan tidak akan membiarkannya layu.” Sahut Valeray tulus. Baru saja ia akan kembali bangkit berdiri, Erika menahan kedua bahunya, memaksanya untuk diam di tempat.


“Tunggu dulu! Masih ada satu lagi kejutan untukmu!” Valeray memandang penasaran sementara Erika mengambil sesuatu dari balik pohon.


“SELAMAT ULANG TAHUN!!!” Teriak Erika tiba-tiba, sambil menghamburkan potongan-potongan kecil daun maple kepada Valeray.


Erika menaruh mahkota yang terbuat dari beberapa daun maple yang disatukan dengan potongan ranting di atas kepala Valeray dan dengan semangat bertepuk tangan sambil menyanyikan lagu selamat ulang tahun.


“Dan ini hadiah untukmu!” Erika menarik tangan Valeray, memasangkan sesuatu di sana. Sebuah gelang yang terbuat dari kerang-kerang kecil berbagai warna.


Valeray terkejut. Ia lupa bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya. Ia memandangi gelang yang menghiasi tangannya. Valeray mengenali kerang-kerang itu. Kerang-kerang tersebut adalah benda kesayangan Erika. Ia ingat Erika memungutnya saat ia berjalan-jalan di pantai beberapa bulan yang lalu.


Valeray tidak tahu harus bersikap seperti apa. Ia terlalu terkejut. Ia bahagia. Ia sangat bersyukur bekerja pada keluarga MacGlory yang memperlakukannya seperti keluarga. Terutama Alexander dan adiknya, Erika.


Valeray masih tidak bereaksi sampai Erika memeluknya dan berkata, “Aku sangat menyayangimu, Ray!!” Erika berkata dengan lembut di telinganya.


Dengan mata berkaca-kaca, Valeray balas memeluknya. “Aku juga sangat menyayangimu, Putri!”


Dinginnya hembusan angin memaksa Valeray membuka matanya. Ia bangun dari sandaranya pada batang pohon maple, dan melihat matahari sudah lenyap, kembali ke peraduannya. Rupanya ia tertidur tadi. Valeray kecewa. Mimpi tadi sangatlah indah, ia serasa tidak ingin bangun dari mimpinya. Mimpi mengenai kenangannya bersama Erika 10 tahun lalu. Valeray sekali lagi memandang padang bunga lily dengan sedih, sebelum berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan kenangan indahnya di sana.


 

__ADS_1


__ADS_2