Memulai Kembali

Memulai Kembali
chapter 6


__ADS_3

Setelah upacara berakhir, aku bergegas menuju pintu masuk aula, dan di sanalah aku menunggu Sumi lewat. Tentu saja, aku belum memeriksa secara keseluruhan untuk memastikan dia benar-benar masuk ke perguruan tinggi yang sama seperti di kehidupan pertamaku. Kalau memang ada perbedaan skenario, mungkin itulah yang menyebabkan aku dan Sumi tidak bisa bersama, tentu saja ada kemungkinan bahwa dia bersekolah di kampus yang berbeda. Bahkan mungkin, Sumi sudah lama menemukan pekerjaan. Untungnya, hanya ada satu pintu keluar di kampus ini. Jadi jika dia memang bersekolah di kampus ini, aku pasti akan melihatnya ketika waktunya pulang tiba. Ditambah lagi, aku sudah mengasah sensorku untuk membedakan antara Sumi dan orang lain. Aku tidak bercanda. Kalau kau pernah jatuh cinta pada seseorang ketika masih muda, maka kau pasti tahu maksudku. Pada hari-hari awal masuk kuliah seperti ini, murid-murid baru (termasuk aku) akan mencari orang-orang yang mereka kenal, kemudian akan menjerit kegirangan ketika tahu bahwa salah seorang temannya diterima di kampus yang sama.


Itu tampak menggelikan bagiku, dan mungkin juga orang lain. Tapi aku ragu mereka peduli, mereka terlalu bersenang-senang. Jujur saja, aku iri. Sayangnya, tidak ada yang aku kenal, dan aku pun tidak mau repot-repot menyapa orang lain. Jadi, aku tidak perlu melakukan semua itu. Tapi, jika aku menemukan Sumi dan memanggilnya, lalu dia berteriak dengan kegirangan ketika menemuiku lagi, seperti yang dilakukan gadis-gadis lainnya, itu pasti akan membuatku bahagia. Fantasi itulah yang membuatku bertahan selama setengah tahun terakhir. Pada saat ini, aku menjadi sangat hemat. Karena hidupku kurang bahagia, setiap kali aku menemukan kebahagiaan, aku akan menikmatinya sampai habis, seperti misalnya menjilati es krim sampai tetesan terakhir. Rambutku terpotong rapi, aku memakai dasi, dan kulemaskan otot-otot wajahku untuk menunjukkan ekspresi wajah terbaik ketika bertemu Sumi nanti. Kemudian waktunya tiba. Aku hanya melihat sedikit bagian belakang kepalanya di antara kerumunan, tapi aku yakin itu Sumi. Aku tidak yakin harus berkata apa padanya, jadi aku mulai dengan berjalan. Ada rasa sakit yang aneh di dadaku. Napasku menjadi tidak beraturan. Beberapa meter terasa seperti ratusan meter. Ketika aku cukup dekat, aku merasa yakin dia bisa mendengarku, aku baru saja akan memanggil namanya, "Sumi!" - Tapi tidak ada suara yang keluar dari mulutku yang sudah terbuka. Aku merasakan suhu tubuhku anjlok.

__ADS_1


Mantan pacarku sedang berjalan, saling menempel, dengan pria yang tidak aku kenal. Dan jika hanya itu, mungkin aku masih bisa menerimanya. Maksudku, kami sudah berpisah selama tiga tahun. Dan orang lain pasti tidak akan meninggalkan gadis yang menawan seperti itu sendirian. Sebenarnya aku tidak begitu menduga ini akan terjadi, tapi aku pikir aku sudah siap untuk itu. Sumi pasti kesepian. Jadi, seandainya dia menemukan seseorang untuk menggantikanku, aku tidak bisa menyalahkannya. Tapi ketika pria yang berjalan di samping Sumi tampak begitu sama dengan diriku dari kehidupanku sebelumnya…. Itu lain cerita. Orang yang berjalan dengan Sumi, tinggi badannya, tindakannya, suaranya, ucapannya, ekspresinya, semuanya identik dengan diriku yang pertama. Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, kenangan hidup pertamaku tidak konkret, tapi dia sangat menyukai karakteristik seperti "senyum ramah" dan "suara yang melodis." "Doppelganger" muncul dalam pikiranku.


Tapi ada beberapa masalah jika menganggap pria itu sebagai doppelganger-ku. Artinya, diriku yang pertama dan kedua sudah menjadi sangat berbeda dalam berbagai hal. Anehnya, jika kau membandingkanku dengan pria yang berjalan dengan Sumi yang tampaknya meniru kehidupan pertamaku... rasanya lebih seperti…. akulah yang palsu. Jika ada doppelganger, rasanya lebih masuk akal untuk menganggap itu adalah aku, bukan dia. Aku tahu bahwa aku sudah gagal. Seandainya aku bisa menciptakan kembali kehidupan pertamaku, pasti aku akan menjadi pria di depan mataku. Sekarang tak heran kenapa aku belum bisa mengencani Sumi. Karena di kehidupanku yang kedua, sudah ada seseorang yang menggantikan peranku.

__ADS_1


Aku tidak bisa melakukan itu. Sekarang, aku adalah seorang pria yang tidak berharga, aku tahu betul akan fakta tersebut karena ini adalah pengulangan kehidupanku yang kedua.Rasa dendam yang paling kupendam adalah kepahitan samar yang kurasakan terhadap Sumi.Tapi kali ini, aku dipenuhi dengan kemarahan. Aku hanya bisa berdiri tercengang, sembari berteriak dalam hati, "Hei, itu tidak benar! Itu PERANKU!" Apa yang bisa kukatakan?


Jika Sumi baru saja mendapatkan pacar, aku harus menerima kenyataan itu. Yang benar saja! Aku bahkan mungkin berpikir "aku akan merebutnya kembali," dan mengatakan pada diriku sendiri "aku jauh lebih baik daripada dia!" Sekarang aku benar-benar marah. Pertarungan untuk merebut kembali pasanganku yang sudah ditakdirkan.Tapi, yang merebut Sumi dari diriku, tidak lain adalah…. aku sendiri ... Baiklah, yah, mungkin itu bukan cara yang tepat untuk mengatakannya. Pada dasarnya, seseorang yang merebut posisiku dalam kehidupan sebelumnya adalah pacar Sumi yang tampak begitu mirip denganku. Jadi dia sudah memilihnya sebagai "orang yang lebih sempurna." Maka, sekarang aku harus bertanya sesuatu. "Bisakah aku mengalahkan diriku sendiri?" Seandainya aku berkompetisi dengan tipe pria yang berbeda, aku bisa menonjolkan hal-hal positif pada diriku untuk mengunggulinya. Dan aku yakin Sumi akan jatuh cinta padaku, karena selera Sumi adalah pria seperti diriku di kehidupan sebelumnya. Ketika kau menyukai seseorang, sebenarnya tipe cowok/cewek idamanmu tidaklah mudah berubah.Tapi bersaing dengan pria yang sama persis denganku? Aku tidak tahu bagaimana caranya mengalahkannya. Karena harus kuakui, dia lebih superior dariku

__ADS_1


Maka, aku pun kalah lagi. Bulan-bulan berikutnya penuh dengan kejutan. Karena diriku yang lain dengan sempurna menciptakan kembali pengalaman-pengalaman kuliahku, satu demi satu. Biasanya aku akan membahas lebih detail tentang semua itu, tapi kali ini aku akan mempersingkatnya. Karena aku cukup tertekan ketika menceritakan semuanya dari awal sampai akhir. Dalam waktu singkat, dia adalah tokoh sentral di fakultasnya, dia dihormati oleh banyak orang, dia bersahabat dengan banyak gadis… namun tetap saja, dia lengket dengan Sumi. Oh, sebagai pengamat, aku tidak tahan berkomentar betapa bahagianya aku di kehidupan pertamaku. Namun, dia disukai banyak orang karena dia baik pada siapapun. Aku benci mengakuinya, tapi jika dia dan Sumi berjalan bersama, mereka tampak begitu serasi. Kau bisa mengatakan, bahwa mereka bagaikan pasangan yang sempurna seperti yang sering diceritakan di negeri dongeng. Mereka begitu menyilaukan mata, aku merasa seperti tidak pantas berada bersama mereka. Tentu saja, mereka adalah pasangan yang ramah, dan jika aku menunjukkan keinginan untuk berteman dengan mereka, mereka akan mudah menerimanya. Tapi bukan itu yang aku inginkan. Namun, rasanya sulit dipercaya bahwa pria sempurna seperti itu bisa berubah menjadi pria menyedihkan sepertiku hanya karena sedikit salah langkah. Jika diberi kesempatan yang sama untuk mengulangi kembali hidupnya, bukannya tidak mungkin dia akan mengacaukan semuanya seperti yang kulakukan saat ini. Kalau boleh disimpulkan, nampaknya di dunia ini tidak ada orang yang baik atau buruk, karena kebaikan dan keburukan seseorang hanyalah dampak dari lingkungan tempat mereka tinggal. Setidaknya, faktor keturunan tidak begitu berdampak padaku.


__ADS_2