Memulai Kembali

Memulai Kembali
chapter 7


__ADS_3

Sekitar akhir Oktober tahun berikutnya, sesuatu tersentak di kepalaku. Setelah lulus SMA, aku tinggal di sebuah apartemen dekat kampusku. Dan saat itu, aku jarang keluar(nolep XD). Aku jarang pergi ke kampus, tidak memiliki pekerjaan paruh-waktu atau apapun, tidak bertemu dengan siapapun, tidak makan dengan teratur, minum alkohol sepanjang hari, dan tidur sepanjang waktu. Aku bahkan tidak menyalakan TV atau radio, dan juga tidak membaca berita. Aku mengisolasi diriku dari dunia luar. Selain pergi ke minimarket untuk membeli bir, rokok, dan junk food, aku tidak pernah pergi ke manapun.


Isi inbox ponselku hanyalah kabar dari agen untuk mencari pekerjaan paruh-waktu dan buletin-buletin lain. Tapi tak ada satu pun nama manusia di sana. Sejak aku menyadari keberadaan "pengganti"-ku, aku terus membandingkan diriku dengannya kapan pun aku beraktivitas. Aku sadar betul betapa baiknya dia melakukan setiap hal kecil. Berkat itu, bahkan hal-hal yang biasa sebelumnya, kini terasa begitu istimewa. Misalnya, aku tidak pernah memiliki masalah ketika membolos kelas sewaktu SMA, tapi ketika aku melihat Sumi dan penggantiku yang selalu hadir setiap hari, itu semakin membuatku putus asa. Sejak saat itu, setiap hari aku datang dan pergi ke kampus sendirian, aku merasakan kehampaan karena Sumi tidak berada di sampingku. Dan ini berangsur-angsur mulai menghantuiku setiap aku terjaga. Saat aku makan sendiri. Saat aku menonton TV sendirian. Saat aku hanya berbaring di ranjang. Saat aku belanja sendirian. Aku sadar Sumi tidak berada di sampingku sepanjang waktu, dan aku merasakan kehilangan yang begitu pahit. Ketika aku berjalan melalui kota dan melihat pasangan muda-mudi SMA lainnya, aku kehabisan kata. Sumi dan "pengganti"-ku pasti selalu berkencan dengan seragam seperti itu, pikirku. Aku tidak bisa melupakannya.

__ADS_1


Pada hari-hari ketika mereka kerja lembur di ruang klub, pada hari-hari ketika mereka pulang bersama, pada hari-hari ketika mereka berbagi payung di kala hujan turun deras, pada hari-hari ketika mereka saling berpegangan tangan untuk menghangatkan diri di hari bersalju. Terlalu mudah bagiku untuk membayangkannya. Mungkin, saat aku pernah melihat Sumi menunggu di halte bus hari itu, dia sedang menunggu "pengganti"-ku. Aku tahu betapa senangnya Sumi bisa membuatku bahagia, dan mungkin aku tahu betapa bahagianya aku bisa membuatnya bahagia. Tapi, kini aku merasa hampa. Aku sangat terluka. Aku sudah mencoba banyak hal untuk menenangkan pikiranku, seperti: melihat pemandangan yang indah, makan makanan yang lezat, menonton film penuh emosional, namun semuanya justru berdampak sebaliknya. Karena aku semakin menyadari bahwa aku melakukan semua hal menyenangkan itu sendirian, tanpa ada teman untuk berbagi. Aku sudah menyerah. Tidak ada yang bisa aku lakukan. Hanya selangkah lagi aku menuju kegilaan. Itulah sebabnya aku menjauhkan diri dari dunia luar, dan membuat otakku terganggu dengan alkohol dan rokok. Aku harus mengakui bahwa benda-benda memabukkan itu adalah salah satu penemuan terbaik manusia.


Kamarku sudah sangat redup. Kudengar suara jangkrik di luar jendela. Aku sudah tenang. Tapi aku masih merasakan kobaran api kecil di dalam hatiku. Anehnya, aku bisa tenang. Aku menerima fakta bahwa aku bukan orang yang tepat untuk Sumi, dan aku tidak pernah bisa mengalahkan "pengganti"-ku. Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku bertanya pada diri sendiri. Itu mudah, aku pun menjawab.

__ADS_1


Aku dengan mudah menerima jawaban yang aku dapatkan. Dan jangan kira, aku memikirkannya dalam keadaan waras. Singkatnya, aku ingin membunuh-nya, yang telah mencuri peranku. Lalu, tentu saja, Sumi akan kesepian dan akhirnya datang padaku, itulah hal terbaik yang bisa kuharapkan. Tidak peduli bagaimana kau memandangnya, ide tersebut tidaklah rasional, meskipun aku berhasil membunuh dia, belum tentu semua masalah bisa terselesaikan. Sebenarnya, jika dia meninggal pada saat ini dalam hubungan yang sedang mesra-mesranya dengan Sumi, sangatlah mungkin Sumi jadi stress, kemudian menutup hatinya pada lelaki manapun. Tapi bagaimanapun juga, pada saat itu, aku sangat serius. Aku bahkan dengan egois berpikir:


"Ini demi Sumi." Meskipun jelas-jelas akulah yang merusak kebahagiannya. Orang-orang yang sedang terpuruk memang tidak pernah berpikir waras. Pandangan mereka terlalu sempit. Secara keseluruhan, aku harus mengakui diriku yang kedua adalah sampah dan orang yang tolol. Sebenarnya, ini relatif tergantung dari sudut pandang kalian, kalian boleh memandangku sebagai pria berumur 19 tahun, atau om-om berumur 29 tahun. Yang jelas, aku sudah hidup selama 9 tahun di duniaku yang kedua ini. Tapi sejauh yang aku tahu, pikiranku saat ini tidaklah sematang pria dewasa berumur 29 tahun. Aku pikir. aku mengalami fenomena "kura-kura dan kelinci" yang cenderung terjadi pada anak-anak yang menjadi terlalu dewasa sebelum waktunya. Nah, sekarang…. beberapa saat telah berlalu sejak hari itu, tapi kurang-lebih seperti itulah awal kisahnya. Sejujurnya, kisah paling kubenci selama sepuluh tahun aku menjalani kehidupan kedua ini, adalah beberapa bulan terakhir setelah hari itu. Jadi mulai dari sini, aku akan menjelaskan semuanya dengan lebih rinci.

__ADS_1


__ADS_2