
Aku kira ini adalah penderitaanku, setelah menjalani kehidupan pertama tanpa penyesalan, menjalani kehidupanku yang kedua penuh dengan penderitaan. Aku tidak pernah meminta banyak. Jika kau bertanya orang seperti apakah aku ini, sebetulnya aku sangat rendah hati. Aku pikir sikapku patut dipuji. Dalam hal ini, aku tidak benar-benar tahu apa yang Tuhan pikirkan.
Jadi dengan semua yang terjadi, pada saat masa SMA datang, aku adalah individu yang sangat suram. Jika diriku di kehidupan pertama melihat aku yang sekarang, dia tidak akan pernah percaya bahwa kami adalah orang yang sama, aku yakin itu. Atau setidaknya butuh beberapa saat sampai dia mengenaliku. Sejak Sumi menolakku di musim semi tahun ketiga masa SMP-ku, aku perlahan mulai membenci semua orang. Bukannya aku benar-benar membenci semua orang, tapi... Yah, aku masuk ke sekolah yang jauh lebih buruk daripada yang aku masuki sebelumnya. Dan karena aku tumbuh menjadi seseorang yang tidak berprestasi, maka kebencianku terhadap orang lain semakin bertambah. Dan itu semakin membuatku terpuruk. Ketika aku terus menjaga jarak dengan orang-orang di sekitarku, akibatnya aku menjadi seorang penyendiri. Bisa dibilang, kehidupanku di sekolah hanya berisikan penderitaan. Selama tiga tahun bersekolah, semuanya berlalu dengan percuma, seakan-akan yang kulakukan hanyalah melihat jam dinding yang terus berdetak. Begitulah kehidupan sekolahku, yang kulakukan hanyalah menunggu berlalunya waktu. Aku berpikir bahwa dengan berlalunya waktu, segalanya akan menjadi lebih baik. Tapi satu-satunya yang kudapatkan hanyalah akhir yang mengecewakan. Sebenarnya, masalahku tidak bertambah buruk sih, namun juga tidak membaik. Sekolah SMA tidak dibuat untuk orang-orang tanpa teman. Aku tidak memiliki seorang teman pun untuk menikmati menghabiskan waktu bersama.
Dengan begitu, aku bahkan hampir tidak ingat masa SMP keduaku. Aku bahkan membuang buku tahunan itu tanpa melihat isinya sedikitpun. Itu adalah saat-saat yang begitu menyakitkan. Bahkan saat tur sekolah, yang seharusnya sangat menyenangkan, justru sangat menyiksa. Aku ingat bahwa orang lain secara terang-terangan memperlakukanku dengan kejam, dan aku pun terbangun di tengah malam di sebuah hotel untuk menangis di kamar mandi. Begitulah kenangan yang kumiliki selama tur sekolah. Aku selalu merenung sendirian, "Mengapa semuanya jadi seperti ini?" dan "Ini seharusnya tidak terjadi." Tapi itulah yang akan ditanyakan siapapun dalam kondisi sepertiku saat ini. Ini pada dasarnya hanya ketidaksesuaian diri. Namun, diriku yang pertama tidak pernah memiliki pikiran semacam itu. Anehnya, sekarang aku memikirkannya.
__ADS_1
Aku bertanya-tanya, apakah aku sekarang harus membayar konsekuensi ini karena terlalu bahagia di kehidupan pertama?
Tapi sekali lagi, sepertinya aku cukup yakin bahwa dunia ini memang tidak memiliki rasa keadilan. Dunia yang aku tinggali sepertinya tidak cukup setara untuk bisa menjadi kenyataan. Aku berpikir bahwa semua ini tergantung bagaimana aku menjalaninya, dan aku bisa saja memperoleh kehidupan yang lebih bahagia daripada kehidupanku yang pertama. Kesalahanku adalah, tidak berusaha lebih baik ketika diberi kesempatan mengulang hidup sekali lagi. Misalnya, ada perlombaan dengan seratus orang partisipan, maka selalu ada orang yang akan menjadi juara ketiga, bukan?
Tapi lihat, dia memperoleh juara ketiga saat dia mencoba yang terbaik untuk memperoleh juara pertama. Jika dia hanya membidik juara ketiga sejak awal, dia mungkin akan finis di urutan ketujuh atau kesembilan. Kurang lebih begitulah kesalahan yang sudah kubuat.
__ADS_1
Aku cukup enggan berada di sini untuk menunggu 5 jam lagi, karena bisa saja aku akan menderita pneumonia.Tapi ketika aku duduk di bangku, tiba-tiba aku melihat ada orang yang sama-sama menunggu dengan sia-sia di halte bus seberang jalan. Aku kenal betul gadis itu, rambutnya berkibar dalam badai. Ya, itu adalah Sumi, gadis yang menolakku di musim semi tahun ketiga masa SMP-ku. "Kenapa?", itulah yang pertama aku pikirkan. SMA tempat kami bersekolah harusnya terpisah cukup jauh. Aku bertanya-tanya, apakah dia punya tugas atau urusan lain yang membawanya ke sini?
Ya, terkadang hal seperti itu bisa saja terjadi. Aku bisa saja langsung menanyakannya, tapi aku tidak bisa mengumpulkan tekad untuk berbicara dengannya.Pada saat itu, aku masih memiliki semacam kekecewaan pada Sumi. Dia tidak menerima cintaku, jadi aku tidak perlu memperhatikannya lagi sekarang. Alasan yang egois ya. Tapi jika aku tidak mengalihkan kesalahan pada orang lain, maka aku tidak bisa menjalani hidup ini dengan tenang. Tapi sekarang Sumi ada di depanku, aku pun menyadari bahwa beberapa bagian dari diriku merasa senang ketika dia ada di sini. Paling tidak, aku menyadari itu. Aku menatap Sumi dengan kasar, tapi sepertinya dia tidak menyadarinya. Mungkin aku sangat tidak penting baginya, sehingga dia sudah lama melupakanku. Dia tampak sangat kesepian dan menggigil kedinginan. Sepertinya dia memerlukan seseorang untuk membuat suasana lebih hangat. Tentu saja, itu hanyalah khayalan dan fantasi palsuku. Karena ketika aku berpikir "seseorang," tentu saja yang aku maksud adalah diriku sendiri. Tapi, kuyakinkan pada diriku sendiri bahwa itulah yang sedang dia pikirkan. Salah tafsir yang membahagiakan. Ilusiku berkata bahwa akulah yang dia butuhkan, meskipun tampaknya dia akan baik-baik saja meskipun tidak kutemani. Aku berhasil meyakinkan diriku bahwa "Hei, pada akhirnya gadis itu membutuhkanku." Toh, orang bisa menggunakan kesalahpahaman ini sebagai fantasi untuk tetap hidup.
Aku telah kehilangan banyak antusiasme dalam hidup, namun didorong oleh kesalahpahamanku yang penuh harapan, aku bertekad untuk mendapatkan kembali hari-hari bahagiaku. Agenda yang pertama yaitu belajar seperti orang gila untuk masuk ke universitas yang sama dengan Sumi. Bukannya aku belajar dengan panik. Bukannya berfokus pada belajar, lebih tepatnya aku berhenti memusatkan perhatian pada hal lain. "Konsentrasi dengan melenyapkan hal-hal lainnya," mungkin lebih tepat disebut begitu? Sepertinya itu adalah ungkapan yang cukup bagus. Aku menyingkirkan semua hal yang tidak ada hubungannya dengan belajar. Tentu saja, ini adalah metode yang berbahaya. Jika kau mengacaukannya, kau akan semakin terpuruk sampai-sampai kau tidak punya makna untuk hidup. Tapi kurasa, aku bisa bertahan dengan menyetel musik saat aku belajar. Aku tidak pernah menganggap diriku penggemar musik sebelumnya. Hanya saja, aku sangat menyukai John Lennon. Terutama karena dalam kehidupan pertamaku, setiap kali pacarku punya waktu luang, itulah yang akan dia setel. Anehnya, ingatan yang berhubungan dengan Lennon sedikit lebih dominan daripada hal-hal lainnya yang juga menjadi favoritku. Yah, aku kira musiknya tak lekang oleh waktu, jadi mungkin itu tidak aneh. Aku pernah membaca lirik lagu yang bagus pada suatu majalah, bahkan jika sama sekali tidak sesuai dengan mood-mu, lama-kelamaan kamu akan menyukainya, dan lagunya akan kau dengarkan lagi dan lagi.
__ADS_1
Dulu aku hanya mendengarkan lagu karaoke. Tapi di kehidupan SMA-ku yang kedua, aku pernah mendengar "Yer Blues" di radio, dan segera menyadari betapa akrabnya John Lennon di telingaku. Sejak saat itu, aku akan selalu menyetel lagu Lennon saat aku belajar. Akhirnya aku memiliki tujuan yang jelas, aku menjadi lebih serius menjalani kehidupan di SMA untuk yang kedua kalinya. Sampai saat itu, aku sudah memeriksa jam lima puluh kali, berharap semuanya bisa berjalan sedikit lebih cepat. Tapi saat pelajaran berlangsung menjadi sesuatu yang penting bagiku, dan semuanya berlalu dalam sekejap mata. Aku melatih hafalanku bahkan di dalam bus dan kereta, dan setelah aku menghabiskan banyak waktu di mejaku pada malam hari, aku berhenti bergadang dan mengkhawatirkan sesuatu yang tidak penting. Aku menghabiskan terlalu banyak waktu memikirkan hal-hal yang tidak penting. Dengan menjejalkan sejumlah infomarsi yang luar biasa ke dalam kepalaku dalam waktu singkat, ingatan lama mulai terkesampingkan, dan semakin terasa tidak penting.
Tahun terakhir sekolahku sebenarnya agak damai. Bagian yang paling kuingat adalah ujian akhir, atau lebih tepatnya ujian di awal musim dingin. Ingatanku terkurung di kamarku saat belajar. Aroma kopi memenuhi ruangan, dan speaker di sebelah kiri mejaku dengan lembut memainkan lagu Strawberry Fields Forever. Di sebelah kanan ada lampu meja kecil, yang merupakan satu-satunya penerangan di sana. Di belakang dan di sebelah kanan kursiku ada sebuah penghangat, yang miring dengan pas sehingga tidak meniup udara panas langsung ke arahku. Setiap dua atau tiga jam sekali, aku mengenakan mantelku, pergi ke luar, dan menghirup udara musim dingin. Jika cuacanya bagus, aku bisa melihat bintang-bintang. Begitu kepenatan menghilang, aku akan masuk kembali, menghangatkan tangan pada penghangat, dan kembali ke dunia yang hanya berisikan diriku sendiri, buku teks, dan musik. Sebenarnya, itu tidak terlalu buruk. Bahkan, aku bisa merasakan ketenangan dan kepuasan ketika melakukan itu semua. Pada akhirnya, aku memperluas kemampuan akademisku sejauh yang aku bisa. Dan ajaibnya, aku bisa masuk universitas yang aku masuki di kehidupan pertamaku. Itu luar biasa. Akhirnya aku berhasil meyakinkan diriku kembali. Aku merasa bisa melakukan apa saja. Bagus sekali. Semuanya berjalan baik sejauh ini. Saat upacara masuk perguruan tinggi usai, aku mencari-cari mantan pacarku ... Sumi. Dan… ya, aku menemukannya, tapi di sinilah masalah dimulai. Tiga tahun adalah waktu yang cukup lama untuk merubah sesuatu. Dan kupikir aku sudah siap.