
Kisah yang akan aku ceritakan bisa bertentangan dengan harapanmu.Lagi pula, kau mungkin akan percaya bahwa, jika seseorang memiliki kesempatan untuk dikirim kembali ke usia sepuluh tahun bersama ingatan mereka sampai usia dua puluh tahun, mereka akan memanfaatkan pengetahuan mereka dengan baik dan bisa mengubah segala macam hal. Setiap orang memiliki penyesalan itu, mereka pasti punya pikiran seperti ...
"Seandainya saja aku melakukannya begini." Ada orang yang ingin belajar lebih banyak, tapi ada juga yang ingin bermain lebih banyak.Ada orang yang ingin lebih jujur tentang siapakah diri mereka, ada orang yang berharap mereka lebih banyak mendengarkan orang lain.Ada orang yang berharap bisa mendekati seseorang lebih cepat, ada juga orang yang berharap tidak pernah berhubungan dengan seseorang.Ada orang yang ingin membuat keputusan dengan lebih berhati-hati, ada orang yang berharap mengambil risiko lebih besar.
Saat aku masih kecil, aku pernah berbicara dengan seorang gelandangan di bawah jembatan selama sekitar satu jam.Dia adalah seorang ceria yang suka tertawa terbahak-bahak. Seakan-akan, orang itu tidak pernah menyesali apapun di dalam hidupnya, namun ada satu hal yang tidak bisa dia selesaikan lagi. "Dalam lima puluh tahun terakhir"
kata pria itu,
__ADS_1
"satu-satunya kesalahan yang pernah kubuat adalah lahir ke dunia ini."
Jadi, bahkan lahir ke dunia pun bisa jadi sebuah penyesalan.
Baiklah. Yang ingin aku katakan di sini adalah, hidup yang dipenuhi dengan penyesalan. Aku yakin kau bisa berempati dengan itu sendiri. Dan jika dia bisa mengulangi hidupnya sekali lagi, tak diragukan lagi dia akan intropeksi diri, belajar, dan menggunakan pengalaman untuk melakukan langkah kedua yang lebih baik. Karena mereka tahu penyesalan itu terbentang di depan mereka.Tapi ketika sampai pada pengalamanku, yah, justru sebaliknya. Kalau dipikir-pikir lagi, aku melakukan hal yang benar-benar bodoh. Sungguh bodoh.
Anggap saja kita punya pria yang tidak memiliki sedikit pun penyesalan dalam hidupnya.Tapi sekarang, orang itu begitu bahagia, atau apakah itu karena dia bodoh?
__ADS_1
Dia bisa saja menjalani kehidupan yang begitu sempurna sehingga tidak ada yang perlu disesalkan, atau dia bisa saja menguras otak untuk memikirkan sesuatu.Memang, aku berbicara untuk diriku sendiri, tapi aku adalah orang yang sebelumnya. Aku adalah orang yang bahagia. Aku sangat senang dengan apa yang aku sebut hidup. Memang benar, aku sama sekali tidak punya masalah. Punya pacar terbaik yang bisa aku minta, teman baik, keluarga yang sempurna, dan kuliah di universitas yang layak. Kurasa, tidak ada yang kurang dalam hidupku.Maksudku, aku sangat senang meskipun tidur hanya enam jam sehari, yang mana itu membuatku merasa pusing sesekali.Karena, aku selalu terbangun jika ada hal-hal yang bagus, aku selalu ingin tetap terjaga sedikit lebih lama. Tidur hanyalah selingan bagiku.Dan bagiku, yang sangat menikmati hidup, kesempatan untuk mengulang hidup hanyalah suatu hal yang merepotkan saja.
Sangat disayangkan, pikirku – kurasa kesempatan ini harus diberikan pada orang yang hidupnya lebih suram.Sepertinya ada banyak orang yang tidak keberatan hidup di usia sepuluh sampai dua puluh tahun sekali lagi.Kesempatan ini sepertinya selalu jatuh pada orang-orang yang tidak menginginkannya. Tuhan hanyalah usil.Hidupkan TV, dan kau akan langsung tahu orang-orang yang setuju dengan ungkapan: "Tuhan tidak memberi dengan kedua tangan-Nya," namun itu adalah satu kebohongan besar.Mungkin aku hanya meminta hukuman di sini, tapi Tuhan tidak punya pengertian tentang "persamaan."Bagaimanapun juga, melihat salah satu lelucon kejam Tuhan dengan mataku sendiri membuatku memikirkan semua hal itu. Intinya, aku merasa puas dengan kehidupan pertamaku, dan aku tidak berminat melakukannya untuk kedua kalinya... Jadi aku pikir: ”Hei, mungkin sebaiknya aku mengulangi semuanya sekali lagi tanpa kurubah sedikit pun.” Itulah yang kupikirkan. Kurasa, beberapa kali aku juga suka usil, sehingga Tuhan pun gantian usil padaku.Perbaiki kesalahan itu, dan lupakan kesempatan dalam kehidupan pertamaku? Yahh, aku lebih suka melakukannya sekali lagi tanpa perbedaan.
Aku telah memutuskan untuk membuat rewind sepuluh tahun itu tidak ada artinya.Dalam benakku, aku mengetahui semua kecelakaan, bencana, kekacauan, dan segala macam perubahan yang akan terjadi, tapi aku tetap tutup mulut.Begitu aku mulai membicarakan hal itu, aku tidak akan tahu kapan harus berhenti.Lagi pula, sudah banyak orang gila di luar sana yang mengklaim mereka berasal dari masa depan, dan tahu apa yang akan terjadi, jadi tidak mungkin ada orang yang mau mempercayai omonganku. Aku akan menjalani sisa hidupku di rumah sakit jiwa jika aku melakukan itu.Tentu saja, memilih untuk tidak menyelamatkan orang yang masih bisa diselamatkan bukanlah hal yang terpuji.Tapi sejujurnya, di luar sana tidak ada orang yang cukup berharga untuk kuselamatkan, dan aku tidak ingin mengorbankan kebahagianku sendiri untuk orang lain.
Ya, beberapa orang rela melakukan pengorbanan semacam itu. Tapi mereka hanya melakukannya karena kepuasan yang mereka dapatkan setelah berhasil menolong orang lain dari kemalangan… ya, itu saja… tidak lebih. Jadi, itu tidaklah berbeda dengan mengutamakan kebahagiaanmu sendiri.
__ADS_1
Bagian yang penting adalah apa yang membawa kebahagiaan terbesar bagimu. Dan bagiku, kebahagiaan adalah "tidak ada yang berubah."Jadi, aku benar-benar akan menjalani kehidupan yang sama seperti yang kualami dulu. Itu saja yang kuinginkan dari kehidupanku yang kedua ini.Aku bertaruh seorang penjelajah waktu pun sangat menginginkan kesempatan hidup kedua seperti yang kumiliki saat ini. Rasanya, aku harus diberi ucapan selamat.